Aqidah, Manhaj, Nasehat

Syahadat : Kalimat Nan Agung Yang Diabaikan

Iman merupakan satu kata, ibarat bunyi dawai yang bergema dan menggerakkan jiwa orang muslim, membuatnya rindu kepadanya dengan bashirah-nya, membuat sanubarinya bergerak. Setiap muslim –seharusnya- dapat merasakan bias iman di dalam sanubarinya, dapat meraba bara iman dari sumber manapun ia bersinggungan dengan jiwanya. Dan dia berusaha untuk meniti jalan-jalan yang bisa mendekatkannya kepada keimanan yang benar dan kuat.
“Tetapi ALLAH menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian (Al-Hujurat : 7)
Pada ayat di atas ALLAH menggandengkan antara cinta dan iman, karena cinta kepada ALLAH adalah syarat mutlak bagi orang-orang yang mengaku dirinya beriman.

“Adapun orang-oang yang beriman, mereka sangat mencintai ALLAH (Al-Baqarah 165)
“Maka ALLAH akan mendatangkan suatu kaum yang ALLAH mencintai mereka dan merekapun mencintai ALLAH (Al-Maidah 54)

Berkata Al-Allamah Syaikhul Islam Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah dalam buku beliau Thariqul Hijratain : “Mereformasi masalah cinta ini berarti mereformasi Syahadat Lailaha Illallah. Maka sudah sewajarnya bagi orang yang menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi dirinya untuk memperhatikan hal ini dan menjadikannya sebagai hal yang paling penting baginya, yaitu Cinta kepada ALLAH”

Saudaraku…!
Syahadat telah sering terucap dari lisan kita –minimal 9 kali sehari kalau shalat 5 waktu kita lengkap- dan kemudian kitapun disebut orang islam. Cukupkah itu, sekedar pengamalan lisan? Kita semua –kecuali kalau ada yang berfaham murji’ah- pasti akan menjawab : “Tidak, itu tidak cukup. Harus ada pembenaran hati dan Pengamalan badan”. Dan kemudian kitapun beribadah, shalat, puasa, zakat, haji, dll. Cukup?. Mungkin. Sebab melakukan ketaatan2 tersebut belum cukup untuk menjadikan seseorang disebut mukmin. Untuk lebih jelas masalah hal ini silahkan baca buku Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Saudaraku…!
Telahkah kita pahami makna –bukan arti/terjemahan, tapi makna- Lailaha Illallah (Tiada Tuhan yang berhak Disembah kecuali ALLAH). Kalimat tersebut diawali dengan kalimat Lailaha (Tidak ada Tuhan) yang berarti penafian atau peniadaan, dengan menggunakan kata La, bukan kata Ma ataupun Laesa yang ketiganya berarti “Tidak ada”. Penggunaan kata La ini untuk menunjukkan penafian secara mutlak dan absolut, penafian tanpa batas. Kata Lailaha Illallah bermakana menafikan semua bentuk sesembahan secara mutlak. Kemudian setelah itu baru ditetapkanIllallah (kecuali ALLAH) inipun penetapan secara mutlak menggunakan kata Illa, bukan kata Ghaeru. Lebih jelas tentang hal ini lihat Kitab Tauhid karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dan Al-Firqatun Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil ZainuRahimahullah
Setelah tahu maknanya, periksa dan hisablah diri kita. Ah, sungguh masih banyak diantara kita yang bersyahadat -termasuk penulis juga – tapi ternyata masih tetap menyekutukan ALLAH. Mungkin ada lagi yang tersinggung, berkata, “Saya tidak menyekutukan ALLAH” dan menganggap saya telah berlaku kurang ajar lagi karena telah memvonis melakukan kesyirikan. Kalau memang begitu halnya –tidak melakukan syirik- maka syukurlah. Tapi saudaraku, barangsiapa yang merasa aman dari fitanah syirik maupun sifat munafik dan sifat-sifat buruk lainnya, berarti dia adalah –maaf- orang bodoh yang tertipu. Lihatlah, sebaik-baik makhluk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdoa agar dijauhkan dari syirik, begitu halnya dengan Al-Khalil Ibrahim alahissalam, demikian juga dengan sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasa sangat takut akan terjatuh ke dalam kesyirikan dan kemunafikan. Inilah Umar bin Khatthab yang menggigil setiap mengingat kata munafik. Maka apakah pantas kita merasa aman dari tipu daya ALLAH dan fitnah Syirik sedangkan ALLAH telah menjelaskan dalam firman-Nya : “Tidaklah kebanyakan dari mereka beriman kepada ALLAH kecuali dengan menyekutukannya (dengan sesuatu)

Saudaraku…!!!
Berapa banyak dari kita yang mengaku bertauhid, tapi ketika ingin melaksanakan suatu hajatan masih mencari yang namanya hari baik. Atau ketika membaca koran atau majalah, terkadang bahkan mungkin selalu, kita mencari halaman zodiak atau horoskop –saya kenal beberapa orang dari kita yang sangat antusias akan hal itu- tanpa sadar kalau itu adalah pengkhianatan akan kebesaran ALLAH Azza Wa Jallah. Atau masih banyak diantara kita yang ketika menderita penyakit mendatangi dukun –disamping ke dokter- yang mengobati penyakit dengan jampi-jampi yang mengandung kesyirikan, bahkan terkadang mereka mengaku mengetahui perkara ghaib. Padahal mungkin telah sampai sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada kita, ketka beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi dukun/tukang ramal dan bertanya (termasuk membaca horoskop tanpa meyakini isinya) maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari” dalam riwayat yang lain ada tambahan: dan membenarkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam”

Saudaraku …!!!
Beberapa diantara kita mungkin masih menyimpan keyakinan bahwa di antara orang-orang shalih yang dianggap wali –seperti Wali Songo ataupun Syaikh Yusuf-, ada diantara mereka yang bisa mengetahui perkara-perkara ghaib atau bisa menyingkap perkara-perkara ghaib. Maka ketahuilah bahwa itu adalah keyakinan yang bathil yang merupakan tipu daya syetan yang bermuara pada syirik karena ALLAH Azza Wa Jalla telah menegaskan dalam banyak ayat dalam firman-Nya yang mulia bahwa tidak ada yang mengetahui perkara-perkara ghaib kecuali Dia Azza wa Jalla.

Saudaraku…!
Masih banyak mungkin di atara kita yang masih mempercayai pertanda-pertanda, entah itu pertanda baik seperti melihat kupu-kupu masuk ke rumah ataupun pertanda buruk seperti ketemu bencong, barang bawaan jatuh, bingkai foto pecah, dll. Ketahuilah bahwa itu adalah kesyirikan karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menegaskan dalam sabdanya bahwa tidak ada Thiyarah (Thiyarah adalah pertanda-pertanda yang diyakini berhubungan dengan suatu kejadian) lebih jelas baca Kitab Tauhid.

Saudaraku…!!!
Perhatikan orang-orang disekelilingmu, betapa masih banyak kesyirikan yang berputar disekitar kita tanpa kita sadari dan yang lebih celaka lagi, terkadang kita menganggaonya sebagai sebuah kebaikan. Berdoa bersama dengan pemeluk agama lain, diterangi lilin, dengan dalih toleransi, padahal Al-Qur’an penuh dengan laknat dan caci-maki terhadap mereka-mereka yang menolak risalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Barzanji dianggap baik oleh banyak orang bahkan dianggap sunnah –nyaris tak ada acara syukuran yang tidak ada acara barzanjinya- dan mendatangkan banyak pahala, tanpa sadar bahwa kata-kata atau syair-syair di dalam barzanji tersebut mengandung begitu banyak kesyirikan. Bukan disini tempatnya menguraikan sesatnya kitab Barzanji kalau mau lebih tahu silahkan dengarkan rekaman kajian yang membahas Kitab Al-Barzanji Oleh Al Ustadz Khidir. (download di sini)

Saudaraku…!!!
Lihatlah acara Mattampung, selain acara tersebut adalah bid’ah, acaranya pun penuh dengan kesyirikan. Pemotongan hewan dengan niat yang menyeleweng -tidak diniatkan karena ALLAH azza wa jala- karena memang acara-acara tersebut adalah peninggalan budaya hindu dan animisme yang dianut nenek moyang kita sebelum kedatangan islam. Beberapa diantara kita mungkin mencoba berdalih bahwa itu hanyalah sekedar tradisi, ketahuilah bahwa ALLAH telah melaknat di beberapa tempat dalam Qur’an pada orang-orang yang berdalih dengan alasan tersebut ketika mereka mencoba mempertahankan tradisi jahiliyah mereka. Padahal syariat islam yang di bawa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah lengkap termasuk tentang masalah jenazah dan mayat. Begitupun halnya dengan acara pernikahan, acara-acara yang ada sekarang seperti acara Mappacci adalah warisan budaya hindu dan animisme, bukankah telah datang syariat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang lengkap, mengatur seluruh aspek kehidupan kita, bahkan adab buang air pun di atur. Untuk tahu seperti apa hukum tentang jenazh berdasarkan tuntunan syariat baca buku : Ahkamul janaiz dan tentang cara pernikahan yang disyariatkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam silahkan baca buku Adab Az-Zifaf, keduanya ditulis oleh Al-Allamah Al Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany Rahimahullah.

Saudaraku…!!!
Diantara tulisan yang merespon tulisanku yang membuat salah seorang teman terhenyak, rata2 berkata : cukuplah bagi kami Qur’an dan Hadits, nah itu di atas adalah hal-hal yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah, pertanyaannya dalah konsistenkah kalian dengan perkataan kalain tersebut atau sekedar sebuah pengakuan tanpa bukti. Ini sunnah yang lebih muah dan sederhana:
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memerintahkan –kaidah ushul mengatakan bahwa perintah itu hukumnya wahib- umatnya yang laki-laki untuk memanjangkan jenggot dan tidak berpakaian isbal. Sabada Nabi : Selisihilah orang2 Yahudi dan Nasrani, mereka memotong jenggot dan memanjangkan kumis, maka pangkaslah kumis-kumis kalian dan penjangkanlah jenggot kalian. Adapun soal isbal beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : semua –kain- yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka. Untuk kedua hal ini silahkan baca buku : Isbal No, Jenggot yes. Adapun orang-orang yang menolak sunnah di atas dengan mena’wilkan arti dari sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam di atas adalah bathil dan memihak kebathilan. Karena nash tersebut, jelas seperti terangnya siang, tidak perlu dan haram hukumnya mena’wilkannya dengan arti yang lain.
Nah sekali lagi pertanyaannya, konsistenkah kita dengan ucapan kita.

Saudaraku…!!!
Kembali kepermasalahan syirik. Lihatlah apa yang terjadi di jawa ketika memperingati tahun baru Hijriyah. Tidakkah sebagai seorang muskim tersayat hatinya melihat ritual-ritual bid’ah tersebut dan yang lebih rusak lagi kesyirikan dipertontonkan dan tak seorangpun yang mengingkarinya. Lihatlah apa yang terjadi di karton Surakarta, ritual permandian benda-benda pusaka, kemudian para warga berebut air bekas pencucian tersebut karena berkeyakinan bahwa itu bisa mendatangkan berkah. Subhanallah, tanyalah kepada mereka –penghuni keraton surakarta dan warganya- apa agama mereka, mereka akan menjawab dengan lantang : ISLAM. Hal yang sama terjadi di Solo, Yogyakarta dan berbagai tempat lainnya. Masihkah atau akankah kita berkata : “Ah, itu hanya masalah khilafiyah, bukan masalah besar, mereka hanya melanjutkan tradisi”. Sementara jelas–jelas di depan mata kita, Tauhid, islam, Sunnah dan Aqidah yang Shahih sedang dikotori, dinodai dan diinjak-injak oleh orang-orang yang katanya menjunjung tinggi hal tersebut.

Saudaraku…!!!
Lihatlah laut kidul (laut selatan), Gunung Kawi, Gunung Merapi, Hutan Alas Roban dan tempat-tempat yang dikeramatkan lainnya, penuh dengan sesajen dan persembahan. Tanyalah kepada mereka yang membawa sesajen itu apa agama mereka. ISLAM 100 % jawab mereka. Dan masih banyak lagi hal-hal yang dianggap tabu atau pamali oleh orang-orang tua kita yang tidak ada keterangannya dari ALLAH Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam.

Saudaraku…!
Lihatlah kelakuan ibu-ibu –bahkan mungkin orang tua atau istri kita termasuk di antaranya- pada 10 muharram nanti. Membeli panci dan timba dengan keyakinan bahwa membeli barang tersebut pada 10 Muharram akan mendatangkan berkah. Dari mana keyakinan rusak tersebut mereka dapatkan. Apakah ALLAH menurunkan keterangan tentang hal itu. Ingat saudaraku…! Bahwa apapun dalam agama ini, syariat apalagi Aqidah harus berdasarkan nash dari Al-Qur’an ataupun Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang Shahih.

Saudaraku…!!!
Sekali lagi, kalaupun kalian tetap tersinggung, tidak apa. Ingin kukatakan sekali lagi bacalah buku-buku berikut:
Untuk tahu seperti apa Aqidah Ahlus Sunnah Yang Shahih silahkan baca buku : Aqidah Thahawiyah (Abu ja’far Ath-Thahawy Rahimahullah) , Tahczib Syarah Ath-Thahawiyah (Syaikh Abdul Akhir Hammad Al-Ghunamy Rahimahullah), Aqidah Washitiyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)Rahimahullah Syarah Aqidah Washitiyah (Syaikh Muhammad Khalil Kharras Rahimahullah), Aqidah Salaf Ashabul Hadits (Syaikhul Islam Abu Utsman Ismail Ash-Shabuny Rahimahullah), Ushulus Sunnah Wa I’tiqaduddien (Ibnu Abi Hatim Rahimahullah), Syarah Ushulul I’tiqad Ahlus Sunnah (Al-Lalikai Rahimahullah)) Sittu Durar (Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah.
Utuk tahu hal-hal yang bisa menodai Tauhid atau yang termasuk dalam kategori Syirik baca :
Syarah kasyfu Syubhat (Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah), Kitab Tauhid dan Nawaqhidul Islam (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah)) dan Fathul Madjid (Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh Rahimahullah)

Saudaraku…!!!
Aku akhiri tulisan ini dengan memohon ampunan dan hidayah kepada ALLAH Azza wa Jalla untukku dan untuk kalian semua. Dan menjadikanku melakukan ini semua karena ikhlas mengharapkan wajah-Nya Yang Mulia.
Wallahul Musta’an, Washallallahu ‘ala Muhammad Wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain.

Al-Faqir Ilallah
Abu Shafiyyah Fahruddin bin Sukri

Cat : Tulisan di atas adalah tulisan ana ketika awal2 mengenal da’wah yang ana posting di mailing list teman-teman kuliah ana di Elektro Unhas

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: