Antara Sunnah dan Bid'ah, Fiqih/Tanya Jawab

Hukum Melafadzkan Niat

Berkata Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apapun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan: “Usholli lillahi sholata kadza mustaqbilal qiblati arba’a roka’aat imaaman aw ma’muuman.” (Aku tunaikan untuk Allah shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum. Demikian pula ucapan “adaa’an” atau “qodho’an” ataupun “fardhal waqti”.

Melafadzkan niat ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Tidak ada seorang pun yang menukilkan hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dengan sanad yang shahih, dha’if, musnad (bersambung sanadnya) ataupun mursal (terputus sanadnya). Bahkan tidak ada nukilan dari para sahabat. Begitu pula tidak ada salah seorang pun dari kalangan tabi’in maupun imam yang empat yang menganggap baik hal ini.
Hanya saja sebagian muta`akhirin (orang-orang sekarang) keliru dalam memahami ucapan Imam Syafi’i – semoga Allah meridhainya – tentang shalat. Beliau mengatakan: “Shalat itu tidak seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dengan dzikir.” Mereka menyangka bahwa dzikir yang dimaksud adalah ucapan niat seorang yang shalat. Padahal yang dimaksudkan Imam Syafi’i – semoga Allah merahmatinya – dengan dzikir ini tidak lain adalah takbiratul ihram. Bagaimana mungkin Imam Syafi’i menyukai perkara yang tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu shalat pun, begitu pula oleh para khalifah beliau dan para sahabat yang lain. Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita satu huruf dari mereka tentang perkara ini, maka kita akan menerimanya dan menyambutnya dengan ketundukan dan penerimaan. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka, dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari pembawa syari’at shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Zaadul Ma’ad: 1/201).

(Sumber: Majalah Syari’ah edisi perdana / April 2003 halaman 35 dengan sedikit perubahan).

 


Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-34 Tahun ke-1 / 08 Agustus 2003 M / 09 Jumadits Tsani 1424 H

About these ads

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

4 thoughts on “Hukum Melafadzkan Niat

  1. http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/12/03/hukum-melafazkan-niat/

    Subhanallah..subhanallah..subhanallah..
    Inilah tulisan mendalam Ust. Muhammad Mu’afa yang kami tunggu2 ^_^ tentang HUKUM MELAFADZKAN NIAT…insyaAllah mencerahkan..

    Di dalamnya dijelaskan 11 argumentasi terpenting yang menunjukkan MUBAHNYA pelafalan niat…12 tanggapan beliau thd. sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah haram, bahkan bid’ah…tanggapan thd. pendapat yang mensunnahkan dan mewajibkan…DAFTAR NAMA PARA ULAMA YANG TIDAK MELARANG PELAFALAN NIAT..dan terakhir adalah pesan beliau ttg. penyikapan dalam adab/tata krama terhadap ikhtilaf ulama…

    Posted by Umi Kaltsum | 11/12/2012, 12:24
  2. http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/12/03/hukum-melafazkan-niat/

    Berikut petikannya…

    “Melafalkan niat untuk melakukan ibadah hukumnya mubah bukan haram, wajib atau sunnah/mandub/mustahabb. Kemubahan ini tidak membedakan apakah ibadah tersebut ibadah Mahdhoh seperti shalat, puasa Wudhu, Mandi Junub, Tayamum, Zakat, Haji, Umroh, berkurban, Kaffaroh,I’tikaf dll ataukah Ghoiru Mahdhoh seperti berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, membezuk orang sakit dll, juga tidak membedakan apakah ibadah tersebut manfaatnya juga dirasakan hamba yang lain seperti menghajikan orang lain ataukah tidak, juga tidak membedakan apakah ibadah tersebut dilakukan langsung setelah pelafalan ataukah ada jarak waktu. Semuanya mubah selama lafadz niatnya tidak bertentangan dengan syara’, baik untuk kepentingan mengajari, menguatkan niat, menghilangkan was-was, menegaskan maksud, dan semua kepentingan yang syar’i. Namun kemubahan ini adalah mubah dari segi pelafalan itu sendiri, bukan menjadi syarat sah, sifat wajib, apalagi rukun niat. Jika niat dilafalkan, hendaknya tidak dilakukan terus menerus, dan mengucapkannya juga harus pelan jika dimungkinkan mengganggu ibadah orang lain. Jika pelafalan niat itu untuk selain ibadah seperti jual beli, ijaroh, wakalah, syirkah, nikah, talak, rujuk, sumpah, nadzar dan yang semisal, maka lebih jelas lagi kemubahannya.”

    Posted by Umi Kaltsum | 11/12/2012, 12:25
    • Jawab :
      1. perselisihan tentang perkara ini nanti muncul setelah zamannya abu abdillah az zubairi yang salah dalam memahami perkataan imam syafii adapun sebelum beliau maka perkara ini tidak di kenal sehingga tetaplah perkara ini di atas asalnya yakni niat itu tidak dilafalkan sebab tidak ada nash dari Nabi.
      2. khilaf dalam perkara ini bukanlah khilaf yang sifatnya tanawwu’ tapi sifatnya khilaf tadhad sehingga tidak setiap perselisihan ulama itu bisa dicari jalan tengahnya ketika yang satu mengatakan wajib atau sunnah yang satunya mengatakan haram atau bid’ah kemudian kita datang dengan pendapat ketiga mengatakan bahwa itu mubah.
      3. cukuplah munculnya perselisihan dalam perkara ini (ada yang mengatakan sunnah, wajib dan sekarang ada yang bilang mubah) menunjukkan rusaknya hal tersebut
      4. mengatakan sesuatu itu mubah atau tidak mubah (dalam perkara ibadah) itu harus ada dalilnya secara nash (bukan dengan argumen) sebab telah mafhum dalam kaidah bahwa ASAL SELURUH IBADAH ADALAH HARAM SAMPAI ADA DALIL YANG MEMBOLEHKAN. apa dalil (yang nash/naqli bukan aqli/arumen) yang membolehkan melafalkan niat?
      5. berhunungan dengan poit no 2 dan 4, khilaf dalam perkara ini tidaklah seperti khilaf dalam persoalan mengangkat tangan dalam takbir, apakah angkat tangan dulu baru takbir atau sebaliknya atau bersamaan? dalam perkara ini (takbir dan angkat tangan) kita bisa mengatakan boleh ketiga-tiganya sebab nabi pernah melakukan semuanya. adapun melafalkan niat nabi tidak pernah melakukannya sekalipun dan tidak ada qarinah dari beliau akan bolehnya sehingga tidak bisa dikatakan bahwa keduanya boleh saja, melafalkan atau tidak keduanya sah2 saja.
      6. apakah melafalkan niat mendatangkan manfaat atau tidak? kalau dikatakan mendatangkan manfaat berarti dia telah menetapkan suatu ketetapan (baca syariat) yang tidak ditetapkan oleh pembuat syariat sebab ia telah menetapkan suatu hal dalam masalah ibadah yang tidak ditetapkan oleh pembuat syariat? kalau tidak ada manfaatnya maka Rasulullah telah bersabda “Dari baiknya islam seseorang adalah meninggalkan yang tdk bermanfaat baginya.”
      7. Manakah yang lebih baik melafalkan niat atau tidak? kalau dikatakan melaflkan niat lebih baik berarti kita menuduh nabi meninggalkan suatu perkara yang lebih baik. kalau dikatakan bahwa tdk melafalkan lebih baik maka hanya orang jahillah yang meninggalkan sesuatu yang lebih baik. kalau dikatakan bahwa tergantung orang dan kondisinya, maka kita katakan kenapa nabi tidak menjelaskan suatu hal yang bisa saja lebih baik dan bermanfaat bagi umatnya sementara beliau telah bersabda “semua yang mendekatkan ke jannah telah kusampaikan dan semua yang menjauhkan dari neraka telah kusampaikan.”
      8. Kemudian perkataan “Semuanya mubah selama lafadz niatnya tidak bertentangan dengan syara’, baik untuk kepentingan mengajari, menguatkan niat, menghilangkan was-was, menegaskan maksud, dan semua kepentingan yang syar’i.” maka di jawab, a. sungguh pelafalan niat bertentangan dengan syariat sebab ia tidak pernah disyariatkan oleh pembuat syariat. b. Nabi tidak pernah melakukannya bahkan untuk sekedar mengajari padahal dipahami bahwa para sahabat bertingkat tingkat dalam pemahamannya bahkan tidak dinukil dari Nabi bahwa beliau pernah mengajari bahkan seorang badui pun dan telah dipahami semangat beliau dalam mengajari umatnya akan tetapi dalam perkara ini semua sudah paham kalau perkara niat itu urusan hati. c. jika tujuannya untuk menghilangkan was2 atau menguatkan niat maka berkata Al Imam Syafii : “was was dalam menetapkan niat ketika shalat dan bersuci adalah bagian dari kebodohan terhadap syariat atau kelemahan akal.” Al Imam As Suyuthi berkata :”di antara BID’AH juga adalah was-was dalam menetapkan niat shalat. HAL INI BUKANLAH PERBUATAN NABI DAN BUKAN PULA SHAHABATNYA. MEREKA TIDAK MENGUCAPKAN NIAT SEDIKITPUN SELAIN TAKBIR. SUNGGUH ALLAH BERFIRMAN :””SUNGGUH TELAH ADA PADA DIRI RASULULLAH SURI TAULADAN YANG BAIK.” maka mengajukan argumen bahkan ribuan argumen untuk membela suatu pendapat sementara telah ada SUNNAH/PERBUATAN yang jelas dari RASULULLAH adalah perbuatan dan usaha yang SIA-SIA
      9. kaitaannya dengan point ke 8 dan inilah KAIDAH TERPENTING dalam menyikapi dan menyelesaikan perselisihan para ulama, telah tetap nash dalam al qur’an “Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” sekarang muncul khilaf dalam perkara ini maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. sekarang apakah Rasulullah pernah melafalkan niat atau mengajarkannya? kalau dikatakan pernah maka datangkanlah bukti, kalau dikatakan tidak maka perbuatan Nabi sudah mencukupi buat umatnya. maka dengan kaidah ini akan selesai begitu banyak permasalahan seperti hukum HIJAB/NIQAB/CADAR, Hukum memanjangkan CELANA/KAIN di bawah mata kaki, Hukum JENGGOT dan lainnya, hanya dengan melihat sunnah nabi berupa perbuatan dalam hal tersebut maka selesailah semua khilaf.
      10. taruhlah kita terima bahwa hal itu mubah (boleh melafalkan dan boleh tidak melafalkan) maka bukankah mengikuti perbuatan Nabi (tidak melafalkan niat) adalah perbuatan yang lebih selamat dan bukankah kita diperintah untuk mengikuti beliau.
      11. “Seluruh ucapan anak adam bisa di tolak dan bisa diterima kecuali ucapan penghuni kubur ini” demikian ucapan al imam malik sambil menunjuk ke kuburan nabi, jadi biarpun ada 1000 ulama yang mengatakan bahwa niat itu hukumnya mubah maka sungguh perbuatan Nabi lebih baik untuk di ikuti. sehingga ketika kita menyanggah pendapat seorang ulama bukan berarti kita tidak beradab terhadap mereka bahkan kita meyakini bahwa ijtihad mereka -jika mereka sampai pada level tersebut- tetap dapat pahala wlaupun salah, tapi adapun kita maka kita wajib mengikuti pendapat yang benar dengan tetap menghormati ulama yang salah ijtihadnya )adapun pendapatnya kita katakan salah kalau itu memang salah) tentang perselisihan para ulama silahkan baca kitab Raf’ul malam ‘an aimmatil A’lam karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
      Wallahu A’lam

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 11/12/2012, 20:25

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Hukum Melafadzkan Niat « ncca19.wordpress.com - 11/11/2012

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d bloggers like this: