Antara Sunnah dan Bid'ah, Manhaj

Taqlid dalam Sorotan

 

Allah Jalla Sya`nuhu telah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrikin benci. Dia menurunkan kitabNya yang berisikan petunjuk dan cahaya bagi siapa yang mengikutinya. Kemudian Dia membebaninya untuk menerangkannya seraya berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS An Nahl: 44).

Beliaupun melaksanakannya dengan baik dan sempurna, beliaulah pengungkap Kitabullah, penunjuk akan makna-maknanya, hal itu dipersaksikan para sahabat-sahabatnya yang Allah telah meridhai dan memilih mereka untuk NabiNya, sehingga merekalah orang-orang yang pertama yang menukilnya.

Menjadi sebuah aksioma bila kemudian mereka adalah manusia-manusia yang paling tahu terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terhadap apa yang diinginkan Allah dalam kitabNya, tampil sebagai peran pengganti dalam mengungkap isi-isinya setelah Rasulullah, selaras dengan penuturan salah seorang di antaranya sahabat Jabir bin Abdillah, “Rasulullah ada di hadapan kami sedang Al Qur`an turun kepadanya, beliau mengetahui tafsirnya, maka apa yang beliau amalkan kami pun mengamalkannya.” (HR Muslim, Abu Daud).

Karenanya para sahabat Nabi paling berpegang teguh dengan syariat dan berpijak di atas nash-nash sebab mereka tahu kalau agama telah sempurna tidak membutuhkan tambahan dan syariat pun telah terang lagi gamblang tidak butuh penjelasan ulang perkaranya hanyalah taslim (penyerahan) dan patuh.

Para pembaca, fenomena kepribadian yang seperti itu sangatlah nadir (sedikit / sukar dicari) di zaman kita ini, di dalam memahami agama orang lebih cenderung berusaha menambah penjelasan baru apalagi kalau dirasa bertolak belakang dengan amalannya atau bahkan tuturut munding. Kumaha kalolobaan jelema atawa kumaha ceuk nu ditokohkeun bari jeung teu nyaho hujahna lantaran kadung mercayakeun alias taqlid, tanpa sedikitpun melirik kitab ataupun sunnah apalagi faham para sahabat dalam menginterpretasikan keduanya. Wa ilallahil musytaka.

Taqlid secara bahasa artinya memasang qiladah (kalung) di leher, sedangkan menurut istilah “taqlid adalah merujuk pada satu pendapat dimana tidak ada hujjah bagi si pencetusnya”, atau dengan ungkapan lain: “setiap orang yang engkau ikuti ucapannya tanpa engkau haruskan dirimu menerimanya dengan dalil yang mendukungnya, maka engkaulah pentaqlidnya”. Adapun ittiba’ adalah “apa yang di atasnya hujjah”, dengan kata lain, setiap yang menuntutmu adanya dalil untuk mengikuti ucapannya maka engkau ittiba’ kepadanya.

Ittiba’ di dalam agama adalah hal yang dibolehkan, sementara taqlid perkara yang sangat tercela. Allah berfirman, “Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur`an lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” “(Rosul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikuti juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih nyata memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” “Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS Az Zukhruf: 21-25).

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At Taubah: 31).

Akibat dari kebodohan akan prinsip-prinsip mengkaji dan mengamalkan ajaran agama dengan benar, banyak kalangan kaum muslimin yang akhirnya terjerumus dalam lingkaran taqlid dan fanatik, lebih mengunggulkan ucapan gurunya, tokohnya ataupun madzhabnya ketimbang mengedepankan Al Qur`an dan sunnah serta faham salaf (para pendahulu), gilanya lagi mereka yang ekstrim berkeyakinan bahwa mengambil dalil adalah haknya seorang mujtahid, kemudian mensifati mujtahid dengan sifat-sifat yang pada sosok Abu Bakar Ash Shiddiq sekalipun tidak didapati, malahan dengan tegas menyatakan para tokoh-tokoh madzhab kami, dewan ulama kami lebih paham terhadap dalil daripada kita, walhasil ketika ada yang menyampaikan dalil yang shahih, mereka tidak mau menerimanya bahkan mencela orang yang mengamalkannya dengan dalih tidak sesuai dengan madzhab atau tidak ada keputusan “sang dewan”. Apa yang ada pada mereka sangatlah nampak dimana seruan-seruan dakwahnya semata ajakan tuk bermadzhab dan manut sama tokoh tertentu tidak peduli meski dalil yang diselisihi.

Tokoh gerakan pembaharu taqlid abad ini adalah Muhammad Zahid Al Kautsary, ia seorang yang fanatik hanafy, sekaligus pembawa bendera aqidah Jahmiyyah zaman ini, celaannya luar biasa terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, dan juga Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia mengatakan, “Jika Ibnu Taimiyyah masih dianggap syaikhul Islam, maka semoga keselamatan menyertai Islam.” Dalam salah satu tulisannya ia kembali berkata, “Kalau kita bilang tidaklah Islam di masa akhir-akhir ini ditimpa musibah yang lebih berat kecuali karena adanya Ibnu Taimiyyah yang telah memporak-porandakan kesatuan muslimin, tentu hal itu tidaklah berlebihan.”

Al Kautsary ini, pengetahuannya dalam bidang ilmu hadits dan rijalnya boleh dikata mumpuni, namun disayangkan ternyata itu semua menjadi hujjah atasnya dan malapetaka baginya, ilmu tidak menambahnya petunjuk dan cahaya baik dalam masalah furu (cabang), apalagi ushul (pokok), ia seorang yang berakidah Jahmiyyah, kebenciannya sangat nyata terhadap ahli hadits, para imam-imam sunnah dan terhadap seluruh ahli sunnah. Di antara a`immah yang kena sentilannya adalah Ibnu Khuzaimah, penulis kitab “At Tauhid”. Al Kautsary mengatakan, “Ini kitab syirik!”. Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad pun tak luput dari sentilannya wallahul musta’an.
Kefanatikan terhadap Hanafy, membuatnya buta, dia menshohihkan salah satu hadits, yang semua ahli hadits mengerti dan menyatakan kalau hadits itu palsu -sebagai sikap pembelaan di atas ashobiyyah madzhabiyyah-, yakni, “Abu Hanifah adalah pelita umatku.” Bukan suatu yang aneh pula bila dia mendho’ifkan puluhan hadits Bukhori dan Muslim dalam keadaan tanpa didapati pada keduanya cacat yang berarti. Walhamdulillah Al Allamah ‘Abdurrahman Al Mu’allimy Al Yamaniy telah membantahnya dan membongkar kebobrokannya dalam kitab “Tholi’atut Tankil” dan “At Tankil bima fi tanibi Al Kautsary minal Abathil”. (Silahkan merujuk pada keduanya bagi yang menggeluti bidang ilmu hadits – penting!).

Para pembaca, seperti dikatakan, “Tiap kaum mesti ada saja yang menjadi pewaris kaum sebelumnya.” Abdullah Al Ghimary dan Abdul Fatah Abu Guddah. Dua “syeikh” sejoli ini betul-betul turunannya Al Kautsary dari sisi akidah maupun madzhab, mereka berdua adalah muridnya yang menyanjung bebeakan alias habis pisan dengan sanjungan setinggi langit, seperti: Al Faqih, Al Muhaddits, Al Hujjah, Ats Tsiqoh…, Al Muhaqqiq, Al Allamah, Al Kabir, atau juga roh … ustadz Muhaqqiq, Al Hujjah…, Annimah Al Kubro, dan sanjungan lainnya, dalam keadaan permusuhan Al Kautsary terhadap sunnah dan ahli sunnah sangat keras di samping akidahnya bejat.
Lain daripada itu Abdul Fatah Abu Guddah sangat bangga terhadapnya, dia sangat fanatik dan taqlid kepada gurunya itu, sedikitpun dia tidak pernah berkomentar tentang gurunya, malah nampak begitu terkesan. Hal itu amat kentara ketika dia namai anak yang paling besarnya dengan nama “Zahid” dalam rangka tabarruk dan mengenang sang guru pujaannya.
Seperti halnya Al Kautsary yang celaan dan tuduhannya terhadap ahli hadits dan sunnah amat sangat keji, maka tak jauh beda apa yang ada pada diri Abdul Fatah Abu Guddah maupun Abdullah Al Ghimary, celaan dan tuduhannya tak kalah keji dilontarkan kepada ahli hadits dan ahli sunnah.

Di kota asalnya Aleppo (Syria) saat dia Abu Ghuddah berkhuthbah di atas mimbar pada hari Jum’at, dia menyibukkan diri dengan mencela ahli tauhid yang dikenal di negerinya dengan salafiyyun, dan juga ahli tauhid di Saudi Arabia dan yang lainnya yang dijuluki Wahabiyyah. Dia mengumumkan permusuhannya yang keras terhadap mereka dan nyata-nyata menyesatkannya lewat perkataannya, “Sesungguhnya isti’anah (minta pertolongan) kepada yang sudah mati selain kepada Allah, dan istighotsah kepada mereka adalah boleh bukan syirik. Siapa yang mengira hal itu syirik atau kufur, maka ia kafir!” Dalam keadaan semua orang tahu kalau mereka para ahli tauhid ahlissunnah menyatakan perbuatan itu adalah kesyirikan dan dakwah mereka semata-mata memurnikan peribadahan kepada Allah dan ikhlash dalam hal ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Abu Ghuddah menafikan kalau kalam Allah itu terdiri dari huruf dan suara, seperti keyakinannya Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Pada komentarnya terhadap kitab asma` wash shifat halaman 194 karya Imam Al Baihaqi dia mengatakan, “Sesungguhnya Musa ‘alaihis salam ketika Allah Ta’ala mengajak bicara kepadanya, beliau tidak mendengar suaraNya…”
Ini jelas-jelas sangat bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah aqidahnya para sahabat, tapi nampaknya ini semua adalah buah taqlidnya kepada Al Kautsari di saat Kautsari menolak ketinggian Allah Ta’ala atas makhlukNya.

Sungguh tidak ada baiknya pada diri Abu Ghuddah walau ia sempat tinggal di Saudi Arabia mengajar beberapa tahun lamanya, menyembunyikan jati dirinya berkura-kura dalam perahu alias berpura-pura tidak tahu-menahu.

Bagai bobok manggih gorowong serasa mendapatkan jalan untuk mencela dan menjatuhkan seorang ulama ahlussunnah muhaddits negeri Syam Syaikh Nashiruddin Al Albani, saat beliau mengkritik dan mendho’ifkan salah satu sanad hadits dalam Shahih Bukhari – bukan matannya!-. Abu Ghuddah dan Syaikh Abdullah Al Ghimari menampakkan reaksi pengingkaran yang keras padahal Abu Ghuddah sendiri tahu kalau Al Kautsari yang menjadi guru kebanggaannya mengingkari matan hadits tersebut, lalu kenapa dia diam tidak berkomentar? Karena Kautsari adalah gurunya! Taqlid plus licik, bukan karena ada urusan pribadi dengan Albani tetapi karena memang kebenciannya terhadap sunnah dan ahlissunnah.
Abdullah Al Ghimari yang dielu-elukan para pengikutnya sebagai ahli hadits dunia, tidak ada yang perlu ditanggapi dari pengingkarannya terhadap Syaikh Al Albani, sebab dia dengan lugasnya mendho’ifkan dua hadits di antaranya dalam Shahih Bukhari dan Muslim, yang aneh alasannya bukan karena cacat pada sanadnya akan tetapi karena menyelisihi Al Qur`an menurut sangkaannya-. (Lihat bantahan Al Albani dalam Ash Shohihah no. 2814).

Hadits pertama, dari A`isyah ia berkata, “Diwajibkan sholat dua roka’at dua roka’at, maka hal itu ditetapkan dalam safar dan ditambah dalam keadaan mukim.” Al Ghimari mengatakan, “Dho’if dan syadz.” Dalam risalahnya As Subhu As Saafir halaman 16. Kemudian hadits yang kedua, “Sesungguhnya Allah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian atas musafir dua roka’at dan bagi yang mukim empat roka’at…” dari sahabat Ibnu Abbas. Dia Abu Ghuddah menghukuminya dho’if pada halaman 45 dalam risalah yang sama. Masih layakkah dua orang ini dikatakan ahli hadits dunia?! Atau ahli taqlid dunia tepatnya!

Para pembaca, tokoh pembaharu gerakan taqlid berikutnya adalah Muhammad Sa’id Al Buthi, Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al Hanafi Ad Diyubandi Al Kandahlawi (pendiri Jama’ah Tabligh) dan para pengikutnya serta Ali Ash Shobuni (penulis kitab Shofwatut Tafasir) dimana ia mengatakan ihwal taqlid kepada empat Imam (Ahmad, Malik, Syafi’i dan Abu Hanifah) “Sungguh ini merupakan kewajiban yang paling wajib”. Tentu saja ucapannya ditentang banyak ulama seperti Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahullah, beliau berkata, “Tidak ragu bahwa penentuan ini adalah keliru, sebab tidak wajib untuk taqlid kepada seorang pun dari empat imam itu, tidak pula kepada selainnya walau bagaimanapun keilmuannya, karena kebenaran adalah dalam mengikuti Kitab dan Sunnah bukan dalam bertaqlid kepada seseorang dari manusia. Paling tidak taqlid itu hanya dibolehkan ketika darurat kepada siapa yang diketahui kapasitas keilmuannya, keutamaannya serta kelurusan aqidahnya seperti hal itu telah diterangkan Ibnul Qayyim dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in.” (Majmu’ul Fatawa wa Maqolaatusy Syaikh jilid III halaman 52).

Al Allamah Muhammad Sulthon Al Ma’shumi Al Khujandi As Salafy (w. 1380 H) mengatakan, “Yang benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengharuskan berkomitmen kepada madzhab salah seorang a`immah, akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan untuk mengikutinya, siapa yang menyelisihi sunnah Rosulullah setelah tetap adanya, maka penyelisihannya tertolak. Tidak boleh bagi seorangpun yang menisbatkan dirinya kepada Islam untuk mengatakan “Aku tidak akan mengamalkan hadits, tapi akan mengamalkan ucapan pimpinanku (imamku).” karena yang demikian akan menyeret kepada kemurtadan wal ‘iyadzubillah.

Wajib bagi setiap muslim agar merenungkan apa yang tertera dalam hadits, menjadikannya ada di kedua kelopak matanya, menggigitnya (memegang teguh) dengan kuat, mengikatkan kepadanya sepenuh hati, jangan menyimak siapa yang menyelisihinya. Inilah jalan yang lurus, ambillah ia sebagai satu-satunya madzhab tidak keluar darinya.” (Lihat Hal Muslimu Mulzamun bittiba’i Madzhabin Mu’ayyanin min Madzaahibil Arba’ah halaman 114).

Al Allamah Ibnul Qayyim berkata, “Ini (taqlid) adalah kebid’ahan yang jelek muncul di tengah-tengah umat, tidak ada seorang pun dari a`immah Islam mengatakannya, mereka adalah orang-orang yang tinggi kedudukan dan kemampuan, lebih mengetahui tentang Allah dan RosulNya daripada menuntut manusia untuk taqlid. Sangat jauh melenceng orang yang berkata harus bermadzhab dengan madzhab salah seorang ‘alim dari kalangan ulama, apalagi kalau mengharuskan bermadzhab dengan salah satu dari madzhab yang empat.” (I’lamul Muwaqqi’in jilid IV/261 dari Hal Muslimu Mulzamun littiba’i Madzhabin Mu’ayyan halaman 122).

Para pembaca, ketika gejolak firqoh sesat semakin menjadi, terutama setelah berlalunya tiga kurun pertama, dari firqoh Khowarij, Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan yang lainnya mulailah aroma bau fanatik tercium di sana-sini, pergolakan taqlid terhadap tokoh-tokoh firqoh tertentu pun kian membara.

Saat itu manusia ditimpa bencana lebih gemar memunculkan ide dan gagasan baru, mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya dari syari’at yang telah dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kondisi seperti ini terus berkembang beberapa lamanya, mengakibatkan generasi-generasi yang datang kemudian mayoritasnya membelot dari jalan yang ditempuh kaum salaf, menjungkir-balikkan dasar-dasar peletakan agama, akhirnya Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ucapan para Khulafa`ur Rasyidin dan seluruh para sahabat radhiyallahu ‘anhum diukur di atas ucapan dan pendapatnya orang-orang yang mereka mentaqlidnya.
Sungguh gerakan taqlid ini benar-benar menyelisihi perintah Allah dan RasulNya serta petunjuk para sahabat-sahabatnya dan juga keadaan para a`immah, menempuh jalan selain jalannya ahlul ilmi. Allah berfirman,

“Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS Ali Imran: 31).

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr: 7).

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisa`: 59).

Para pentaqlid telah menggoreskan sejarah yang penuh noda atas umat ini, mereka memecah belah agama dan menjadikan para penganutnya bergolong-golongan, tiap golongan dibela para pengikutnya dengan semangat kefanatikan, mereka tidak mau menerima sesuatu yang jelas-jelas datang dari sunnah Rasulullah yang shahih, karena yang mengamalkannya bukan dari golongannya dan yang terpenting karena jajaran yang dianggap sebagai dewan ulamanya tidak mengamalkan dan tidak menganggapnya sebagai sunnah. Seolah sunnah yang tidak diamalkan sang “dewan” adalah agama baru selain agama mereka! Sementara Allah Ta’ala berfirman,

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali ke dunia, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqoroh: 166-167).

Taqlid dan fanatik golongan serta ashobiyyah syaithoniyyah agaknya begitu membelenggu hizb-hizb yang mengibarkan bendera dakwah Islam dewasa ini, semua itu menyeretnya keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta paham kaum salaf dalam mengamalkan keduanya, meninggalkan jalannya para a`immah, para ulama yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Tak disangkal di antara hizb itu ada yang mempunyai peraturan dan dewan yang diulamakan tersendiri dimana setiap keputusan-keputusannya tidak boleh diselisihi, tidak boleh keluar dari pemahamannya mereka, mensejajarkan mereka dengan para a`immah, para ulama yang peranannya di dalam membela dan mengikuti sunnah Rasulullah sangat nampak dalam sejumlah karya-karya besarnya yang menunjukkan kapasitas keilmuan- dan kehidupan sehari-harinya.

Lingkungan seperti ini menyebabkan para muqallidnya (pengikutnya) hanya mau mengambil dan mengamalkan pendapat yang muncul dari tokoh-tokoh madzhabnya atau sang dewan ulamanya, meninggalkan dari beramal dengan fatwa Imam Al Bukhari, Abdullah ibnul Mubarok, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsauri, Sa’id ibnul Musayyab, dan Hasan Al Bashri, serta para a`immah dan ulama lainnya yang jauh lebih layak untuk diambil ilmunya. Parahnya lagi, pendapat yang berasal dari tokohnya yang katanya hasil pengkajian berdasarkan Kitab dan Sunnah- lebih didahulukan meski berseberangan dengan fatwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Ibnu Mas’ud serta seluruh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Lalu bagaimana kiranya jika mewajibkan para pengikutnya untuk mengikuti pendapat para tokoh madzhab dan kesepakatan sang “dewan ulama” yang kapasitas keilmuan, pembelaan dan peranan serta ittiba’nya terhadap sunnah jauh lebih rendah, kemudian melarang untuk mengikuti dan mengambil pendapatnya para a`immah, para salaf para sahabat?!!!

 

Sumber : Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus-Salaf Bandung

About these ads

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: