Manhaj

Menggengam Bara Api

Sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran (hari dimana seseorang yang sabar menjalankan al haq dia akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat). Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.”

Dari Abu Umayyah Asy Sya’ baniy berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah: “Ya Aba Tsa’labah apa yang engkau katakan tentang ayat Allah yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian (tetaplah di atas diri-diri kalian); tidak akan bisa orang-orang yang sesat itu memberikan mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.” (QS. Al Maidah: 105)

Berkata Abu Tsa’labah:

“Demi Allah, aku telah bertanya kepada Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam tentang ayat itu, maka beliau ‘alaihisshalaatu wasallam bersabda yang artinya:

“Beramar ma’ruf dan nahi mungkarlah kalian sehingga (sampai) kalian melihat kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan (setiap orang mengatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya masing-masing.

Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan padanya), setiap orang merasa ta’jub dengan akal pemikirannya masing-masing, maka peliharalah diri-diri kalian (tetaplah di atas diri-diri kalian) dan tinggalkanlah orang-orang awam karena sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran (hari dimana seseorang yang sabar menjalankan al haq dia akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat).

Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.”

Seseorang bertanya kepada Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang artinya: “Ya Rasulullah, pahala 50 orang dari mereka?” Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam berkata: “Pahala 50 orang dari kalian (para Sahabat Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam)”

{HR.Abu Daud: 4341, At Tirmizi: 3058, dan dihasankan olehnya; Ibnu Majah: 4014, An Nasai dalam kitab Al Kubro: 9/137-Tuhfatul Asyrof, Ibnu Hibban: 1850-Mawarid, Abu Nuaim dalam Hilyatul Aulia: 2/30, Al Hakim: 4/322-dishohihkan dan disetujui oleh Adz Dzahabi, Ath Thahawi dalam Misykalul Atsar: 2/64-65, Al Baghowi dalam Syarhu Sunnah: 14/347-348 dan dalam Ma’alimul Tanzil: 2/72-73, Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jamiul Bayan: 7/63, Ibnu Wadloh Al Qurtubi dalam Al bida’u wa nahyuanha: 71, 76-77; Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shobr: 42/1} Hadits Tsabit dari Rasulullah dengan syawahidnya (jalan lainnya).

Dalam hadits Rasullallah shallallahu’alaihi wasallam di atas menunjukkan:

Kewajiban untuk terus beramal ma’ruf nahi munkar sampai datang masa yang disifatkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Masa yang disifatkan oleh Rasullalllah shallallahu’alaihi wasallam tersebut menunjukkan bahwa tidak bermanfaat lagi amal ma’ruf nahi munkar karena disebabkan kerusakan manusia pada waktu itu.

Terkadang ada pertanyaan yang mengatakan: bagaimana derajat pahala yang diberikan orang- orang yang bersabar dalam beramal di atas al haq pada waktu itu berlipat ganda dibandingkan dengan amalan para sahabat radhiallahu’anhum? Dimana, mereka adalah generasi pertama yang membangun Islam, menegakkan cahaya Islam, membuka negeri-negeri, meninggikan kekuasaan dan menancapkan Agama Allah.

Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya : “Sekiranya kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud setiap hari, tidak akan bisa menyamai mereka (para sahabat Rasullallah ‘alaihisshalaatu wasallam) meskipun setengahnya.” {Hadits shahih, lihat takhrijnya dalam (Juz’u Muhammab bin Ashim An Syuyukhihi: 12)}

Maka jawabannya adalah sesungguhnya para sahabat Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam adalah generasi yang telah masyhur amalannya, tiada satupun manusia setelah generasinya yang sebanding amalannya dengan mereka. Mereka telah menjalankan amal ma’ruf nahi munkar sebagai perkara yang besar untuk membuka dan menancapkan agama Allah yaitu Al-Islam.

Keberadaan mereka diawal Islam sangat sedikit disebabkan karena berkuasanya orang-orang kafir di atas al haq. Demikian juga di akhir zaman akan kembali keadaannya seperti di awal penegakkan Islam. Dimana janji tersebut dipersaksikan di atas lisan yang selalu benar perkataannya yaitu Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang telah mengkhabarkan akan terjadinya kerusakan zaman, dhohirnya fitnah, berkuasanya kebatilan, berkuasanya dan tingginya manusia dalam mengganti dan merubah al haq, terjatuhnya kaum muslimin kepada jalan yang ditempuh oleh golongan ahli kitab sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.

Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam bersabda yang artinya: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana datangnya.” (Hadits Mutawatir, Riwayat Bukhary Muslim)

Bagaimana tidak mungkin mereka sebagai orang-orang yang sangat asing keberadaannya diantara manusia ?! Mereka adalah satu kelompok yang sangat sedikit pengikutnya diantara 72 golongan (sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam) yang masing-masing mempunyai pengikut, pemimpin, bendera, dan wilayah yang mereka tidak berdiri dan berjalan kecuali menyimpang dari jalan yang telah dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ?!

Apabila satu kelompok tersebut mengamalkan salah satu hukum Islam yang hakiki, yang telah dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka hal tersebut menjadi sesuatu yang paling bertentangan dengan hawa nafsu, kenikmatan, syubhat, dan syahwat dari 72 golongan tersebut. Karena syubhat dan syahwat merupakan cita-cita akhir dari kehendak dan maksud mereka (72 golongan).

Satu kelompok tersebut adalah sebagai orang-orang yang paling asing diantara orang-orang yang menjadikan kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan.

Pahala yang sangat besar ini [sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di atas diberikan kepada mereka karena keberadaannya yang sangat asing diantara manusia, dan berpegang teguhnya kepada sunnah Rasulullah shallallahu’alihi wasallam diantara kegelapan hawa nafsu dan pemikiran manusia.

Apabila seorang mukmin yang telah diberikan rizki pemahaman dalam agamanya, kefakihan dalam sunnah Rasul-Nya, pemahaman dalam kitab-Nya, hendak berjalan dan mengamalkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan dia melihat manusia dihiasi dengan hawa jalan nafsu, bid’ah, kesesatan, dan penyimpangan dari shirothol mustaqim yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka orang mukmin tersebut telah mempersiapkan dirinya menjadi tempat celaan, fitnah, caci makian, dan hinaan dari orang-orang yang jahil dan ahlul bida’. Demikan juga penggembosan dan peringatan kepada manusia untuk menjauhinya. Sebagaimana keadaan salaf (pendahulu) mereka, yaitu Rasulullah shallallahu’alihi wasallam sebagai imamnya orang-orang yang beriman dan pengikut-pengikutnya dari perlakukan orang- orang kafir pada waktu itu.

Apabila orang-orang yang jahil dan ahlul bida’ diseru untuk kembali ke shirothol mustaqim, dengan segala penghinaan yang ada pada mereka, mereka tetap berbangga di atas kesesatannya.

Maka seseorang yang tetap di atas Islam yang hakiki (satu kelompok yang telah di khabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam), dia berada dalam keadaan:

Asing dalam agamanya, karena kerusakan agama kaum muslimin.
Asing di dalam berpegang teguh di atas sunnah, karena berpegang teguhnya kaum muslimin dengan bid’ah-bid’ah.
Asing dalam akidahnya (keyakinannya), karena rusaknya akidah kaum muslimin.
Asing dalam sholatnya, karena buruk dan rusaknya sholat kaum muslimin.
Asing dalam manhajnya (jalannya), karena kesesatan dan kerusakan jalan yang ditempuh oleh kaum muslimin.
Asing dalam penyandarannya, karena bertentangan dengan penyandaran kaum muslimin.
Asing dalam muamalahnya (hubungannya) dengan kaum muslimin, karena kaum muslimin bermuamalah di atas hawa nafsu mereka.

Kesimpulannya : Dia sebagai seorang yang asing dalam seluruh perkara dunia dan akhiratnya, dia tidak menemukan keumuman kaum muslimin yang membantu dan memberikan pertolongan kepadanya. Dia menjadi orang yang:

‘Alim diantara orang-orang yang jahil,

Pembawa sunnah diantara orang-orang ahlul bida’,

Da’i yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya diantara da’i yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah,

Memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf (baik) dan melarang dari perbuatan mungkar diantara kaum muslimin yang menganggap perkara yang ma’ruf adalah mungkar dan perkara yang mungkar adalah ma’ruf.

(Madarijus Salikin: Ibnu Qoyyim Al Jauziyah; Juz III/198-200)

Mereka adalah kelompok pembeda antara al haq dan al bathil yang berada di atas dasar alqur’an dan assunnah baik dari sisi akidah, manhaj, maupun amal.

Kejelasan seorang mu’min, baik da’i maupun mad’u (kaum muslimin yang diseru) berada di atas dasar al haq merupakan perkara yang dhoruri (mendasar), karena kebathilan banyak dihiasi dan ditampilkan dalam bentuk atau pakaian iman. Khususnya golongan orang-orang hizbi dan pribadi- pribadi yang dahulunya mengetahui dan memahami tentang iman kemudian menyimpang dan menyelisihinya. Karena mereka berkeyakinan bahwa setelah penyimpangannya tersebut, pemikirannya tetap di atas petunjuk (kebenaran). Apabila seorang da’i demikian keadaannya, maka dia akan menimbulkan kerusakan terhadap Islam yang hakiki.

Dan perhatikanlah permisalan yang dicontohkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada para sahabatnya radhiallahu ta’ala anhum: {“Kami duduk disisi Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam, maka beliau membuat satu garis lurus di depannya demikian, dan berkata: ‘Ini adalan jalan Allah Azza wa Jalla’. Kemudian beliau membuat garis- garis di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut, dan berkata: ‘Ini adalah jalan-jalan syaithon’. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis lurus yang ada di tengah-tengah dan beliau membaca ayat yang mulia ini (yang artinya):

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertaqwa”.(QS. Al An’am: 153)}.

{Hadits Shahih dari jalan sahabat Jabir bin abdillah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu Ta’ala anhum.Lihat takhrijnya dalam Kitab Kami : Al Junnah fi Takhrijis Sunnah , Hal 5-8).

Sumber : Terjemah Kitab Dari Kitab Al Qabidhuna ‘ala Al Jamri Karya Asy Syaikh Salim AL Hilaly oleh ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dengan ringkas

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: