Sesatkah Kitab Al Barzanji

Sesatkah Kitab Al Barzanji : Siapakah Al Barzanji ?

Kitab yang jadi rujukan kami adalah kitab Maulidul Barzanji terjemahan Indonesia – Bugis Karya Kyai Abdul Karim Ali (HAKA) terbitan TB. Pesantren. Jl. Tinumbu No. 185. Percetakan Anda Surabaya[1].

Kitab yang membahas tentang kisah maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam banyak sekali jenisnya, tapi kalau di Indonesia yang terkenal yaitu Al Barzanji, Ad Dibai, Syarful Anam dan Qasidah Burdah. Dan pembacaan sekarang pun sudah berkembang, sebagian membaca kitab Al Barzanji, sebagian lagi membaca Qasidah Burdah atau Syarful Anam.

Kitab Al Barzanji pada awalnya dalam bentuk prosa yang ditulis oleh Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim bin Muhammad bin Abdur Rasul[2] Al Barzanji Al Madani. Beliau hidup sekitar abad ke-12 Hijriyah, lahir bulan Sya’ban dan wafat tahun 1187 H (1764 M). dia sejaman dengan Syaikhul Islam Muhammad At Tamimi.

Perhatikan nasab beliau (Al Barzanji), yaitu neneknya neneknya yang bernama Abdur Rasul, dan ini adalah penamaan yang sangat-sangat rusak dan batil sebab tidak boleh seorang pun menghambakan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau bersabda,

Janganlah salah seorang dari kalian berkata (kepada hamba sahaya atau pelayan): ‘Hidangkan makanan untuk Rabbmu (Tuanmu) atau sediakan air wudlu untuk Rabbmu (Tuanmu).’ Dan hendaklah dia (hamba sahaya itu) berkata, ‘Sayyidi (Tuanku) atau Maulaya (Tuanku).’

Jangan pula berkata (kepada hamba sahaya): ‘ Abdi (Hamba laki-lakiku) atau ‘Amati (Hamba perempuanku)’. Namun hendaklah dia mengatakan. “Fataya (wahai pemudaku)’ atau Fatati (wahai pemudiku),’ begitu pula engkau mengatakan , ‘Ghulami (anak mudaku).

Hadits di atas memberikan tanbih (peringatan) yang jika tidak boleh mengatakan Abdi’ (Hambaku) maka tidak boleh pulah berkata kepada orang lain Abduka (Hambamu) sebab ini khusus untuk Allah Azza wa Jalla dan lafazh seperti ini ada dalam kitab Al Barzanji.

Karangan tersebut yang berupa pujian dan kalimat-kalimat indah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian dibuatkan syairnya oleh adiknya dia (Ja’far) yang bernama Muhammad bin Hasan. Karena beliau (Ja’far Al Barzanji) adalah belakangan maka biorafinya pun hanya bisa ditemukan dalam kitab-kitab belakangan di antaranya Mu’jamal Muallifin dan dalam Hidayatul Arifin serta Idhahul Makmur karya Al Khatib. Hidayatul Arifin dan Idhahul Makmur tidak akan ditemukan dalam perpustakaan secara tersendiri tapi bisa ditemukan dalam Kasyfu Sunun karena kedua kitab tersebut adalah tambahan terhadap kitab Kasyfu Sunun.

Di situ ditemukan bahwa Ja’far Al Barzanji memiliki kitab karangan tentang Maulid dan Isra Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan kisah tentang pimpinan para Syuhada yakni Hamzah bin Abdul Mutthalib).

Kitab ini (Maulidul Barzanji) bukanlah kitab yang besar dan juga bukanlah kitab rujukan dalam bidangnya yakni bidang sejarah semisal kitab-kitab besar yang jadi rujukan sejarah  seperti Sirah Ibnu Hisyam, Thabaqat Ibnu Sa’ad, Al Ishabah ­– Ibnu Hajar ataupun Siyar A’lamin Nubala – Al Hafidz Adz Dzahabi. Itupun kitab ini kekuatan pendalilannya sangat lemah, bahkan hanya berisi sekedar pengkhabaran tanpa dalil. Ada penyebutan sejarah yang tidak bisa dibuktikan keshahihan dan akurasinya, bahkan kisah-kisah tersebut tidaklah mempunyai sanad.

Di dalam Mu’jamul Muallifin kitab ini (Maulidul Barzanji) disandarkan kepada Ja’far Al Barzanji. Tapi di dalam Kasyfu Sunun kitab Maulidul Barzanji tidak disebutkan pada biografinya tapi nanti disebut dalam biografi adiknya (Muhammad bin Hasan) bahwa dia membuatkan syair untuk kakaknya yang dikenal dengan julukan Shahibul Maulid yakni Ja’far Al Barzanji.

 


[1] Para pembaca disilahkan untuk mengecek kebenarannya pada kitab di atas, adapun jika terjadi perbedaan maka itu disebabkan karena kitab yang ada pada pentranskrip/penyusun adalah kitab terjemahan yang beda yang sayangnya tidak diketahui penerbit dan tahun terbitnya.

[2]  Penamaan ini adalah penamaan batil yang meruapakan nama syirik, dan memang dalam kitab al barzanji ada lafal yang seperti ini, yakni menghambakan diri kepada Nabi dengan lafaz Abduka

 

About these ads

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

9 thoughts on “Sesatkah Kitab Al Barzanji : Siapakah Al Barzanji ?

  1. begitulah orang kalau tidak mempunyai rasa ta’dzim kpd Rsulullah, apalagi mencintai bliau,
    Aku orang kecil yang dgn senang hati ingin mnjadi pembela & pejuang MAULID AL-BARZANJI,

    Posted by Muhammad Mustiko Zulfa | 09/12/2012, 01:29
    • Bisa anda -rahimakallah- buktikan ucapan anda “begitulah orang kalau tidak mempunyai rasa ta’dzim kpd Rsulullah, apalagi mencintai bliau” sebab kalau anda menganggap kami tidak punya rasa ta’zhim (bukan ta’dzim) kepada Rasulullah dan bahkan tidak mencintai beliau -dan itulah yang tersirat dari ucapan anda- maka berarti anda mengeluarkan kami dari wilayah keimanan alias mengatakan kami bukanlah orang beriman. sebab mengagungkan dan mencintai Nabi adalah syarat keimanan.
      kemudian silahkan di baca baik2 semua tulisan dalam topik ini -semoga Allah memberi anda dan kami hidayah- untuk mengenali kebathilan dan menjauhinya, dan memperlihatkan kepada kami kebenaran dan mengikutinya.Mencintai nabi adalah sesuatu yang disyariatkan bahkan diwajibkan dalam agama kita dan telah sama dipahami bahwasanya sesuatu yang disyariatkan itu ada aturan-aturannya, ada tuntunan-tuntunannya dan ada batasan-batasannya yang tidak boleh dilanggar. di antara aturan tersebut adalah bahwasanya mempersaksikan bahwa beliau adalah Rasul Allah -sehingga beliau memiliki keistimewaan dan keutamaan di sisi Allah yang berkonsekuensi adanya kewajiban mengikuti tuntunan dan sunnah beliau, meyakini bahwa apapun yang beliau ucapkan maka itu adalah wahyu, membenarkan segala apa yang beliau bawa, mencintai apa-apa dan siapapun yang beliau cintai, membenci apa-apa dan siapapun yang beliau benci- tapi di saat yang bersamaan harus dipersaksikan bahwa beliau hanyalah seorang hamba yang butuh kepada Rabbnya sebagaimana seluruh makhluq butuh kepada Allah, beliau berdoa kepada Allah dan bukan dimintai doa, beliau hanyalah menyampaikan dan menuntunkan perkara yang memasukkan kesurga dan menjauhkan dari neraka dan bukanlah beliau yang memasukkan ke surga atau menyelamatkan dari neraka sebab beliau bukanlah pemilik keduanya, beliau hanyalah menyampaikan tuntunan agar kita mendapat ampunan Allah dan beliau sama sekali tidak punya kemampuan untuk mengampuni orang-orang yang memiliki dosa. bukankah Allah berfiman, “dan siapakah yang Maha Mengampuni dosa kecuali Allah.” Bukankah Allah juga memerintahkan Nabinya berkata, “Katakanlah (Muhammad) Aku tidaklah memiliki kemampuan bagi diriku untuk menolak mudharat maupun memberi manfaat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Jika seandainya aku mengetahui perkara ghaib maka niscaya aku akan mendatangkan banyak kebaikan dan aku tidak akan tersentuh kejelekan”
      sekali lagi silahkan dibaca secara lengkap tulisan dalam kategori ini dengan tenang dan niat yang ikhlas mencari kebenaran, adapun setelahnya maka sungguh hidayah itu hanya milik Allah. Wallahu A’lam

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 09/12/2012, 13:12
      • Bahkan manusia takan tahu bagaimana cinta kpd Allah dan Rasul-Nya. Kecuali Allah tunjukan kpd mereka hidayah iman. Kecongkakan dan kesombongan hanya akan dibinasakan-Nya.Demikian yg terjadi pd tentara BERGAJAH tepat pd hari dilahirkannya baginda Nabi Saw. Bukan kehancuran tentara GAJAH yg luar biasa tapi kelahiran baginda Nabi Saw.yg sungguh luar biasa. Karena itulah jawaban dari rencana besar Allah Rabbul alamin menjadikan rahmat utk sekalian alam. Barjanji ingin mengingatkan itu saudaraku! SESATKAH?…

        Posted by sulaiman | 16/12/2012, 19:15
      • benar bahwa kelahiran nabi dan diutusnya beliau adalah nikmnat yang sangat besar, dan kita wajib untuk mensyukurinya akan tetapi kesyukuran itu harus diwujudkan dengan aturan2 yang telah disyariatkan dan tanpa melabrak aturan-aturan yang Allah dan rasulullah sendiri telah tetapkan yakni dengan tidak melampaui batas. adapun yang terdapat dalam kitab Al Barzanji maka itu penuh dengan pelampauan batas sebagaimana terdapat dalam tulisan2 berkenaan hal ini, silahkan di baca secara sempurna dan berurut, mensifati Nabi dengan Al Awwal, Menyelamatkan Dari Neraka Sa’ir, Yang mengampuni seluruh dosa, Tempat berlindung dari musibah yang menimpa, cahaya di atas cahaya yang kesemua hal itu adalah mutlaq hanya milik Allah. jika anda ingin mengingat akan nikmat besar akan kelahiran dan diutusnya Rasulullah maka masih banyak buku-buku yang lebih selamat dari kitab Al Barzanji seperti Sirah Nabawiyyah karya Imam Ibnu Hisyam, SIrah Nabawaiyyah Karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Sirah Nabawiyyah Karya Al Imam Adz Dzahabi maupun ringkasan-ringkasan sirah. Dan yang terpenting adalah bahwa untuk mensyukuri ni’mat tersebut adalah dengan mencontoh Rasulullah, dan pertanyaannya pernahkan Rasulullah mencontohkan pemujaan yang melampaui abtas terhadap beliau, bahkan beliau bersikap sangat keras terhadap orang yang melakukannya, beliau menegur orang yang mengatakan bahwa beliau adalah As Sayyid, beliau menegur orang yang mengatakan Masya’Allah wa Syi’ta, maka bagaimana kira-kira jika Rasulullah mendengarkan syair-syair yang menyifati beliau dengan sifat-sifat yang mutlak hanya milik Allah Ta’ala. maka saya katakan niat Al Barzanji -jika niatnya hanya untuk itu- untuk mengingatkan manusian akan ni’mat lahir dan diutusnya Nabi tidaklah salah hanya saja dia SALAH DALAM CARANYA MEMUJI NABI DENGAN CARA YANG MELAMPAUI BATAS. maka na’am dengan cara yang melampaui batas itu (menyifati Nabi dengan sifat2 Allah) KITAB AL BARZANJI ADALAH KITAB SESAT DAN MENYESATKAN. Kemudian berikutnya taruhlah niat barzanji hanya seperti itu, tapi apakah niat orang2 yang membacanya juga hanya untuk mengingat ni’mat nabi sementara kebanyakana dari mereka tidak paham dan tidak mengerti apa yang dia baca, kemudian ternyata kitab tersebut di baca di hajatana-hajatan tujuannya bukan untuk mengingat nabi tapi UNTUK MENCARI BERKAH DAN ITU TIDAK DISYARIATKAN. Wallahu A’lam

        Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 17/12/2012, 05:39
  2. Saudaraku! Justeru saya khawatir dg sikap anda yg sok tahu.Tidakkah anda sadari kesombongan itulah kunci kehancuran! Bacalah kisah ABRAHAH dia dibinasaka Allah karena sok tahu menganggap Kabah yg slalu diziarahi kaum musyrikin quraisy kala itu tdk berguna,hingga memandang perlu untuk dihancurkan.Apa yg mereka ketahui dari dlohirnya ternyata tidak cukup karena Allah menyimpan rahasia dibalik itu.Demikian halnya dalam kalimat hikmah seperti dlm barjanji ada kalimat rahasia yang belum anda fahami. OK

    Posted by Sulaiman | 18/12/2012, 11:17
    • Apa yang disebutkan dalam transkrip ini ana rasa sudah mencukupi sebagai penjelasan.
      Rasulullah bersabda, “Doa itu adalah ibadah,” jadi berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan kesyrikan
      Rasulullah bersabda,” jika engkau meminta mintalah kepada Allah, jika engkau isti’anah beristi’anahlah kepada Allah,” jadi jika ada yang meminta -merupakan permintaan ibadah seperti minta diselamatkan dalam perkara yang sangat genting (dalam istilah syar’inya disebut istighatsah) maka ia telah melabrak sunnah nabi dan juga telah melakukan perbuatan kesyririkan.
      catatan : saya mengatakan perbuatannya adalah perbuatan kesyirikan bukan berarti pelakunya langsung di vonis musyrik sebab dalam perkara ini ada kaidah2 tersendiri yang telah di bahas oleh para ulama.
      kemudian Rasulullah bersabda, “barang siapa yang berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka,” sekarang dengan sangat saya minta kepada anda atau siapapun yang bersama dengan anda bisakah anda membawakan sanad yang bisa dipertanggungjawabkan dari kisah-kisah yang disebut al barzanji dalam kitabnya seperti bahwa ketika nabi lahir beliau mengangkat kepalanya ke langit, pertumbuhannya sangat pesat,binatang melata ikut berbicara dengan bahasa arab yang fasih. Al Imam Muhammad bin Sirin berkata, “sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka akan berkatalah siapaun yang hendak berkata semaunya saja.”
      kemudian ketahuilah bahwa saya tidaklah sok tahu tentang perkara ini, ketahuilah bahwa saya tumbuh ditengah masyarakat yang menjadikan barzanjian sebagai point nomor satu dalam tiap hajatannya.mau naik rumah, barzanjia, kawinanbarzanjia, khitanan barzanjian, beli motor baru barzanjia, naik haji barzanjian, bahkan tiap malam jum’at -tanpa hajatan sekalipun- barzanjian. pokonya tidak bisa tidak hajatan apapun “wajib” ada barzanjian dalam keadaan tak satupun masyarakat awam yang getol barzanjian di tempat saya paham dan tahu arti dari apa yang dia baca dari kitab al barzanji,
      JADI TERAKHIR
      BISAKAH ANDA JELASKAN DAN SEBUTKAN KALIMAT RAHASIA DALAM KITAB BARZANJI YANG BELUM SAYA PAHAMI…!

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 18/12/2012, 13:59
      • saudaraku,ust. Abu! Saya hormat karena ilmu,benci karena sombong.Saya bangga sombongnya Abu B Baasir kpd Zionis.Maulid,barjanji,deba itu bagi kami bukan ibadah bukan pula do’a.Dia tdk lebih dari budaya.Kristalisasi dari tafakur atas karunia diutusnya sang pembawa rahmat( dari Tuhan ) serta kerinduan hati yg mendalam maka cerminannya adalah ritual maulid.Ibarat bersisir melihat cermin itu bukan ibadah tapi rapihnya rambut itulah dianjurkan.Andapun akan menyesatkan dokter karena dalam obat itu ada bakteri?

        Posted by sulaiman | 18/12/2012, 18:53
      • Apa yang ingin saya sampaikan sudah disampaikan…
        saya hanya bisa bilang Allah berfirman “lana a’amaluna wa lakum a’malukum, laa hujjata bainana wa bainakum.Allahu yajma’u bainana wa ilaihil masir.”
        wassalamu ‘ala manittaba’a hudaya..

        Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 18/12/2012, 19:14
  3. BILLAHI HIDAYAH WA TAUFIQ WAALAMANITTABAA HUDAAYA WASSALAM.

    Posted by sulaiman | 18/12/2012, 20:58

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d bloggers like this: