Sesatkah Kitab Al Barzanji

Sesatkah Kitab Al Barzanji : Menyifati Nabi Dengan Sifat Rububiyyah Allah : Ghuluw….

Dalam membaca kitab Barzanji, orang-orang berbeda-beda, bacaan dalam  kitab barzanji terkadang diganti atau digabung dengan bacaan dari kitab lain utamanya Syarful Anam dan Qasidah Burdah, khusunya pada bacaan ketika orang-orang harus berdiri sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah datang menurut keyakinan mereka. Dalam Barzanji bentuk prosa belum disebutkan bacaan ketika berdiri tersebut, tapi nanti disebutkan oleh adiknya dalam syairnya. Ada yang membaca Ad Daibai, ada yang membaca Qasidah Burdah, Syarful Anam. Seperti itulah pembuat bid’ah, berani dan sangat kurang ajar membuat aturan-aturan sendiri dalam agama Allah Azza wa Jalla.

Kitab Al barzanji dimulai dengan bacaan yang empat baitnya, ada yang mengatakan seluruh paragrap awal harus dibaca oleh pak imam yakni bacaan :

Surga dan segala kenikmatannya adalah merupakan kebahagiaan bagi orang yang bershalawat dan yang memohon kesejahteraan serta berkah atasnya

Titik kritikan disini adalah pada kata wa yubarik alaih (memohon berkah atasnya) , seolah-oleh surga itu untuk orang yang memberi berkah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, padahal Al Mubarik hanyalah Allah Azza wa Jalla. Dalam kitab terjemahan Kyai Abdul Karim Ali yang dipegang oleh penulis, terjemahannya malah berbunyi, …Serta memohon berkah kepadanya (Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Ini orang (Pak Kyai) adalah orang tidak mengerti bahasa Arab. Sebab di sini wa yubarik alaih Failnya Mustatir, taqdirnya Huwa. Huwa kembali kepada Man (orang yang meminta, artinya orang yang membaca atau orang yang dijanjikan surga)

Para ulama telah menulis berjilid-jilid buku tentang masalah Tabarruk (mencari berkah) karena begitu pentingnya hal ini[1].

Dengan nama Allah Azza wa Jalla yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

1)      Saya memulai penulisan kitab ini dengan menyebut nama Allah yang maha tinggi.

2)      Tujuannya hanyalah semata-mata menuntut limpahan berkah dan kenikmatan-Nya atas apa yang telah saya peroleh

3)      Dan saya memuji kepadanya dengan pujian yang baik dan tak ada henti-hentinya.

4)      Bagaikan orang yang berkendaraan dengan kendaraan Syukur yang sangat bentuknya

5)      Dan saya juga bershalawat dan bermohon salam kesejahteraan semoga atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang bersifat Nur yang (bersifat) At Taqaddum dan Al Awwaliyah

6)      Yang senantiasa berpindah-pindah pada wajah dan dahi orang-orang yang mulia.

Perhatikan bait ke-lima, di situ Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam disifati dengan tiga sifat yaitu ;

1.      An Nuur (Cahaya)

2.      At Taqaddum (Yang terdahulu tanpa ada sebelumnya)

3.      Al Awwaliyah (Yang paling awal tanpa ada yang mendahuluinya)

Pembahasan  Point Pertama :

Nama dan Sifat ini diberikan secara mutlak kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam karena datang dalam bentuk ma’rifat (pengkhususan/pemutlakan) karena menggunakan alif lam , bukan sekedar Nuur tapi An Nuur. Dalam hal ini ada dua pembahasan, yaitu An Nuur sebagai nama dan An Nuur sebagai sifat.

Pertama, Perlu diketahui bahwa nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah kemuliaan seluruhnya yang datang dari Allah Azza wa Jalla, menamai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam itu perkara agama, salah dalam menamai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berarti salah dalam beragama. Menetapkan nama dan sifat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam harus Tauqifiyyah (berdasarkan nash Al Qur’an dan Sunnah yang shahih). Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sama sekali tidak pernah memiliki nama An Nuur, tidak pula Thaha, Yaasin[2], yang benar adalah Thaha, dan Yaasin adalah ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang mengawali surat dalam Al Qur’an. Dan kalau ayat Allah Azza wa Jalla adalah sifatnya Allah Azza wa Jalla bukan makhluk. Nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang warid dalam Al Quran dan Sunnah yang shahih ada 10 (sepuluh) yaitu, Muhammad, Ahmad, Al Hasyir, Al Aqib, Al Khatim, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyuttaubah, Rauf, Rahim…

Kedua, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah memiliki sifat atau disifati dengan An Nuur (Cahaya), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hanyalah manusia biasa, terbuat dari daging, darah dan tulang bukan cahaya.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ‌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ

Katakanlah (Hai Muhammad), ‘sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa, hanya saja aku diberi wahyu.’” (Al Ayat)

Dan mungkin yang dimaksud di sini adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tercipta dari cahaya, bahkan sebagian dari mereka (orang-orang yang Ghuluw) berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diciptkan dari cahaya Allah Azza wa Jalla dan kemudian Alam semesta ini diciptakan dari cahaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Bahkan cahaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam itu telah ada sebelum segala sesuatunya ada makanya disifati dengan sifat At Taqaddum dan Al Awwaliyah. Artinya yang paling pertama diciptakan Allah Azza wa Jalla adalah cahaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.hal ini bisa dilihat dari keterangan penulis sendiri. Ketika menjelaskan tentang lahirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau disifati dengan cahaya. Cahaya tersebut berpindah-pindah dari orang-orang mulia kemudian sampai ke ibu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ketika beliau lahir keluar cahaya yang menerangi langit dan bumi.

2) dan melahirkan jasmani dan rohaninya dengan bentuk rupanya dan sifatnya di alam dunia.

3) Maka Allah memindahkan tempat Nur kenabian kepada Aminah yang suci.

.

5) dan diserukan pada segenap penjuru langit dan bumi, bahwa nurnya (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) telah dikandung ibunya.

Dalil mereka akan hal ini, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah tercipta sejak zaman dahulu kala dalam bentuk cahaya, berlandaskan kepada hadits-hadits mungkar.

“Sesungguhnya Allah menggenggam segenggam dari cahaya-Nya, lalu berfirman kepadanya, ‘Jadilah Muhammad’.” (hadits Palsu)

“Wahai Jabir, bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallammu.” (Hadits Maudhu)

kemana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Sesungguhnya yang paling pertama diciptakan Allah adalah Al Qalam….”

Hadits lain yang sering dijadikan dalil oleh mereka yakni hadits “Allah Azza wa Jalla berfirman,  ‘Seandainya bukan karena engkau wahai Muhammad maka tidaklah aku ciptakan alam semesta dan isinya.’”

Hadits tersebut adalah hadits mungkar, perhatikan firman Allah Azza wa Jalla

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

[Dalam kumpulan fatwa Hai’ah Kibarul Ulama (Lembaga Ulama Senior) Kerajaan Arab Saudi, mereka ditanya, ‘Apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam disifati sebagai cahaya.?’ Kesimpulan dari jawaban mereka adalah, kalau cahaya maksudnya adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diberi wahyu yang mana wahyu tersebut adalah cahaya yang menerangi hati dan kejahilan. Maka ini adalaha benar karena Al Qur’an adalah Nur[3].]

Sementara apa yang dimaksud Al Barzanji dalam kitabnya tidak mungkin dimaksudkan atau dipalingkan ke makna tersebut. Hal ini terlihat dari struktur kalimat dan bait-baitnya. Apalagi kemudian dalam kitab tersebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga disifati Nuurun Fauqa Nuurun (Cahaya di atas cahaya). Ini adalah kesyirikan dan ghuluw yang melewati batas, sebab yang disifati sebagai cahaya secara mutlak hanyalah Allah Azza wa Jalla, yang disifati sebagai cahaya langit dan bumi, maksudnya cahaya tersebut adalah makhluk yang disandarkan kepada penciptanya.

اللَّـهُ نُورُ‌ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضِ ۚ مَثَلُ نُورِ‌هِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّ‌يٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَ‌ةٍ مُّبَارَ‌كَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْ‌قِيَّةٍ وَلَا غَرْ‌بِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ‌ ۚ نُّورٌ‌ عَلَىٰ نُورٍ‌ ۗ يَهْدِي اللَّـهُ لِنُورِ‌هِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِ‌بُ اللَّـهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[4], yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[5], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (An Nuur 35)

Dan memang Allah Azza wa Jalla  memiliki sifat cahaya yang dilihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika waktu Isra’, ketika beliau ditanya, “apakah engkau melihat Rabb mu ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, Cahaya, bagaimana mungkin aku melihat.”

Pembahasan Point Kedua dan Ketiga

Pensifatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan sifat At Taqaddum dan Al Awwaliyah adalah penyifatan yang batil dan pelanggaran serta kesyirikan terhadap Tauhid Asma Wa Sifat. Penyifatan dengan sifat At Taqaddum berangkat dari keyakinan bahwa yang pertama diciptakan adalah Cahaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang telah dijelaskan di atas.

Adapun pensifatan dengan sifat Al Awwaliyah lebih mengerikan karena datang dalam bentuk ma’rifah[6] (diawali dengan alif dan lam, pemutlakan dan pengkhususan) yang berarti penyifatan penuh secara mutlak bahwa benar-benar tidak ada yang sebelumnya. Orang yang meyakini hal ini telah melemparkan Al Qur’an ke belakang punggung mereka, dikemanakan firman Allah Azza wa Jalla:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ‌ وَالظَّاهِرُ‌ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, dan Azh-Zhahir dan Al-Bathin[7]; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al Haadid 3)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallammenjelaskan bahwa yang dimaksud Al-Awwal adalah Dialah yang tidak ada satupun sebelum-Nya.[8]

Kesesatan demi kesesatan dan kebatilan demi kebatilan membanjiri buku yang ditulis oleh Al Barzanji. Pantaskah bacaan dengan kubangan lumpur syirik yang diperangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dijadikan sara taqarrub (Pendekatan)  dan bukti cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. WAllahul Musta’an…!

Telah berlalu beberapa riwayat yang menunjukkan kemarahan dan pelarangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap orang-orang yang bersikap ghuluw pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari kalangan sahabat, demikian juga para sahabat dan tabi’in serta tabi’it tabi’in mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam memperingatkan dan melarang manusia dari sikap ghuluw.


[1]   di antara kitab tersebut adalah karya Syaikhul Islam yang berjudul Al wasithah Baina Al Haq wal Khalq dan karya Syaikh Muhammad bin Abdus Salam yang berjudul Al Qaulul Jali Fii Hukmi At Tawassul bin Nabi wal Wali. Kedua buku tersebut telah diterbitkan bersamaan dalam satu buku oleh  Pustaka Al Haura dengan judul Ngalap Berkah NABI dan WALI (ditinjau dari sisi syar’i)

[2] nama ini sebagaimana dalam shalawat badar yang merupakan shalawat bid’ah.

[3] Karenanya di antara salah satu nama Al Qur’an adalah An Nuur

[4] yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, Biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain

[5] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik

[6] begitu pula dua pensifatan sebelumnya.

[7] yang dimaksud dengan: yang  Awal ialah, yang Telah ada sebelum segala sesuatu ada, yang Akhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, yang Zhahir ialah, yang nyata adanya Karena banyak bukti- buktinya dan yang Bathin ialah yang tak dapat digambarkan hikmat zat-Nya oleh akal.

[8] Perhatikan pula surat al hasyr ayat 22 – 24 yang menegaskan bahwa Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan dari sisi Rububiyyah, Uluhiyyah dan nama-nama serta sifat-sifat Allah. Dan menamai atau menyifati Nabi dengan sifat Al Awwaliyyah adalah merupakan kesyirikan dalam masalah sifat-sifat Allah.

 

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

10 thoughts on “Sesatkah Kitab Al Barzanji : Menyifati Nabi Dengan Sifat Rububiyyah Allah : Ghuluw….

  1. DENGAN ASMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG TIADA DAYA DAN KEKUATAN UNTUK DAPAT MEMAHAMKAN HAQIKAT AL HAQ KECUALI ATAS HIDAYAH TAUFIQ DARI ALLAH, TIADA DAYA DAN KEKUATAN UNTUK LARI DARI KEKELIRUAN KECUALI DENGAN PERTOLONGAN DAN PERLINDUNGAN ALLAH. Al haq hanya milik Allah. Kena apa tuan guru begitu bersemangat utk menyesatkan kitab BARJANJI ? Jika kita bersemangat menyua rakan Al haq maka mulailah menyuarakannya dengan hati yg tenang dan penuh toleransi.

    Posted by sulaiman | 16/12/2012, 22:41
    • Betul Hidayah hanyalah milik Allah dan tidak ada yang selamat dari kekeliruan kecuali dengan perlindungan dari Allah. maka bagaimana jika ada yang MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SELAIN ALLAH, MINTA DISELAMATKAN DARI NERAKA KEPADA SELAIN ALLLAH, BERISTIGHATSAH KEPADA SELAIN ALLAH. DAN KEBENARAN HANYALAH MILIK ALLAH, DAN DI ANTAR AKEBENARAN ITU ADALAH BAHWA SESEORANG TIDAK DIBENARKAN BERDOA KEPADA SELAIN ALLAH sebab DOA ADALAH IBADAH dan TIDAK BOELH MEMALINGKAN IBADAH KEPADA SELAI ALLAH, maka bagaimana jika ada yang BERDOA KEPADA SELAIN ALLAH, apakah dia tidak sesat? Saya tidak menyesatkan barzanji, karena memenag kitab itu sesat dari awalnya, apa yang dijelaskan oleh AL Ustadz Khidhir (yang kemudian ana transkrip) itu adalah penjelasan akan kesesatan kitab tersebut dan itu adalah NASEHAT. dan tulisan ini adalah nasehat untuk kaum muslimin yang dilakukan dengan hati yang tenang dan keinginan yang ikhlash agar saudara-sauadara kaum muslimin bisa terselamatkan dari KESYIRIKAN yang terus mengintai kita. Ali bin Abi Thalib berkata : “Syirik itu seperti rayapan semut hitam di atas batu hitam di tengah malam gelap gulita.”. Kesyirikan adalah bahaya laten yang mengintai umat, yang akan menggugurkan seluruh amalan bahkan BISA mengeluarkan seseorang dari keislaman. nasehat tidak selalu harus dilakukan dengan lemah lembut bahkan terkadang harus dilakukan dengan keras seperti sikap Rasulullah terhadap Muaz bin Jabal, Sikap Rasulullah terhadap Istri Beliau Bunda Aisyah dalam suatu kesempatan, demikian juga sikap Umar bin Khaththab terhadap Ash Shabiq, sikap Abdullah ibnu Mas’ud terhadap para pelaku zikir jama’ah. dan tidak ada TOLERANSI terhadap KESYIRIKAN (dan kitab Al Barzanji penuh dengan hal itu) sebab -sekali lagi- ia adalah bahaya laten yang akan menggugurkan seluruh amalah bahkan bisa mengurai ikatan islam dari hati seseorang.

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 17/12/2012, 05:54
  2. Tolong, hadits yang anda sebut palsu diterangkan maudhu-nya karena apa…? (siapa pembuat, siapa perawi)..
    dan juga hadist dhaif diterangkan rawinya siapa…? dhaifnya karena siapa..? karena apa…? terdapat dalam kitab apa…?
    kami kn ng bisa terima begitu saja kalau ada yang mengatakan sesuatu tentang hadits. kalau emang benar, kami benarkan kalau salah ya salah.
    Monggo di jawab…

    Posted by ISLAM | 06/01/2013, 00:35
    • Adapun hadits ini : “Wahai Jabir, bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallammu.”
      maka semua kitab2 tasawwuf yang memuat hadits ini tidak menyebutkan sanadnya tapihanya menyandarkannya ke imam Abdurrazzaq, lengkapnya Abdurrazzaq meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada shahabat Jabir bin `Abdillah al-Anshariy radhiyallahu `anhu, dia mengatakan: “Saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Demi bapak dan ibu saya sebagai tebusan bagimu, kabarkan kepada saya tentang makhluk yang pertama Allah ciptakan sebelum Dia menciptakan selainnya.’ Beliau menjawab: ‘Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya. Kemudian Dia menjadikan cahaya tersebut berputar dengan kuat sesuai dengan kehendak-Nya. Belum ada saat itu lembaran, pena, surga, neraka, malaikat, nabi, langit, bumi, matahari, bulan, jin, dan juga manusia. Ketika Allah hendak menciptakan, Dia membagi cahaya tersebut menjadi 4 bagian. Kemudian, Allah menciptakan pena dari bagian cahaya yang pertama; lembaran dari bagian cahaya yang kedua; dan `Arsy dari bagian cahaya yang ketiga. Selanjutnya, Allah membagi bagian cahaya yang keempat menjadi 4 bagian lagi. Lalu, Allah menciptakan (malaikat) penopang `Arsy dari bagian cahaya yang pertama; Kursi dari bagian cahaya yang kedua; dan malaikat yang lainnya dari bagian cahaya yang ketiga. …[di akhir hadits beliau mengatakan] Beginilah permulaan penciptaan Nabimu, ya Jabir.”
      Syaikh Dr. Shadiq Muhammad Ibrahim (salah seorang yang telah melakukan penelitian terhadap hadits ini) mengatakan: “Semua kitab-kitab sufi yang terdapat di dalamnya hadits ini, tidak ada yang menyebutkan sanad dari hadits tersebut. Mereka hanya menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh `Aburrazzaq. Saya telah mencarihadits tersebut dalam kitab-kitab yang ditulis oleh `Abdurrazzaq dan saya tidak menemukan hadits tersebut.”
      jadi hadits tersebut telah disandarkan secara dusta kepada Al Imam Abdurrazzaq, referensi lainnya lihat di mari http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/lukisan-hadits-nur-muhammad-yang-telah.html

      Kemudian hadits lainnya yakni : ‘Seandainya bukan karena engkau wahai Muhammad maka tidaklah aku ciptakan alam semesta dan isinya.’ adalah bagian akhir dari sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan dari Salman Al Faarisi
      Di dalam sanadnya ada orang2 berikut :
      – Abu As-Sikkin Muhammad bin Isa bin Hayyan Al-Madani.
      Imam Ad-Daruquthuni mengatakan bahwa Abu As-Sikkin ini adalah periwayat yang lemah (dhaif).
      – Ibrahim bin Al-Yasa’.
      Para ahli hadits sepakat mengatakan bahwa orang ini matruk (dituduh berdusta ketika meriwayatkan hadits karena perilaku sehari-harinya suka berdusta).
      – Yahya Al-Bashri.
      Selain para ulama hadits menyatakannya sama dengan Ibrahim, yaitu matruk, oleh Imam Al-Fallas mengatakan bahwa orang ini adalah pendusta (kadzdzab) yang selalu menyebarkan hadits-hadits palsu. Dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa dirinya selalu membakar hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Yahya Al-Bashri.
      silahkan lihat Al Maudhuat Ibnul Jauzi terbitan Daarul Kutub Al- -‘Ilmiyah cetakan tahun 1995, Beirut jilid 1 halaman 312-314, Al La’ali As Suyuthy Darul Makrifah Beirut jilid 1 halaman 271-272. lengkapnya lihat Silsilah Adh Dhaifah Karya Asy Syaikh Al Albany (cet. Maktabah Al Ma’arif Riyadh) no Hadits 282 (hadits dengan lafal Seandainya bukan karena engkau wahai Muhammad maka tidaklah aku ciptakan al falaq)

      Adapun hadits “Sesungguhnya Allah menggenggam segenggam dari cahaya-Nya, lalu berfirman kepadanya, ‘Jadilah Muhammad’.” (hadits Palsu) maka cukuplah ayat terakhir dari surat Al Kahfi membantahnya… silahkan dibaca

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 06/01/2013, 07:13
      • yang pertama anda cuma menggunakan satu orang referensi Syaikh Dr. Shadiq Muhammad Ibrahim, coba buka lagi referensi yang lain.
        yang kedua coba buka kitab cetakan sebelum tahun 1968, karena kitab setelah tahun itu ada keraguan. contoh kitab tafsir sawi.
        yang ketiga lebih baik menggunakan silsilah al-bukhari dengan as-suyuthi dari pada syaikh al-albani yang setau saya belajar hadits dari buku bukan dari guru.
        monggo.

        Posted by ISLAM | 06/01/2013, 13:02
      • 1. Bisa anda -hayyakallah- berikan referensi yang lainnya? Kalau antum -rahimakallah- tidak sependapat dengan Dr. Shadiq -bahwa tidak terdapat riwayat tersebut dalam kitab imam abdurrazzaq- maka tunjukkan di bagian mana dari kitab Imam Abdurrazzaq yang memuat hadits tersebut?, atau dalam kitab beliau yang lainnya?
        2. afwan saya tidak punya kitab cetakan sebelum 1968 bisakah anda -hayyakallah- kirimkan scan kitabnya supaya bisa diperiksa, dan kenapa bisa cetakan setelah tahun 1968 diragukan?
        3. dan bukankah di atas saya sampaikan salah satu referensi dari karya Al Imam As Suyuthy yakni Al La’ali yang beliau berkata (MAUDHU) penjelasan rawi-rawi di atas adalah dari kitab beliau -ana punya scan kitabnya, cetakan dan terbitan yang sama-…. Silahkan di cek sendiri -kalau tidak punya silahkan cari di http://waqfeya.com, —– kemudian anda -hayyakallah- salah besar kalau bilang syaikh al albany belajar hadits dari buku, beliau punya guru yang memberi beliau ijazah periwayatan hadits, silahkan dibaca di sini http://ummusalma.wordpress.com/2007/03/26/ijazah-hadits-imam-al-albany/

        Catatan :
        Afwan Sebelumnya ana sampaikan bahwa ana telah menetapkan aturan tersendiri dalam blog ini dan berlaku untuk semuanya (untuk menutu pintu debat kusir dan terlalu melebar)
        1. Silahkan di baca tulisan-tulisan yang saya sebutkan kemudian komentarilah tulisan tersebut -jangan komentari komentar ana ini – misalnya anda telah membaca kitab Al I’tisham maka silahkan dikritisi yang mana yang tidak benar menurut antum
        2. pertanyaan/permintaan yang ana ajukan harap dijawab.
        3. Komentar tambahan sebelum membaca buku atau tulisan yang dimaksud dan/atau tanpa menjawab pertanyaan yang ana ajukan tidak akan dilayani dan tidak akan ditampilkan. jika ngotot akan dianggap spam
        4. Terakhir yang ana bisa katakan “lana a’maluna wa lakum a’malukum”
        Peraturan lengkapnya baca di sini : https://aboeshafiyyah.wordpress.com/peraturan/

        Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 06/01/2013, 16:37
      • wahai saudaraku ana dah jawab pertanyaan anda, semua yang mau ana sampaikan dah disampaikan di tulisan ini, terkait beberapa perkara ana dah berikan link buat download buku yang bisa menjawab pertanyaan anda yang lain sebab terlalu panjang kalau mau idtulis di sini, ana dah kasih link buat beberapa isykal anda, apa anda sudah baca buku tersebut, apa anda sudah baca link tersebut? kalau anda benar-benar cari kebenaran maka silahkan anda baca buku syarah qawaidul arba’ah dan syarah kasyfu syubuhat yang linknya dah ana kasih -di sana ada penjelasan tentang tawassul dan ittishal yang anda ungkapkan, tapi sekali lagi sudahkah anda membacanya, jangan-jangan mendownloadnya pun belum, jawaban yang anda minta sudah ana berikan, tapi pertanyaan/permintaan yang ana ajukan tidak anda jawab/penuhi, jadi diskusi macam apa yang akan kita lakukan? dan siapakah yang ngeles…
        anda meragukan keabsahan kitab yang ana pegang tapi anda juga tidak bisa mendatangkan kitab yang menurut anda sah dan otentik, anda juga tidak bisa menunjukkan dibagaian mana dalam kitabnya imam abdurrazzaq yang memuat hadits tersebut. ana tanyakan beberapa pertanyaan tidak antum jawab malah balik bertanya. itu namanya MENDEBAT…. kemudian seakan-akan bahwa ana belum memberi cukup penjelasan.
        Semua yang hendak ana sampaikan sudah ana sampaikan baik dalam transkrif ini, maupun link-link yang ana kasih, tapi sekali lagi sudahkan anda membacanya?
        tidak mengapa kalau anda bahkan bikin iklan bahwa ana ini tidak tahu,bodoh atau apapun itu.
        ana tanyakan hadits yang anda maksud yang menunjukkan bantahan terhadap pernyataan bahwa burzanji sesat tapi tidak anda jawab juga?
        ana juga kasih link kalau anda masih mau bertanya silahkan tanyakan di link yang ana kasih yang memuat tulisan yang serupa -ana sampaikan kalau pemilik web tersebut lebih berilmu dari pada ana- tapi anda kembali kemari dan seakan-akan ana belum melakukannya (menunjukkan orang yang lebih berilmu)
        silahkan baca buku yang ana maksud dan kalau anda sudah melakukannya -sekali lagi baca dulu- maka silahkan anda sampaikan uneg-uneg atau isykal anda di e-mail ana nanti kita diskusi di sana.
        Komentar anda di sini selanjutnya akan di anggap spam kecuali jika anda menjawab pertanyaan2 yang ana ajukan dan anda menunjukkan di kitab mana Imam Abdurrazzaq menyebutkan hadits yang anda tanyakan pertama kali dan telah di jelaskan. dan anda juga harap mendatangkan bukti -kalau menurut anda hadits yang dilemahkanoleh ibnul jauzi, as suyuthy- itu adalah hadits shahih (dan itulah yang nampak) sebab ketika ana bawakan kutipan pernyataan Syaikh SHadiq, anda meragukannya dan ketika ana bawakan penjelasan sanadnya anda meragukan keabsahan kitab Al La’ali yang ana punya, jadi sekali lagi kalau anda hadits tersebut tidak lemah/maudhu maka datangkanlah bukti sebagaimana kaidah yang ana sampaikan.

        Terakhir : sekali lagi jika anda benar2 mencari kebenaran maka silahkan hadiri dan datangi kajian salafi di tempat anda -anda bisa e-mailkan lokasi anda dan nanti ana kasih info kajian di kota/tempat tersebut- dan bertanyalah di sana sesuka anda tentang berbagai perkara yang anda menyimpan isykal di dalamnya
        Wassalmu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Baarakatuh..

        Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 07/01/2013, 17:48
  3. Isi tulisan adalah ulasan kitab Barzanji berdasarkan pemahaman mereka. Link tulisan yang disampaikan pada : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=224546724310616&set=p.224546724310616

    Baik kami mencoba mengulas tulisan tersebut pada beberapa bagian.

    Mereka mengatakan:
    Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan).
    Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan shalawat bid’ah dan shalawat-shalawat yang tidak berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Jawaban:
    Batas ghuluw (melampaui batas) adalah menjadikan Rasulullah sebagai tuhan selain Allah dan kaum muslim pada umumnya tentu tidak ada yang berkeyakinan seperti itu.

    Tidak ada larangan untuk membuat shalawat-shalawat sendiri.

    Mereka yang membuat larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sama dengan menuhankan ulama mereka sebagaimana yang telah kami sampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/03/08/terhasut-menuhankan-ulama/ Inilah tujuan kaum Zionis Yahudi menghasut mereka agar mereka menuhankan ulama mereka disamping menjerumuskan mereka kedalam kekufuran dalam i’tiqod karena memahami ayat-ayat mutasyabihat secara dzahir

    Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

    Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.”

    Imam Sayyidina Ali ra juga mempunyai shalawat sendiri begitupula Imam Syafi’i ra yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh juga mempunyai shalawat sendiri contohnya,

    “Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu ”
    atau
    “Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.”

    Mereka mengatakan:
    Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barzanji al-Madani, dia adalah khathîb di Masjidilharâm dan seorang mufti dari kalangan Syâf’iyyah. Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan di antara karyanya adalah Kisah Maulîd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini dibuktikan dalam doanya “Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahrâ di bumi Nu’mân”

    Jawaban:
    Pembuat tulisan tersebut tidak konsisten, di awal dijelaskan “Ja’far al-Barjanzi al-Madani, dia adalah khathîb di Masjidilharâm dan seorang mufti dari kalangan Syâf’iyyah” jelas menerangkan bahwa penulis Barzanji adalah bermazhab Imam Syafi’i kemudian dituduh dengan pernyataan “Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga”

    Mereka mengatakan:
    Penyimpangannya menjadi parah ketika kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Qur’an. Bahkan, dianggap lebih mulia dari pada Al Qur’an. Padahal, tidak ada nash syar’î yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji, Daiba` atau Qasîdah Burdah

    Jawaban:

    Tentulah membaca sholawat akan mendapat pahala. Silahkan periksa nash syar’i tentang keutamaan membaca sholawat.

    Mereka mengatakan:
    Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.
    “Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli iman dan telah datang dalîl dari hadîts sebagai bukti-buktinya. Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat ini maka ucapkanlah salam karena sesungguhnya Allah Maha Agung. Dan sesungguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Qur’an)”. (Lihat Majmûatul Mawâlid Barzanji, hal. 101)
    Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadîts dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di manakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia berada di Neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di Neraka”.
    Imam Nawawi rahimahullah berkata: ”Makna hadits ini adalah bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.”

    Jawaban:
    Imam Nawawi rahimahullah jelas menyampaikan bahwa orang kafir pada masa fatrah (jahiliyah) adalah yang menyembah berhala. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidaklah menyembah berhala.

    “Saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar, tidaklah berpisah manusia menjadi dua kelompok(nasab ) kecuali saya berada di antara yg terbaik dari keduanya .Maka saya lahir dari ayah ibuku dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyah. Dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah). Tidaklah saya dilahirkan dari orang yang jahat sejak Adam sampai berakhir pada Ayah dan ibuku. Maka saya adalah pemilik nasab yang terbaik di antara kalian dan sebaik baik nasab (dari pihak) ayah (HR.Baihaqi dlm dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas RA)Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya J. H.404 dan juga oleh Imam At Thobari dalam Tafsirnya j.11 H.76

    Demikian pula Ucapan Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di perang Uhud ketika beliau shallallahu alaihi wasallam melihat seorang kafir membakar seorang Muslim maka Rasulullah bersabda kepada Sa ad panahlah dia, jaminan keselamatanmu, ayah dan ibuku , maka Saad berkata dengan gembira ,Rasulullah mengumpulkan aku dgn Nama Ayah dan Ibunya (HR.Bukhari bab Manaqib Zubair bin Awwam N.3442 hadis n.3446 bab Manaqib Saad bin Abi Waqqash)

    Sejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lahir berakhlak baik dan tujuan agama atau perkara syariat adalah untuk mencapai manusia berakhlak baik sehingga akan mendapatkan tempat yang baik (surga). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).Akan tetapi ketika syariat telah ditetapkanNya maka berakhlak baik saja tidak cukup namun wajib menjalankan perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah ta’ala. Pada masa kedua orang tua Nabi , pada masa kekosongan syariat (fatrah)

    Di dalam kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul fii Ahaditsir Rasul (التاج الجامع للأصول في أحاديث الرسول)” karya Syeikh Manshur Ali Nashif diterangkan

    ***** awal kutipan *****

    Dari Abu Hurairah beliau berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak diidzinkan oleh-Nya. Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku. Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i “.

    Maksud hadits tersebut di atas sebagai berikut: Ketika Nabi Muhammad saw menziarahi ibunya yang bernama Sayyidah Aminah binti Wahab, beliau menangis karena ibunya tidak beragama Islam dan tidak mendapat kesenangan di dalamnya, dan Allah tidak mengidzinkan Nabi shallallahu alaihi wasallam memintakan ampunan untuk ibunya. Karena, permintaan ampunan itu syaratnya harus beragama Islam. Sedangkan ibunda Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat dalam keadaan menganut agama kaumnya sebelum beliau diangkat jadi Rasul. Hal ini bukan berarti ibunda Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak masuk surga, karena ibunda Nabi shallallahu alaihi wasallam itu termasuk ahli fatrah (masa kekosongan atau vakum antara dua kenabian).

    Menurut ulama jumhur bahwa ahli fatrah itu adalah orang-orang yang selamat (orang-orang yang selamat dari api neraka dan mereka tetap dimasukkan ke dalam surga). Firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Isra ayat 15:

    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولاً۬

    Artinya: “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul“.

    ***** akhir kutipan *****

    Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” maka ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

    Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perawi Hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :

    Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam “ dimana ayahku ?, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menjawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

    Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka. Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

    Mereka mengatakan:
    Para sahabat tidak pernah mengadakan acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya.
    Jika para pembela maulîd tersebut berdalih dengan hadîts Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Berdirilah kalian untuk tuan atau orang yang paling baik di antara kalian (HR Bukhari 3043, HR Muslim 1768) , maka alasan ini tidak tepat.
    Memang benar Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa pada hadits di atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan orang yang mempunyai keutamaan. (Minhâj Syarah Shahîh Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313)
    Namun, tidak dilakukan kepada orang yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang Anshar Radhiyallahu ‘anhum agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu turun dari keledainya, karena dia sedang luka parah bukan untuk menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya secara berlebihan

    Jawaban:
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam walaupun telah wafat namun beliau hadir di hati kaum muslim pada umumnya. Atas kehendak Allah ta’ala kita dapat bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan cara-cara yang dikehendakiNya. Namun yang jelas bukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke alam dunia. Beliau tetap di alamnya berada.

    Mereka tampaknya tidak mengerti dengan yang dimaksud dengan wafat. Wafat hanyalah perpindahan alam.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan muslim lainnya yang meraih maqom disisiNya pada hakikatnya hidup di sisi Allah ta’ala sebagaimana para Syuhada sebagaimana firman Allah ta’ala yang maknanya

    ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

    ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

    “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

    Rasulullah bersabda, “sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)”

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur besar.

    Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat”.

    Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain.”

    Rasulullah bersabda,

    حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.

    “Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih

    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    (ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عليه إلا استأنس ورد عليه حتي يقوم)

    “Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).

    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    (ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)

    “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).

    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)

    “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

    Mereka mengatakan:
    Penulis kitab Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.
    “Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan. Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir Wahai penolongku dan pelindungku”.

    Jawaban:
    Kalimat sholawat tersebut janganlah dimaknai secara dzahir.

    Kalimat sholawat tersebut berisikan tawasul, meminta tolong kepada Allah Azza wa Jalla perantaraan (washilah) maqom (derajat) keutamaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

    Kaum muslim pada umumnya yang bertawassul tidaklah meyakini bahwa yang ditawasulkan mengabulkan permintaan karena hanya Allah Azza wa Jalla yang mengabulkannya.

    Salah satu keutamaan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah syafa’at (pertolongan) dan ini dijanjikan Allah atau seizin Allah adalah Nabi akan menolong umat pengikutnya, berikut haditsnya ;

    حَدَّثَناَ إِسْمَاعِيْلُ قاَلَ حَدَّثَنِيْ مَالِكْ عَنْ أَبِيْ الزَّناَدِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهَ T قاَلَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجاَبَةٌ يَدْعُوْ بِهاَ وَأُرِيْدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِيْ شَفاَعَةً ِلأُمَّتِيْ فيِ الآَخِرَةِ

    Artinya :
    Kami dapat khabar dari Ismail, kami dapat khabar dari Malik, dari Abi Az-Zanad, dari Al-‘Aroj, dan dari Abi Hurairoh, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ; Setiap Nabi memiliki do’a mustajab (dikabulkan) untuk mereka berdo’a, dan aku ingin persiapkan do’aku agar menjadi syafaat (penolong) kepada umatku di akhirat. (HR. Sohih Bukhori Muslim)

    Dalam firman Allah ta’ala disebutkan ;

    مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    Artinya :
    Tiada yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) menurut Allah tanpa seizin-Nya ( QS. Al-Baqoroh 255)

    Firman Allah ta’ala yang artinya,
    “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)“ (QS Al Maaidah [5]: 55)

    “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang” (QS Al Maaidah [5]: 56)

    “dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula” (QS At Tahrim [66]:4)

    “dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau” (QS An Nisaa [4]:75)

    Kalau kita meminta pertolongan atau berobat ke dokter maka kita harus meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah dokter namun Allah Azza wa Jalla dengan perantaraan seorang dokter.

    Para pekerja mendapatkan perlindungan dari majikan mereka. Para pengungsi mendapatkan pertolongan dari para sukarelawan dan para dermawan dan masih banyak lagi contoh yang pada hakikatnya hanyalah perantara pertolongan dan perlindungan dari Allah Azza wa Jalla.

    Andaikata sebuah kesyirikan jika meminta perlindungan atau pertolongan pada manusia maka apa yang telah dilakukan kerajaan dinasti Saudi meminta perlindungan dan pertolongan kepada Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi adalah sebuah kesyirikan dan para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi telah membiarkan kesyirikan terjadi di depan mata mereka. Namun yang jelas mereka telah melanggar laranganNya

    Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya,
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)

    “Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)

    “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

    “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

    “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)

    Hal yang perlu kita ingat bahwa pengarang kitab Barzanji adalah seorang mufti (pemberi fatwa) tentulah kita tahu kompetensi apa yang harus dicapai untuk menjadi seorang mufti.

    Kemudian berliau juga keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , nama nasabnya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a.

    Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya.

    Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah.

    Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.

    Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi.

    Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah.

    Posted by ISLAM | 06/01/2013, 13:22
    • Batas ghuluw (melampaui batas) adalah menjadikan Rasulullah sebagai tuhan selain Allah dan kaum muslim pada umumnya tentu tidak ada yang berkeyakinan seperti itu.
      ======
      Apakah yang anda -rahimakallah- maksud dengan menjadikan sebagai Tuhan adalah dengan meyakini bahwa Allah adalah pencipta, yang mengabulkan doa, yang menghidupkan dan mematikan dan lainnya dari ma’na rububiyyah. jika sebatas ini pemahaman anda tentang Makna Tuhan, yakni bahwa tak ada satupun kaum muslimin yang meyakini bahwasanya Rasulullah adalah pencipta, penyembuh dan lainnya maka sungguh keyakinan inipun diyakini oleh kafiir quraisy. Abu Jahal dan kawan-kawannya juga tidaklah meyakini bahwa sembahan-sembahan (berhala, batu, pohon, orang shalih, malaikat, nabi) yang mereka seru itu adalah pencipta, pemberi rezeqi, pengatur alam dan lainnya, bahkan mereka semua meyakini kalau it hanyalah hak Allah, bersamaan dengan itu mereka semua dihukumi Kaafir Musyrik. lengkapnya silahkan download terjemah Syarah Qawaidul Arbaah (format Pdf) di http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2008/11/syarah-qawaidul-arbaah.pdf

      ======
      Dan bukankah di dalam kitab albarzanji telah terdapat sikap ghuluw tersebut, menyifati nabi dengan Al Awwal, sebagai pembebas dari neraka sair. ada yang membantah bahwa itu kan hanya tawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah maka begitu pula keyakinan kaum kafir quraisy terhadap sembahan mereka yang berupa patung, pohon, malaikat, orang shaleh, nabi dan lainnya. penjelasan lengkapnya baca terjemah syarah kasyfu syubuhat karya syaikh ibnu utsaimin di http://kaahil.wordpress.com/2012/11/13/bagus-teks-asli-e-book-chm-kitab-kasyfusy-syubhat-disertai-terjemah-bahasa-indonesia-kajian-mp3-kitab-kasyfu-syubuhat-menyingkap-kebatilan-argumen-penentang-tauhid-karya-syaikh-muham/ – antum bisa juga mendownload versi chm nya-

      Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.”
      =======
      ada banyak kitab yang menjelaskan pekara ini, apa yang disebutkan imam as suyuthi di atas adalah dibangun di atas madzhab asy’ariyyah, maka silahkan dibaca sendiri dari imam pertama madzhab ini yang beliau telah berlepas diri dari madzhab tersebut.
      1. Silahkan baca kitab Al Ibanah An Ushul Ad Diyanah karya Al Imam Abul Hasan Al Asy’ari. baca sedikit penggalannya di sini http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/al-imam-abul-hasan-al-asyariy-asyaairah.html
      2. orang indonesia ngakunya madzhab syafi’i maka Silahkan baca Syarhussunnah Imam Al Muzani (Murid dan sahabat Imam Syafi’i) yang sudah di ta’liq dan baca juga di sini https://aboeshafiyyah.wordpress.com/2011/07/31/di-antara-wasiat-al-imam-asy-syafii/
      3. Al Imam Maalik (Guru besar Imam Syafi’i) ketika di tanya tentang ma’na istiwa’ maka beliau menjawab ‘Al Istiwa’ Ma’lumun’ Istiwa itu sudah diketahui maknanya
      4. Kalau anda tidak keberatan silahkan cari buku al qawaidul mutsla -telah diterjemah dengan judul aqidah salaf dalam nama dan sifat, diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah)
      ==== klo dengan kaidah imam suuthy di atas maka imam Al Muzani, Imam Malik, Imam Abul Hasan Al Asy’ary dan Para Imam Lainnya semisal Abu Ja’far Ath Thahawy Al Hanafi (penulis Aqidah Thahawiyyah), Al Imam AbulIzz Al Hanafy (Pensyarah Aqidah Thahawiyyah) telah kaafir semuanya sebab mereka semua -rahimahumullah- menetapkan wajah, tangan, mata dan sifat lainnya yang Allah tetapkan bagi dirinya atau disifatkan oleh Nabinya tanpa membagaimanakannya, tanpa menyerupakannya dengan makhluq, tanpa menolaknya dan tanpa memalingkan maknanya..=== Wallahul musta’an

      Tidak ada larangan untuk membuat shalawat-shalawat sendiri.
      —– ketika ayat yang memerintahkan untuk bershalawat itu turun maka para sahabat datang menanyakan kepada nabi tentang cara bershalawat maka nabipun mengajarkannya. para sahabat tidaklah berkreasi sendiri membuat salawat padahal mereka -radhiallahu anhum- puncaknya keahlian dan kefasihan bahasa arab tapi mereka tetap datang kepada Nabi. dan apa yang diajarkan oleh Nabi tentulah jauh lebih baik. maka jika ingin bershalawat maka pakailah yang diajarkan oleh Nabi sebab itulah yang terbaik -dan orang yang berakal pasti akan memilih yang terbaik-. jika ada yang datang kemudia berkata bahwa shalawat ini (al fatih atau nariyah) misalnya lebih baik dari shalawat ibrahimiyyah maka dengan tegaskan saya akan katakan kalau dia tu pendusta.
      —— dan larangan itu telah datang dalam makna umum yakni larangan berbuat bid’ah… ibnu mas’ud berkata “Mengikutlah dan jangalah berbuat bid’ah, sungguh kalian telah dicukupi,” barangsiapa yang tidak puas dengan al qur’an dan sunnah maka dia tidak akan pernah merasa puas…

      Imam Sayyidina Ali ra juga mempunyai shalawat sendiri begitupula Imam Syafi’i ra yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh juga mempunyai shalawat sendiri contohnya,
      “Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu ”
      atau
      “Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.”
      ==== yang manakah dari shalawat di atas yang milik Imam Syafi’i atau milik Ali radhiallahu anhu? tolong ditunjukkan kitab rujukan yang memuat sanad yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa itu berasal dari mereka -radhaillahu anhuma- sebab pada sahalawat di atas lagi-lagi terdapat ghuluw menyifati nabi sebagai penawar duka, pembuka pintu kemudahan yang kesemua itu hanyalah layak untuk disandarkan kepada Allah. sekali lagi tolong ditunjukkan kitab rujukan yang memuat sanad yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa itu berasal dari mereka -radhaillahu anhuma-

      Andaikata sebuah kesyirikan jika meminta perlindungan atau pertolongan pada manusia maka apa yang telah dilakukan kerajaan dinasti Saudi meminta perlindungan dan pertolongan kepada Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi adalah sebuah kesyirikan dan para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi telah membiarkan kesyirikan terjadi di depan mata mereka. Namun yang jelas mereka telah melanggar laranganNya
      ======= Sepertinya Anda -rahimakallah- perlu belajar fiqih muamalah dan isti’anah bil kuffar, meminta pertolongan kepada orang yang hadir dan mampu memenuhi permintaan kita maka itu tidaklah mengapa, yang jadi masalah kalau orang tersebut tidak hadir (sudah meninggal misalnya) dan juga tidak mampu melakukan yang kita minta (mengabulkan doa atau menawar duka misalnya)… sekali lagi lengkapnya ada di buku syarah kasyfu syubuhat di atas…. silahkan dibaca baru mampir lagi di mari…======== Larangan apakah yang dimaksud telah dilanggar oleh dinasti Saudi, jika yang dimaksud adalah larangan meminta bantuan kepada kaum kaafir, maka inilah Rasulullah ketika hendak menuju perang uhud datang ke kaum yahudi bani nadhir untuk meminta bantuan, inilah Rasulullah ketika pulang dari thaif -untuk mencari perlindungan dari penduduk thaif -yang saat itu masih musyrik- beliau bertawaf di bawah perlindungan muth’im bin ady, inilah Rasulullah ber isti’anah kepada Shafwan bin Umayyah (yang saat itu masih kaafir)… Wallahu A’lam

      Tentulah membaca sholawat akan mendapat pahala. Silahkan periksa nash syar’i tentang keutamaan membaca sholawat.
      —— Siapa yang bilang membaca shalawat itu tidak berpahala, silahkan baca tulisan di blog ini pada tema ini di sini https://aboeshafiyyah.wordpress.com/2012/07/18/sesatkah-kitab-al-barzanji-pendahuluan-ketiga-bershalawat-itu-ada-aturannya/
      —— yang jadi masalah adalah cara bershalawat dan isi dari shalawat itu, bukan bershalawatnya itu sendiri. dan telah dijelaskan dalam tulisan tentang ini bahwa shalawat dalam albarzanji itu penuh dengan sikap ghuluw yang terlarang. hal yang sama terdapat dalam ad dibai, dalailul khairat, qasidah burdahm qasidah hamzah dan lainnya. — kemudian adakah nash syar’i atau contoh shalawat yang diajarkan oleh nabi atau sahabat yang berisi sikap ghuluw terhadap Rasulullah atau menurut pendapat anda -rahimakallah- hanyalah berisi tawassul sebagaimana yang dilakukan Al Barzanji. (sekali lagi tentang tawassul baca di buku syarah kasyfu syubuhat)
      —— mungkin antum -rahimakallah- telah membaca bagaimana Ibnu Mas’ud mengingkari dengan keras halaqah dzikir di zamannya. -yang jadi masalah bukanlah berdzikirnya tapi cara berdzikirnya —
      —– tambahan bacaan silahkan berkunjung ke blognya Kyai Mahrus Ali di http://mantankyainu.blogspot.com

      —- Penjelasan tentang hadits tentang ayah Rasulullah di neraka baca di sini – http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/shahih-hadits-ayahku-dan-ayahmu-di.html – (sekaligus meluruskan kekeliruan Imam As Suyuthy) dan jangan nanti muncul perkataan As Suyuthy lebih alim dari penulisnya seperti sebagian orang ketika disampaikan tentang hadits yang dilemahkan oleh Syaikh Albany dalamSUnan Abu Daud -misalnya- mereka berkata.”ah Abu Daud lebih alim dari albany”

      Kalimat sholawat tersebut berisikan tawasul, meminta tolong kepada Allah Azza wa Jalla perantaraan (washilah) maqom (derajat) keutamaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
      ===== Pembahasan tentang ini silahkan baca syarah kasyfu syubuhat di atas

      Kaum muslim pada umumnya yang bertawassul tidaklah meyakini bahwa yang ditawasulkan mengabulkan permintaan karena hanya Allah Azza wa Jalla yang mengabulkannya.
      ===== Pembahasan tentang ini silahkan baca syarah qawaidul Arba’ah di atas

      Hal yang perlu kita ingat bahwa pengarang kitab Barzanji adalah seorang mufti (pemberi fatwa) tentulah kita tahu kompetensi apa yang harus dicapai untuk menjadi seorang mufti.
      —- Al Imam Maalik berkata : “Semua ucapan anak adam bisa ditolak dan bisa diterima kecuali penghuni kubur ini (sambil menunjuk ke kuburan Rasulullah”

      Catatan :
      Afwa Sebelumnya ana sampaikan bahwa ana telah menetapkan aturan tersendiri dalam blog ini.
      1. Silahkan di baca tulisan-tulisan yang saya sebutkan kemudian komentarilah tulisan tersebut -jangan komentari komentar ana ini – misalnya anda telah membaca kitab syarah qawaidul arba’ah maka silahkan dikritisi yang mana yang tidak benar menurut antum-
      2. Jika ana kasih link tulisan maka silahkan komentar di sana seperti misalnya tulisan tentang hadits nabi yang ana kasih link maka kalau ada yang mau dikomentari maka silahkan komentar di sana -jangan komentar di sini-
      3. pertanyaan-pertanyaan yang ana ajukan harap dijawab.
      4. Komentar tambahan sebelum membaca buku atau tulisan yang dimaksud dan/atau tanpa menjawab pertanyaan yang ana ajukan tidak akan dilayani dan tidak akan ditampilkan. jika ngotot akan dianggap spam
      Peraturan lengkapnya baca di sini : https://aboeshafiyyah.wordpress.com/peraturan/

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 06/01/2013, 17:49
    • Maaf Komentar anda tidak akan ditampilkan. ana sudah memberi anda link dan buku untuk dibaca tapi anda sepertinya tidak atau belum membacanya, demikian juga pertanyaan2 yang ana ajukan tidak di jawab malah bertanya balik. perkataan anda tentang mufti sudah saya jawab dengan perkataan imam malik yang saya ulangi di sini “Setiap ucapan anak adam bisa diterima dan ditolak kecuali penghuni kubur ini (sambil menunjuk ke kuburan Rasulullah)” saya kira perkataan imam malik di atas sudah cukup bahwa sehebat apapun ilmu seseorang, maka perkataannya tidak bisa ditelan mentah-mentah kecuali setelah ditimbang dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul, karena anda tidak sependapat dengan syaikh Shadiq -bahwa hadits tersebut tidak terdapat dalam kitab2 imam abdurrazzaq- maka ana minta antum datangkan bukti atau referensi lain tapi tidak antum sebutkan, dan ana percaya sama cetakan yang ana punya sementara antum tidak percaya dengan dalih mungkin sudah diubah atau bagaimana – maka tugas antumlah untuk membuktikan bahwa kitab yang saya pegang tidaklah otentik – yang sekali lagi saya percaya kalau itu otentik. Kaidah mengatakan : ” siapa yang berdalil dengan sebuah riwayat maka dia pula yang pertama kali harus menunjukkan keotentikan riwayat tersebut”
      pertanyaan yang antum ajukan, maka seorang mu’min jika sudah masuk surga maka ia kekal di dalamnya. tapi siapakah yang bisa menjamin antum. ana, al barzanji atau imam as suyuthi sudah pasti masuk surga? tidak boleh seorang memastikan orang/orang masuk jannah atau neraka kecuali yang sudah dipastikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
      jika antum benar-benar mencari kebenaran silahkan kunjungi juga http://abusalma.net di sana juga ada tulisan tentang hal ini (barzanji), silahkan berkomentar di sana mungkin beliau bisa lebih melayani antum dan penjelasannya lebih bagus dari ana karena beliau lebih punya ilmu di banding ana -meskipun dalam beberapa perkara ada beberapa hal yang ana tidak sependapat dengan beliau-
      Adapun ana kita sudahi sampai disini, komentar anda selanjutnya juga tidak akan ditampilkan sebagaimana aturan yang ana tetapkan — anda bilang TIDAK INGIN BERDEBAT maka mari akhiri sampai di sini – dengan ucapan LANA A’MALUNA WA LAKUM A’MALUKUM, semoga Allah memberi kita semua hidaya hdan mengampuni dosa-dosa kita dan seluruh kaum muslimin— (termasuk Ja’far Al Barzanji, mengkritik pemikiran seseorang bukan berarti tidak mendoakan mereka, sebab tak satupun di antara kita yang luput dari kesalahan) Innahu Waliyyu Dzalika Wal Qaadiru ‘Alaih —
      Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakaatuh

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 07/01/2013, 07:02

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: