Antara Sunnah dan Bid'ah, Manhaj

Rasulullah, Sahabat dan Para Imam Berbaris Menolak Bid’ah Hasanah

Sering kita kaum muslimin dihadapkan pada berbagai perkara yang oleh para pendukung dan pelakunya sebagai BID’AH HASANAH (Bid’ah yang Baik) seperti perayaan Maulid, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, dll. Pertanyaannya adalah :

ADAKAH BID’AH HASANAH?

Dalam Agama Islam.

Untuk Menjawab Pertanyaan Di Atas Ikuti Penuturan Berikut :

  1. Dari Jabir bin Abdullah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), KARENA SESUNGGUHNYA SEMUA YANG DIADA-ADAKAN (DALAM AGAMA) ADALAH BID’AH, SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN, DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA (HR. Muslim no. 8670, dan An Nasai dalam A; I’dain bab (22) 3/188-189 dandua kalimat yang digarisbawahi adalah tambahan dalam riwayat beliau)
  2. Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari Dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”)
  3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru KARENA SESUNGGUHNYA SETIAP BID’AH ITU ADALAH SESAT. (HR. Ahmad 4/126, At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor 102)
  4. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : “IKUTILAH DAN JANGAN BERBUAT BID’AH! SEBAB SUNGGUH ITU TELAH CUKUP BAGI KALIAN. DAN (KETAHUILAH) BAHWA SETIAP BID’AH ADALAH SESAT.” (As Sunnah Ibnu Nashr 28 dan Al Bida’ Ibnu Wadhdhah 17)
  5. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : “Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat dan BERHATI-HATILAH KAMU DARI MENGADA-ADAKAN YANG BARU (BID’AH) dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, HENDAKNYA KALIAN TETAP BERPEGANG DENGAN CONTOH YANG TELAH LALU.” (Sunan Ad Darimy 1/66 nomor 143, Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 nomor 169, Syarah Ushulil I’tiqad Al Lalikai 1/87 nomor 108, dan Al Bida’ Ibnu Wadhdhah 32)
  6. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : “SEDERHANA DALAM AS SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DI DALAM BID’AH.” (Ibnu Nashr 30, Al Lalikai 1/88 nomor 114, dan Al Ibanah 1/320 nomor 161)
  7. Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata : “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar SERTA JAUHILAH BID’AH.” (Al I’tisham Asy Syatibi 1/112)
  8. Ibnu Umar dan Hudzaifah berkata : SETIAP BID’AH ITU SESAT walaupun seluruh manusia menganggapnya baik.
  9. Umar bin Abdul Aziz berkata : …Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka MAKA KETAHUILAH TIDAK ADA YANG MENGADA-ADAKAN SESUATU (BID’AH) SESUDAH MEREKA MELAINKAN ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI SUNNAH YANG BUKAN SUNNAH MEREKA (SHAHABAT) DAN MENGANGGAP DIRINYA TIDAK MEMBUTUHKAN MEREKA. Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, …(Asy Syari’ah Al Ajurri 212)
  10. Abu Dzar kemudian berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “TIDAKLAH TERTINGGAL SESUATU YANG DAPAT MENDEKATKAN KE SURGA DAN MENJAUHKAN DARI NERAKA KECUALI TELAH DITERANGKAN PADA KALIAN.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Shahihah karya Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari riwayat lain)
  11. Yahya bin Al Yaman berkata : “Saya mendengar Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata : ‘BID’AH ITU LEBIH DICINTAI IBLIS DARIPADA MAKSIAT, karena pelaku maksiat masih diharapkan taubatnya sedangkan pelaku bid’ah tidak diharapkan taubatnya.” (Lihat Syarah Ushul halaman 132)
  12. Imam Malik (Grunya Imam Syafi’i) rahimahullah berkata : BARANGSIAPA YANG MENGADA-ADAKAN DALAM ISLAM SESUATU KEBID’AHAN DAN MENGANGGAPNYA BAIK BERARTI IA TELAH MENUDUH RASULULLAH TELAH BERKHIANAT DALAM MENYAMPAIKAN RISALAH. Karena Allah telah berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian.” MAKA APA YANG WAKTU ITU (PADA MASA RASULULLAH DAN PARA SHAHABAT BELIAU) BUKAN BAGIAN DARI AGAMA, (MAKA) PADA HARI INI PUN BUKAN BAGIAN DARI AGAMA.” (Lihat Al I’tisham oleh Imam Syathibi halaman 37)
  13. Imam Syafi’I berkata : BARANGSIAPA YANG BER-ISTIHSAN (menganggap baik sebuah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam AL Qur’an dan Sunnah) maka sungguh dia telah (menandingi ALLAH dalam) membuaat Syariat.
  14. Beliau (Imam Syafi’i) Juga Berkata : AKU BERWASIAT KEPADAMU DENGAN TAQWA KEPADA ALLAH, KONSISTEN DENGAN SUNNAH DAN ATSAR DARI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN PARA SAHABATNYA. TINGGALKANLAH BID’AH DAN HAWA NAFSU. Bertaqwalah kepada Allah sejauh yang engkau mampu. Al-Amru bil Ittiba’, As-Suyuthi, hal. 152-154)

Masih banyak perkataan para ulama yang menerangkan batil dan rusaknya pembagian Bid’ah Hasanah tapi cukuplah hadits Rasulullah, perkataan sahabat dan para Imam Besar. Bagi yang ingin Faidah lebih banyak silahkan merujuk ke kitab-kitab rujukan di atas. Orang-orany mengatakan bahwa ada yang namanya Bid’ah Hasanah memiliki banyak kemungkaran, di antaranya :

  1. Bersikap lancang dan kurang ajar terhadap Nabi, karena Rasulullah bersabda SETIAP BID’AH SESAT dia justru berkata TIDAK SETIAP BID’AH ITU SESAT TAPI ADA BID’AH HASANAH. Jawablah dengan jujur? ADAKAH KELANCANGAN YANG LEBIH LANCANG DARI INI?
  2. Menganggap sahabat BODOH karena ternyata ada amalan baik yang mereka tinggalkan yang pada hakikatnya seperti yang dikatakan Imam Malik di atas, BAHWA ORANG YANG MENGANGGAP ADA BID’AH HASANAH BERARTI MENGANGGAP RASULULLAH BERDUSTA ATAU TIDAK SEMPURNA MENYAMPAIKAN RISALAH SEMENTARA BELIAU TELAH BERSABDA SEBAGAIMANA DALAM POINT NO. 10 YANG HAKIKATNYA LAGI MENGINGKARI SURAT AL MAIDAH AYAT TIGA. KARENA YANG NAMANYA SEMPURNA ARTINYA TIDAK BUTUH TEMBAHAN APALAGI DIKURANGI SEMENTARA PARA PELAKU BID’AH MENGANGGAP MASIH ADA YANG PERLU DITAMBAHI.

WALLAHUL A’LAM BISH-SHAWAB

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah « Aboe Shafijjah Beladjar - 25/11/2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: