Manhaj

SIAPA YANG MENCELA ALLAH DAN RASULNYA, Sedikit Catatan Untuk Orang Syi’ah


Tulisan ini adalah sebuah bantahan terhadap sebuah tulisan yang berjudul Ternyata Kitapun Menyakiti Rasulullah yang ditulis oleh seorang Syi’i di Kabupaten Maros yang bernama Muhammad Afdhal. Tulisan tersebut ditempel di salah satu papan bicara di Mesjid Al Markaz Maros. Dalam tulisannya tersebut dia berkoar-koar menyoroti peristiwa kartun yang menghina Rasulullah yang dimuat di koran Denmark kemudian dia menyebutkan bahwa ternyata kita (sunni) pun menyakiti Rasulullah yakni dengan merampas kekhalifahan dari tangan menantunya. diapun tidak malu mengisahkan kisah dusta yang menjijikkan perihal penyerbuan Umar bin Khathtab ke rumah Fathimah karena enggan membaiat Abu Bakar, bahkan katanya Umar sampai mencambuk fathimah yang membuat Putri Kesayangan Rasulullah tersebut keguguran. subhanallah hadza buhtanun azhim. dan dia mengajak kaum muslimin untuk membaca buku2 sejarah versi syiah… maka saya yang pernah menjadi penganut agama najis buatan yahudi ini merasa terpanggil untuk membuat tulisan ini. tulisan ini saya tempel di papan yang sama, hanya sayangnya papan tersebut langsung menghilang hanya dalam 1 atau 2 hari.

Sebelumnya, ini adalah nasehat dan bukan hujatan dari orang yang bukan sekedar berani membaca buku-buku sejarah kaum syi’ah dan karya tokoh-tokoh mereka semisal Ali Syari’ati dan Murtadha Muthahhari, dan yang lainnya tapi ini adalah nasehat dari orang yang pernah menyelam ke dalam ajaran Syi’ah yang alhamdulillah diangkat oleh Allah darinya. Seorang da’i-nya di Makassar yang bernama SYAMSUDDIN BAHARUDDIN (mahasiswa Elektro – kalau tidak salah – angkatan 92) adalah senior saya di Fakultas Teknik, yang di zaman saya – akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an adalah basisnya di Jurusan Perkapalan berkedok nama IJABI, beberapa teman saya berdasarkan informasi yang shahih bahkan telah melakukan nikah mut’ah (baca zina).

Perihal hadits tersihirnya Nabi telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang terang semisal Al Imam Al Qadhi Iyyadh, dan tidaklah orang yang mengkritisinya kecuali orang yang jahil tentang Hadits semisal ‘Ali Umar Al Habsy atau pengikut hawa nafsu. Dan dilain pihak ‘Ali ‘Umar Al Habsyi Al Jahil yang mengkritisi hadits tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Imam Muslim dan selain beliau ternyata mengetengahkan riwayat-riwayat dari kaum syi’ah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keshahihannya seperti kisah penyerbuan sahabat ke rumah Fathimah. Saya menuntut mereka semua untuk membeberkan sanad kisah tersebut dan kisah-kisah lainnya dari buku syi’ah kemudian kita kritisi bersama berdasarkan ilmu musthalahul hadits.

Allah berfirman : datangkanlah burhan kalian jika kalian adalah orang-orang yang jujur (benar)

.Banyak kisah-kisah mereka hanyalah sebuah dongeng yang tak lebih dari kisah Ken Arok dan Ken Dedes ataupun kisah Brama Kumbara atau Arya Kamandanu karena kisah tersebut tak punya sanad. Kalaupun punya sanad ternyata periwayatnya adalah pendusta, sementara sanad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena sanad maka akan berkata siapapun dengan apa yang dikehendakinya. Demikian perkataan seorang Tabi’in yang mulia

Mari kita lihat satu contoh seorang perawi yang digunakan oleh Al Kulani dalam kitabnya Al Kafi –kitab ini adalah kitab hadits paling mulia di tengah mereka, kedudukannya sama dengan Shahih Bukhary di sisi ahlus sunnah-. Berkata Syafruddin Al – Musawi –seorang ulama syi’ah – , dalam kitabnya “Al-Muraja’at” mengatakan, “Yang terbaik yang dikumpulkan dari (riwayat) adalah empat kitab yang menjadi referensi (Syi’ah) Imamiyah dalam ushul dan furu’nya, dari zaman pertama hingga zaman kini yaitu Al-Kafi, At-Tabshir, Al-Istibshar, dan Man La Yadhuruhul Fqih. Riwayatnya mutawatir dan kandungannya dipastikan keshahihannya. Dan Al-Kafi yang tertua, termulia, terbaik, dan yang paling teliti.

Perawi itu bernama ZURARAH BIN A’YAN BIN SANSAN, ABUL HASAN, Dia adalah seorang perawi yang jalur riwayatnya banyak terdapat dalam kitab Al-Kafi. Abu Ja’far At-Thusi – seorang ulama syiah, penulis kitab rujukan utama kaum syi’ah berjudul Tahdzibul Ahkam dan Al Ibtishar – berkata, “Namanya Abdu Rabbihi, diberi kunyah Abul Hasan, Zurarah adalah gelarnya.” Tanpa menukilkan pendapat ahlus sunnah tentang orang ini, akan kami nukilkan dari kitab mereka sendiri yang menjelaskan siapa Zurarah.

Mari kita lihat komentar ulama mereka sendiri yang ahli dalam bidang hadits –menurut mereka- Al-Kisysyi telah meriwayatkan dalam kitab Rijal-nya bahwa tatkala salah seorang bertanya kepada Al-Imam Ash-Shadiq (yakni Ja’far Shadiq, cisit dari Husain, pen), “Kapan pertemuan terakhirmu dengan Zurarah? Beliau menjawab, “Aku tidak melihatnya semenjak beberapa hari (lalu). Lalu berkata (Ash-Shadiq), “Jangan engkau memperdulikannya, bila dia sakit maka jangan engkau menjenguknya, apabila dia mati maka jangan engkau menghadiri jenazahnya.”

(sang penanya) bertanya, “Zurarah?”, sambil terheran-heran atas apa yang diucapkan oleh Ash-Shadiq. Beliau menjawab, “Iya, Zurarah. Zurarah lebih jahat dari yahudi dan Nashara, dan dari orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah adalah satu di antara tiga.” (Lihat Rijal Asy-Syi’ah fil Mizan, Aburrahman Az-Zar’i:8)

Al-Kisysyi juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Masma’ bin Karwin berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Ja’far Ash-Shadiq, pen) alaihis salaam berkata: “Semoga Allah melaknat Barid dan semoga Allah melaknat Zurarah” (Rijal Asy-Syi’ah: 9. yang dimaksud Barid di sini adalah Barid bin Muawiyah Al-Ijli, salah seorang perawi yang juga mereka anggap tsiqah.)

Juga disebutkan Al-Kisysyi dalam Rijal-nya dengan sanadnya sampai kepada Laits berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata: “Tidak akan mati Zurarah keceuali dalam keadaan sesat.” (Rijal Kisysyi: 149, Tanqih al-Maqul: 1/443)

Lihatlah hukum yang diberikan oleh Imam Ja’far Shadiq terhadap rawi yang mereka anggap tsiqah. “Selamat” bagi kaum yang mempercayai seorang perawi yang dengan penuh ketegaran jiwa telah dibenci, dicaci, dan bahkan dilaknat oleh cucunda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang Al Imam Ja’far Shadiq dan keturunan beliau berlepas diri dari kesesatan kaum Syi’ah

Seorang rawi lain bernama SALIM BIN QAIS ( saya pernah membaca kitab ini yang ditulis oleh orang ini, yang alhamdulillah tidak sampai tamat) Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi berkata tentang kitab milik Salim bin Qais: “Tidak ada perselisihan di antara seluruh kaum Syi’ah dari yang membawa ilmu ataupun yang meriwayatkannya dari para imam bahwa kitab Salim bin Qais Al-Hilali adalah inti dari kitab-kitab usul yang diriwayatkan ahli ilmu dan para pembawa berita ahlul bait dan yang paling tua (umurnya), dia termasuk dari ushul yang kaum Syi’ah merujuk kepadanya dan menjadilkannya sebagai sandaran….”1

Apa yang dikatakannya adalah bohong belaka, bahkan kitab ini telah dicerca oleh sebagian ulama dari kalangan Syi’ah sendiri.

As-Sayyid Hasyim Ma’ruf Al-Husaini tatkala memberikan komentar terhadap riwayat yang pada sanadnya terdapat Salim bin Qais, menyatakan, “Cukuplah riwayat ini sebagai celaan bahwasanya ini adalah riwayat milik Salim bin Qais dan dia termasuk orang yang tidak jelas dan tertuduh berdusta”

Al-Mufid mengatakan, “Kitab ini tidak terpercaya, mayoritasnya tidak boleh diamalkan, telah terjadi pencampur adukan dan pentadlisan padanya.”

Ibnul Ghadha’iri mengatakan, “Lemah, dia tidak dihiraukan (riwayatnya)”

Disebutkan oleh Al-Hurr Al-Amili bahwa sebagian ulama menghukumi palsunya kitab Salim bin Qais, dan ini saja sudah cukup untuk menjatuhkan kitab yang dijadikan marji’ oleh Abdul Husain ini. (Lihat kitab: Rijal Asy-Syi’ah: 17. Al-Qanat:5)

Cukup soal perawi hadits, dan itu sudah cukup memberi gambaran bahwa kisah-kisah dan hadits-hadits syiah tak ada bedanya dengan kisah Ratu Sima atau Ratu Adil. Maka apakah kita kemudian bisa percaya tentang kisah penyerbuan Sahabat ke rumah Fathimah binti Rasulullah yang memang hanya dusta belaka.

Sebelumnya mari saya nukilkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkenaan dengan ahli bait Rasulullah, beliau berkata, “Mereka yakni ahlussunnah wal jama’ah mencintai ahlul bait Rosulullah dan berloyalitas padanya, mereka menjaga betul wasiat Rosulullah saat berkata, ‘Aku ingatkan kalian pada ahlul baitku.’ Dan saat berucap, ‘Demi yang jiwaku ada di genggamanNya, kalian tidak beriman hingga kalian mencintai Allah dan keluargaku.’ Mereka (ahlussunnah) mencintai istri-istri Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ummahatul mu`minin, serta mengimani bahwa mereka adalah istri-istri beliau di akhirat…” beliau juga berkata, “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai Ahlul Bait adalah wajib.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dan termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau.”

Perkataan di atas dinukilkan agar jangan ada yang berpikiran bahwa ahlus sunnah tidak mencintai ahlul bait, bahkan ahlus sunnah mencintai dan memuliakan mereka, nasab mereka adalah nasab yang terbaik. Garis keturunan mereka adalah garis keturunan termulia. Dan cukuplah kita membuka kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syamail Muhammadiyyah karya At Tirmidzi untuk melihat sejauh mana derajat pengagungan ahlus sunnah terhadap ahli bait Rasulullah tapi tetap dalam koridor syariat dan tidak lepas kontrol sebagaimana syi’ah yang di antara mereka ada yang berkeyakinan bahwa ‘Ali adalah titisan Allah atau Jibril telah salah alamat dan berkhianat menyampaikan wahyu, seharusnya kepada Ali tapi ternyata di berikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kemudian mari kita lihat siapa yang sebenarnya menyakiti Rasulullah dengan sikap dan perkataan mereka yang tercatat dalam lembaran-lembaran tulisan mereka. Semua nukilan ini saya ambilkan dari kitab-kitab kaum syi’ah dan pembaca bisa merujuknya ke sana, supaya jangan sampai dikira ini hanyalah fitnah.

1. Al Khumaini di dalam kitab Al Hukumah Al Islamiyah hal. 52 berkata: “Bahwasanya kedudukan imam tersebut tidak bisa dicapai malaikat yang dekat dengan Allah dan tidak pula bisa dicapai seorang Nabi yang diutus sekalipun.”

Jadi menurut Khumaini kedudukan ‘Ali bin Abi Thalib beserta 11 keturunannya lebih tinggi dari kedudukan Rasulullah. Nah siapa yang sekarang yang menghinakan dan mencela serta menyakiti Rasulullah?

2. Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…”

Itulah Syiah, di lain pihak mereka mencela Ibnu Abbas sebagai orang kafir tapi justru menukil secara dusta – tanpa sanad yang benar – perkataan beliau untuk mendukung Nah sekarang siapa yang mencela Rasulullah, apakah mereka yang mengatakan bahwa istri-istri Rasulullah adalah wanita-wanita Shalihah penghuni surga atau yang mengatakan bahwa Rasulullah ternyata telah menikahi para pelacur atau bahkan tersirat dari keyakinan mereka bahwa Rasulullah suka melacur, wal ‘iyadzu billah.

3. Aisyah telah keluar dari iman dan menjadi penghuni jahannam. (Tafsirul Iyasi karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy 2/243 dan 269)

4. Syi’ah berkata: “Sesungguhnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha telah murtad sepeninggal nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah murtad pula banyak dari para shahabat.” (Lihat kitab “Asy-Syihabuts Tsaqib fi Bayani ma’na An-Nashib” karya Yusuf Al-Bahrani, hal.236)

5. Al-Kulaini di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kafi 8/245-246 meriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa dia berkata: “Para shahabat adalah orang-orang yang telah murtad (sepeninggal Nabi-pent), kecuali tiga orang saja.” Maka aku (periwayat) bertanya: “Siapa tiga orang itu?” Maka dia menjawab: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi.”

Berkata Al Imam Asy-Sya’bi rahimahullah: “Yahudi dan Nashrani memiliki satu keunggulan atas Rafidhah (Syi’ah), aku bertanya kepada Yahudi: “Siapa orang terbaik di agama kalian?” mereka menjawab: “para shahabat Musa” Aku bertanya kepada Nashrani: “Siapa orang terbaik di agama kalian?” mereka menjawab: “para shahabat Isa.” Dan Aku bertanya kepada Rafidhah: “Siapa orang terjelek di agama kalian?” mereka menjawab: “Para shahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang sebenarnya berambisi untuk mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata tidak mampu. Maka akhirnya mereka mencela para shahabatnya sampai kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat, karena kalau memang beliau orang baik, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang baik pula.”

Saya tambahkan, “bahwa jika demikian menurut sangkaan Syi’ah maka Rasulullah dalam kurun waktu 23 tahun kenabian beliau ternyata telah gagal mendidik dan membina orang-orang di dekat beliau. Apakah ini bukan celaan dan hinaan”

6. Muhammad Baqir Al-Majlisi di dalam kitab Haqqul Yaqin hal. 519 berkata: “Aqidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah dan empat wanita yaitu ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummul Hakam serta seluruh orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi ini. Tidaklah sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya dan para imam (menurut keyakinan mereka) kecuali setelah membenci musuh-musuh tadi.”

7. Al-Mulla Kazhim di dalam kitab Ajma’ul Fadha’ih hal. 157 meriwayatkan dari Abu Hamzah Ats-Tsumali -berdusta atas nama Ali Zainal Abidin rahimahullah- bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang melaknat Al-Jibt (yaitu Abu Bakar) dan Ath-Thaghut (yaitu ‘Umar) dengan sekali laknatan maka Allah catat baginya 70 juta kebaikan dan Dia hapus sejuta kejelekan. Allah angkat dia setinggi 70 juta derajat. Barangsiapa sore harinya melaknat keduanya dengan sekali laknatan maka baginya (pahala) seperti itu.”

8. Bahkan di dalam kitab wirid mereka Miftahul Jinan hal. 114 disebutkan wirid Shanamai Quraisy (dua berhala Quraisy yaitu Abu Bakar dan ‘Umar), di antara lafazhnya berbunyi:

“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah dua berhala Quraisy, dua syaithan, dua thaghut dan kedua anak perempuan mereka (‘Aisyah dan Hafshah).”

Siapakah yang mencela Rasulullah apakah ahlus sunnah yang memuliakan sahabat dan istri-istri beliau ataukah orang yang mencela dan mengkafirkan 2 orang mertua Rasulullah (Abu Bakar dan Umar) dan dua orang istri beliau (‘Aisyah dan Hafshah) bahkan menjadikan salah satu pondasi dasar aqidah mereka.

Siapakah yang mencela Rasulullah apakah orang yang mengakui keutamaan para sahabat dan keluarga Nabi ataukah orang yang mengatakan bahwa Rasulullah telah menikahkan dua orang anaknya dengan seorang penghuni neraka (Utsman bin Affan). Dan bahkan siapakah yang telah mencela Allah Azza wa Jalla, apakah orang yang mengakui semua keutamaan sahabat di atas semua umat dan keutamaan ahli bait Rasulullah di atas semua ahli bait selain beliau ataukah orang yang secara sadar atau tidak mengatakan bahwa Allah telah membiarkan Rasul-Nya bersahabat dengan orang-orang bejat dan durjana dan bahkan Allah telah menikahkan Rasul-Nya dengan wanita-wanita pelacur, dan Allah telah membiarkan Rasul-Nya menikahkan dua orang putrinya dengan seorang yang akan Murtad dan jadi orang kafir, apakah menurut orang Syiah bahwa Allah tidak tahu akan hal itu, kalau menurut Syiah Allah tidak tahu apa yang akan terjadi, maka kita tahu bersama hukum terhadap orang yang berkeyakinan seperti ini, dan kalau Syiah mengatakan bahwa Allah tahu akan kafir dan murtadnya para sahabat termasuk mertua dan menantu Rasulullah, berarti Syiah telah mencela Allah karena membiarkan hal itu terjadi. wal ‘iyadzu billah. Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat jelas bagi orang yang berakal.

Jika sekiranya tidak takut terlalu panjangnya tulisan ini tentu akan saya nukilkan lebih banyak lagi, pengingkaran dan pembangkangan Syi’ah Rafidhah dan kejelekan mereka seperti dalam kasus nikah mut’ah (untuk contoh kasus ini silahkan lihat : http://www.alqiyamah.wordpress.com/2010/09/01/skandal-seks-wakil-imam-tertinggi-terbongkar) dan masalah seputar Imam Mahdi. Adapun perkataan sebagian penulis bahwa tidak masuk akal bahwa Rasulullah begini dan begitu maka inilah bantahan bagi kalian datang dari Imam tertinggi dan terbesarnya kaum Syi’ah, Ali radhiallahu ‘anhu berkata ; “Seandainya yang menjadi tolak ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya no. 162.

Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Jami’us Shahih Mimma Laisa fish Shahihaini (1/61) Bab Ma Ja’a Fi Dzammi Ra’yi (Bab Tercelanya Mengutamakan Akal Pikiran): “Hadits ini shahih.” Para perawinya adalah perawi kitab Shahih kecuali Abdu Khair, namun dia ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in sebagaimana dinukilkan di dalam kitab Tahdzibut Tahdzib).

Menutup tulisan ini inilah perkataan dua orang Imam Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, “Aku tidak pernah melihat dari para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta di dalam ucapan, dan bersaksi dengan saksi palsu dari rafidhah (syi’ah)”.

Dan Guru Al Imam Syafi’I yakni Al Imam Malik berkata : Al-Imam Malik bin Anas radhiallahu anhu (179): Berkata Asyhab bin Abdul ‘Aziz: “Al Imam Malik ditanya tentang seorang yang berpemikiran Rafidhah (Syi’ah)?” beliau menjawab: “Jangan kamu berbicara dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan hadits dari mereka karena mereka adalah pendusta”.

Nah sekarang pertanyaan berikutnya, mungkinkah menyatukan antara Syi’ah dan Sunni (ahlus sunnah), maka jawablah pertanyaan berikut pula.

Mungkinkah menyatukan golongan yang mengatakan bahwa Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah para Nabi dan Rasul dan merupakan penghuni surga dengan kelompok yang mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang Kafir bahkan Berhalanya Quraisy yang kekal dalam neraka.

Mungkinkah menyatukan kelompok yang menyatakan bahwa ‘Aisyah adalah wanita mulia, penghuni surga yang keutamaannya hanya bisa ditandingi oleh Maryam atau Asiah atau hanya bisa ditandingi atau mungkin dikalahkan oleh Fathimah Al Batul dan ibunya, Khadijah dengan kelompok yang menyatakan ‘Aisyah dan istri Nabi selain Khadijah adalah pelacur dan merupakan penghuni neraka dan kekal di dalamnya.

Mungkinkah menyatukan golongan yang meyakini bahwa Nabi dan Rasul Allah adalah sebaik-baik manusia dengan Rasulullah Muhammad sebagai penghulunya adalah makhluq dan akan menempati kedudukan tertinggi di sisi Allah dengan golongan yang meyakini bahwa Ali dan 11 keturunannya akan menempati tempat yang lebih tinggi dari Rasulullah dan seluruh Nabi dan Rasul

Mungkinkah menyatukan kelompok yang meyakini bahwa hak Rububiyyah hanya milik Allah semata demikian juga perkara Ghaib hanya milik Allah saja dengan kelompok yang menyatakan 12 Imam mereka ikut serta mengatur alam semesta dan juga bahwa tidaklah Matahari terbit dan tenggelam kecuali setelah meminta Izin kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Subhanallah mungkinkah mempersatukan mereka yang mempersaksikan Tauhid dengan semurni-murninya dengan mereka yang meyakini keyakinan yang bahkan Abu Lahab dan kawan-kawan pun tidak rela hal tersebut (rububiyyah) disandarkan kepada selain Allah.

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mesti di jawab oleh orang-orang yang menyerukan persatuan Syiah dan Sunni, yang pertanyaan dan penjelasan di atas cukup untuk mewakilinya yang orang awam yang paling bodoh asalkan berdiri di atas fitrahnya tahu jawabannya bahwa adalah Mustahil mempersatukan Sunni dan Syiah sampai salah satu di antara keduanya meninggalkan keyakinan masing-masing, entah Syi’ah yang menghapus kutukan dan celaan terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya dari dada-dada dan kitab-kitab mereka ataukah Sunni yang meninggalkan pemuliaannya terhadap sahabat sebagaimana pemuliaan Allah terhadap mereka dalam Al Qur’an (lihat At Taubah 100 dan tafsir para ulama semisal Ibnu Ktsir, Ath Thabary atau Al Qurthuby).

Maka tak ada yang mencoba mempersatukan keduanya atau mencari jalan untuk hal itu kecuali dia berada di atas salah satu dari tiga hal: 1) orang jahil yang tidak paham hakikat agama Syi’ah atau tidak mengerti aqidah Ahlus Sunnah dengan benar, 2) pengikut hawa nafsu yang terperdaya dengan filsafat dan orang kafir yang membangun agamanya di atas akal pikiran dan perasaan tanpa melandasi ilmunya dengan Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Salafush Shalih, 3) orang yang akalnya sudah tidak beres karena mencoba menyatukan dua hal yang saling bertolak-belakang yang tidak mungkin ketemu selama-lamanya. Sebab perbedaan di antara Syi’ah dan Sunni bukan sekedar perbedaan Fiqih seperti perbedaan pendapat antara Imam Ahmad dan Imam Syafi’I tentang cara duduk terakhir dalam shalat 2 raka’at, tapi perbedaan tersebut adalah perbedaan keyakinan dan prinsip-prinsip dasar yang telah dituliskan oleh para ulama kaum muslimin yang bedanya Syiah dan Sunni adalah seperti Langit dan Sumur Bor.

vakhruddin@gmail.com

Catatan : penjelasan tentang perawi2 syiah di atas ana ambil dari buku AL Ustadz Askary (Al Qoulush-Sharih….) Yang Membahas Tentang Hadits Sihir…

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: