Nasehat

Ada Apa Dengan SEPAK BOLA? : Sebuah Tinjauan Syar’i- Fatwa Para Ulama Tentangnya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

 ..dan dalam permainan bola, apabila pemainnya bertujuan mengambil manfaat, yaitu agar kuat fisik kuda dan penunggangnya dalam artian agar lebih lincah dan kuat dalam menyerang, lari, masuk, keluar dan sebagainya dalam medan jihad yang telah di perintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka yang demikian adalah baik. Akan tetapi jika dalam permainan tersebut mengandung bahaya bagi kuda dan penunggangnya, maka itu semua di larang.

[Mukhtasharul Fatawa Al Mishriah hal. 251 dan telah dinukil oleh Syaikh Hamud At Tuwaijiri rahimahullah dalam kitab Al Idlah wat Tabyiin hal. 197: Dan dari hal yang patut untuk disebutkan (di sini adalah) bahwa (sepak bola) telah dikenal di dalam kitab-kitab para ulama kita terdahulu dengan nama-nama yang bervariasi di dalam kitab-kitab bahasa mereka, seperti: Al Kujjah, Al Buksah, Al Khazafah, At Tun, Al Ajurrah, Ash Shau-lajan dan Al Kurrah (lihat Al Qamusul Muhith dan Lisanul ‘Arab).]

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله lebih memperinci lagi hukum yang berkaitan dengan latihan bola, beliau berkata:

Latihan olah raga itu boleh, selama tidak melalaikan kewajiban. Jika sampai melalaikan kewajiban, maka olah raga tersebut haram. Apabila seseorang mempunyai kebiasaan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam olah raga, maka sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan waktu, minimal keadaannya dalam hal ini adalah makruh1. Adapun pemain olah raga yang hanya mengenakan celana pendek sampai terlihat paha atau sebagian besar auratnya, maka hal itu tidak boleh. Dan yang benar adalah wajib bagi para pemuda (pemain, pent.) adalah menutup aurat mereka dan juga tidak dibolehkan menyaksikan para pemain yang terbuka pahanya (auratnya)

[As-ilah Muhmalah hal. 27, terbitan Dar Ibnul Qayyim, Dammam. Telah keluar fatwa yang serupa dari Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Alilmiah wal Ifta’ di Arab Saudi, fatwa no. 2857 pada tanggal 8/3/1400 H, fatwa no. 3323 tanggal 19/12/1400 H, fatwa no. 4967 tanggal 20/9/1402H, ditandatangani oleh Syaikh Bin Baz, Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi, Syaikh Abdullah Ghudaiyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud.]

Hukum Menonton Pertandingan Olahraga

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin rahimahullah

Soal: Wahai fadilatus syaikh, bolehkah menonton acara olahraga di televisi?

Jawab:

Aku ingin bertanya tentang menonton acara olahraga di televisi ini, apa manfaat yang diperoleh?

(Si Penanya menjawab): Aku berselisih pendapat dengan seseorang dalam masalah ini. Aku katakan kepadanya, “Pertama, ini menghabiskan waktu. Kedua, ini memperlihatkan aurat, karena para olahragawan itu hanya mengenakan celana sampai setengah paha.” Dia menjawab, “Tidak! Ini diperbolehkan.” Maka aku katakan kepadanya, “Perkara ini akan aku tanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin.”

Jawab: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ‏‎ ‎وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ‏‎ ‎خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.”

Jika kita dilarang dari berucap kecuali yang baik-baik saja, maka terlebih lagi perbuatan. Maka menonton acara olahraga ini mengandung beberapa perkara yang berbahaya:

1. Menghabiskan Waktu.

Orang yang kecanduan menonton pertandingan olahraga ini, kita lihat dia begitu ketagihan sampai-sampai dia habiskan waktu yang banyak. Terkadang dia luput dari shalat jama’ah, dan terkadang dia pun luput dari shalat pada waktunya.

2. Dia melihat sekelompok orang yang menyingkap pakaiannya sampai pertengahan pahanya.

Menurut banyak ulama, paha adalah aurat. Demikian pula mereka berpendapat bahwa para para pemuda tidak boleh menampilkan bagian pahanya dan bagian apapun di atas lututnya.

3. Terkadang di hatinya muncul pengagungan terhadap si pemenang pertandingan, padahal yang menang adalah hamba Allah yang paling fasiq, atau bahkan hamba Allah yang paling kafir.

Maka muncul di hatinya pengagungan terhadap seseorang yang sama sekali tidak pantas untuk dipuji. Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah perkara yang membahayakan.

4. Memboroskan Harta.

Di mana Televisi menggunakan listrik. Televisi menghabiskan listrik, meskipun cuma sedikit, ini menghabiskan biaya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk agamanya maupun kehidupan akhiratnya kelak. Oleh karena itu, perkara ini termasuk memboroskan harta saja.

5. Terkadang pertandingan ini menimbulkan saling mencerca dan permusuhan.

Apabila sebagian orang menyemangati dan mendukung tim yang menang, di sisi lain orang yang lain menyokong dan mendukung tim musuhnya. Ini menyebabkan terjadinya permusuhan di antara mereka, serta perdebatan yang panjang.

Oleh karena ini aku katakan, aku nasehatkan kepada para pemuda secara khusus dan yang selainnya secara umum agar mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk menonton acara olahraga, dan agar mereka memikirkan apa yang mereka peroleh dari menyaksikan acara-acara ini? Apa faedahnya?

Sebagai tambahan, kamu akan lihat mereka yang bertanding saling mendorong dan menjatuhkan satu sama lain. Terkadang pula mereka menunggangi pundak yang lain, dan perbuatan-perbuatan yang merendahkan muru’ah (kehormatan)

Diterjemahkan dari: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=358863. Lihat : http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/29/hukum-menonton-pertandingan-olahraga/

PERINGATAN BERKENAAN DENGAN MENYAKSIKAN PERTANDINGAN SEPAK BOLA

Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan :

Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apa hukumnya menyaksikan pertandingan sepak bola atau pertandingan lainnya .?

Jawaban :

Waktu kita sangat berharga Janganlah digunakan untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan. Karena hal tersebut akan menyibukan dan melalaikan kita dari dzikrullah. Kadang pertandingan itu memikat perhatian seseorang sehingga lain waktu jadilah ia penggemar atau bahkan pemain. Selanjutnya ia berpaling dari amalan-amalan yang benar dan bermanfaat menuju amalan yang tidak ada faedahnya. Maka janganlah menyaksikan pertandingan-pertandingan dan menyibukkan diri dengannya. [Kitab Al-Ajwibatu al-Mufidah ‘an As-ilah al-Manahij al-Jadidah, Abu Abdullah Jamal bin Farihan al-Haritsi, Penerbit Yayasan Al-Madinah]

Hukum Memuji Pemain Bola Profesional

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal: Apa hukum memuji pemain bola profesional yang kafir, dan dia dipuji ketika dia menjadi sebab kemenangan timnya?

Jawab:

Tidaklah dia dipuji karena kekafirannya, dia dipuji karena permainan serta kelihaian dia dalam bermain. Bagaimanapun juga, ini berbahaya dan menyebabkan dosa bagi orang yang memujinya, akan tetapi tidaklah perkara ini sampai kepada derajat kekufuran. Seseorang menjadi kafir apabila dia memuji kekafiran, kesesatan, atau kesyirikannya, maka ini menyebabkan dia kafir.

Adapun apabila memujinya karena permainan sepak bola, atau karena kelihaian tekniknya, maka ini adalah pengagungan terhadap orang kafir. Ini adalah perkara dosa, namun tidaklah sampai pada derajat kekafiran.

[ Diterjemahkan dari: Syarah Nawaqidul Islam karya Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan halaman 43-44. Lihat: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/26/hukum-memuji-pemain-bola-profesional/ ]

Hukum Sepak bola Setiap Hari

Oleh: Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri

Soal: Apa hukum sepak bola dan apa yang Syaikh nasihatkan kepada Tholibul Ilmi di Imaarat yang mana mereka bermain bola setiap hari setelah Ashar sampai Maghrib?

Jawab:

Kalau sepak bola dalam keaadan menutup aurat dan tidak meninggalkan kewajiban syariat dan perkara yang dinilai secara syariat, maka dari sisi pengharaman kami tidak memiliki dalil dan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam pernah melihat orang Habasyah bermain di masjid, lalu beliau mengatakan: “Merendahlah, wahai Bani Arfidah!” Tetapi kalau bermain dalam keadaan membuka aurat seperti paha, sebagaimana dilakukan oleh para pemain (zaman sekarang) atau meninggalkan sholat dan meninggalkan sebagian perintah, maka ini kemungkaran.

Kami menasihati Ahlu Sunnah dan tholabatul `ilmi agar mereka menjaga waktu dalam ketaatan kepada Allah karena Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan:

« نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس‎ ‎الصحة والفراغ« رواه البخاري

Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melupakannya, sehat dan waktu lapang.” (Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ibnu Abbas di Kitab Ar Riqooq no. 6412)

Waktu dan umur itu adalah modal utama seorang manusia. Maka ambillah faidah dari umur tersebut. Sebagian salaf ada yang mengatakan: “Andaikata waktu itu bisa dibeli, maka aku akan membeli waktu itu dari mereka (yaitu sebagian manusia yang tidak memperhatikan waktunya).”

Adapun kalau tidak membuang waktunya, bahkan menjadikan olah raga sekadarnya untuk menambah semangat dalam menuntut ilmu atau yang lainnya serta menutup aurat dan menjaga perkara syar`i lainnya, maka boleh-boleh saja.

Kalau seseorang terlalu banyak berolah raga, akan menimbulkan rasa penat badan, tetapi kalau tidak berolah raga terkadang capek juga dan menjadi malas, kadang otaknya tumpul dan terkadang menimbulkan rasa sakit atau yang lainnya. Saya sangat membenci bila waktu saya hilang. Tapi secara hukum syar`i maka hal tersebut boleh dengan syarat-syarat yang telah lewat dan tanpa adanya tasyabbuh dengan orang kafir dalam permainannya. (Al As’ilah Imaratiyyah)

[Sumber: Fatwa-fatwa Syaikh Yahya Al Hajuri atas pertanyaan manca negara. Lihat: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/01/hukum-sepak-bola-setiap-hari/]

Syaikh Muhammad bin Ibrahim رحمه الله berpendapat melarang permainan yang bersifat terorganisir secara berlebihan (yaitu beliau melarang pembentukan organisasi-organisasi yang lengkap yang mengurusi urusan-urusan para pemain untuk bermain bola), tetapi beliau membolehkan selain dari itu semua. Karena beliau berdalil, bahwa permainan yang memiliki organisasi-organisasi tersebut tidak lepas dari hal-hal berikut ini:

Pertama: Permainan ini secara tabi’at mengandung unsur-unsur pengkotak-kotakan, menimbulkan fitnah, menumbuhkan kebencian. Nilai-nilai semacam ini jelas bertentangan dengan dakwah Islam yang mewajibkan saling toleransi, kasih sayang, ukhuwah dan mensucikan jiwa dari sifat dengki, benci dan permusuhan. Dan tidak diragukan lagi bahwa permusuhan, perselisihan, kebencian dan kedengkian pasti ada pada permainan ini, antara yang menang dan yang kalah. Oleh karena itu permainan tersebut dilarang karena menyebabkan kerusakan-kerusakan sosial dengan tumbuhnya kebencian pada para pemain dan penonton, menimbulkan fitnali di antara mereka, bahkan lebih dari itu kadang sebagian dari penonton mengintimidasi sebagian pemain bahkan membunuhnya. Dan bukti serta realita ini telah diketahui bersama.

Kedua: Permainan ini tidak luput dari bahaya-bahaya fisik yang menghantui para pemain, akibat dari tabrakan, benturan dan pukulan. Sehingga diakhir pertandingan, pada umumnya didapati sebagian dari mereka telah jatuh di lapangan pertandingan dengan keadaan pingsan, patah kaki, tangan dan terluka yang semuanya ini mewajibkan adanya mobil-mobil ambulan.

Ketiga: Dalam permainan sepak bola tidaklah menjurus kepada sesuatu yang dapat ditolelir dalam syari’at Islam (yang semestinya ada dalam olah raga dan dibenarkan oleh Islam) yatu memberikan kegairahan jasmani, melatih fisik guna menghadapi perang dan melepaskan penyakit-penyakit yang sudah menahun.

Keempat: Permainan seperti ini banyak menyita waktu shalat, yang dengannya para pemain dan penontonnya meninggalkan shalat berjama’ah atau mengakhirkan waktu shalat (yang tidak semestinya diakhirkan, pent.) atau bahkan meninggalkan shalat. Tidak diragukan lagi tentang pengharaman suatu perbuatan yang melalaikan shalat pada waktunya atau tertinggal dari shalat berjama’ah yang memang tidak disebabkan oleh udzur yang syar’i (halangan yang dibenarkan agama).

Kelima: Pelanggaran yang ditimbulkan oleh para pemain adalah membuka aurat (yang jelas haram untuk dipertontonkan). Aurat laki-laki mulai dari pusar sampai lutut. Jelas bahwa celana mereka hanya sampai pada pertengahan paha dan sebagian-nya lagi lebih dari itu. Sudah diketahui bahwa paha merupakan aurat.

Keenam: Bahwa permainan ini melalaikan para pemain dan penontonnya dari mengingat (dzikir) kepada Allah Ta’ala.

Ketujuh: Kadang-kadang permainan ini masuk dalam permasalahan memakan harta dengan cara yang batil, maka yang demikian termasuk judi, karena hal ini terkait salah satu dari dua perkara:

  • Si pemenang akan mengambil jumlah tertentu dari uang atau sesuatu yang telah ditentukan, jenis ini haram menurut kesepakatan para ulama.

  • Atau mengambilnya dari para penonton yang hadir ke lapangan pertandingan dan inipun dilarang menurut pendapat yang kuat dari dua pendapat yang ada

Kedelapan: Permainan ini merupakan suatu jalan atau cara yang bisa menyibukkan hati dan menjadikannya sebagai pekerjaan. Terlebih lagi permainan ini termasuk senda gurau dan tidak berarti bagi jiwa. Dan kecenderungan hati untuk duduk berlama-lama di hadapan pertandingan sangatlah besar.

[Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim (8/116-122, 128-129) dan dinukil fatwa beliau oleh DR. Sa’ad Asy Syatri di dalam kitab Al Musabaqat wa Ahkamuha Fisy Syari’ah Al Islamiyyah hal. 204, 206-207. ]

1Makruh: Sangat di benci, hukum makruh bisa diidentikkan dengan haram, lihat firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat: 22-38, hendaknya Fatwa Syaikh Utsaimin ini dapat direnungkan dengan baik dan diambil pelajaran darinya, pent.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: