Sesatkah Kitab Al Barzanji

Sesatkah Kitab Al Barzanji : Ghuluw : Penyakit dan Sunnahnya Yahudi dan Nashara

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Hati-hatilah kalian dari Ghuluw. Sungguh yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ghuluw[1]

Asbabul Wurud :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda kepada Ibnu Abbas pada pagi hari Aqabah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berada di Musdalifah –siap-siap menuju Mina-, ‘pungutkan untukku bebatuan kecil’ Ibnu Abbas berkata, ‘maka saya pungutkan 7 bebatuan kecil, kemudian beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) jelaskan bahwa tujuh batu itu untuk ketapel[2]. Kemudian beliau genggam bebatuantersebut dan bersabada : “Hati-hatilah kalian dari Ghuluw. Sungguh yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ghuluw”[3]

Ghuluw, Penyebab Binasanya Ahlu Kitab dan Umat Sebelumnya.

Ghuluw adalah penyakit yang menjadi sebab binasanya umat-umat sebelum kita. Ghuluw artinya segala sesuatu yang keluar dari tuntunan Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya baik itu keyakinan, Ucapan dan perbuatan. Baik itu dalam bentuk melebihkan atau meremehkan yang melewati batas.

Inilah salah satu sebab kerendahan kaum muslimin sekarang ini, GHULUW. Ghuluw terhadap guru, syaikh, kyai, orang yang ditokohkan. Yang paling mengerikan adalah Ghuluw yang terlampau jauh melewati batas sampai pada tingkat kesyirikan. Di dalam Kitab Al Barzanji – seperti akan dijelaskan nanti- ada ghuluw yang seperti ini, Ghuluw yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Walaupun begitu, tidak boleh dikatakan bahwa semua yang membaca Barzanji itu kafir semuanya. Harus dibedakan hukum perbuatan dengan hukum orang per orang.

Dari hadits di atas terlihat bahaya Ghuluw, karena hadits ini keluar karena hal kecil yang terlihat sangat sepele –perkara batu yang akan dipakai melontar jumrah. Perkara ini (Ghuluw) adalah perkara yang haram yang telah membinasakan kaum-kaum sebelumnya, padahal mereka (kaum-kaum tersebut) adalah umat-umat besar yang dipimpin oleh rasul-Rasul Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ ﴿١٧١﴾

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah Azza wa Jalla kecuali yang benar…. (An Nisa 171)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ (Wahai Ahli Kitab) panggilan kepada mereka yang telah merusak agamanya dengan bersikap Ghuluw dan berkata atas Allah Azza wa Jalla tanpa kebenaran. Pemberitaan ini adalah peringatan untuk kaum muslimin agar tidak mengikuti jejaknya orang-orang yang telah binasa, yaitu kalangan ahli kitab. Yahudi dan Nashara adalah (2) dua kelompok besar yang tiap shalat kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar kita dijauhkan dan menjauh darinya. Ketika membaca :

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(Al Fatihah 6 – 7

 

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan bahwa Al Maghdhub (yang dimurkai) adalah Yahudi dan Adh-Dhalliin (Yang Sesat) adalah Nashara. Mereka mempunyai sifat menghancurkan agama mereka dengan bersikap Ghuluw. Kalau kita meminta dijauhkan dari jalan mereka, maka maksudnya adalah supaya kita kokoh di atasa Allah Azza wa Jalla dan terlepas dari sifat Ghuluw sebab sifat ini adalah sifatnya Yahudi dan Nashara.

Kurang bijak jika kita meminta perlindungan dari mereka tapi dalam keseharian kita yang nampak adalah kita terjerumus dalam sifat-sifat mereka. Ingin terlepas dari jalan mereka tapi kita justru mengambil sifat-sifat mereka, prinsip-prinsip mereka, syiar-syiar mereka[4], keagamaan mereka dan hal-hal yang melandasi agama mereka serta jalan-jalan mereka[5], seakan-akan kita tidaklah bangga akan agama kita sendiri[6], dengan apa yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada kita berupa kebaikan dan kemulian yang berlipat sekian kali dari apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Musa dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Isa. Lebih mengherangkan lagi kaum muslimin berpaling dari agama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mengambil hal-hal yang menyebabkan hancurnya Yahudi dan Nashara yaitu Ghuluw.

Awal Mula Kesyirikan Adalah Ghuluw Terhadap Orang Shalih

Ghuluw terhadap orang shalih adalah awal dari munculnya meksiat terbesar yang dikenal bumi yaitu kesyirikan. Dalam Shahih Bukhari, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah Azza wa Jalla :

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّاً وَلَا سُوَاعاً وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً ﴿٢٣﴾

Dan mereka (kaum Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Nuh) berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr”.(Nuh 23)

Ibnu Abbas berkata : “ini adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Nuh, tatkala mereka meninggal, Syaithon membisikkan kepada kaum mereka, “Dirikanlah patung-patung pada tempat yang pernah diadakan pertemuan oleh mereka di sana, dan namailah petung-petung itu dengan nama mereka.” Maka mereka melaksanakannya, akan tetapi mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Hingga setelah orang-orang yang mendirikan patungitu meninggal dan ilmu dilupakan orang barulah patung-patung itu disembah.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Sufyan[7], dari Manshur dari Mujahid[8], berkenaan dengan ayat :

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى ﴿١٩﴾

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza (An Najm 19),

Ia (Mujahid) berkata : “Al Lata adalah orang shalih yang dahulu mengadon tepung (dengan air atau minyak) untuk para jema’ah haji. Setelah meninggal merekapun senantiasa mendatangi kuburannya”.

Demikian pula Ibnul Jauza’ dari Ibnu Abbas, “Dia itu pada mulanya adalah orang yang mengadon tepung untuk para jema’ah haji.”

Ibnu Qayyim berkata : “telah berkata lebih dari seorang salaf, ‘tatkala mereka (orang-orang shaleh) meninggal maka merekapun (pengikut orang shaleh tersebut)berdiam dikubur-kubur mereka, kemudian mereka membuatkan gambar-gambar, patung-patung, kemudian setelah lama waktu berlalu merekapun (orang-orang shaleh tersebut) disembah’”

Lihatlah proses masuknya kesyirikan. Syetan berhasil menjadikan orang-orang shaleh tersebut disembah oleh pengikutnya. Keterangan di atas menunjukkan bahwa yang disembah selain Allah Azza wa Jalla itu bukan hanya syetan, iblis, dukun, paranormal atau yang tidak baik-tidak baik, tapi orang shaleh pun disembah. Hal ini perlu dipahami, sebab kadang orang memustahilkan bahwa dengan membaca barzanji, doa-doa yang mengerikan tidak dianggap beribadah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam[9].

Dan penghormatan dan pemuliaan berlebih terhadap orang shalih adalah awal keberhasilan  syetan menyesatkan umat manusia. Sebab syetan tidaklah mengajak untuk menyembah dirinya, tetapi dimulai dari orang shalih. Jadi pada awalnya kesyirikan itu hanya berbentuk pemuliaan berlebih terhadap orang shalih yang dilakukan oleh orang yang masih memiliki ilmu, sampai kemudian syetan terus-menerus melancarkan muslihatnya hingga jadilah kemudian yang disembah selain Allah Azza wa Jalla itu beraneka ragam, pohon, kuburan, matahari, bintang, dan lain-lain.

Syaitan memasukkan kesyirikan itu melalui kecintaan kepada orang-orang shalih. Kesedihan mereka (Para pengikut) ditinggal oleh orang-orang shalih diasah dan dipoles oleh syetan supaya lebih, makin dalam kemudian dihiasi dengan syubhat agar didirikan monumen berupa patung dikuburan mereka sehingga lebih mudah mengingatnya, yang dengan mengingat mereka (orang shalih) engkau akan mengingat kebaikan mereka, ibadah mereka, kemuliaan mereka. Hal ini terus-menerus diasah oleh syetan hingga akhirnya kecintaan dan kesedihan itu berubah menjadi penyembahan terhadap mereka. Kesyirikan itu hanya dimulai dari syirik ashghar yakni berupa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dikuburan mereka dengan keyakinan bahwa beribadah di kuburan mereka akan lebih afdhal. Lama kemudian kesyirikan ashghar itu berubah menjadi maksiat paling mengerikan yakni syirik akabar berupa penyembahan terhadap kuburan mereka.

Maka perhatikanlah sekali lagi BAHWA MAKSIAT TERBESAR YANG PERNAH DIKENAL BUMI YAKNI KESYIRIKAN AKBAR, MEMALINGKAN IBADAH KEPADA SELAIN ALLAH AZZA WA JALLA BERANGKAT DARI LANDASAN CINTA KEPADA ORANG-ORANG SHALIH.

  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah sebaik-baik makhluk yang harus mendapatkan puncak kecintaan setelah kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla dan beliau memang pantas mendapatkan kecintaan itu. Beliau memiliki lebih dari 40 kekhususan yang tidak dimiliki Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan rasul lainnya[10]. Segala kekhususan dan kemuliaan itu menjadi sebab cinta dan sarana serta jalan untuk menjadi ghuluw itu ada. Tapi bersamaan dengan itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan upaya yang sangat hebat untuk menutup pintu-pintu ke arah ghuluw terhadap beliau. Di antaranya beliau bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khatthab:

Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani telah berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) putera maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘Hamba Allah dan rasul-Nya.

Ulama berkata menafsirkan, Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagai pujian yang melewati batas sehingga tidak lagi menempatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai hamba. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi cara untuk memuji beliau yaitu dengan menagatakan, ‘Hamba Allah dan rasul-Nya. Ucapan ini menebas segala bentuk ghuluw baik dalam memuji atau meremehkan. Perkataan Hamba Allah menempatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada tempat yang sebenarnya, bahwa beliau hanya hamba, manusia biasa yang butuh makan, minum, ampunan dan rahmat Allah Azza wa Jalla. Dan perkataan ini menutup pintu ghuluw dalam memuji. Kemudian perkataan dan Rasul-Nya menutup pintu peremehan yang menjelaskan tingginya kedudukan beliau, bahwa beliau adalah Rasul yang harus ditaati, didengar perintahnya, ditinggalkan larangannya, yang semua ibadah harus sesuai dengan tuntunan beliau. Siapa yang merendahkan beliau, menyamakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan guru-guru, syaikh-syaikhnya dalam artian perkataan Syaikh atau Kyai atau Anre Gurunya disamakan dengan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahkan terkadang sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang dipermasalahkan kalau bertentangan dengan perkataan guru, syaikh, kelompok dan partainya.

Diriwayatkan oleh imam An Nasai dari Anas bin Malik beliau berkata: bahwasanya ada orang-orang yang berkata, “wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam! Wahai orang yang paling baik diantara kami dan putera orang yang paling baik di antara kami! Wahai Tuan kami dan putera Tuan kami!” maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabada :wahai sekalian manusian! Ucapkanlah dengan kata-kata kalian[11]dan jangan sampai syetan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukanku yang telah diberikan oleh Allah”

Diriwayatkan pula oleh imam Abu Dawud dari Abdullah bin Asy Syikhkhir berkata , “tatkala aku ikut pergi bersama utusan Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kami berkata: “Engkau adalah Sayyidnya kami.” Maka beliau bersabada, Sayyid yang sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla Tabaraka wa Ta’ala.” Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah (manusia) yang paling utama dan paling agung keutamaannya di antara kami.” Maka beliaupun bersabda, “Ucapkanlah kata-kata kalian (sebagai pemeluk islam, yakni panggillah aku Nabi dan Rasul) atau (tinggalkanlah) sebagian kata-kata kalian dan janganlah kalian terseret oleh syetan.”

Hadits di atas[12]menunjukkan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjegal dan menebas cikal bakal ghuluw bahkan walau hanya dalam bentuk lafazh, sebab tidak mungkin para sahabat memaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai As Sayyid secara mutlak, yakni dalam makna yang sebenarnya.

Larangan Keras Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Ghuluw Terhadap Kuburan.

Perhatikan pula bahwa sebesar-besar sarana umat untuk ghuluw kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah terhadap kuburannya, makanya tidak heran kalau banyak orang pergi haji sampai shalat menghadap ke kuburan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bahkan ada yang mengadakan bahwa dia harus shalat di bagian ini karena bagian ini bersambung langsung dengan kuburan beliau[13]. Tapi inipun (kemungkinan ghuluw melalui kuburan beliau) tidak lepas dari perhatian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundub bin Abdullah, ia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam lima hari sebelum wafatnya beliau bersabda,

Sesungguhnya aku menyatakan kepada Allah berlepas diri untuk aku memiliki seorang khalildari kalangan kalian[15], karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku khalil sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil. Kalau saja aku menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi -Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah juga, ia berkata, “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hendak diambil nyawanya, beliaupun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan nafas. Ketika beliau dalam keadaan demikian, bersabdalah beliau,

semoga Allah Azza wa Jalla melaknat orang-orang Yahudi dan Nahara, mereka menjadikan kuburan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mereka sebagai tempat ibadah.”

(Kemudian Aisyah berkata) beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja dikhwatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.[16]

Dalam hadits yang lain dalam Ash Shahih dari Aisyah juga bahwasanya istri beliau yang lain yaitu Ummu Salamah menceritakan pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang gereja dengan gambar[17]di dalamnya yang pernah ia lihat waktu hijrah di habasyah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

mereka itu apabila meninggal salah seorang yang shalih atau seorang hamba yang sholih di kalangan mereka, maka mereka membuat di atas kuburannya sebua tempat ibadah dan membuat di dalamnya gambar-gambar. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah Azza wa Jalla.”

Perhatikan baik-baik hadits terakhir di atas, mereka (kaum nashara) belum menyembah para Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hanya menjadikan kubur mereka sebagai mesjid tapi sudah dihukumi sebagai SEJELEK-JELEK MAKHLUK DI SISI ALLAH AZZA WA JALLA.

Pernah suatu hari Ali bin Husain (cucu Ali bin Abi Thalib) melihat seseorang yang masuk ke kuburan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk berdoa, beliau panggil orang tersebut kemudian berkata, inginkah aku sampaikan sebuah hadits yang saya dengar dari bapakku dari nenekku dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda,

jangan menjadikan kuburanku sebagai I’ed[18]dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan dan bershalawatlah kepadaku sesungguhnya shalawat kalaian akan sampai padaku di manapun kalian berada.”

Sanad[19]hadits di atas adalah semuanya ahlu bait Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka perhatikanlah wahai orang-orang yang cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahkan mengaku keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, perhatikan ilmu yang menjadi warisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada ahli baitnya. Perhatiakan wahai orang-orang yang ghuluw kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam[20], yang membolehkan bahkan menganjurkan Barzanji dan berdoa di kuburan para wali, bukankah kalian mengaku keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, perhatiakan perkataan Ali bin Husain di atas.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah berdoa,

Ya Allah Azza wa Jalla! Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”


[1]   Ahmad, An Nasai, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albany dan Adz Dzahaby

[2]     Maksudnya tujuh batu yang dipungutkan oleh Ibnu Abbas lebih besar dari yang beliau inginkan. WAllahu A’lam

[3]     Kalau dalam permasalahan bebatuan saja Rasulullah mengingatkan agar jangan berlebihan lantas bagaimana dengan permasalahan yang jauh lebih besar mengenai sikap terhadap beliau shallallahu alaihi wa Sallam sendiri. WAllahu A’lam

[4]     contohnya seperti demonstrasi, demokrasi bahkan perayaan-perayaan mereka, ketika mereka mengadakan Natal, kita melaksanakan Maulid. Ketika mereka merayakan Kenaikan Isa Al Masih kitapun dengan latahnya merayakan Isra dan Mi’raj. Ketiak sekarang marak perayaan tahun baru, maka kaum muslimin pun latah merayakan tahun baru hijriyah. Seakan-akan agama ini adalah ajang perlombaan/pertandingan  dengan kaum Kuffar. Siapakah yang lebih berhak merayakan itu semua (Maulid, Isra  Mi’raj, Tahun Baru Hijriyah) Rasulullah dan apara Sahabatnya yang mengalami sendiri peristiwa-peristiwa penting tersebut ataukah kita. Pertanyaan berikutnya, apakah mereka mampu dan bisa untuk melakukannya dan lantas kenapa mereka (manusia-manusia yang berada pada puncak ketaqwaan dan sebagiannya –seperti khulafur Rasyidin – telah mendapat jaminan surga) tidak melakukannya, lantas adakah kita merasa lebih pintar, lebih bertaqwa ataukah lebih mencintai agama ini dan Nabinya melebihi sahabat. Ketika mereka menjadikan nyanyian sebagai pujian. Kita pun dengan bodoh membikin Nasyid dan berlaku kurang ajar menyandarkannya kepada Islam, bahkan kemudian mengklaimnya sebagai sarana dan metode da’wah. Apakah pernah Rasulullah dan sahabatnya berda’wah dengan model nasyid saat ini, padahal yang mereka hadapi adalah manusia-manusia yang senang dengan pesta pora dan nyanyian, apakah Rasulullah melakukannya, berda’wah lewat nyanyian sehinnga orang-orang Quraisy mau lebih mendengar, ataukah kalian lebih pintar mengemas dan membuat metode da’wah yang Nabi dan sahabatnya tidak tahu.  Dan kemudian mereka (yang latah itu)pun kalang kabut mencari dalil, dan ketika tidak ditemukan para pendukung hal-hal tersebut kemudian menjadikan hadits lemah bahkan mungkar dan palsu sebagai dalil, dan kalau mereka tidak temukan maka Ayat dan Hadits yang shahih mereka pelintir maknanya sehingga sesuai dengan hawa nafsu mereka. WAllahul Musta’an.

[5]     Rasulullah telah mengingatkan kita akan hal ini dalam hadits beliau dari Abu Said Al Khudri, beliau bersabda : Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai jika mereka masuk ke dalam lubang biawak niscaya kalian akanmengikutinya. Kami pun bertanya, ‘apakah mereka adalah Yahudi dan Nashara’. Maka Rasulullah bersabada, ‘siapa lagi, (Bukhari – Muslim)

[6]     dan memang seperti itulah keadaan kaum muslimin sekarang ini, kebanggan akan syariat sudah hilang, sehingga jadilah agama menjadi ajang perlombaan, ajang kompetisi, arena tidak mau kalah. Bahkan Yusuf Qardhawy berkata “kami memohon kepada barat untuk mengakui keberadaan Islam dan hak-hak kaum Muslimin untuk bisa hidup dengan agama Islam mereka”(lihat Al Islaam wal Gharb Ma’a Yuusuf Al Qaradhaawi halaman 82). Dia telah kehilangan kebanggaan akan islam dan tidak puas bahwa telah cukup bagi kaum muslimin pengakuan dan pembelaan dari Allah

[7]     Sufyan bin Uyainah, seorang imam dari kalangan imam Tabi’ut Tabi’in

[8]     Mujahid, ahli tafsir dari kalangan Tabi’in. salah satu murid terbaik dari Ibnu Abbas.

[9]     Orang seperti ini biasanya menganggap bahwa yang mereka lakukan bukanlah penyembahan tapi tawassul. Bantahan akan hal ini bisa dilihat dalam banyak kitab para ulama seperti Kasyfu Syubuhat ole Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul wahhab dan syarahnya oleh Syaikh Shalih Al Fauzan ataupun Syaikh Al Utsaimin.

[10] Tentang keutamaan-keutamaan Nabi silahkan merujuk ke kitab Bidayatu As-Sul fi Tafdlili Ar Rasul karya Al Imam Izzuddin bin Abdissalam.

[11] Yakni sebagai ahlul islam yaitu dengan memanggil Nabi dengan panggilan Nabi dan Rasul.

[12] Perhatikan dengan baik kedua hadits tersebut sebab banyak orang yang menganggap apa yang mereka ucapkan dalam Barzanji itu hanyalah syair yang tidak mengandung makna yang sebenarnya.

[13] Bahkan dizaman sebelum pembaharuan Syaikhul Islam Ibnu Adil Wahhab At Tamimi, ada beberapa pintu yang menuju langsung ke kuburan Nabi yang dibangun khusus oleh tarekat-tarekat shufiyyah dan mereka tidak membolehkan tarekat lainnya lewat di pintu mereka. WAllahu A’lam.

[14] Telah lewat penjelasannya dan juga perbedaannya dengan habib.

[15] Maksud beliau kalangan manusia biasa yakni sahabat

[16] Kemana hadits ini dan yang lainnya kalian simpan wahai penyembah kuburan. Mungkin kalian berkata kami hanya bertawassul dengan menjadikan kuburan mereka sebagai wasilah. Insya Allah akan datang penjelasan tentang hal ini.

[17] Yakni gambar yang bernyawa yaitu gambar Nabi Isa dan ibundanya Maryam.

[18]   I’ed artinya sesuatu yang sering didatangi.

[19]   Mata rantai perawi atau rang-orang yang meriwayatkan hadits.

[20] Sebab para pemimpin ke-ghuluw-an kepada Nabi adalah orang-orang yang mengaku keturunan Nabi yang menggelari diri mereka Habib-habib. WAllahu A’lam.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: