SYIAH-UDI

Fatwa dan Rekomendasi MUI Tentang Syiah-udi

Pada hari jum’at tanggal 5 Oktober 2012 tersebar foto copyan berita yang di muat oleh Koran Fajar mengenai perkataan Umar Syihab tentang Syiah, yang oleh Koran fajar dimuat dengan judul MUI : SYIAH SAH SEBAGAI MADZHAB ISLAM. Foto copyan tersebut disebarkan oleh kalangan Syiah pada hari pelaksanaan kegiatan Tabligh Akbar bertema : PANDANGAN ISLAM TERHADAP AGAMA SYIAH di Mesjid Al Markaz Maros, kegiataan yang berusaha mereka (Syiah Raafidhah) gagalkan yang dengan pertolongan dari ALLAH Ta’ala tetap terlaksana, Walhamdulillah. Pernyataan Umar Syihab, mengundang banyak komentar di antaranya salah satu Ketua MUI Pusat, KH. Cholil Ridwan, beliau berkata : “Umar Shihab tampil di TV itu mestinya pendapat pribadi dia tidak berhak untuk mewakili MUI, yang berhak bicara langsung tanpa mandat dari rapat pimpinan itu adalah ketua umum MUI atau ketua koordinator harian KH. Ma’ruf Amin,”

Bahkan menurut beliau MUI telah mengeluarkan rekomendasi agar mewaspadai gerakan Syiah, “Itu memang bukan fatwa, tetapi ada rekomendasi yang bunyinya; umat Islam agar mewaspadai supaya aliran Syi’ah tidak masuk ke Indonesia, itu kan lebih dari pada sesat. Ngapain diwaspadai jangan masuk ke Indonesia kalau itu tidak sesat. Artinya bahaya sekali kalau Syi’ah itu besar di Indonesia nanti akan terjadi konflik yang tidak berkesudahan seperti di Irak, Libanon, Pakistan. Di Pakistan itu mereka Cuma 11% tapi sering kali terjadi masjid masjid Sunni dan Syiah dibakar, tokoh-tokoh Sunni dibunuh dan lain sebagainya,” kata beliau.

Salah seorang pengurus MUI jawa Timur Zein Alkaf berkata,“Atas mandat dari mana Umar Syihab mengatas namakan MUI Pusat,“ beliau juga berkata : “Jadi kalau Syiah dikatakan oleh Umar Syihab tidak sesat, maka Umar Syihab-lah yang ‘SESAT’.

Kemudian perlu diketahui, pada 21 Januari 2012 lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prov Jawa Timur telah mengeluarkan Keputusan Fatwa No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah. Keputusan itu ditetapkan di Surabaya, 21 Januari  2012 lalu, ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Prov Jatim, KH. Abdusshomad Buchori   dan Sekum Drs. H Imam Tabroni, MM. Teks lengkap Fatwa tersebut bisa di download dalam bentuk PDF di https://aboeshafiyyah.wordpress.com.

 

Berikut sebagian petikan Fatwa tersebut :

 

Memperhatikan :

1. Keputusan Fatwa MUI tanggal 7 Maret 1984 tentang Faham Syi’ah yang menyatakan bahwa faham Syi’ah mempunyai perbedaan pokok dengan Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah yang dianut oleh umat Islam di Indonesia.

.

Telaah terhadap kitab yang menjadi rujukan dari faham syi’ah antara lain:

1.    al-Kafi

2.    Tahdzib al-Ahkam

3.    al-Istibshar

4.    Man La Yahdluru al-Faqih

5.    Buku-buku Syi’ah yang lain seperti: Bihar al-Anwar, Tafsir al-Qummi, Fashl alkhithab fi itsbati tahrifi kitabi rabbi al-Arbab, Kasyfu al-Asrar li al-Musawi.

6.    Buku-buku Syi’ah berbahasa Indonesia antara lain: Saqifah Awal Perselisihan Umat tulisan O. Hashem; Shalat Dalam Madzhab Ahlul Bait tulisan Hiayatullah Husein al Habsyi; Keluarga Suci Nabi Tulisan Ali Umar al-Habsyi Berdasarkan kitab-kitab tersebut dapat diketahui adanya perbedaan yang mendasar dengan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian luas) tidak saja pada masalah furu’iyah tetapi juga pada masalah ushuliyah (masalah pokok dalam ajaran Islam) diantaranya:

1.    Faham Syi’ah mengingkari Otentisitas Al-Qur’an dengan mengimani adanya tahrif al-Qur’an (Ushul Al Kaafi 1/284)

2.    Syi’ah meyakini bahwa para sahabat telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah Saw,kecuali tiga orang. (Biharul Anwar 23/390)

3.    Faham Syi’ah melecehkan sahabat Nabi Saw. Termasuk Abu Bakar ra dan Umar ra. (Raudhatul Kafi, Kasyful Asrar)

4.    Faham Syi’ah meyakini bahwa orang yang selain Syi’ah adalah keturunan pelacur (Raudhatul Kafi )

5.    Ajaran Syi’ah menghalalkan darah ahlu al-sunah (Biharul Anwar 27/231)

.

16. Berbagai kajian yang dilakukan oleh para ahli dan para pengamat terkait aliran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah, faham, pemikiran, dan aktivitasnya diantaranya Pendapat Prof. Dr. Muhammad Baharun yang menyatakan bahwa Syi’ah dan Ahlu al-Sunnah tidak mungkin disatukan.

MEMUTUSKAN

1.      Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI daerah yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samara Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.

2.      Menyatakan bahwa penggunaan Istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adalah bentuk pembajakan kepada ahlul bait Rasulullah Saw.

3.      Merekomendasikan:

1.   Kepada Umat Islam diminta untuk waspada agar tidak mudah terpengaruh dengan faham dan ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya)

2.   Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam

3.   Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar tidak memberikan peluang penyebaran faham Syi’ah di Indonesia, karena penyebaran faham Syi’ah di Indonesia yang penduduknya berfaham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah sangat berpeluang menimbulkan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

4.   Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku antara lain membekukan/melarang aktivitas Syi’ah beserta lembaga-lembaga yang terkait.

5.   Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif.

6.   Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani aliran menyimpang karena hal ini bukan termasuk kebebasan beragama tetapi penodaan agama.

7. Kepada Dewan Pimpinan MUI Pusat dimohon agar mengukuhkan fatwa tentang kesesatan Faham Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah sebagai fatwa yang berlaku secara nasional

Pada 6 Nopember 2007 MUI Mengeluarkan Keputusan tentang 10 Kriteria Aliran Sesat/Menyimpang, dan Syiah mencocoki semua kriteria tersebt, baca uraiannya di sini

Kemudian Secara resmi, Departemen Agama (kini Kementerian Agama) telah mengeluarkan Edaran tentang Syi’ah melalui Surat Edaran Departemen Agama Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah” yang di dalamnya dijelaskan tentang aliran-aliran Syiah di antaranya Syiah Imamiyyah/Itsna Atsariyyah/Ja’fariyyah dan bahwa perbedaan antara Syiah dan Ahlus Sunnah adalah perbedaan pada masalah Aqidah dan Dasar-dasar Agama sehingga tidak bisa dipersatukan.

Pada poin ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah (yang di Iran dan juga merembes ke Indonesia, red) disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam di antaranya :

a.    Mereka menganggap Abu Bakar dan Umar telah merampas jabatan Khalifah dari pemiliknya, yaitu Ali. Oleh karena itu mereka memaki dan mengutuk kedua beliau tersebut. Seakan-akan laknat (mengutuk) disini merupakan sebagian dari ajaran agama.

b.    Mereka memberikan kedudukan kepada Ali setingkat lebih tinggi dari manusia biasa. Ia merupakan perantara antara manusia dengan Tuhan.

c.    Malahan ada yang berpendapat bahwa Ali dan Imam-imam yang lain memiliki sifat-sifat Ketuhanan.

d.    Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

 Lalu dalam Surat Edaran Departemen Agama itu dinyatakan sbb:

Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.” (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5).

Pada tanggal 7 Maret 1984 MUI Pusat Mengeluarkan Keputusan tentang Faham Syi’ah yang menyatakan bahwa faham Syi’ah mempunyai perbedaan pokok dengan Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah yang dianut oleh umat Islam di Indonesia

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti disebutkan di atas—terutama mengenai perbedaan tentang “imamah” (pemerintahan), MUI mengimbau umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah.

Pada Tahun 2009 MUI Menerbitkan Buku MENGAWAL AQIDAH UMAT : Fatwa MUI Tentang Aliran-Aliran Sesat di Indonesia”, pada halaman 44, MUI telah memasukkan Faham Syiah ke dalam “Daftar Inventaris Tentang Aliran Sesat Fatwa MUI Sejak 1971-2007”. Bahkan judul itu diberi tanda bintang (*)

Pada Tahun 2011 MUI bekerjasama dengan Penerbit Erlangga Menerbitkan Buku HIMPUNAN MUI FATWA SEJAK 1975. Buku setebal 984 halamanitu berisi ratusan Fatwa MUI sejak awal mula lembaga keagamaan terbesar di Indonesia itu lahir pada 26 Juli 1975 lalu, dimana Prof Dr Buya Hamka sebagai Ketua Umum MUI yang pertama dan fatwa tentang syiah berada dalam halaman 46-47

Terakhir pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali, -sebagaimana diberitakan oleh mediaindonesia.com tertanggal 25 januari 2012- tetap berpegang dengan hasil Rakernas MUI pada 7 Maret 1984 di Jakarta yang merekomendasikan umat Islam Indonesia agar waspada terhadap menyusupnya paham syiah dengan perbedaan pokok dari ajaran Ahli Sunna Waljamaah. Menteri Agama berkata dalam siaran persnya, “ …..Siapa saja yang menganggap syiah tidak sesat berarti dia sesat,”

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: