SYIAH-UDI

Syiah-udi Mencela Allah dan Rasulullah

Syiah adalah agama yang dibangun di atas celaan dan kebencian terhadap para sahabat Rasulullah terutama dua orang mertua dan Khalifah Rasyid –Abu Bakar dan Umar- di antara celaan mereka bisa di baca di sini “Abu Bakar dan Umar di Mata Syiah-Udi”. Celaan terhadap sahabat Rasulullah sebenarnya adalah celaan terhadap Rasulullah sendiri dan juga meruapakan celaan terhadap Allah.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang sebenarnya berambisi untuk mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata tidak mampu. Maka akhirnya mereka mencela para shahabatnya sampai kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat, karena kalau memang beliau orang baik, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang baik pula.”

Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata: “Bila engkau melihat seseorang merendahkan kedudukan seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah Zindiq (munafiq). Sebab, Sunnah Rasul dan Al-Qur`an adalah kebenaran di sisi kita. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur`an dan As-Sunnah tadi kepada kita adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (Syi’ah Rafidhah) mencela para saksi kita dengan tujuan untuk menggugurkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Justru mereka inilah yang lebih pantas untuk dicela. Merekalah orang-orang zindiq.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Celaan terhadap mereka (para shahabat) adalah celaan terhadap agama ini.”

Berkata Asy-Sya’bi rahimahullah: “Yahudi dan Nashrani memiliki satu keunggulan atas rafidhah, aku bertanya kepada Yahudi: “Siapa orang terbaik di agama kalian?” mereka menjawab: “para shahabat Musa” Aku bertanya kepada Nashrani: “Siapa orang terbaik di agama kalian?” mereka menjawab: “para shahabat Isa.” Dan Aku bertanya kepada Rafidhah: “Siapa orang terjelek di agama kalian?” mereka menjawab: “Para shahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Di antara kekejian mereka adalah tuduhan mereka terhadap Ibunda ‘Aisyah dengan menggelari beliau Pelacur, Ibunya Kejelekan, Ibunya Syaithan (lengkapnya Baca di sini Kedudukan Aisyah di Mata Syiah-udi). Celaan terhadap ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan juga terhadap Ibunda Hafshah radhiallahu ‘anha adalah celaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahkan celaan terhadap Allah Ta’ala. Mereka yang mencela para sahabat dan istri-istri Nabi radhiallahu ‘anhum secara sadar atau tidak mengatakan bahwa Allah telah membiarkan Rasul-Nya bersahabat dengan orang-orang bejat dan durjana dan bahkan Allah telah menikahkan Rasul-Nya dan membiarkannya tetap di atas pernikahannya dengan wanita-wanita pelacur, dan Allah telah membiarkan Rasul-Nya menikahkan dua orang putrinya dengan seorang yang akan Murtad dan jadi orang kafir, apakah menurut orang Syiah bahwa Allah tidak tahu akan hal itu, kalau menurut Syiah Allah tidak tahu apa yang akan terjadi, maka kita tahu bersama hukum terhadap orang yang berkeyakinan seperti ini, dan kalau Syiah mengatakan bahwa Allah tahu akan kafir dan murtadnya para sahabat termasuk mertua dan menantu Rasulullah, berarti Syiah telah mencela Allah karena membiarkan hal itu terjadi. wal ‘iyadzu billah. Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat jelas bagi orang yang berakal.

Kemudian perlu diketahui bahwa hal di atas akan dibantah oleh mereka dengan adanya keyakinan mereka yakni keyakinan Al-Bada’. Al Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah Ta’ala. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi dan mereka bersyerikat dengan Mu’tazilah dalam perkara ini.

Bahkan dengan keyakinan ini mereka menganggap Allah itu bodoh dan plin-plan sebab bisa jadi Allah telah menetapkan dan memutuskan suatu perkara kemudian Allah berubah pikiran dan menganulir keputusan dan ketetapan sebelumnya dengan ketetapan baru. Ini di antaranya untuk melindungi jika “imam” mereka telah melakukan suatu kekeliruan atau salah prediksi. Misalnya dalam salah satu riwayat mereka bahwa imam mereka Abul Hasan telah menetapkan bahwa pengganti setelahnya adalah Abu Ja’far tapi ternyata Abu Ja’far meninggal maka mereka mengatakan “Ini adalah Al Bada’” artinya Allah telah berubah pikiran.[1]

Keyakinan Al bada’ ini juga adalah keyakinannya moyangnya Syiah yakni Yahudi.  Sementara keyakinan Ahlus Sunnah adalah bahwasanya Allah Ta’ala itu mengetahui segala sesuatu yang terjadi, yang akan terjadi dan bagaimana terjadinya. Maka bisakah Ahlussunnah dan Syi’ah bergandengan tangan, ataukah masih muslimkah mereka-mereka yang berkeyakinan seperti di atas.


[1] Dari penjelasan Al Ustadz Dzulqarnain di Tabligh Akbar Maros “Pandangan Islam Terhadap Agama Syiah” download  rekamannya dan kajian tentang kesesatan syiah lainnya disini

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: