Sesatkah Kitab Al Barzanji

Sesatkah Kitab Al Barzanji? : Maulid dan Nasehat ‘Umar bin ‘Abdul Aziz

  TENTANG PERAYAAN MAULID1

Pada awalnya pembacaan kitab Al Barzanji hanya dilakukan pada saat perayaan Maulid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kemudian berkembang dan berkembang sehingga di baca tiap ada ahajat dan kesempatan. Dapat nikmat dan kegembiraan baca Barzanji, tertimpa musibah juga baca Barzanji. Bahkan orang-orang lebih mendahulukan kitab Al Barzanji dari Al Qur’an, banyak di antara mereka hafal mati Barzanji tapi tidak menghapal satu juz dari Al Qur’an bahkan yang mereka hafal hanya sepulu surat terakhir dari Al Qur’an, apalagi mau membaca dan menghapal kitab-kitab hadits semisal Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Kitabus Sunan, dan yang lain.

Pembacaan kisah atau sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada acara Maulid nanti mulai dilaksanakan setelah terjadinya Perang Salib dan pada masa itu memang tersebar Bid’ah dan kesyirikan dan merebaknya aqidah-aqidah yang menyimpang seperti aqidah Asy-ariyah, maturidiyah dan berbagai pahan dan tarekat-tarekat shufiyyah. Dan pada awalnya pembacaan sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hanya sekedar di baca tanpa dibuatkan kue-kue atau makanan-makanan ataupun dimeriahkan dengan rebana dan nasyid-nasyid seperti sekarang ini. Dan memang seperti itulah bid’ah makin dilakukan makin jauh menyesatkan umat.

Adapun sekarang perayaan Maulid sudah berkembang menjadi hura-hura, diramaikan dengan lagu-lagu qasidah, dengan songkolo, ember tambah telur berwarna-warni. Tidak cukup dengan itu sekarang dibuatkan pohon telur dari batang pisang yang diletakkan di dalam mesjid, yang kesemua itu adalah penyerupaan terhadap kaum Nashrani ketika merayakan Natal. Sungguh benar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika beliau bersabda :

Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai jika mereka masuk ke dalam lubang biawak niscaya kalian akan mengikutinya. Para Sahabat bertanya ‘apakah yang anda maksud adalah Yahudi dan Nasrani? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, siapa lagi kalau bukan mereka. (HR Muslim)

Bahkan di indonesia berbagai macam acara diselenggarakan dalam perayaan maulid, ada lomba adzan, lomba baca barzanji dan berbagai lomba lainnya. Tak jarang panitia menghadirkan artis-artis yang biasa menyanyikan ‘lagu religi’. Orang Indonesia adalah orang yang paling kreatif dalam membuat dan menghiasi bid’ah, makanya banyak ahli bid’ah belajaar bid’ah dari Indonesia.

Fatwa Syaikh Muhammad Al Utsaimin (Fatwa No. 350)2

Hukum merayakan Maulid :

Malam kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pasti bahkan sebagian ulama mengatakan malamnya malam ke-9 Rabiul Awwal. Seandainya hal ini disyariatkan pasti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam lakukan atau paling tidak beliau sampaikan ke umatnya dan senadainya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam lakukan pasti sampai kepada kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿٩

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya3 (Al Hijr 9)

Kalau Allah Azza wa Jalla sudah meletakkan jalan untuk sampai kepada-Nya yaitu apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka apakah boleh bagi kita untuk mendatangi jalan yang kita ambil dari diri-diri kita untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla. Ini adalah kekurang ajaran kepada Allah Azza wa Jalla karena membuat syariat dalam agama Allam yang sekaligus mendustakan firman Allah Azza wa Jalla :

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).

Dan siapa yang menyangka bahwa ini (perayaan maulid) bagian dari agama maka dia telah melakukan perkara baru dalam agama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan sekaligus perkataannya ini termasuk pengingkaran terhadap ayat di atas.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang melakukan maulid4 bahwa mereka memaksudkannya sebagai ta’zhim (pemuliaan) terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan ini adalah ibadah. Kemudian bersamaan dengan itu terdapat kemungkaran yang sangat besar yang tidak mungkin dibenarkan oleh indera di antaranya dalam acara tersebut dinyanyikan qasidah yang isinya ghuluw dengan menempatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melebihi Allah Azza wa Jalla. Di antaranya lagi didengar dari sebagian orang-orang bodoh yang merayakan maulid ini jika dibacakan kisah tentang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan jika sampai pada kisah kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mereka bangkit seluruhnya, serempak dan menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah datang dan hadir dan ini adalah kebodohan. Ini bukan termasuk adab terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bangkit dengan maksud memuliakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebab beliau benci kalau sahabatnya bangkit untuk menyambut beliau padahal para sahabat adalah manusia yang paling cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan memuliakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tapi itupun beliau marah pada mereka (para shabat) kalau mereka melakukakannya.

Bid’ah ini (perayaan maulid) nanti terjadi setelah berlalunya 3 (tiga) generasi terbaik yakni jaman para sahabat. Yang kemudian di dalamnya terdapat kemungkaran-kemungkaran yang mencacati asal agama ditambah lagi ikhtilath dan berbagai kemungkaran lainnya.

Allah Azza wa Jalla telah mengabarkan kepada manusia bahwa agamanya telah sempurna dengan kesempurnaan yang tidak ada lagi diatasnya, tapi katakan belum sempurna, masih butuh ini, itu, masih butuh barzabji, maulid, isra mi’raj. Jika seandainya perayaan maulid bagian dari kesempurnaan agama maka tentulah ada sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam., tapi ternyata tidak ada maka kalau bukan maka tidak boleh menjadi bagian dari agama yang di atasnya dibangun wala’ dan bara’ dan pengharapan dibentuk. Tanyalah pada kyai, AG manapun maka niscaya sampai langit dan bumi di gulung tidak akan mereka temukan.

Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang aparatnya mengatakan

Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :

Segala puji hanya bagi Allah Azza wa Jalla yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia.

Kemudian daripada itu :

Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-Nya ShallAllah Azza wa Jallau ‘Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, tetaplah kamu berpegang dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridlailah untuk dirimu apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah yang tajam dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat (mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan. Maka sebagian manusia ada yang telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah 212)

Maka jika bukan bagian dari agama maka tidak boleh beribadah dengannya, tidak boleh ber-taqarrub dengannya. Perayaan Maulid adalah perayaan bid’ah, dicarikan hari kemudian di klaim sebagai hari raya umat islam. Hari raya adalah syiar islam yang besar, tiap umat memiliki siyar mereka sendiri. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang beliau menetapkan 3 (tiga) hari raya bagi umat yaitu I’edul Adha, I’edul Fitri untuk tiap tahunnya dan hari Jum’at untuk tiap pekannya. Ada hari raya lain tapi mengikut kepada I’edul Adha yaitu hari Arafa, Hari Tasyriq. Maka siapakah kalian yang begitu kurang ajar mendahului Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan menambahkan hari raya Maulid, Isra Mi’raj ke dalam syariat Allah Azza wa Jalla yang telah sempurna.

Ada yang pernah mengatakan bahwa ini (merayakan maulid)5, tapi begitu mereka menjelaskan argumen mereka, maka argumen/pendapat mereka akan bertabrakan satu sama lain. Di satu sisi mereka mengatakan bahwa ini bukan ibadah tapi kemudia mereka mengatakan bahwa ini karena kami cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sementara cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah nilai ibadah yang sangat besar seperti telah berlalu penjelasannya. Tapi seperti itulah ahli bid’ah, mereka kebingungan sendiri sehingga membenturkan perkataannya dengan perkataannya yang lain.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٦٣

Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” ( QS. An Nur, 63 ).

1Pembahsan lebih lengkap tentang perayaan Maulid silahkan di baca dalam Buku STUDI KRITIS PERAYAAN MAULID NABI Karya Al Ustadz Hammad Abu Mu’awiyah

2 Dalam perkara ini terdapat banyak fatwa dari para ulama demikian juga dengan perkara tawassul yang insya-Allah akan dikumpulkan dalam kumpulan tulisan tersendiri. Semoga Allah mudahkan.

3 ayat ini menjamin kemurnian dan terjaganya Al Qur’an, demikian pula penjelasnya yakni sunnah Rasulullah

4 dan juga barzanji serta acara bid’ah lainnya

5 dan saya (penyusun) pernah mendengar sendiri dari seorang khatib lulusan Mesir akan perkataan ini, tapi kemudian justru memberikan dalil bahwa ini disyariatkan yaitu ketika dia membelokkan makna satu hadits ketika Rasulullah di tanya tentang puasa Hari Senin yang di jawab oleh Rasulullah bahwa pada hari ini aku dilahirkan dan pada hari ini aku diberi Al Qur’an. Tapi oleh sang khatib jawaban Rasulullah di terjemahkan, “karena pada hari ini aku sedang merayakan ulang tahunku.”

Anggaplah seperti itu, maka mari kita lihat ,

  1. Rasulullah merayakan Ultahnya dan beliau merayakan harinya yakni hari senin, jadi beliau merayakannya tiap minggu, sementara yang lain merayakannya sekali setahun, jadi kalau mau ikut Nabi harusnya perayaan Maulid itu tiap minggu yakni pada hari senin.

  2. Rasulullah merayakan Maulidnya dengan berpuasa tapi yang lain merayakannya dengan makan-makan. Nah?

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

7 thoughts on “Sesatkah Kitab Al Barzanji? : Maulid dan Nasehat ‘Umar bin ‘Abdul Aziz

  1. jangan menyalahkan seenaknya….Sesungguhnya Alloh dan para malaikatNYA bersholawat kepada Nabi.
    Bid’ah yang kami laksanakan adalah Bid’ah kebaikan…bukan bid’ah keburukan..
    kalau berbicara tentang bid’ah
    apah anda memakai alat teknologi bukan bid’ah?

    Posted by Irfan Zagar | 23/10/2012, 17:50
    • Rasulullah bersabda :”SETIAP BID’AH ITU SESAT” gak ada yang namanya BId’ah Kebaikan. Al Imam Malik berkata : Barang siapa yang melakukan sebuah bid’ah kemudian menganggapnya baik berarti dia telah menuduh nabi berdusta sebab Allah telah berfirman -kemudian beliau membaca ayat 3 surat al maidah- apa-apa yang tidak menjadi bagian dari agama pada hari itu tidak akan jadi bagian dari agama untuk selamanya.
      kemudian bacalah baik2 nasehat umar bin abdul aziz tersebut -semoga Allah merahmatimu- tidak ada dalam sunnah para sahabat melakukan shalawatan model barzanji dan juga maulidan, belia-rahimahullah- berkata : m
      aka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka …. maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan.”
      lengkapnya pernyataan para ulama mari di baca di sini https://aboeshafiyyah.wordpress.com/2012/07/12/rasulullah-sahabat-dan-para-imam-berbaris-menolak-bidah-hasanah/

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 23/10/2012, 20:37
    • Tampaknya anda -semoga Allah merahmati anda – tidak mengerti soal bid’ah, ana sarankan sebelum itu anda -rahimakallah- baca buku karya imam Asy-Syathibi yang berjuduk Al I’tisham -dah banyak terjemahannya -supaya paham bahwa yang dimaksud bid’ah dalam hal ini adalah dalam perkara agama (ibadah, syariat dan lainnya entah itu metode, waktu dan lainnya) simpelnya begini Bid’ah itu adalah perkara yang disandarkan kepada agama (yang ia merupakan metode dan tata cara) yang tidak ada aturannya dalam agama.
      ada cara mudah untuk mengetahuinya, segala perkara yang disandarkan ke agama (seperti bentuk dan tata cara beribada) yang bisa dan mampu serta dibutuhkan untuk dilaksanakan oleh dan di zaman Nabi dan atau para sahabatnya (terkhusus khalifah rasyid) tapi tidak mereka lakukan dan Nabi juga tidak memberi isyarat atau taqrir akan bolehnya, maka jika dilakukan setelah beliau maka itu adalah bid’ah.
      contoh : perayaan Maulid, mampukah Nabi dan para sahabat melakukannya? kalau mereka mampu kenapa mereka tidak melakukannya? apakah kita lebih tahu tentang perkara kebaikan dibanding Nabi dan para sahabatnya. itulah maksud imam malik, kalau kita menganggap perayaan maulid dan bersalawat model barzanji itu kebaikan berarti kita menganggap kalau kita lebih mengetahui kebaikan dibanding Nabi dan para sahabatnya sementara para sahabat adalah orang yang paling bersemangat akan kebaikan. adapun soal shalawat maka silahkan baca di sini https://aboeshafiyyah.wordpress.com/2012/07/18/sesatkah-kitab-al-barzanji-pendahuluan-ketiga-bershalawat-itu-ada-aturannya/

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 23/10/2012, 20:49
  2. hadist saja ngak ngerti udah nuduh orang sembarangan….dasar wahabi..

    Posted by iqbal | 07/12/2012, 09:39
    • Bisa ditunjukkan hadits yang nggak di mengerti yang anda maksud dan tuduhan apakah yang anda maksud itu? perlu anda ketahui bahwa dalam persoalan menghukumi itu ada aturannya, menghukumi secara global dan menghukumi secara ta’yin itu beda kemudian menghukumi perbuatan sebagai suatu perbuatan kesyrikan tidaklah memutlakkan atau mengharuskan menghukumi pelakunya sebagai musyrik. sehingga dengan begitu anda akan memahami bahwa ana tidak menghukumi secara mutlak orang yang melakukan perbuatan kesyririkan itu adalah musyrik -sekali lagi mohon dipahami itu- kemudian ana tanya, apakah berdoa kepada selain Allah bukan perbuatan kesyirikan?
      klo menyeruh memurnikan tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan adalah wahhabi, maka ya saya adalah seorang wahhabi. tapi tahukah anda siapakah yg memberi gelar kepada pengikut syaikh muhammad dengan gelar WAHHABI? kemudian tahukah anda apa ma’na dari Wahhabi dan kenapa mereka sampai digelari Wahhabi? tahukah anda apa yang dida’wahkan oleh Syaikh Muhammad bin ABdul Wahhab? pernahkah anda membaca kitab-kitab dan risalah yang beliau tulis? klo anda pernah membaca maka tolong dijelaskan kesalahan-kesalahan syaikh dan kitab-kitab beliau tersebut, klo anda anda belum pernah membaca kitab-kitab beliau maka perkataan anda itu lebih tepat untuk anda sendiri, dan saya menantang siapapun yang membenci dan menuduh beliau untuk membaca kitab-kitab beliau dan di blog ini bisa anada download rekaman pembahasan kitab dan rasail beliau yang dikaji oleh para asatidzah di Indonesia, BERANI…?

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 07/12/2012, 15:01
  3. anda bukan pensyiar kebenaran! anda penebar fitnah! Ketahuilah ritual maulid dan barjanji yg kami lakukan bukan bentuk ibadah tapi budaya.namun berinflikasi positif bagi jiwa kami,menumbuhkan rasa cinta kpd baginda nabi saw.Maka bagi kami sesuatu yg dpt menyempurnakan karenanya,maka sesuatu itu menjadi penting adanya.Seperti kepentingan anda menyesatkan kami para pecinta rasul tdk ada keburukan bagi kami melainkan kembalinya apa yang anda tuduhkan pd diri anda.Karena kami sayang pada anda maka BERHENTILAH!

    Posted by Sulaiman | 18/12/2012, 12:16
    • Apakah Berdoa Kepada Selain ALLAH itu dibenarkan?
      Apakah anda menganggap kaum muslimin sebelum abad kedus belas hijriyah tidak mencintai Rasulullah sebab kitab al barzanji nanti ada diabad ke duabelas?
      Apakah mencintai nabi bukan sebuah ibadah? kalau ia adalah ibadah -dan inilah yang benar bahkan merupakan syarat ksempurnaan iman- maka segala perkara yang mengantarkan kepada kecintaan terhadap beliau adalah ibadah pula (maka klaim anda bahwa ia bukan ibadah itu gugur sebab pengakuan anda sendiri bahwa ritual tersebut menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi) dan kalau ia bukan ibadah seperti kata anda di awal -meskipun bertabrakan dengan klaim anda berikutnya bahwa ia menumbuhkan rasa cinta- maka bukankah kita dicipta untuk beribadah kepada Allah, maka seharusnya setiap yang tidak ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah itu ditinggalkan.
      Kemudian apa yang ada dalam kitab barzanji ternyata membantah klaim anda bahwa itu bukan ibadah karena di dalamnya ada doa, ada pujian ada shalawat, ada dzikir yang kesemuanya adalah jenis2 ibadah. dan bukankah anda atau banyak orang -termasuk banyak keluarga saya -membaca barzanji dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, mencari berkah sehingga setiap hajatan rasaya kurang afdhal klo gak barzanjian dulu, bahkan sebagian kaum muslimin -banyak keluarga saya juga begitu- menganggap kalau tidak melakukan barzanji ketika beli mobil baru misalnya apalagi untuk usaha, maka usahanya kurang lancar, ataupun kalau untuk kepentingan pribadi maka akan rawan terkena musibah.Di kampung halaman saya, setiap ada orang haji maka tiap malam jum’at -selama jama’ahnya belum pulang- diadakan barzanjian dengan keyakinan kalau tidak diadakan maka jama’ah hajinya bisa terkendala atau sakit bahkan hajinya kurang mabrur. perlu anda ketahui bahwa saya tumbuh besar ditengah keluarga dan masyarakat yang menjadikan Barzanji sebagai point pertama yang harus ada di tiap hajatan. JADI MANAKAH YANG BENAR KLAIM ANDA BAHWA RITUAL BARZANJI HANYALAH BUDAYA ATAU JENIS2 IBADAH (DOA, ISTIGHATSAH, ISTI’ANAH DAN LAINNYA) YANG DISEBUTKAN AL BARZANJI DALAM KITABNYA. MANAKAH YANG BENAR KLAIM ANDA BAHWA ITU HANYA SEKEDAR BUDAYA ATAUKAH KEYAKINAN SEBAGIAN KAUM MUSLIMINSEBAGAIMANA SAYA SEBUTKAN DI ATAS.
      taruhlah itu hanya sebuah budaya tapi budaya siapakah ritual maulid dan barzanji itu? tak lain dan tak bukan itu adalah budaya orang-orang nashrani sebab perayaan maulid dan ritual barzanji tidaklah dikenal dikalangan generasi terbaik umat ini. apakah anda menganggap anda lebih mengetahui kebaikan dari pada para sahabat, tabi’in dan atabaut tabi’in, mereka telah dijamin kebaikannya oleh Rasulullah. oramg nashranilah yg pertama melakukan natal kemudian kaum muslimin latah melakukan perayaan maulid, kaum nashrani memuji nabi isa dengan ghuluw dalam bentuk nyanyian dan syair kemudian kaum muslimin mengikutinya membuat nasyid dan qashidah semisal barzanji dan dalailul khairat. Rasulullah bersabda, ” barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari mereka.” Beliau juga bersabda : “Sungguh kalian akan mengikuti sunnahnya orang2 sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai jika mereka masuk ke lubang biawak nisca kalian akan mengikutinya,” para sahabat bertanya “apakah yahudi dan nashara ya rasulallah?” maka beliau menjawab,” siapa lagi?”
      syair tidaklah tercela secara mutlaq kecuali ketika ia melanggar syariat, dan barzanji sebagaimana dalam transkrip ini memenuhi kitabnya dengan syair-syair syirik. jikalau beristighatsah kepada selain Allah, berdoa kepada selain Allah (Nabi bersabda, “jika engkau meminta mintalah kepada Allah, jika engkau mohon bantuan mohonlah kepada Allah”), meminta perlindungan dan diselamatkan dari api neraka kepada selain Allah (rasulullah pun berdoa diselamatkan dari api neraka) bukanlah sebuah kesesatan maka sungguh saya tidak tahu lagi yang manakah yang di maksud kesesatan.
      Saya tidak punya semangat menyesatkan anda, bahkan ini adalah nasehat untuk semuanya, untuk kaum muslimin seluruhnya termasuk saya untuk menghindari dan menjauhi penggugur seluruh amalan yakni kesyirikan. dan itu karena saya sayang kepada seluruh kaum muslimin agar mereka berhenti dari ritual bid’ah syirkiyyah bernama maulid barzanji,
      jika semua penjelasan yang anda baca di transkrip ini hanyalah seperti angin lalu maka saya cuma bisa mengatakan “lana a’malunah wa lakum a’malukum” namun da’wah dan nasehat agar kaum muslimin selamat dari bahaya kesyirikan akan terus kami lakukan. kesyririkan adalah seperti kata Ali bin ABi Thalib, “seperti rambatan semut hitam di atas batu hitam di tengah malam gelap gulita. WASPADALAH

      Posted by Fahruddin Abu Shafiyyah | 18/12/2012, 13:44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: