Sesatkah Kitab Al Barzanji

Sesatkah Kitab Al barzanji ? : Berdoa & Beristighatsah Kepada Nabi, Merampas Haq ALLAH

Kemudian perhatikan bait berikutnya :

  1. Faagitsniy (Tolonglah aku) dan selamatkan aku; wahai yang menyelamatkan dari neraka sa’ir.

  2. Yaa Ghiyatsiy (Wahai penolongku) Yaa Malaadziy (wahai pelindungku); pada urusan yang sangat genting.

Istigatsah yang artinya permintaan tolong dalam kondisi yang sangat gawat dan itu adalah ibadah yang sangat besar dan begitu diminta kepada selain Allah Azza wa Jalla maka itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari Islam karena itu adalah kesyirikan akbar yang mencabut akar-akar iman tanpa sisa.

Dalil yang paling terang yang melarang istighatsah kepada selain Allah Azza wa Jalla bahkan jika itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dalam Al Mu’jam dengan sanadnya: “Bahwa pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ada seorang munafiq yang selalu mengganggu orang mukmin, maka berkatalah sebagian dari mereka, “marilah kita pergi bersama untuk beristighatsahdengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari orang muunafiq ini. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya tidak boleh beriistighatsah denganku, sesungguhnya istighatsah itu hanya dengan Allah Azza wa Jalla.’’

Orang yang membaca kedua bait diatas dan bait-bait sebelumnya telah melupakan Allah Azza wa Jalla dan mengangkat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ke posisi Rabb. Kesyirikannya lebih hebat dari Abu jahal, Abu Lahab dan seluruh kaum musyrikin yang diperangi dan dihalalkan darahnya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kaum musyrikin Quraisy mampu memurnikan ibadah dan permohonan serta hanya ber istighatsahhanya kepada Allah Azza wa Jalla dalam kondisi gawat, mereka akan lupa sesembahan mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ﴿٦٥﴾لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ ﴿٦٦

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya1; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). Agar mereka mengingkari nikmat yang Telah kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (Al Ankabut 65 – 66)

 هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَـٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ﴿٢٢

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Yuunus 22)

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا ﴿٦٧

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (Al Israa 67)

Tapi kaum musyrikin zaman sekarang dalam kondisi gawat ataupun dalam kondisi senang dan lapang tetap memohon kepada selain Allah Azza wa Jalla. Perhatikan bait di atas, ‘Yaa Maladziy’ adalah permohonan perlindungan dalam kondisi yang lapang agar kelapangannya tidak menjadi sempit. Padahal yang boleh dimintai istigatsah hanyalah Allah Azza wa Jalla.

Mereka –orang yang membaca barzanji- berdoa kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bukan kepada Allah Azza wa Jalla, padahal doa adalah ibadah yang bahkan merupakan inti dari seluruh ibadah. Sebab seluruh ibadah pada adasarnya adalah permohonan akan rahmat, ridha dan ampunan Alla. Jadi kalau inti dari ibadah dipalingkan kepada selain Allah Azza wa Jalla maka itulah kesyirikan yang nyata. Tidak jadi masalah apakah yang dimintai selain Allah Azza wa Jalla itu adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atau malaikat, kesmuanya adalah syirik akbar.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَـٰهٌ مَّعَ اللَّـهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah Azza wa Jalla ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (An naml 62)

 وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠٦﴾ وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٠٧

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yuunus 106 – 107)

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ ۚ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ﴿١٤

Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (Ar Radd 14)

قُلْ أَنَدْعُو مِن دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّـهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّـهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٧١

Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang Telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. atakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta Alam,(Al An’am 71)

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidaklah mampu mendatangkan mudharat maupun manfaat kecuali apa yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Jika engkau memohon, mohonlah kepda Allah.” (HSR Tirmidzi dari Ibnu Abbas dan beliau berkata Hasan Shahih).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga disifati sebagai Al Mujiir minassair (yang menyelamatkan dari neraka). Kemana Allah Azza wa Jalla wahai kaum muslimin, kemana Allah Azza wa Jalla? Kemana ucapan Laa Ilaha IllAllah? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mampu memberikan keselamatan dari neraka sa’ir. Bagaimana beliau mampu sedangkan beliau senantiasa siang malam berdoa :

….. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿٢٠١

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (Al Baqarah 201)

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, fitnah hidup dan kematian dan fitnah Ad Dajjal (Muttafaq Alaih)2

1 Maksudnya hanya berdoa kepada Allah semata, ikhlash.

2 Bukhari alam Al Janaiaiz (1377), Muslim dalam Al Masaajid (588)

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: