Aqidah, Manhaj

Sesatkah Kitab Al Barzanji? : Pendahuluan Kedua : Mencintai Rasul Ada Tuntunannya

 

Makna Cinta Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah kewajiban yang sangat besar. Siapa yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan kecintaan yang benar maka insya Allah Azza wa Jalla akan bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Seseorang itu bersama siapa yang dicintainya.

Kecintaan kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah keharusan yang muncul dari kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla, yang merupakan dasar penghambaan dan ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda :

Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai sampai aku menjadi yang paling dicintainya melebihi cintanya kepada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya1

Tiga perkara yang barangsiapa ketiga perkara tersebut ada pada dirinya, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu : llah dan rasul-Nya ia cintai melebihi ia cinta kepada selain keduanya, dia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia darinya sebagaimana bencinya ia dilemparkan ke neraka”2

Diantara penyebab muncul dan sulitnya ditinggalkan syirik, bid’ah dan maksiat oleh hamba adalah karena pelanggaran itu tercampuri oleh kebenaran. Orang berbuat syirik, salah satu landasannya adalah cinta kepada Allah Azza wa Jalla, rasul dan wali-wali. Perbuatannya syirik yang adalah sebuah kemungkaran besar tapi landasannya adalah cinta.

Kapan perbuatan kebatilan dicampuri kebenaran, maka ketika kebatilan tersebut dijelaskan maka pelakunya diikat oleh kebenaran yang diyakininya itu.apalagi ketika orang-orang yang dihormati, disegani dianggap ulama, kyai, Anre Gurutta berfatwa. Dan dasar dari orang melakukan perbuatan barzanji3 adalah karena cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Cinta adalah nilai iman yang besar, ibadah4 yang sangat agung bahkan merupakan syarat manisnya iman. – cinta juga adalah merupakan rukun ibadah bersama raja dan khauf5. Segala bentuk cinta yang dengannya berpahala harus dilandasi cinta ibadah dan cinta ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla dan inilah hakikat syahadat. Kapan cinta ibadah ini dipalingkan kepada selain Allah Azza wa Jalla berarti dia telah berbuat kekafiran yang mengeluarkannya dari islam.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ ﴿١٦٥﴾

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah Azza wa Jalla; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al Baqarah 165)

أَندَاداً (Tandingan) mencakup semua yang diserahkan ibadah kepadanya selain Allah Azza wa Jalla.

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dihalalkan darah dan wanitanya, adalah orang-orang yang memiliki cinta kepada Allah Azza wa Jalla. –bahkan kecintaan mereka kepada Allah Azza wa Jalla sangat besar, hal ini terlihat bahwa Allah Azza wa Jalla menyamakan cintanya mereka kepada Allah Azza wa Jalla sama dengan cintanya kepada berhala mereka. Dan kecintaan mereka pada berhala mereka sangat besar. Bentuk penyamaan mereka adalah dengan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla tapi juga berdoa kepada selain Allah Azza wa Jalla. Tak satupun ibadah yang diterima kecuali berlandaskan cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Kalau shalat tanpa cinta maka pasti tidak akan diterima. Cinta kepada Allah Azza wa Jalla pasti melahirkan cinta kepada apa yang Allah Azza wa Jalla cintai dan juga benci kepada yang Allah Azza wa Jalla benci.

Perkara yang Allah Azza wa Jalla cintai itu secara global/umum ada dua macam :

  1. Dzat : Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Rasul, Malaikat, Wali.

  2. Perbuatan : Shalat, Puasa, sedeqah, dll.

Yang dibenci secara global juga ada dua :

  1. Dzat : Iblis, Dukun, orang kafir, paranormal

  2. Perbuatan : Syirik, judi, bid’ah, maksiat.

Dan hamba yang paling Allah Azza wa Jalla cintai adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan kecintaan itu sampai pada tingkat tertinngi yaitu derajat khullah, bukan sekedar mahabbah. Makanya salah kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam disifati dengan Habibullah. Khullah itu lebih tinggi tingkatannya dari habib. Karena itu seseorang dengan orang lain tidak boleh menjadikan cintanya kepada orang lain dalam bentuk khullah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Seandainya aku dibolehkan mengambil khalil dari umat, maka akau akan menjadikan Abu Bakar sebagai Khalil, tapi sahabat kalian ini adalah Khalilullah”

Khalilullah itu Cuma ada dua yaitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Ibrahim dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Muhammad.

 Cara Mewujudkan Cinta

Allah Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣١﴾

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah Azza wa Jalla, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Imran 31).

Penjelasan :

Syarat cinta kepada Allah Azza wa Jalla adalah dengan cara mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan jika cinta itu telah diwujudkan dengan benar yaitu dengan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam satu-satunya ikutan maka Allah Azza wa Jalla menjanjikan kasih dan ampunan-Nya.

Syaikh Sulaiman Alu Asy Syaikh menyampaikan kesimpulan para ulama besar seperti Syaikh Ibnu taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu rajab, dan lain-lain dalam kitab beliau Taisirul Azizil Hamid Fiy Syarh Kitab Tauhid :

[Sungguh pemuliaan itu bentuknya/tempatnya adalah di hati, di lisan dan dengan anggota tubuh, sementara mereka yang mengakui itu (yang terjerumus dalam kesyirikan) sangat jauh dari itu. Karena sungguh memuliakan beliau dengan hati berarti/mencakup meyakini bahwa beliau adalah hamba Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Mendahulukan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari pada cinta kepada diri sendiri, anak, dan orang tuanya sendiri, mendahulukan cinta ini terhadap semuanya ini nanti benar dengan dua hal :

Yang Pertama Memurnikan Tauhid karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hamba Allah Azza wa Jalla yang paling puncak dalam hal memeurnikan tauhid sampai beliau memutus semua sebab/wasilah kesyirikan. Sampai beliau berkata kepada seseorang yang berkata kepada beliau, ‘Atas kehendak Allah Azza wa Jalla dan kehendakmu’ “Apakah kau hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah Azza wa Jalla”]

Menyamakan kehendak Allah Azza wa Jalla dengan kehendak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam bentuk lafdz, karena sahabat tidak mungkin menyamakan Allah Azza wa Jalla dengan Rasul-Nya dalam bentuk makna tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tetap melarangnya6.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga melarang orang bersumpah dengan nama selain Allah Azza wa Jalla. Beliau juga melarang shalat menghadap ke kuburan, sering berziarah, menayalakan lilin di atasnya. Agama beliau berada di atas asas ini yaitu Tajrid At Tauhid (Memurnikan Tauhid)

[Syaikh Sulaiman berkata : Memuliakan beliau dalam perkara ini harus sesuai dengan beliau dan bukan menentang beliau.]

Inilah dakwah para Rasul ‘Alaihimus salam, Memurnikan Tauhid kepada Allah Azza wa Jalla dan menutup pintu-pintu yang mengarah kepada kesyirikan.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ ….﴿٣٦﴾

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah Azza wa Jalla (saja), dan jauhilah Thaghut itu”… (An Nahl 36)

Kesesuaian dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah kaidah mutlah untuk membantah syubhat, karena banyak orang yang melakukan syirik, bid’ah dan maksiat landasannya adalah cinta sedangkan cinta tidak diterima kecuali bersesuaian dengan yang dicintai. Bagaimana mungkin bid’ah dengan dasar cinta bisa diterima padahal Allah Azza wa Jalla melaknat pelaku bid’ah bahkan yang sekedar membantu pelaku bid’ah.

Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyampaikan kepadaku empat kalimat, Allah melaknat orang yang menyembelih kepada selain Allah, Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, Allah melaknat orang yang berbuat bid’ah (jika di fathakan huruf dal-nya artinya perbuatan bid’ah), Allah Azza wa Jalla melaknat orang yang merubah tanda-tanda bumi.

[Syaikh Sulaiman berkata : Yang Kedua, Memurnikan Mutaba’ah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam7. Menjadikan beliau sebagai satu-satunya hakim dalam perkara yang tersembunyi atau perkara yang sangat jelas, dalam perkara yang merupakan ushuluddin8 atau furuuddin9. Harus ridha terhadap hukumnya, melakukan apa yang telah beliau hukumi, menyerah sepenuhnya terhadap ketentuannya. Bersamaan dengan itu kita harus berpaling dari yang menyelisihi apa yang beliau bawa, tidak boleh menoleh pada apa yang menyelisihi beliau yang perkataannya diterima, yang semua yang menyelisihi beliau tertolak sebagaimana Allah Azza wa Jalla satu-satunya yang disembah, diibadahi, ditakuti, yang diharapkan pada-Nya, yang dimintai istighatsah pada-Nya, kita bertawakkal pada-Nya, yang pada-Nya harap dan takut, yang kepada-Nyalah kita mengharap untuk selamat dari segala marabahaya yang hanya kepada-Nya kita meminta pengampunan, yang hanya kebaikan Allah Azza wa Jalla-lah kebaikan di dunia dan di akhirat, yang hanya Allah Azza wa Jalla yang menciptakan segala sesuatu. Dia satu-satu-Nya yang memberi rezeqi, membangkitkan seluruh makhluq, yang memberi ampunan, merahmati, memberi hidayah, menyesatkan, memberi kebahagiaan Dia saja sendiri. Tidak ada selain Allah Azza wa Jalla dari perkara-perkara ini yang diberikan kepada selain Allah Azza wa Jalla, tidak kepada Jibril, kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam apalagi kepada selain keduanya.]

Beliau rahimahullah menegaskan bahwa mutaba’ah harus murni sebagaimana pemurnian tauhid. Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً ﴿٦٥﴾

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(An Nisa 65)10

Ayat ini sangat jelas bahkan sangat mudah dipahami, tapi tidak semua paham dan mampu mengamalkannya.

Semua pelaku bid’ah, syirik mengaku pengikut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tapi ketika diperhadapkan pada ayat ini, barulah terasa berat bagi mereka. Hal mana berbeda dengan apa yang dipahami dan difatwakan oleh guru, Kyai atau Anre Guru-nya. Padahal semua bisa tertolak kecuali hukum dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi yang terjadi di tengah masyarakat justru terbalik, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang dipermasalahkan ketika bertentangan dengan pendapat kelompoknya.11 “OH INI SUDAH PIAGAM JAKARTA, INI KEPUTUSAN MAJELIS SYUURA, INI HASIL MEJELIS TARJIH, INI…INI….”

Seharusnya keputusan siapapun itu bila bertentangan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka diambil dan dibuang ke tong sampah12.

Maka jika kamu berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah (hukum permasalahan itu) kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya” (Al Ayat)

Menghukumi sesuatu, kembalikan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Kalau sudah ada keputusan, maka terima dan tunduk. Kalau tidak mau tunduk, tetap dengan perkataan guru-gurunya maka itu adalah perbuatan yahudi dan Nashrani.

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٣١﴾

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah Azza wa Jalla, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah Azza wa Jalla dari apa yang mereka persekutukan.(At Taubah 31)

Diriwayatkan dari hadits Adi bin Hatim13 yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan dihasankan oleh Syaikh Al Albany, dilemahkan oleh sebagian ulama, tapi baik yang melemahkan sepakat akan benarnya maknanya. Beliau (Adi bin Hatim) ketika mendengar ayat ini beliau datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata : ‘kami tidak menyembah mereka ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata : “bukankah ketika mereka menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah Azza wa Jalla, kalianpun mengikutinya. Dan bukankah ketika mereka mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah Azza wa Jalla kalianpun mengikutinya”

Adi bin Hatim menjawab : benar ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Itulah bentuk penyembahan terhadap mereka.

Karena itu ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam harus murni dan inilah hakikat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Yang pertama, Kesempurnaan.kemurnian tauhid harus ada dalam tiap diri muslim sebab inilah inti dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahkan ini adalah inti dakwah seluruh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Rasul-rasul Allah Azza wa Jalla, jauh dari kesyirikan. Yang kedua, penyempurnaan dalam pengikutan, dan pengambilan hukum.

[Syaikh Sulaiman berkata : memuji Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan perkara yang memang itu pujian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berupa pujian-pujian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang telah Allah Azza wa Jalla pujikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atau berupa pujian yang telah beliau pujikan pada dirinya tanpa ghuluw dan berlebih-lebihan14 sebagaimana dilakukan para penyembah kubur. Maka sungguh mereka telah berlebihan dalam memuji Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.]

[Syaikh juga berkata : Amal dengan ketaatan kepada beliau, melakukan upaya untuk memenangkan agama beliau, menolong apa yang beliau bawa dan memerangi segala yang menyelisihi beliau]

Bukan menempakkan syiar partai, tarekat, golongan dan kelompoknya.

[Syaikh juga berkata : Kesimpulannya “pemuliaan yang bermanfaat adalah dengan membenarkan semua yang dikhabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mentaati yang diperintahkan, berhenti terhadap apa yang beliau benci dan larang, kemudian kita wala’ dan bara’ karena dasar cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”.]

Kita harus berhukum pada hukum beliau dan tidak mengambil hakim selain beliau dan sekarang telah jelas bagaimana mencintai dan memuliakan beliau.

Al Qur’an turun sebagai furqan. Di antara perkara yang harus dimilki seorang hamba adalah furqan apalagi dalam perkara ini (pemuliaan terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Sebab memuliakan beliau adalah wajib tapi harus menghindari pemuliaan yang justru keluar dari rel dan batasan yang telah digariskan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Pemuliaan terhadap Allah Azza wa Jalla adalah wajib, hanya perlu diperhatikan jangan sampai tercampuri pemuliaan terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga menyamakan derajat pemuliaan tersebut. Sama saja dalam pembahasan cinta, maka pemuliaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hanya mengikut kepada pemuliaan kepada Allah Azza wa Jalla. Memuliakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah karena Allah Azza wa Jalla. Jangan sampai pemuliaan tersebut melampaui batas sehingga menyerahkan hak-hak Allah Azza wa Jalla kepada Rasul. Untuk itulah hamba perlu pembeda (furqan) yang mana pemuliaan dan cinta yang milik Allah Azza wa Jalla dan yang mana milik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Kalau perkara tersebut tidak bisa dibedakan, maka berbagai kerusakan akan muncul sebagai akibat kebodohan akan kebenaran.

1 Riwayat Bukhari no. 15 dan Muslim No. 44

2 Riwayat Bukhari no. 16 dan Muslim No. 43

3 dan juga perayaan maulid dan isra mi’raj

4 Ibadah adalah kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

5 Hal ini dijelaskan oleh ustadz dalam sebuah daurah –yang saya tidak ingat tanggal dan judul daurahnya- yang beliau nukil dari penafsiran Syaikh Fauzan terhadap 3 ayat pertama surat Al Fatihah.

6 ini adalah bantahan terhadap orang yang berkata : ah kau ini kontekstual, bukan itu yang kami maksud. Kondisi ini pernah saya –penyusun- alami. Ketika itu saya memperingatkan seorang sarjana agama yang merupakan alumni dari sebuah pesantren yang terkenal, dan saat ini juga mengajar di pesantren tersebut akan kesesatan kitab Al Barzanji –kitab yang dibahas di buku ini- akan kesyirikan akbar yang terkandung dalam kitab tersebut, yang dia hanya berkomentar, biar saja. Hal ini kemudian dia laporkan kepada Pimpinan Pesantren yang merupakan salah seorang yang dianggap ulama besar di Sulawesi Selatan dan sang Pimpinan tersebut berkata : Memang Di Timur Tengah Sana Banyak Ulama Yang Tahunya Hanya Konteks (Kontekstual)

7 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Whusaby menambahkan tauhid ini yaitu Tauhid Mutaba’ah (menjadikan Rasulullah satu-satunya ikutan) dalam kitab beliau Al Qaulul Mufid Fiy Adillah At-Tauhid

8 perkara pokok dalam agama

9 perkara cabang dalam agama

10 Ayat ini turun berkenaan dengan “hanya” masalah pengairan, yang mana 2 orang sahabat Nabi bertikai tentang pengairan, yaitu sawah mana yang terlebih dahulu di airi. Maka datanglah keduanya kepada Nabi –yang salah satunya adalah sepupu Rasulullah – mengadukan hal ini maka Rasulullah bersabda bahwa yang pertama kali di airi adalah yang berada pada bagian atas, yakni kebun sepupu beliau. Maka sahabat yang satunya berkata (memprotes), “ apakah karena dia adalah anak pamanmu wahai Rasulullah”maka turunlah ayat di atas. Maka ini juga bentahan bagi orang yang mengatakan bahwa agama hanya mengatur masalah akhirat atau yang mengatakan kalau masalah dunia bisa saja kita memilih yang lain meskipun telah ada ketetapan yang shahih dari nabi. Maka bayangkan bagaimana kira-kira kerasnya teguran Allah jika kita menyelisihi Rasulullah dalam perkara yang memang adalah perkara ushul (pokok) dalam agama.

11 Walaupun hadits itu datang dari jalan yang paling sahih, disepakati oleh Bukhari dan Muslim, bahkan juga diriwayatkan dengan sanad yang sahih oleh ashabun sunan dan para imam ahlul hadits lainnya.

12 Asal ucapan ini adalah perkataan Imam Syafi’I (lihat Muqaddimah Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Nashiruddin Al Albany)

13 beliau adalah sahabat ketika sebelum keislaman beliau beragama nasrani.

14 Maksudnya berlebih-lebihan dalam merendahkan, adapun ghuluw berlebih-lebihan dalam memuji.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: