Biografi, Nasehat

Sirah Nan Indah Imam Darul Hadits Dammaj : Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i

Nama dan Nisbah

Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qoidah Al-Hamdani Al-Wadi’i Al- Khilali dari Qobilah Alu Raasyd. As-Syaikh adalah seorang warga negara Yaman, kabilahnya Al-Wadi’i termasuk dari kabilah besar Al-Hamdani. Beliau dilahirkan di kampung halamannya di desa kecil bernama “Dammaj” (Sa’adah). Kunyah beliau Abu Abdurrahman.

Tanggal kelahiran dan umurnya

Kami tidak tahu secara persis tahun kelahiran Syaikh dan Syaikh sendiri memperkirakan umurnya pada tahun 1420 H dan kemudian mengatakan : “Dahulu orang tua kami tidak ada yang perhatian dengan kalender dan umur saya kurang lebih (65 atau 66 atau 67 tahun).”

Pernah disebutkan bahwasanya beliau dilahirkan pada tahun 1352 H, kalau benar apa yang dikatakan Syaikh, maka Syaikh ketika wafat umurnya kurang lebih sekitar 70 tahun. Ada kemungkinan lain, yakni beliau wafat umurnya dibawah 70 tahun dan diatas 60 tahun. (yakni di Jeddah, Saudi Arabia tgl 21/07/2001 Masehi, yakni sekitar 29 Rabi’ul Akhir 1422 H, red). Wallahu a’lam bisshowab.

Istri-istri beliau :

Beliau memiliki tiga orang istri, dan urutannya sebagai berikut :

  • Ummu Abdurrahman Al-Wadi’iyyah, telah meninggal dunia pada hari Kamis 8/3/1422 H.

  • Ummu Syua’ib Al-Wadi’iyah, dan dia memiliki beberapa tulisan diantaranya “Kumpulan hadits-hadits shahih dari keutamaan keluarga Rasul-Shalallahu ‘alaihi wasallam”

  • Ummu Salamah Al-‘Amroniyyah, dan dia memiliki beberapa tulisan diantaranya bantahan kepada orang-orang bermanhaj haroki yang berjudul : “Peringatan dari gadis yang menjaga kehormatan dirinya dari tipu daya (Abdul Majid) Az-Zindani yang jahat”

Anak-anak Syaikh :

  1. Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah, beliau dibantu oleh beberapa Nisa’ (wanita) yang mengajar di Madrasah khusus wanita, beliau memiliki beberapa tulisan diantaranya :

    • (dua jilid). Kumpulan Hadits-hadits Shahih tentang kepribadian Rasulullah- Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

    • Nashihati linnisaa. “Nasihatku untuk wanita”

    • Dan dia sekarang lagi mengerjakan kitab: “Kumpulan Hadits-hadits shahih dari sejarah Nabi – Shalallahu ‘alaihi Wasallam”.

    • Dan masih banyak lagi dari tulisan Ummi Abdillah.

  2. Ummu Ayyub Al-Wadi’iyyah.

Kesaksian Muridnya

Apa yang aku lihat di Dammaj (Surat dari Al-Akh Al-Fadhil Abi Sulaiman Al-Qatri Hafidzahullah) Aku telah lama mendengar tentang dakwahnya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i –Rahimahullah- di Negara Yaman, akan tetapi aku tidak memiliki gambaran lengkap tentangnya. Dan dahulu aku mengira bahwasanya semua yang dilakukan disana yakni Syaikh memberikan sebagian mata pelajaran, menulis sebagian kitab, dan di sekitar beliau sebagian murid-muridnya dan selesai perkara ?!.

Akan tetapi, ketika aku mulai mendengarkan kaset-kaset Syaikh, dan beliau berbicara tentang dakwahnya, tersebarnya dakwah beliau, dan tentang kesungguhan murid-muridnya dalam belajar, maka mulailah aku merasa di dalam diriku bahwa gambarannya ternyata lebih besar dari dugaanku.

Mulailah aku bertanya dan memperhatikan dari siapa saja yang telah pergi kesana, aku berjumpa dengan mereka (yang pernah duduk di majlis syaikh Muqbil, red) dan duduk bersama mereka. Akan tetapi sangat disayangkan sekali mereka tidak memberikan gambaran yang sebenarnya, bahkan mereka menakut-nakuti dan menghalang-halangi dari keinginanku tanpa mereka sadari !!

Dahulu dari kebanyakan pembicaraan mereka (yang pernah duduk di majlis syaikh Muqbil, red), bahwasanya keadaan disana sangat sulit sekali penuh rintangan dan halangan, dan sedikitnya makanan dan tidak adanya prasarana yang memadai… dan… dan… dan…. Mereka menyebutkan semua berbagai macam dari sisi kekurangan, dan dari kebanyakan yang mereka nukil berlebihan, mereka tidak menyebutkan sama sekali gambaran mulia yang ada di sana.

Namun aku merasa tidak akan dapat berhenti atas kenyataan yang terjadi sebelum aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, dan mulailah aku mengambil jalan pintas dari perantara yang meriwayatkan kabar itu, karena mereka telah menambah dan menguranginya.

Dahulu aku sudah pernah membaca hadits-hadits yang datang tentang keutamaan-keutamaan orang-orang Yaman, disini akan aku sebutkan sebagiannya :

  1. Dari Abi Hurairah (Radiyallahu ‘Anhu) dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau bersabda : “Telah datang kepada kalian Ahlul Yaman, mereka orang yang lemah lembut hatinya, Iman itu di negara Yaman, dan fiqih itu di negara Yaman, dan Hikmah di negara Yaman”. (Muttafaqun ‘alaihi).

  2. Dari Ibnu Umar (Radiallahu ‘Anhuma) beliau berkata : bersabda Rasulullah (Shalallahu ‘Alahi Wassallam) : “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami (dan kepada) negara Syam, Ya Allah berikanlah berkah kepada kami (dan kepada) negara Yaman”, berkata orang-orang Najd : “dan negeri kami Ya Rasulullah ?”, “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami (dan kepada) negara Syam, Ya Allah berikanlah berkah kepada kami (dan kepada) negara Yaman”, berkata orang-orang Najd : “Dan negeri kami Ya Rasulullah ?”. Bersabda Rasulullah (Shalallahu ‘Alaihi Wassallam): “Dari negri Najd timbulnya gempa dan dari sana timbulnya fitnah, dan dari sana pula munculnya tanduk syaithan”. (HR Bukhari).

  3. Dari Ibnu Abbas (Radliallahu ‘Anhuma) beliau berkata : ketika Nabi (Shalallahu ‘Alaihi Wasallam) bersabda : “Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang pertolongan Allah, telah datang kemenangan, dan telah datang Ahlul Yaman, kaum yang lembut hatinya, lemah lembut ketaatannya, Al-Iman di negara Yaman, dan Fiqih di negara Yaman, dan Al-Hikmah di negara Yaman”. [Diriwayatkan oleh : Ibnu Hibban di dalam “Shahihnya” (16/287) (no Hadits: 7298) dan At-Thabrani di dalam “Al-Kabir” (no Hadits:11903) (11904), berkata Al-Haithami di dalam “Al-Majma” (9/23): diriwayatkan oleh At-Tabarani di dalam kitab “Al-Kabir” dan di kitab “Al-Ausath” dengan yang satu dan Rijalnya Hadith semuanya Rijal yang shahih].

Maka mulailah aku bangkit dari tempat dudukku dan aku bersikeras untuk pergi ke tempat Syaikh, dan hal itu benar-benar kulakukan, dan aku telah pergi ke (tempat) Syaikh di akhir bulan Dzulqa’dah pada tahun 1418 H, walhamdulillah.

Dan aku duduk di tempat Syaikh kurang lebih sebulan, dan aku melihat perkara yang mencengangkan sekaligus membingungkan !! Aku melihat gambaran yang menakjubkan, yang tidak pernah aku bayangkan, sesungguhnya masih tersisa di zaman kita sesuatu (yang istimewa, red) darinya. Gambaran yang sangat menakjubkan bersinar indah sekali, penuh dengan ilmu dan dakwah kepada jalan Allah (Subhanahu Wa Ta’ala), penuh dengan persaudaraan dan persahabatan. Aku benar-benar merasa sangat bahagia.

Akan tetapi yang menyedihkanku sesedih-sedihnya, sesungguhnya kebanyakan pemuda Salafy dan Thalabatul ‘ilm sendiri, dan orang-orang negara Teluk sendiri, yakni tidak memiliki gambaran akan besarnya kesungguhan yang telah ditunjukkan oleh Syaikh bersama murid-muridnya didalam berdakwah dan belajar, begitu pula akan tingkat keberhasilannya. Walhamdulillah…

…Dan inilah dakwah yang penuh berkah, Yang sangat sedikit ditolong, diperhatikan dan mendapatkan bantuan, Tidak diberikan hak-hak yang sepantasnya, Dan tidak pula (mereka) mengetahui kedudukan dakwah ini… Allahul musta’an.

Oleh karenanya, aku merasa berkewajiban, karena aku mengetahui yang tidak pernah diketahui oleh orang selainku, dan aku menyaksikan yang tidak pernah disaksikan orang lain selainku tentangnya. Aku akan menukilkan sedikit dari gambaran dan keadaan tentang Syaikh, sampai menjadi jelas keadaan dan untuk menolong dakwah yang benar ini dan untuk menyebarluaskan keinginan yang terdalam dan menolong serta perhatian kepada saudara-saudaraku (Thalabatul ‘ilmi).

Kami memohon kepada Allah rasa ikhlas dan jujur (dalam beramal).

Nampak foto desa Dammaj dari atas.

Desa Dammaaj (Sa’adah)

Desa kecil dari desa-desa kota Sa’adah, bagian selatan negara Yaman, dikelilingi oleh pegunungan dari segala arah, dan dihiasi oleh pepohonan Delima, Anggur, Apel, Jeruk, dengan suhu udaranya sedang. Sejuk ketika musim panas dan tidak mengenal panas selamanya, tidak diperlukan Air Conditioner (AC). Inilah desanya Syaikh, dimana Syaikh membina disana, di desa ini pula Syaikh memulai dakwahnya, dan beliau masih tetap di desa ini sampai sekarang. (Jarak antara Dammaaj dengan kota Sa’adah kurang lebih 9 km dan jarak antara kota Sa’adah dengan Sana’a kurang lebih 250 km-pent.)

Awal perjalanan

Permulaan (dakwah) As-Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid (pembaharu) untuk agama pembela sunnah Nabi (Shalallahu ‘Alaihi Wasalam) dan penentang orang-orang ahlul bid’ah dan ahlul ahwa’ : Al-‘Allamah Al-Muhadits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (Rahimahulullah). Syaikh memulai dakwahnya seorang diri sepulangnya dari belajar di Jami’ah Al-Islamiyyah (Islamic University) di Madinah Ar-Rasul (Shalallahu ‘Alaihi Wassalam).

Yaman pada saat itu ramai dengan orang-orang Rafidlah, Syi’ah, Sufi dan komunis, dan semua bid’ah yang sesat. Bersabarlah Syaikh, dengan hanya bersandar kepada Allah (Subhanahu Wa Ta’ala), bersenjata dengan ilmu Syar’i, serta berpegang dengan Sunnah Nabi (Shalallahu ‘Alaihi Wasalam), mengagungkan dan beramal dengan Sunnah Nabi (Shalallahu ‘Alaihi Wasalam).

Mulailah beliau membuka pelajaran-pelajaran ‘ilmiyyah dan Syarah “mutun” ‘ilmiyyah di berbagai bidang Aqidah, Fiqih, Hadits, bahasa, dan lain sebagainya. Maka mulailah thalabah (para penuntut ilmu agama) berdatangan kepada Syaikh, mereka memiliki kemauan yang kuat dalam mencintai Sunnah dan kebenaran. Hampir-hampir tidak pernah terlewatkan waktu, melainkan Syaikh mendapati di sekitarnya penolong-penolong dan orang-orang yang mencintai beliau.

Hal ini menunjukkan atas luasnya keilmuan Syaikh dan menetapkan langkahnya di antara manusia dan di antara kabilah-kabilah, maka tersebarlah Al-Wa’i dan ilmu serta Sunnah, dan mampu dengan izin Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) dapat merubah Yaman dari kebanyakan desa-desanya dari ajaran komunis dan kebodohan serta khurofat menjadi Sunnah dan berpegang dengannya kurang dari 15 tahun lamanya ?!

Dakwah dan manhaj Syaikh Muqbil

Beliau berjalan sesuai dengan manhaj Salafus-Shalih disetiap perkaranya, dari ilmu, amal, aqidah, dan akhlak, dan beliau (Rahimahulullah) mengagungkan Ulama’-ulama’ dakwah Salafiyah terdahulu dan sekarang diantara mereka. Syaikh selalu menasehatkan untuk membaca kitab-kitab mereka seperti karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, Al-Albani, Ibnu Baaz dan yang selain mereka (yakni dari Ulama’-ulama’ dakwah Salafiyah).

Metode Syaikh didalam berdakwah kepada Allah (Subhanahu Wata’ala) menjadikannya banyak berpengaruh di hati-hati manusia, mengajak mereka untuk tidak fanatik dan selalu berpedoman dengan dalil yang shahih. Beliau selalu berdalil dengan apa yang menurut pendapat beliau lebih rajih (pendalilannya), beliau benar-benar banyak memberikan pengaruh kepada manusia. Beliau (Rahimahulullah) berbicara dengan terang-terangan, beliau tidak perduli dengan celaaan orang-orang yang jahat dari para provokator. Beliau selalu riang gembira, beliau bersungguh-sungguh dan jujur (didalam berdakwah), namun beliau marah dan menantang siapa saja yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Beliau sangat mencintai murid-muridnya, beliau selalu berbaur dengan murid-muridnya dan banyak mengenal mereka, Syaikh selalu memperhatikan perkara, problematika dan gerak-gerik mereka, kemudian Syaikh memberikan pengarahan dan petunjuk kepada mereka.

Syaikh tidak hanya mencukupkan dakwahnya hanya di desanya “Dammaaj”, bahkan beliau juga keluar berdakwah kepada Qoba’il (kabilah-kabilah lainnya, red) dan ke kota-kota mendakwahi mereka dengan berkhutbah menasehati, memberikan fatwa dan peringatan serta memberikan kabar gembira dan ancaman (dari Al-Quran dan As-Sunnah). Syaikh Muqbil (Rahimahulullah) telah diberikan oleh Allah Ta’ala cara berdakwah yang mulia, sehingga banyak memberikan pengaruh kepada siapa yang mendengarnya, menjadikan orang-orang mencintai dan menolong dakwah Syaikh (Rahimahulullah).

Ketika manusia mendengar bahwa Syaikh akan datang di kota atau desa mereka kecuali telah berkumpul ribuan manusia, sehingga tidak cukup masjid yang paling besar sekalipun untuk menampung mereka (begitu pula dengan masyaikh Ahlussunnah yang lainnya, ketika berdakwah di suatu desa atau kota melainkan masjid penuh sesak dengan manusia. Ini bukti yang nyata bahwa dakwah Ahlussunah diterima di seluruh lapisan masyarakat). (Kami menyaksikan dan menghadiri secara langsung beberapa muhadlarah yang diadakan oleh ulama’-ulama’ Yaman-pent).

Pelajaran-pelajaran Syaikh Muqbil

Dahulu pelajaran-pelajaran Syaikh Muqbil berlangsung sepanjang tahun dan tidak mengenal istilah libur, walaupun di hari Jum’at, tidak pula di hari Lebaran, dan tidak pula di hari-hari yang lainnya. Beliau tidak mengenal penat dan tidak mengenal jemu dan tidak pula malas, beliau banyak mensyarah kitab-kitab dan mutun di berbagai bidang keilmuan baik aqidah, fiqih, hadits, bahasa…dsb, dari bermacam-macam ilmu diantaranya :

    • Ilmu Rijal dan ‘Ilal

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (Rahimahulullah) telah diberikan kelebihan oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) didalam ilmu Rijal dan Ilal hadits. Beliau hampir hafal seluruh rijal Bukhari dan Muslim beserta nama-nama mereka, kuniyah, julukan, berasal dari negeri mana, serta dari tingkatan yang ke berapa dalam ilmu hadits dsb. Bahkan Syaikh hafal sejarah dan kisah-kisah dari perawi-perawi hadits, ini menunjukkan betapa kuat hafalan Syaikh dan betapa luas pengetahuannya. (ketika membaca kitab-kitab hadits dan dibaca pula sanad hadits kecuali di sana akan diterangkan kisah-kisah atau keadaan perawi tersebut dan pendapat Ulama’-ulama’ ahlul hadits tentang perawi tersebut, berkata guru kami Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhadits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i – Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya – : “Menghapus sanad hadits merupakan kerugian yang besar” [dari pelajaran “Muqoddimah kitab Shahih Muslim”, –pent].

  • Ilmu Al-Jarhu wa At-Ta’dil dan Ilal

Adapun dalam Ilmu Al-Jarhu wa At-Ta’dil dan Ilal (penyakit) hadits, beliau merupakan tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Allah tentangnya. Beliau memiliki ketelitian dan istinbat yang sangat luar biasa. Beliau paham betul keterkaitan antara hadits yang satu dengan yang lainnya, hal ini perkara yang menakjubkan. Hal ini menunjukkan kepiawaian dan pengalaman ilmiyah tentang kaidah-kaidah ilmu hadits ini. Aku memprediksi Syaikh seorang ahli yang mumpuni di bidang ilmu hadits, sedikit sekali orang yang menyamai beliau.

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i beliau termasuk salah seorang Ulama’ Al-Jarhu wa At-Ta’dil di zaman kita sekarang. Ketika beliau berbicara tentang seseorang di zaman kita sekarang, disebutkan Jarah atau Ta’dil tidak lain benarlah apa yang dikatakannya. Aku melihat sendiri secara langsung, namun aku tidak mengatakan bahwasanya beliau seorang yang ma’sum (terjaga dari kesalahan). Akan tetapi ini kenyataan yang terjadi, barangsiapa yang ingin meyakinkan kebenaran apa yang aku katakan, hendaknya dia membandingkan pernyataan Syaikh tentang orang-orang zaman sekarang dari ahlul ahwa’ dan ahzab dengan ucapan para Ulama’ Al-Kibar (ulama besar, red). Maka dengan ini kita tidak menyatakan bahwa ucapan-ucapan Syaikh merupakan wahyu yang diturunkan, bahkan bisa jadi terdapat kesalahan, akan tetapi pada umumnya hukum diambil dari kebanyakan (yang terjadi), bukan apa yang menyalahi aturan dan keluar dari kaidah.

Teladan Asy-Syaikh dalam mengingkari perkara mungkar

Telah diberikan Syaikh kekuatan hati (oleh Allah ‘Azza wa Jalla), walaupun tubuhnya kurus dikarenakan sakit, namun beliau membela kebenaran dan tidak pernah perduli (apa yang akan menimpanya), berbicara tentang kemungkaran-kemungkaran dengan berbagai macam gambaran dan ragamnya. Syaikh memperingatkan kesesatan kelompok tersebut beserta da’i-da’inya, dimulai dengan perbuatan syirik da’i-da’inya dan diakhiri dengan perbuatan maksiat dan dosa-dosa yang dilakukan.

(Syaikh Muqbil) berbicara tentang bid’ah dan kesyirikan dengan ragamnya secara mendetail dan tidak mencari keridlaan dari siapapun, menyerang hizbiyyun dan da’i-da’i kepada fitnah dengan segala kekuatan. Beliau tidak pernah takut kepada seorang pun melainkan hanya takut kepada Allah (‘Azza wa Jalla).

Begitu pula dengan perbuatan-perbuatan mungkar yang lainnya beliau tidak pernah tinggal diam, kadangkala dikerjakan (secara langsung). Kadangkala beliau mengangkat suaranya dengan kencang dan mukanya memerah suaranya menggelegar. Terkadang beliau menggenggam tangannya dengan kuat kemudian memukulkannya ke meja, sambil beliau berbicara dan memperingatkan dari perbuatan mungkar.

Asy-Syaikh Muqbil (Rahimahullah) telah diberikan (kelebihan) metode tata-bahasa yang kuat dalam berkhutbah dan berbicara. Beliau orang yang jauh dari perbuatan berlebih-lebihan dalam berbicara, aku tidak pernah melihat seorangpun yang aku pernah duduk atau pernah hadir di tengah-tengah orang tersebut, yang memiliki metode tata bahasa dalam memperingatkan perbuatan mungkar seperti Asy-Syaikh Muqbil (Rahimahullah). Sampai-sampai seseorang akan mendapat pengaruh kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Asy-syaikh yang tergambar dan mudah untuk diikuti oleh hati seseorang secara langsung. Inilah persaksian, ungkapan bagi barangsiapa yang bertanya kepada murid-murid beliau dan menyaksikan serta hidup bersama mereka dalam waktu yang lama.

Musuh-musuh Asy-Syaikh Muqbil

Keberanian Asy-Syaikh Muqbil (Rahimahullah) di dalam membela kebenaran, dan bantahan beliau kepada semua kelompok-kelompok dan jama’ah-jama’ah serta golongan (sesat) dari : Syi’ah, Sufiyah, Al-Ikhwan Al-Muflisin dan Ashab Al-Jum’iyat (organisasi-organisasi) dsb ; menjadikan Asy-Syaikh (memiliki) musuh-musuh yang banyak. Telah diungkap kedok mereka oleh Asy-Syaikh (Rahimahullah) dengan bantahan melalui muhadlarahnya, tulisan-tulisannya yang sangat kuat (pendalilannya), sehingga membuat berkobar-kobar kemarahan mereka. Maka binasalah mereka karena kesedihan yang amat dalam, mereka tidak memiliki kemampuan untuk membantah Asy-Syaikh, karena kebenaran tidak akan bisa dikalahkan (dengan kebatilan). Beliau memiliki metode tata-bahasa yang baik dan (istilah) baru didalam “berperang” (dengan orang-orang ahlul Ahwa’), yaitu dengan menghibur atau menyenangkan hati dan membersihkan diri seseorang.

Peristiwa yang menimpa Asy-Syaikh(Rahimahullah)

Berapa kali usaha yang dilakukan oleh mereka untuk menghabisi nyawa Asy-Syaikh, dan yang terakhir terjadi di kota ‘Aden, ketika salah seorang diantara mereka (hizbiyyun teroris, red) meletakkan (atau mengirimkan) bom untuk Asy-Syaikh di dalam Masjid Ar-Rahman tempat diadakan muhadlarah. Akan tetapi timing (waktu bom menyala, red) yang mereka sudah atur pada saat Asy-Syaikh berbicara tidak tepat, karena pada saat itu Asy-Syaikh dalam keadaan kurang sehat sehingga berbicara dengan singkat, usaha merekapun gagal. Maka bom itu dibawa keluar oleh orang tersebut dan meledak mengenai dirinya sendiri, sehingga orang tersebut tewas disebabkan ulah perbuatannya sendiri, serta jatuhlah korban beberapa orang yang ada disekitarnya ada yang meninggal dan ada yang cedera. Wallahul musta’an.

Setelah sepulangnya dari peledakan di kota ‘Aden, sampailah dengan selamat ke Dammaaj, lalu beliau mengeluarkan dua kaset yang berjudul : {Matilah kalian karena kemarahan kalian}

Menyingkap hakikat kejadian peledakan dan siapa pelaku dibalik kejadian, dan Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam (salah seorang murid senior Asy-Syakh Muqbil, memiliki pondok yang terletak di kota Ma’bar di dekat ibu kota Sana’a-pent) juga mengeluarkan kaset menerangkan kejadian yang sesungguhnya. Bahkan “Sya’ir Ad-Dakwah” (penyair dakwah) Ahlussunnah di Yaman – julukan ini diberikan oleh Asy-Syaikh (rahimahullah) – yakni Abu Rawahah Abdullah bin ‘Isa Al-Mury mengeluarkan sya’irnya yang diberi judul : Musuh-musuh dakwah tidak terhenti hanya ingin menyerang Asy-Syaikh Muqbil saja, bahkan juga menimpa beberapa murid-murid beliau diantaranya yang dialami oleh Asy-Syaikh Al-Fadhil Abu Dzar Abdul ‘Aziz Al-Bura’i (Hafidhzahullah). Rumah beliau (Asy Syaikh Al Bura’i) yang terletak di “Mafraq Hubaisy”, kota Ibb, diserang dan dihujani peluru secara bertubi-tubi oleh orang-orang Hizbiyyun. Begitu pula juga dialami oleh salah seorang murid beliau yang berdakwah di kota Sawwaadiyah (al Baidhaa’) – yang tersebar di tempat tersebut – orang-orang Sufi yang fanatik, dia adalah Asy-Syaikh Al-Fadhil Ahmad Al-Maqthary (Rahimahullah), beliau ditembak seusai sholat Dzuhur, disaksikan rekan-rekan yang sedang i’tikaf di bulan Ramadhan. Allahu a’lam. Kemudian orang yang menembak tersebut bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri, Wallahul musta’an. (Saya merujuk kembali informasi ini dari Al-Ustadz Luqman Baabduh, Abu Abdillah-Hafidzahullah-pent).

Begitu pula kejadian yang terjadi pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 1418 H orang-orang ahlul ahwa’ tidak tinggal diam untuk terus merongrong dakwah Salafiyah yang penuh berkah ini. Lagi-lagi mereka meledakkan bom di Masjidil Khair (masjid Salafiyyin di ibu kota Yaman, Sana’a), ketika kaum Muslimin sedang melakukan sholat Jum’at. Kemudian manusia berhamburan keluar masjid untuk menyelamatkan diri, jatuh korban empat orang tewas dan dua puluh enam orang terluka, wallahul musta’an.

Akan tetapi kejadian ini semua tidak pernah menyurutkan langkah Asy-Syaikh dan dakwah, justru bertambah kekuatan dan ketetapan (hati), telah berkata Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhadits negara Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (Rahimahullah) : ” Bunuhlah Muqbil !”, “Dan disana pada suatu saat, akan tumbuh beribu-ribu Muqbil !!!”, yang dimaksud oleh Asy-Syaikh adalah murid-muridnya yang telah dididik oleh beliau.

Adapun orang-orang yang paling sengit permusuhannya kepada Asy-Syaikh adalah Al-Hizbiyun Ashab Al-Jum’iyat, mereka tidak membiarkan sedikitpun untuk terus menjelek-jelekkan dakwahnya Asy-Syaikh, Wallahul musta’an.

[Pernyataan diatas hendaknya ditulis dan diabadikan dengan pena emas supaya orang-orang ahlul ahwa’ dari : Syi’ah, Sufiyah, Al-Ikhwan Al-Muflisin, dan Ashab Al-Jum’yat Al-Hizbiyat Al-Mubtadi’ah membuka lebar-lebar mata mereka !-pent].

“Sebagian koleksi kitab Al-‘Allamah Al-Muhadits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I (Rahimahullah)”.

Kitab-kitab karya Asy-Syaikh Muqbil :

Ilmu Hadits :

      • “As-Shahih Al-Musnad” (2 jilid)

      • “Al-Jami’us Shahih mimma laisa fi As-Shahihain” (6 jilid)

      • “Ahadits Al-Mu’allah dhahiruhah As-Sihah” (1 jilid)

      • “As-Shahih Al-Musnad min Dalail An-Nubuwah” (1 jilid )

      • “As-Shahih Al-Musnad fi Asbaab An-Nuzul” (1 jilid)

      • “At-Tatabu’ Auham Al-Hakim fi Al-Mustadrak alati sakata ‘alaiha Ad-Dzahabi” (di dalam kitab Al-Mustadrak”)

      • “Rijal Al-Hakim” (1 jilid )

      • Risalah Majister : “Al-Ilzamat wa At-Tatabu” (1 jilid )

      • Dll

Aqidah :

  • “Al-Jami’u As-Shahih fil Qadar” ( 1 jilid )

  • “Asy-Syafa’ah” ( 1 jilid )

Ar-Rudud :

  1. “Qam’ul Ma’anid” ( 2 jilid )

  2. “Al-Mushara’ah” ( 1 jilid )

  3. “Irsyad dzawil Fitan li ib’ad dzawil Ghulatur-Rowafidl minal Yaman” (1 jilid)

  4. “Riyadul Jannah fi raddi ‘ala a’ada’i As-Sunnah wa ma’ahu At-Thali’atu fi Ar-Roddi ‘ala Ghulati As-Syi’ah” (1 jilid)

  5. “Al-Ilhad Al-Khumaini fi Ardi Al-Haramain” (1 jilid).

  6. “Sha’qatul Zilzal” (2 jilid)

  7. “Rudud Ahlul ‘Ilm” ( 1 jilid ).

Al-Fatawa :

  1. “Ijabatu As-Sa’il ‘Ala Ahami As-Sa’il” (1 jilid)

  2. “Tuhfatul Mujib” (1 jilid)

  3. “Gharatul As-Syrita” (2 jilid)

  4. “Nasyru As-Shahifah fi Dzikri As-Shahih min aqwal A’immah Al-Jarhu wa At-Ta’dil fi Abi Hanifah” (1 jilid)

Ar-Rasail

  1. “Majmu’ah Ar-Rasa’il ‘Ilmiyyah” (kumpulan beberapa tulisan-tulisan Asy-Syaikh dari kit ab-kitab kecil) (1 jilid)

Kaset-kaset Asy-Syaikh Muqbil :

  1. “Syarah Al-Ba’its Al-Hatsits” (24 kaset)

  2. “Muqaddimah Shahih Muslim”

  3. “Dakwah As-Syaikh Muqbil di negara Yaman” (2 kaset)

  4. “Pertanyaan dari negara Inggeris dan menyingkap kebatilan Jum’iyah Ihya’ At-Turats Al-Hizbiyah”

  5. “Pertanyaan pemuda-pemuda Abu Dhabi”

  6. “Pertanyaan dari negara Indonesia”

  7. “Jawaban Al-‘Allamah Yaman atas pertanyaan kaum wanita kota Aden”

  8. “Pertanyaan dari kota Hudaidah (Yaman) tentang biografi Asy-Syaikh”

  9. Dan masih banyak lagi dari kaset-kaset beliau (rahimahullah).

“Ini gambar perpustakaan (lama) Al-‘Allamah Al-Muhadits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi (Rahimahullah) ”

Tersebarnya dakwah Asy-Syaikh Muqbil

Jika kita melihat atsar (jejak) dari dakwahnya Asy-Syaikh, dan manusia banyak yang menerima dakwah beliau, dan tersebar luasnya dakwah beliau di segala penjuru dunia, membuat kita sangat terheran-heran sekali, bagaimana bisa Asy-Syaikh menyebarkan dakwahnya dengan kekuatan dan konsisten ? Bagaimana bisa dakwah ini methodenya bisa diterima di hati-hati manusia ? Padahal dakwahnya Asy-Syaikh dapat menarik hati para pemuda dari segala negeri, sampai-sampai negara kafir seperti Amerika dan Inggris.

Perkara yang sangat mengherankan, dahulu Asy-Syaikh tinggal di desanya yang sangat terpencil, desanya terletak (di lembah) diantara pegunungan jauh dari kota, dan Asy-Syaikh tidak memiliki alat telekomunikasi yang canggih, dan tidak memiliki media massa atau iklan-iklan, dan beliau tidak memiliki harta serta dunia yang dapat membawa manusia untuk mencintainya, dan beliau tidak memiliki pemancar televisi, dan tidak memliki pemancar radio dan tidak pula pompa bensin.

Sampai-sampai majalahpun yang terbit dari Markaznya (tidak ada), tidak ada buletin atau selebaran-selebaran dan tidak pula dari sesuatu yang berbau bisnis, semua yang diketahui oleh As-Syaikh adalah pelajaran-pelajaran ilmu yang bermanfaat, halaqah-halaqah dan mendidik para pemuda, dan yang diketahui oleh Asy-Syaikh adalah kitab-kitab Hadits dan kitab-kitab yang lainnya, dan dakwah yang independen.

Dan saya mempredikisi keberhasilan dakwahnya Asy-Syaikh Muqbil dapat menyatukan hati-hati manusia adalah karena kejujuran beliau dan karena keikhlasan beliau didalam berdakwah, bukanlah media-media yang berbau harta. Itu bukanlah segala-galanya, akan tetapi karena pertolongan Allah dan karena kehendak Allah itulah (kunci) keberhasilan.

Peta desa Dammaj dekat kota Sa’dah, Yemen. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Pondok Asy-Syaikh Muqbil (Daarul Hadits) di Dammaj

Pondok Asy Syaikh ibarat sebuah komplek terdiri atas :

  1. Perpustakaan yang cukup besar, didalamnya terdapat ruangan untuk komputer dan mesin fotokopi, untuk menulis dan memperbanyak tulisan-tulisan Asy-Syaikh dan murid-muridnya.

  2. Ruangan cukup besar untuk menerima tamu-tamu yang datang.

  3. Masjid yang cukup besar dan luas, ruang bawah untuk tempat tinggal santri, dan ruang paling atas untuk makan, kadangkala dipergunakan untuk belajar.

  4. Rumah Asy-Syaikh yang sangat sederhana (terbuat dari tanah liat) dan tempat tinggal untuk santri dibagi dua untuk yang sudah berkeluarga dan yang belum berkeluarga.

  5. Dapur umum yang cukup besar untuk mempersiapkan makanan para santri.

  6. Pertokoan untuk keperluan sehari-hari, toko kitab dan tasjilat, warung telekomunikasi, depot-depot makanan, dan masih banyak lagi hampir semua kebutuhan sehari-hari ada disana.

Pondok Daarul Hadits di Dammaj didirikan kurang lebih pada tahun 1399 H oleh pendirinya, Al-Imam Al-Mujadid Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (Rahimahullah) [Dikutip dari situs sanaa assalafiyah]

Tempat pertemuan Internasional

Sungguh sangat menakjubkan ketika kita melihat murid-murid Asy-Syaikh datang dari segala penjuru dunia, mereka meninggalkan dunia dibelakang mereka dan mereka datang untuk menuntut ilmu agama yang bermanfaat ini dan memiliki kemauan yang tinggi, dan ini benar-benar sebuah tempat konferensi Internasional untuk para pemuda Muslim.

Mereka datang untuk mencari pengetahuan tentang agamanya, sebuah tempat yang tidak ada duanya secara mutlak, kita bisa melihat ada mereka yang datang dari negara Amerika, Bahama, Inggris, Prancis, Jerman, Canada, Swedia, Senegal, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Somalia, Djibouti, Aromo, Sudan, Mesir, Maroko, Al-Jazair, Tunisia, Libya, Palestina, Yordania, Irak, Iran, UEA, Qatar, Saudi Arabia, dan masih banyak lagi dari berbagai negara. (Tidak lupa dari dalam negara Yaman dari utara sampai selatan, dari kota sampai desa, dari pegunungan sampai lembah, dari pelosok sampai daerah pantai, dari daerah yang mudah dijangkau sampai tempat yang sulit untuk dijangkau, dari satu daratan ke daratan yang lainnya, dari satu pulau ke pulau yang lainnya, disana terdapat jejak dari dakwah Asy-Syaikh Muqbil dan murid-muridnya – pent).

As-Sunnah di Dammaj

As-Sunnah di Dammaj benar-benar tampak dan ditegakkan, para pemuda merasa haus dan melahap ilmu-ilmu At-Tauhid, Aqidah, Fiqh, Hadits, dan yang lainnya dari ilmu-ilmu yang bermanfaat juga tidak lupa At-Tahdzir dari bid’ah dan hizbiyyah, mereka tidak gentar sedikitpun. Begitu pula keterikatan mereka dengan As-Sunnah dan apa yang telah datang dari Nabi (Shalallahu A’aihi Wasallam), As-Sunnah dan Salafiyyah mulia dan tertolong (di sana). Hampir-hampir tidak terlihat penyelisihan terhadap As-Sunnah, tidak ada penolong bagi perbuatan bid’ah, tidak ada tempat bagi Ahlil bid’ah dan Hizbiyyun serta orang-orang yang senang dengan perbuatan khurafat di Dammaj.

Fitnah di Dammaj

Bisa kami katakan : bahwasanya fitnah di Dammaj “tidak ada”, tidak ada kesyirikan, tidak ada bid’ah, tidak ada perempuan yang bersolek-ria, tidak ada musik, tidak ada kemungkaran dan kefasikan. Akan tetapi yang ada rasa aman dan tentram, setiap yang kalian dengar disana Al-Quran dan Hadits beserta ilmu dari keduanya. Dan semua apa yang kalian lihat As-Sunnah dan pengamalannya, berpegang dengan As-Sunnah dan menggigit Sunnah tersebut, adapun bid’ah dan hizbiyah terkalahkan dan terhinakan.


Menghafal

Menghafal di Dammaj sesuatu yang menakjubkan, bukan hal yang mengherankan kalau kalian melihat (di sana) banyak yang menghafal kitab “Umdatul Ahkam” bahkan hafal kitab ,”Riyadhus Sholihin dan Bulughul Maram bahkan ada yang hafal kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

Sesungguhnya kondisi di Dammaj membuat adanya penguasaan yang baik dalam hafalan, dalam situasi ilmiyah dan situasi yang jauh dari kesibukan dunia. (Maksudnya adalah orang dapat dengan mudah untuk menghafal karena ditunjang dengan situasi dan kondisi yang mendukung seperti jauh dari fitnah-fitnah dunia dan jauh dari kesibukan dunia sehingga seseorang dengan mudah menghafal Al-Quran, Hadits dan Ilmu-ilmu yang lainnya – pent)


Zuhud

Kalian dapat memperhatikan bahwa Asy-Syaikh dan murid-muridnya orang-orang yang paling jauh dari (kenikmatan) dunia, mereka orang-orang yang zuhud dengan dunia, mereka merasa gembira dengan keadaan yang sederhana karena mereka sibuk menuntut ilmu agama dan dakwah, walaupun sangat sedikit bantuan yang diberikan. Mereka akan menolak (bantuan), tidak mencari dari apa yang dapat merubah mereka dari menuntut ilmu agama yang bermanfaat ini. Mereka telah terbiasa hidup susah dan belajar bersabar dari serba kekurangan. Kami tidak memuji keadaan mereka dari meninggalkan makan dan kefakiran, dan tidak pula kekurangan bantuan atau harta, akan tetapi kemauan dan kesungguhan mereka adalah ilmu dan dakwah. Mereka menderita dan bersusah-payah berjuang dengan keras untuk ilmu yang bermanfaat ini. Akan tetapi ini semua di sisi mereka, lebih manis dari dari madu yang paling manis; telah bercampur menjadi satu di dalam hati mereka, belajar dan mengajar ilmu yang bermanfaat ini, sehingga hal itu terpancang dengan kokoh.


Partisipasi wanita

Dakwah yang penuh berkah dan kebaikan ini bukan hanya sebatas untuk kaum laki-laki saja, bahkan sampai-sampai para wanita yang belajar bersama Asy-Syaikhpun memiliki andil yang besar. Adapun untuk para wanita disediakan tempat yang khusus (masjid Nisa’), untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran dan muhadlarah-muhadlarah Asy-Syaikh Muqbil. Anak perempuan terkecil Asy-Syaikh Muqbil (Ummu Abdillah), seorang penuntut ilmu agama yang pintar dan cerdas, pandai dalam ilmu Hadits dan memiliki tulisan-tulisan dalam ilmu Hadits, menghukumi keshahihan dan kedha’ifan hadits. Bahkan beliau mengajar di tengah-tengah kaum wanita pelajaran Fiqih, Aqidah, Hadits, Bahasa, dan lain-lain dari bidang keilmuan, terdapat beberapa Thalibat (penuntut ilmu dari wanita) yang sangat menonjol mereka memilki tulisan-tulisan bantahan kepada Hizbiyun Ashab Al-Jum’iyat dan Ahlul Bid’ah serta Ahli siasat yang menyesatkan !!!

Bahkan para wanita di seluruh pelosok Yaman menerima dakwah Salafiyyin dan mereka mencintainya, mereka membuang bid’ah dan khurafat…, walhamdulillah atas karunia yang diberikan oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala).

Murid-murid Asy-Syaikh Muqbil di Dammaj

Murid-murid Asy-Syaikh Muqbil yang belajar bersama beliau (pada saat itu) kurang lebih seribu lima ratus orang murid mencurahkan kemampuannya dan konsisten di dalam belajar bersama Asy-Syaikh, mereka terus mengikuti pelajaran-pelajaran Asy-Syaikh dan tidak membeda-bedakan pelajaran. Jumlah mereka tiga ratus orang yang sudah berkeluarga dan sisanya belum berkeluarga; tempat tinggal yang sudah berkeluarga terpisah dari tempat tinggal yang belum berkeluarga (jaraknya sangat berjauhan) .

Rumah-rumah mereka sangat sederhana sebagian besar terbuat dari tanah, tidak ada prasarana untuk hidup bermewah-mewah. Atap rumah mereka dari dahan pepohonan, sebagian tempat tinggal terdapat listrik (ini khusus untuk yang berkeluarga) dan yang lain penerangannya dengan lampu bahan bakar gas (LPG) atau lampu tempel dengan bahan bakar minyak tanah. Tempat tinggal para pemuda yang belum berkeluarga adalah sebuah kamar yang kecil didalamnya terdapat kamar mandi dan dapur kecil yang sangat sederhana.

Adapun di musim liburan bertambah jumlah penuntut ilmu agama sampai kurang lebih lima ribu orang !!! (Sekarang jumlah mereka di hari-hari biasa mencapai kurang lebih empat ribu sampai lima ribu orang dan ketika musim liburan bertambah sampai delapan ribu orang-pent).

Murid-murid Asy-Syaikh Muqbil dan penolong-penolongnya di seluruh Yaman
Diperkirakan jumlah orang yang pernah belajar dengan Asy-Syaikh Muqbil kurang lebih seratus ribu orang, ini bukanlah melebih-lebihkan !!

[Aku diberi masukan tentang jumlah ini dari murid-murid Asy-Syaikh yang duduk dengan Asy-Syaikh bertahun-tahun, dan mereka sudah berkeliling dari kebanyakan desa-desa di seluruh Yaman mereka melihat dan berjumpa dengan kebanyakan murid-murid Asy-Syaikh dan mereka menyaksikan sendiri perkumpulan dan kegiatan yang dilakukan yakni belajar dan mengajar].

Banyak dari mereka yang menonjol di bidang keilmuan, dan sangat menakjubkan betapa hebatnya keilmuan mereka dan kecerdasan dalam menimba ilmu yang bermanfaat ini, sungguh tidak ada duanya !!

Adapun penolong-penolong Asy-Syaikh dan yang mencintainya sangat banyak tidak bisa di hitung, tidaklah kalian pergi ke suatu desa atau tidaklah kalian membalikkan batu di puncak gunung atau di dasar lembah, kecuali kalian jumpai disana jejak dari dakwahnya Asy-Syaikh Muqbil (Rahimahullah) dan murid-murid serta penolong-penolong, yang mencintai beliau yang menyeru kepada Sunnah, mereka berjuang dan membela Sunnah.


Sebagian murid-murid Asy-Syaikh yang menonjol :

  1. Asy-Syaikh Da’iyah Al-Khatib : Muhammad bin Abdillah, Abu Nashr Ar-Raimi dengan julukan “Al-Imam” berkata Asy-Syaikh Muqbil tentangnya : “Markaz ilmiyah di kota Ma’bar, beliau telah banyak mencetak para thalabatul ilmi, dan dia (hafidzahullah) bangkit dengan mengajar dan berdakwah kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) “.

  2. Asy-Syaikh Da’iyah Al-Muhaqiq : Muhammad bin Abdul Wahab Al-Wushobi Al-Abdali, Abu Ibrahim, berkata Asy-Syaikh Muqbil tentangnya : “Seorang da’i yang menyeru kepada Allah, zuhud dan sabar, seorang yang pandai mengerjakan tulisan-tulisan dan tahqiq dengan sempurna”, dan juga Asy-Asyaikh berkata tentangnya : “Sekarang beliau menjadi rujukan dalam fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat, dan itu semua kelebihan yang diberikan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) atasnya”.

  3. Asy-Syaikh Da’iyah Al-Muhnik : Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, Abu Dzar. , berkata Asy-Syaikh Muqbil tentangnya : “Al-Akh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i dia seorang yang membuat marah Hizbiyun, telah meninggalkan Al-Hizbiyyun didalam kebiasaannya semenjak beliau tinggal di Mafraq Hubaisy. Dan telah tersebar luas sunnah-sunnah yang banyak disebabkan dakwahnya, …dan dia seorang penyair yang luhur. [Lihat kitab”Tuhfatul Mujib”, hal 210]

  4. Asy-Syaikh An-Nasihu Amin : Yahya bin Ali Al-Hajuri, Abu Abdur-Rahman, berkata Asy-Syaikh Muqbil tentangnya : ” …dan diantara mereka para Ulama’ dan Masyaikh dia Asy-Syaikh Al-Fadhil As-Sunny As-Salafy, yang pelajaran-pelajarannya dan buku-bukunya terus berkesinambungan memerangi bid’ah-bid’ah,….Dan Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri – mudah-mudahan Allah memberikan berkah kepadanya – dan memberikan berkah atas kesungguhannya yang bangkit dalam memerangi kesyirikan dan bid’ah, semoga Allah menjaga kami dan menjaga dia dari seluruh kejelekan yang diingkari.[Muqodimah kitab “Fathul Wahab”]

Dan Asy-Syaikh juga berkata tentangnya : “Al-Akh Yahya Al-Hajuri dia yang menggantikanku ketika aku tidak bisa hadir (tidak bisa mengajar), walhamdulillah. [Lihat kitab”Tuhfatul Mujib”, hal 211].

  1. Asy-Syaikh Ad-Da’iyah Al-Wa’idha Al-Mu`atsir “Khotib Ahlussunnah”: Abdullah bin Utsman Adz-Dzamari telah diberikan kelebihan methode tata bahasa yang mengagumkan dalam memberikan nasehat dan didalam berkhotbah. Ketika berkutbah memberikan nasehat dalam topik-topik yang berkenaan dengan kelunakan hati, atau bercerita tentang hari Akhir, atau tentang masalah kubur, kecuali aku melihat seluruh masjid gaduh karena suara tangisan dan ratapan.

Berkata Asy-Syaikh Muqbil tentangnya : “Abdullah bin Utsman Adz-Dzamari, Khotib Ahlussunnah, bahkan saya tidak mengetahui seorang yang memberikan nasehat yang sepertinya (yang bekenaan dengan kelembutan hati) di negara Yaman, dia orang yang istimewa dari yang selainnya, selalu berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah As- Shahihah”.

    1. Asy-Syaikh Ad-Da’iyah Al-Faqih Abdur-Rahman bin Umar bin Mar’i Al-Adeni, Abu Abdillah, beliau seorang yang rendah diri tidak sombong, memiliki beberapa tulisan di ilmu Fiqih di antaranya : Syarah Kitab “Ad-Darari” dan yang lainnya, Asy-Syaikh Muqbil senang dengannya dan kadangkala berdiskusi di berbagai masalah-masalah ilmiyah di dalam pelajaran-pelajaran Asy-Syaikh (Rahimahulallah).[pent]

    2. Asy-Syaikh Ad-Da’iyah As-Salafy Abdullah bin Umar bin Mar’i, saudara kandung dari Asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Umar Al-Adeni, memiliki markaz (pondok) di kota Asy-Syihr Hadramaut dan beliau pernah belajar dengan Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Rahimahullah).[pent]

    3. Sya’irud-Da’wah : Abu Rowahah, Abdullah bin Isa Al-Muri, dia sangat mencintai Asy-Syaikh, dan membela dakwah Salafiyah dan membantah Hizbiyun dan orang-orang yang mencela Asy-Syaikh dan dakwahnya melalui syair-syairnya yang sangat bagus serta kuat tata bahasanya. Dia memliki syair-syair yang banyak diantaranya syair di dalam pembelaan terhadap Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (Hafidzahullah), dan syair-syair yang lainnya bertema pembelaan terhadap dakwah Salafiyah dan bantahan kepada Hizbiyun serta Ahlul Bid’ah.

    4. Dan masih banyak lagi para da’i selain mereka, kalau bukan karena terlalu panjang maka akan aku sebutkan, walhamdulillah.

Perjalanan mencari ilmu

Dahulu Asy-Syaikh (Rahimahullah) memulai belajarnya di masjid-masjid Jami’ belajar membaca dan menulis, kemudian Asy-Syaikh memulai dengan belajar membaca Al-Qur’an akan tetapi hanya sekedar baca. Kalaupun ada tambahan pelajaran, beliau menghafalkan sebagian mutun (kitab-kitab yang belum dijabarkan) yang sering dipergunakan oleh madzhab-madzhab, lalu beliau membaca kitab-kitab sejarah, itupun sekedar membaca. Maka akhirnya beliau menyelesaikan jenjang belajar di tempat itu.

Asy-Syaikh pada saat itu hidup sebagai seorang anak yatim yang sangat mencintai ilmu dan sangat membenci taqlid semenjak kecil. Selanjutnya beliau menyia-nyiakan usianya sekitar umur 20 atau 25 tahun, dengan tanpa belajar ilmu yang bermanfaat, karena tidak adanya yang memberikan bantuan, yang mengarahkan beliau untuk belajar.

Selanjutnya, waktu terus bergulir, lantas belajarlah Asy-Syaikh ke masjid Jami’ Al-Hadi (di kota Saadah – tempat orang-orang Syi’ah), karena tidak adanya orang yang menolong untuk mengarahkan kepada Al Haq dan yang memberikan bantuan. Qadarallah, akhirnya beliau memiliki keinginan yang kuat untuk pergi ke negeri Haramain (Makkah dan Madinah) dan Najed (Saudi Arabia dibagi menjadi tiga wilayah/propinsi, propinsi Timur, Tengah (Najd) dan Barat. Najd sekarang mencakup wilayah ibu kota KSA, Riyadh dan sekitarnya), dari sinilah awal permulaan hidayah Allah Ta’ala turun.

Pada saat itu Asy-Syaikh berangkat ke negeri Haramain dan Najed dengan niatan untuk bekerja. Dahulu, beliau banyak terpengaruh oleh (dakwah yang dibawa) para da’i – yang dahulu – suka berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lainnya. Namun akhirnya Asy-Syaikh mengetahui hakikat dakwah mereka sebenarnya, setelah beliau menuntut ilmu agama yang bermanfaat ini. Ternyata mereka bukanlah penuntut ilmu agama yang benar.

Dahulu pertama kali Asy-Syaikh bekerja sebagai penjaga apartemen di Al-Hajun (Makkah). Akhirnya beliau diberikan petunjuk Allah Ta’ala untuk membeli kitab-kitab : “Shahih Al-Bukhari”, “Riyadus-Shalihin”, “Bulughul Maram” dan “Fathul Majid”, dan beliau juga diberi makalah-makalah yang bertemakan Tauhid. Sehingga beliaupun mulai menyibukkan diri dengan belajar membaca kitab-kitab yang beliau beli itu.

Akhirnya kitab-kitab tersebut banyak memberikan pengaruh didalam dirinya, khususnya kitab “Fathul Majid”, tentunya berbeda apa yang beliau dapatkan selama beliau tinggal negeri Al-Haramain dibanding dengan negeri asalnya, terutama dari segi ilmu agama.

Beberapa waktu lamanya tinggal disana, Asy-Syaikh pun kembali pulang ke Yaman dan beliau terpanggil untuk menjadi seorang da’i. Beliau menyaksikan banyak kemungkaran di negerinya, sehingga beliau tidak membiarkan perbuatan mungkar, kecuali beliau ingkari. Diantaranya perbuatan berdo’a kepada selain Allah, pengagungan kuburan, hal ini membikin orang-orang Syi’ah memusuhi Asy-Syaikh secara terang-terangan. Akibat pengingkaran kepada Syiah ini, maka akhirnya beliau dikembalikan kepada keluarganya dan dilarang berdakwah, atau mereka (orang-orang Syi’ah) akan memenjarakannya.

Memang pada saat itu negara Yaman berada dibawah kekuasaan mereka, dan Asy-Syaikh tidak tahu tentang pemerintahan dan orang-orang yang berpengaruh di dalam pemerintahan serta tidak mengenal Masyaikh Al-Qabaial (kepala suku).

Dengan kejadian ini, Asy-Syaikh sangat membenci orang-orang Syi’ah, memang Asy-syaikh pun diam – tidak berdakwah -, akan tetapi aqidahnya terpancang kuat di dalam dadanya.

Demi mengembalikan manhaj Asy Syaikh agar tidak menentang Syiah, maka orang-orang Syi’ah kembali memasukkan Asy-Syaikh ke masjid Jami’ Al-Hadi untuk membersihkan otak beliau dari ‘pemikiran’ Al-Wahabiyyah (Sesungguhnya kita salafiyyin tidak menyandarkan diri kita kepada seorangpun, melainkan hanya menyandarkan kepada sunnah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasalam ).

Selanjutnya Asy-Syaikh belajar di tempat mereka tiga tahun lamanya dan menurut aturan jenjang akhir belajar disana ditempuh selama dua belas tahun. Beliau belajar di tempat mereka dengan penuh kebencian, diantara kitab yang dipelajari pada saat itu : “Al-‘Aqdu Tsamin”, “Tsalatsina Masalah”, “Matn Al-Azhar” dan kitab di dalam ilmu Fara’id (hukum waris). Malah sebelumnya disana pernah diajarkan kitab “Bulughul Maram”, akan tetapi akhirnya dilarang.

Kemudian disana beliau memiliki kesempatan untuk belajar Nahwu, maka beliau pada saat itu sangat antusias sekali dengan pelajaran Nahwu, beliau belajar Nahwu dari kitab “Al-Aajrumiyyah”, juga kitab “Qatrun-Nada” pada gurunya, Ismail Khatabah sebanyak enam kali.

Tak lama kemudian terjadilah pergolakan di negara Yaman yakni pada tahun 1382 H. Maka pergilah Asy-Syaikh ke kota Najran (kota di bagian selatan KSA perbatasan dengan Yaman Utara). Beliau tinggal disana dua tahun lamanya dan ditemani oleh Abul Husain Majidud-din al-Mu’ayyidi, keduanya saling mengingatkan (dalam faidah-faidah) dan Asy-syaikh banyak mengambil faidah didalam ilmu Nahwu darinya.

Asy-syaikh masuk ke kota Najran yang pada itu sedang dipimpin oleh Ibrahim Al-Hamdi. Namun disana terjadi pergolakan, Asy-Syaikh melihat bahwa peperangan yang terjadi lantaran urusan dunia saja, yakni antara Kerajaan dengan Republik (di Yaman), maka Asy-Syaikh menetapkan untuk pergi dari Najran.

Pergilah Asy-Syaikh ke kota Riyadl dengan maksud ingin bekerja, namun ketika di tengah perjalanan rencana berubah, ada satu keinginan yang kuat dan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghendaki lain untuk dirinya. Beliau berkata (rahimahullah) kepada dirinya sendiri : “Wahai fulan, engkau telah menjadi da’i dan orang-orang di negerimu telah banyak mengambil faidah, apakah engkau akan menyia-nyiakan dirimu?”. Maka pergilah beliau ke tempat menghafal Al-Qur’an milik orang Yaman yang bernama Muhammad ibn Sinan Al-Hada’i, beliau sangat senang dengan Asy-syaikh, karena dapat mengambil faidah dengan baik khususnya di ilmu Nahwu. Tinggallah Asy-Syaikh disana selama satu bulan setengah, namun lantaran terjadi perubahan cuaca yang tidak bersahabat, akhirnya menyebabkan beliau jatuh sakit.

Melihat ketidakcocokan kondisi cuaca ini (di Riyadh, Najd), maka Asy-syaikh mengambil keputusan untuk pergi ke kota Makkah, dan beliau (rahimahullah) tidak memiliki uang sepeser pun kecuali hanya cukup untuk membayar ongkos kendaraan (yang menuju kota Makkah). Beliau hanya berbekal sepotong roti dan kurma, kemudian beliau memakannya dan minum air yang dibawa. Sampailah beliau tiba di kota Makkah dengan selamat, selang beberapa saat beliau mencari tempat tinggal.

Beliaupun menimbang-nimbang, apabila tinggal bersama orang-orang yang berasal dari negerinya, maka akan terganggu karena suara lagu-lagu, tetapi apabila tinggal di Masjidil Haram akan kedinginan dan dapat menyebabkan sakit batuk. Beliaupun memutuskan tinggal di Masjidil Haram, (untuk mengantisipasi hawa dingin) beliau membeli secarik selimut.

Sehari-harinya Asy Syaikh minum dari air zam-zam, makan seadanya serta tidur di pelataran masjid. Bahkan Asy-Syaikh bekerja pada pagi harinya, barulah pada malam harinya beliau menuntut ilmu agama, terkadang beliau begadang sampai tengah malam. Asy Syaikh berkata (rahimahullah): “Dan dahulu aku mendapati ilmu itu sangat lezat sekali, seperti aku ini seorang raja”, dan dahulu beliau hadir di majlisnya Asy-syaikh Yahya ibn Utsman Al-Bakistani di dalam pelajaran kitab “Shahih Al-Bukhari”, “Shahih Muslim” dan “Tafsir ibnu Katsir”.

Kemudian Asy-Syaikh masuk di Ma’had Al-Haram Al-Makki dan dahulu yang bertanggung jawab atas beliau adalah Asy-Syaikh Abdullah ibn Humaid. Maka majulah bersama beberapa orang santri untuk melakukan tes ujian dan berhasillah beliau. Berkata Asy-Syaikh (rahimahullah) : “Kami saling membantu di dalam menjawab soal, dahulu saya kuat di dalam pelajaran Nahwu. Dan yang lainnya mereka kuat di dalam pelajaran Tauhid dan ilmu Musthalah Al-Hadits.” Sampai-sampai salah seorang diantara mereka, ketika ditanya tentang Asma’ul khamsah (dalam ilmu Nahwu) ? Maka dijawab : “Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali (radliyallahu ‘anhum) dan …”. Lalu ketika Asy Syaikh sudah menetap menjadi santri di Ma’had, datanglah keluarganya masuk dari kota Najran.

Asy Syaikh terhitung tinggal di Makkah selama enam tahun lamanya, karena jenjang pendidikan yang ada (enam tahun). Dahulu Asy-Syaikh juga rajin mendatangi pelajaran-pelajaran yang diadakan di Masjidil Haram dan diantara guru-gurunya disana yakni Asy-Syaikh Muhammad ibn Abdillah Ash-Shomali dan Asy-syaikh Abdul-‘Aziz Rasyid An-Najdi.

Nah, ketika Asy Syaikh tamat dari Ma’had Al-Haram Tsanawi dan Mutawasth (SMA), masuklah beliau ke Al-Jami’ah Al-Islamiyyah di Madinah (Universitas Islam Madinah, KSA).

Kebanyakan santri yang lainnya – alumni Ma’had Al-Haram – masuk di (fakultas) kuliah Ad-Da’wah dan Ushul ad-Dien, demikian juga Asy Syaikh. Karena adanya santri-santri yang menonjol di dalam kuliah tersebut, maka dibukalah kelas khusus, maka masuklah Asy-Syaikh mengambil jurusan ilmu Hadits. Dahulu Asy-syaikh banyak mengambil faidah (dari program khusus Ilmu hadits itu) dan itulah sebaik-baiknya At-Takhasus (penjurusan). Diantara guru-gurunya yang paling menonjol waktu itu adalah Asy-Syaikh Muhammad Al-Hakim, Asy-Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab Al-Mashri dan Asy-Syaikh Hammad Al-Anshari.

Asy-Syaikh memanfaatkan masa musim liburan untuk melakukan bahats (penelitian seperti penyusunan skripsi) dua topik yaitu “As-Shahih Al-Musnad Min As-Baab An-Nuzul” (kumpulan Hadits-hadits As-Sahih dari As-Baab An-Nuzul), risalah (skripsi) untuk kuliyah Ad-Da’wah, dan bahats “Al-Qubbah Al-Mabniyah Ala Qabri Ar-Rhasul (Shalallahu ‘alaihi wasalam)” (Kubah yang di bangun di atas kuburan Ar-Rasul (Shalallahu ‘alaihi wasallam), risalah untuk kuliyah Asy-Syari’ah.

Asy Syaikhpun menyelesaikan masa belajarnya dan meraih gelar Licente (Lc) – setara S1 – dan kedua risalahnya mendapatkan ijazah dengan predikat sangat bagus. Berkata Asy-Syaikh tentang kedua ijazahnya : “Saya tidak tahu di mana kedua ijazah tersebut ?”.

Dan dahulu Asy-Syaikh bertentangan dengan sebagian dosen-dosennya, karena mereka mengajarkan buku pelajaran yang berulang kepada mahasiswa, sebagian dosen juga menyeru kepada taqlid dan yang lainnya tidak perduli dengan kesahihan atau kedla’ifan sebuah hadits,berkata Asy-Syaikh: “Dahulu Abdul ‘Athim Fayyadl Masri mewajibkan kepada kita taqlid akan apa-apa yang ditulisnya didalam bukunya dan yang lainnya. Dahulu aku menentangnya, maka diapun memaksaku untuk diam tidak membiarkan aku berbicara. Pada suatu ketika, aku berjumpa dengannya di masjid Nabawi, maka bergembiralah aku. Aku berkata dalam diriku, “Ini kesempatan yang sangat baik.” Pergilah aku kepadanya dan mengutarakan apa yang ada di kepalaku semuanya, padahal ketika itu dia mengajar di dalam sebuah kajian. Kemudian para hadirin terdiam, semua sorot pandangan mereka ditujukan kepadaku dengan penuh kebencian.”

Asy-syaikh waktu itu juga menghadiri kajian yang diasuh oleh Asy-Syaikh Al-Walid Al-Imam Abdul ‘Aziz ibn Abdullah ibn Baaz (rahimahullah) dalam pelajaran “Shahih Muslim” di masjid Nabawi, juga kajian-kajian khusus yang diasuh oleh Asy-Syaikh Al-Imam Al-Muhadits Muhammad Nasiruddin Al-Albani (Rahimahullah).

Pada kesempatan pertama, Asy-Syaikh menginfaqkan kelebihan kemampuan yang diberikan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dengan mengajar di Masjid Al-Haram, berupa pelajaran kitab-kitab ilmu Nahwu seperti “At-Tuhfah” dan “Al Qatru An-Nada”, juga kitab ilmu Al-Musthalah Al-Hadits seperti kitab “Al-Ba’its Al-Hatsits”.

Asy-Syaikh tercatat lulus dari kuliyah Ad-Da’wah dan Ushul ad-Din pada tahun 1394-1395 H, serta mendapatkan ijazah dengan gelar License (Lc) predikat sangat bagus. Beliaupun kemudian masuk ke jenjang yang lebih tinggi (Magister) pada tanggal 23/11/1395 H. Asy Syaikh dinyatakan lulus dengan predikat bagus, dimana beliau menyusun skripsinya yang berjudul : “Al-Ilzamat wa At-Tatbu’ karya Al-Imam Ad-Daraquthni” dan menyelesaikannya dengan mendapatkan gelar “Magister”. Dan lama jenjang belajar beliau selama tujuh tahun lamanya.

Guru-guru Asy-Syaikh

Asy-Syaikh telah belajar kepada beberapa orang Masyaikh, di berbagai sekolah, dan berbagai bidang keilmuan, dan dari sebagian guru-gurunya :

Dari sekolah Syi’ah :

  1. Abul Husain Majidud-Din Al-Mu’ayyidi, berkata Asy-Syaikh tentangnya : Dia orang yang paling pandai dari kalangan Syi’ah di Yaman, termasuk orang yang membawa madzhab Hadawi (pengikut Hadi-kuburannya diagungkan di kota Saadah), Asy-Syaikh banyak mengambil faidah darinya dalam ilmu Nahwu ketika di Najran.

  2. Ismail Hathabah.

  3. Muhammad ibn Al-Hasan Al-Mutamayyiz.

  4. Qasim ibn Yahya Syuweil.

Perlu dicatat dan digarisbawahi, bahwasanya Asy Syaikh menuntut ilmu pada orang-orang Syiah di awal hidupnya, yakni sebelum asy Syaikh memahami perkara munkarnya Syi’ah. Akan tetapi setelah asy Syaikh mengetahui kemungkaran Syi’ah, maka beliaupun menentangnya, berusaha menjauh dan mentahdzir akan bahayanya.

Dan dari guru-gurunya yang lain :

  1. Al-Imam Al-Allamah Al-Muhadits Muhammad Nasir Ad-Din Al-Albani (rahimahullah), Asy-Syaikh Al-Albani berhenti menjadi dosen di Al-Jami’ah Al-Islamiyyah sebelum Asy-Syaikh Muqbil belajar disana, akan tetapi dahulu Asy-Syaikh Al-Albani masih sering mengunjungi mahasiswa di Madinah dengan memberikan nasehat kepada mereka. Sangat memungkinkan yang datang (belajar) sebagian dari mereka adalah anggota kelompok Jamaah At-Takfir (kelompok yang suka mengkafirkan kaum Muslimin), serta sisa-sisa pemahaman mereka yang ekstrim. Sampailah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) memberikan hidayah kepada mereka lewat bimbingan Asy-Syaikh Al-Albani (rahimahullah). Dan Asy-Syaikh Muqbil dulunya juga menghadiri kajian-kajian khusus (Asy Syaikh Al Albani ini) untuk Thalabatul Ilmi (penuntut ilmu agama) yakni pelajaran “Kaidah ilmu Hadits”. Kajian ini tidak diperuntukkan bagi orang awam, akan tetapi kajian ini yang langsung praktek di perpustakaan.

  2. Al-Imam Al-‘Allamah Al-Faqih Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baaz (rahimahullah), dahulu Asy-Syaikh hadir dalam pelajaran (Syaikh Ibn Baaz) membahas kitab “Shahih Muslim” di Masjid Nabawi.

  3. Muhammad ibn Abdullah Ash Sumaali (Rahimahullah), Asy Syaikh belajar dengannya kurang lebih tujuh bulan lamanya dan banyak mengambil faidah darinya ilmu hadits, dan pengenalan tentang para perawi hadits yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Berkata Asy-Syaikh tentangnya : “Sepertinya yang sebanding (keilmuan) dengannya sangat sedikit atau tidak ada duanya.”

  4. Abdullah ibn Muhammad ibn Humaid, mengajar mereka (mahasiswa) kitab “At-Tuhfatu As-Saniyyah” dan dahulu Asy-Syaikh ibn Humaid kagum dengan jawaban-jawaban Asy-Syaikh dan penjelasannya.

  5. Asy-Syaikh Hammad ibn Muhammad Al-Anshari, dari salah satu gurunya yang mengajarnya di Al-Jami’ah Al-Islamiyyah.

  6. Yahya ibn Utsman Al-Bakistani, salah satu gurunya di masjid Al-Haram belajar dengannya kitab “Shahih Al-Bukhari”, “Shahih Muslim” dan “Tafsir ibn Katsir”.

  7. Abdul Aziz ibn Rasyid An-Najedi, salah satu gurunya di masjid Al-Haram, berkata Asy-Syaikh tentangnya : “Dahulu dia memiliki pengetahuan yang sangat kuat di dalam ilmu Hadits dan memperingatkan dari bahaya taqlid. Dia adalah lulusan Al-Azhar dan sangat keras didalam melemahkan sebuah hadits, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab “Taysir Al-Wahin fil Iqtishar ala Al-Qur’an wa As-Shahihain”. Sampai-sampai Abdul Aziz ibn Rasyid mengatakan: “Hadits-hadits yang shahih selain As-Shahihain (Bukhari dan Muslim) bisa dihitung dengan jari.” Maka melekatlah ucapannya pada otakku, namun aku berusaha mengingkarinya, sehingga aku memiliki obsesi yang sangat kuat untuk menulis kitab “As-Shahih Al-Musnad mima laisa fi As-Shahihain” (Kumpulan Hadits-hadits Ash-shahih yang bukan dari “Ash-Shahihain”). Maka semakin bertambahlah keyakinanku atas batalnya ucapan Abdul Aziz ibn Rasyid, dan Asy-Syaikh sangat mengingkarinya.”

  8. Al-Qodhi Yahya Al-Asywal, belajar dengannya kitab “Subulus-Salam” dan kitab apa saja yang diinginkan oleh Asy-Syaikh.

  9. Abdul Razaq Asy-Syakhidzi Al-Mahwiti, dahulu beliau mengajar apa yang diinginkan oleh Asy-Syaikh.

  10. Muhammad As-Subail, belajar dengannya ilmu waris.

  11. Muhammad Al-Amin Al-Mashri (Rahimahullah) banyak mengambil faidah di dalam ilmu hadits dan dia salah seorang dosen yang mengajarnya di Al-Jami’ah Al-Islamiyyah.

  12. As-Sayid Muhammad Al-Hakim Al-Mashri, yang membela dan pembimbing atas risalah (skripsi) (Asy Syaikh Muqbil) yakni “Al-Ilzamat wa At-Tatabu” dengan gelar Majister. Asy-Syaikh belajar darinya kitab “Subulus-Salam” dan merupakan salah seorang dosen di kuliyah Ad Da’wah.

  13. Mahmud Abdul Wahab Faid, salah seorang dosen di kuliyah da’wah mengajar Tafsir, berkata Asy-Syaikh tentangnya: “Kuat ilmu tafsirnya dan seorang Muhaqiq”.

  14. Abdul Aziz As-Subail, salah seorang gurunya di Ma’had Al-Haram Al-Makki .

  15. Badi’u Ad-Din Ar-Rasyidi, berkata asy-Syaikh tentangnya: “Dahulu dia sangat membenci taqlid.”

  16. Asy-Syaikh Sholeh Al-‘Ubud.

  17. Muhammad Taqiyu Ad-Din Al-Hilali.

  18. Thaha Az-Zaini.

  19. Abdul ‘Athim Fayadl.

  20. Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Asy-Syaikh belajar dengannya lewat pertanyaan-pertanyaan.

  21. Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin As-Syanqiti, belajar dengannya lewat pertanyaan-pertanyaan dan mengajukan masalah-masaslah yang dihadapi. Berkata Asy-Syaikh tentangnnya: “Dahulu beliau (Rahimahullah) tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dalam ingatan saya, saya tidak pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri yang setingkat dengannya dalam menerangkan faidah-faidah begitu cepatnya dan tanpa terbata-bata”. Asy-Syaikh menasehatkan untuk hadir di pelajaran-pelajarannya.

Berkata Asy-Syaikh Muqbil (rahimahullah): “Kebanyakan faidah-faidah yang aku peroleh dari kitab-kitab, hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”.

Jalan menuju Yaman

Barang siapa yang ingin mencari tempat untuk menuntut ilmu agama dengan benar maka solusi yang tepat bagi mereka adalah Markaz-markaz ‘ilmiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah di negara Yaman, kenapa demikian?. Jawabannya sungguh tidak berlebihan karena Nabi (Shalallahu ‘alaihi wa salam) bersabda :

  1. Dari Abi Hurairah (radiyallahu ‘anhu) dari Nabi (Shalallahu ‘alaihi wassallam) beliau bersabda : “Telah datang kepada kalian Ahlul Yaman, mereka orang yang lemah lembut hatinya, Iman itu di negara Yaman, dan hikmah di negara Yaman dan fiqih (ilmu) itu di negara Yaman,”. (Muttafaqun ‘alaih).

Berkata para Ulama’ tentang arti hadits di atas :

  1. Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hanbali (Rahimahullah Ta’ala) telah menggambarkan Ahlul Yaman, berkata (rahimahullah) : “Mereka orang-orang yang sedikit berbicara akan tetapi banyak beramal, oleh karena mereka orang-orang yang beriman, dan diantara arti Iman adalah beramal”.

  2. Berkata As-Safaarini (Rahimahullah Ta’ala) : “Dan yang dimaksud bahwa Nabi (Shalallahu ‘alaihi wassalam) menyifatkan hati-hati mereka (orang-orang Yaman) dengan lemah lembut hatinya adalah bahwa mereka memilki hubungan yang erat untuk membela agama dari segala tipu-daya yang menyesatkan dan dari syahwat (hawa nafsu) yang diharamkan”. [Lihat : Tsulatsiyaat Musnad Al-Imam Ahmad (1/698-699)].

  3. Berkata Abu Bakar Ibnul ‘Arabi (Rahimahullah Ta’ala) : “Adapun pujian Ar-Rasul (Shalallahu ‘alaihi wassalam) untuk negara Yaman karena penduduk negeri tersebut orang-orang yang menolong agama dan penjaga agama Islam dan yang memberikan perlindungan kepada Ar-Rasul (Salallahu ‘Alaihi Wa Salam). Adapun arti dari “Al-Hikmah” adalah karena amalan mereka berdasarkan ilmu dan itulah orang-orang Yaman”. [Lihat kitab: ‘Aridlo Al-Ahwadzi (9/45)] .

[Di nukil dari kitab: “Al-Yaman Makanatuha fi Al-Qur’an wa As-Sunnah” (hal:14-15) / karangan: Abdul Malik Asy Syaibaani /cetakan II /Sana’a 1997 M].

Adapun cara pergi ke negara Yaman sangat mudah, cukup kita mengurus Passport dan mengajukan Visa kunjungan masuk ke negara Yaman di Kedutaan Besar negara Yaman yang terletak di Ibu kota Jakarta. Setelah tiba di Ibu kota negara Yaman Sana’a cari Taxi dengan alamat tujuan : “Masjidil Khair” Syare’ Ta’iz / Bir Ubaid , kontak nomor telepon Asy-Syaikh Muhammad Ibn Shaleh Ash-Shoumali : (+967 1 612447)..

Setiba di sana terdapat bus kecil yang akan mengangkut Thalabah ke Markaz Daarul Hadits Dammaj. Jarak perjalanan antara Ibu kota Sana’a dengan kota Sa’ada 250 km, kurang lebih memakan waktu lima jam. Sedangkan jarak antara kota Sa’ada dengan Dammaj (tempat Ma’had Darul Hadits yang diasuh Asy Syaikh Yahya, red) kurang lebih 8 km, bisa memakan waktu setengah jam perjalanan dengan mobil. Perlu diingat jalan dari kota Sa’ada menuju Dammaj belum diaspal dan jalannya banyak yang berpasir, sehingga menyulitkan kendaraan. Akan tetapi angkutan menuju Markaz selalu ada dan mudah didapatkan, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Markaz Daarul Hadits Dammaj, nomor telepon: (+967 7 513087) / (512111).

Dan disana terdapat masjid-masjid Ahlussunnah yang didalamnya diasuh oleh para Masyaikh dan Talabatul Ilmi, dan Alhamdulillah Markaz-markaz Ahlussunnah di negara Yaman sangat banyak sekali dari Utara sampai Selatan, kami akan sebutkan sebagian saja diantaranya :

    1. Markaz Asy-Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahab Al-Wushobi (Hafidzahullahu Ta’ala) terletak di Syare’ Zaid kota Hudaidah, nomor telepon: (00967 3 231399).

    2. Markaz Asy-Syaikh Muhammad Ibn Abdillah Al-Imam (Hafidzahullahu Ta’ala) terletak di Syare’ Al-‘Aam kota Ma’bar, nomor telepon : (00967 6 430521).

    3. Markaz Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i (Hafidzahullahu Ta’ala) terletak di Mafraq Hubaisy kota Ibb, nomor telepon: (00967 4 433245).

    4. Markaz Asy-Syaikh Abdul Mushowwir(Hafidzahullahu Ta’ala) Masjid As-Sunnah di daerah Ba’dan kota Ibb, nomor telepon: (00967 4 410067).

    5. Markaz Asy-Syaikh Abdul-Rahman Mar’i dan saudaranya Abdullah Mar’i (Hafidzahumallahu Ta’ala), Masjid At-Taqwa di kota Asy-Syihr Hadramaut, nomor telepon: (00967 5 333507).

    6. Markaz Asy-Syaikh Abdul-Razaq An-Nahmi (Hafidzahullahu Ta’ala), Masjid Ash-Shabaari di kota Dzamar, nomor telepon: (00967 6 506816).

    7. Markaz Asy-Syaikh Ma’mar Al-qodasi (Hafidzahullahu Ta’ala), Masjid Asy-Syarqain Ad-Daairi Al-Ghorbi-Imarah Al-Khaulani di Ibu kota Sana’a, nomor telepon : (00967 1 205085)/ Fax : (213824), PO.Box : (14484).

    8. Markaz Asy-Syaikh Abu Ammar Yasir Ad-Duba’i (Hafidzahullahu Ta’ala), Masjid Warsama Syare’ Asy-Syarj kota Mukalla Hadramaut.

Kami berharap semoga informasi yang ringkas ini bisa bermanfaat bagi kita semua, baik yang menulis ataupun yang menyebarkan tulisan ini dan dijadikannya sebagai timbangan amalan kebaikan kita di Akhirat.

Seruan Yang Terakhir

Kepada seluruh yang mencintai kebaikan dan ilmu…

Kepada siapa yang benci dari bid’ah dan hizbiyyah…

Kepada siapa yang lebih berpengaruh Akhirat daripada dunia…

Kepada siapa yang mencintai Sunnah dan selalu hatinya bergantung dengannya…

Kepada siapa yang tahu derajatnya ilmu dan ahlinya…

Aku hadapkan seruan ini kepada mereka semua

Inilah Asy-Syaikh dan dakwahnya…

Dan inilah kesabarannya dan keberaniannya…

Dan inilah ilmunya dan kefaqihannya…

Dan inilah keadaan dan kenyataannya…

Dan mereka murid-murid serta penolong Asy-Syaikh…

Wahai para pemuda !!!

Tolonglah dakwah ini selama pintu masih terbuka sebelum tertutup,

Sumbangkan apa yang kalian miliki,

Jangan kalian kikir dengan sesuatu yang akan diganti,

Dengan berdo’a,

Semoga Allah menjaga dakwah ini,

dan memberikannya berkah….,

Amin.


Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Barmim Surabaya, 1/2/2005

www.salafy.or.id

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: