Aqidah, Manhaj

Mulailah Dengan Tauhid wahai Para Da’i… Wahai Kaum Muslimin

Suatu fenomena yang tidak bisa kita pungkiri adalah terpuruknya ummat Islam di berbagai sisi kehidupan. Mulai dari sisi ekonomi, politik, moral-akhlaq bahkan sisi ‘aqidahnya dan hampir semua sisi kehidupannya, ummat Islam dalam keadaan lemah. Dari fenomena ini muncul para pemerhati kehidupan ummat yang berusaha untuk mengangkat keterpurukan tersebut. Kita lihat bagaimana gigihnya mereka dalam usahanya tersebut, mulai dari mengadakan seminar-seminar sampai kepada aplikasi nyata berupa praktek di lapangan. Dari gambaran ini nampaknya mereka benar-benar ikhlash dalam usahanya tersebut.

Di antara mereka ada yang memulai dengan membenahi sisi ekonominya dengan beralasan bahwa jika ummat ekonominya kuat maka akan jaya. Yang lainnya lebih menitik beratkan sisi politiknya, sosial budaya, moral-akhlaq dan lainnya dengan mengemukakan argumentasinya masing-masing.

Tapi, wahai saudaraku kaum muslimin, apa yang diperoleh mereka dengan usahanya tersebut? Kejayaan? Kemakmuran? Kesejahteraan? Atau bahkan ummat semakin terpuruk keadaannya?
Benar, ummat Islam bukannya semakin membaik bahkan semakin terpuruk kehidupan mereka, walaupun berbagai kalangan cendekiawan, ekonom, elit politik telah berusaha mengatasinya. Mengapa hal ini terjadi wahai saudaraku? Apa yang salah dari usaha mereka?

Iya, kita semua tidak bisa memungkiri usaha mereka tersebut, yang kita menyangka mereka itu benar-benar ikhlash dan kita berharap demikian. Tapi ingat, tidak cukup semata-mata ikhlash dalam melakukan suatu ibadah (memperbaiki kondisi ummat) bahkan harus ditambah syarat yang kedua yaitu sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana Rasulullah mengatasi keterpurukan ummat pada zamannya, apakah memulai dengan ekonomi, politik, sosial-budaya, moral-akhlaq atau bagaimana? Jawabannya ada dalam hadits berikut ini:

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda: “Sesungguhnya Engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlul Kitab (Yahudi & Nashara), maka jadikanlah yang pertama kali Engkau serukan kepadanya adalah syahadat (persaksian) bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah -dalam suatu riwayat: sampai mereka mentauhidkan Allah- maka jika mereka mentaatimu terhadap perkara tersebut, maka beritahukan kepada mereka bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, kemudian jika mereka mentaatimu dalam perkara tersebut maka beritahukan kepada mereka bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang faqirnya. Maka jika mereka mentaatimu terhadap perkara tersebut maka hati-hatilah kamu dari harta-harta mulia (berharga dan paling mahal) milik mereka dan takutlah dari do’anya orang yang terzhalimi karena sesungguhnya tidak ada antara do’a tersebut dan Allah suatu hijab (penghalang) pun.” (Muttafaqun ‘alaih).


Urgensi Tauhid dalam Kehidupan

Kita lihat, bagaimana Rasulullah menyuruh Mu’adz agar memulai dakwahnya kepada penduduk Yaman dengan tauhid, dalam keadaan penduduk negeri Yaman adalah orang-orang miskin yang tentunya butuh perbaikan ekonomi. Inilah manhaj dakwah para Nabi dalam memperbaiki kondisi ummat dengan memulai tauhid terlebih dahulu. Dengan inilah Nabi dan para shahabatnya mencapai kejayaan di mana Romawi dan Persi -bangsa adi kuasa pada waktu itu- tunduk di bawah telapak kaki-telapak kaki mereka.

Kalau ada yang bertanya, bahwa yang didakwahi oleh Mu’adz adalah orang-orang kafir (Ahlul Kitab) tentu tauhidlah yang paling utama agar didakwahkan kepada mereka, sedang di negeri kita adalah orang-orang muslim yang sudah mengetahui tauhid?

Kita jawab: benar di negeri kita adalah orang-orang muslim tapi sudahkah mereka mengetahui makna dan hakikat tauhid (kalimat syahadat) dengan sebenar-benarnya dan melaksanakan konsekuensi kalimat tersebut dalam amalan mereka? Cobalah renungkan pertanyaan ini, wahai orang-orang yang ingin memperbaiki kondisi ummat!

Tidakkah kita lihat, masih banyak di antara kaum muslimin yang mendatangi kuburan para wali (atau yang dianggap wali), mereka berdo’a kepadanya, meminta rizki kepadanya dan meminta agar dipenuhi berbagai kebutuhan mereka kepada orang-orang yang ada dalam kuburan tersebut. Bukankah ini kesyirikan yang nyata! Belum lagi praktek-praktek kesyirikan lainnya yang mereka lakukan.

Sungguh benar firman Allah Ta’ala:

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Yuusuf:106).

Al-Haitsamiy menjelaskan ayat ini: “Banyaknya manusia terjerumus kepada kesyirikan tanpa mereka sadari.”

Subhaanallaah, Allaahu Akbar!. Musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah terjatuh kepada kesyirikan dan kekufuran tanpa mereka sadari. Apakah kita ridha kalau saudara kita atau teman kita sesama muslim atau bahkan kita sendiri jatuh kepada kesyirikan tanpa kita sadari ???

Sungguh, wahai saudaraku kaum muslimin, kalau sebagian dari kita terjatuh kepada kesyirikan atau kekufuran dalam keadaan dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin dan dakwah Islam telah sampai kepadanya maka dia tidak dimaafkan (tidak ada ‘udzur baginya) karena telah tegak hujjah atasnya. Kalau dia mati dan masih dalam keadaan demikian (berbuat syirik) maka kita perlakukan dia sebagaimana kita memperlakukan kaum musyrikin.

Na’uudzubillaahi min dzaalik, Nas`alullaahas Salaamah wal ‘Aafiyah. Aamiin.

Untuk itu, wahai saudaraku kaum muslimin, wajib atas kita, wajib atas kita dan sekali lagi wajib atas kita untuk mempelajari tauhid dengan sebenar-benarnya -dan mementingkan perkara ini-, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada keluarga kita, tetangga dan kaum muslimin secara umum. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahriim:6).


Manhaj Dakwah kepada Allah

Hadits tersebut (hadits Ibnu ‘Abbas di atas-pent) menjelaskan langkah-langkah yang wajib yang harus ditempuh oleh seorang da’i yang menyeru kepada Allah, maka awal sesuatu yang wajib ia mulai adalah berdakwah kepada tauhid dan mengesakan Allah semata dengan ibadah dan menjauhi kesyirikan yang kecilnya dan yang besarnya, dan yang demikian itu (akan tercapai) dengan menyerukan kepada persaksian bahwasanya tidak ada yang berhaq diibadahi selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah.
Dan maksud dari syahadat tersebut adalah bahwasanya ibadah-ibadah dengan semua jenisnya adalah haq yang tetap untuk Allah semata, yang selain-Nya tidak berhaq sedikitpun darinya, tidak dari malaikat yang didekatkan, Nabi yang diutus, ataupun orang yang shalih, tidak pula batu, pohon, matahari, bulan ataupun yang lainnya.
Maka tidak ada yang berhak diberikan do’a kecuali Allah semata, tidak ada yang berhaq dimintai istighatsah (minta dihilangkan dari kesusahan, kesempitan, mara bahaya dan sejenisnya) kecuali kepada-Nya, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali kepada-Nya, tidak ada yang berhak ditawakkali kecuali kepada-Nya dan tidak ada yang berhak ditakuti dan diharapkan kecuali Dia.

Maka barangsiapa yang memalingkan sesuatu dari ibadah-ibadah ini atau yang lainnya kepada selain Allah maka sungguh ia telah berbuat syirik kepada Allah.

Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maa`idah:72).

Dan tidaklah yang diinginkan dari (pengucapan) kalimat Laa ilaaha illallaah adalah pengucapan dengan lisan semata bahkan wajib untuk mengetahui maknanya dan beramal dengan tuntutan kalimat tersebut dan juga harus menyempurnakan syarat-syaratnya, syarat-syaratnya itu ada tujuh, yaitu:

  1. Al-‘ilmu, yaitu mengetahui maknanya dengan benar yang meniadakan kebodohan akan maknanya;
  2. Al-Yaqiin, yaitu meyakini kebenaran kalimat tersebut yang meniadakan adanya keraguan;
  3. Al-Qabuul, yaitu menerima dengan sepenuh hati konsekuensi/tuntutan kalimat tersebut yang meniadakan penolakan;
  4. Al-Inqiyaad, yaitu tunduk dan patuh terhadap kalimat tersebut artinya kita melaksanakan dengan sebaik-baiknya tuntutan kalimat tersebut, yang meniadakan dari meninggalkan kalimat tersebut;
  5. Al-Ikhlaash, yaitu kita mengucapkan kalimat tersebut karena Allah Ta’ala bukan karena riya’ atau lainnya, yang meniadakan adanya kesyirikan;
  6. Ash-Shidqu, yaitu jujur dalam mengucapkan kalimat tersebut yang akan meniadakan kedustaan;
  7. Al-Mahabbah, yaitu mencintai kalimat tersebut, mencintai Allah, Rasul-Nya dan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, yang meniadakan kebencian;
  8. Ada yang menambahkan syarat yang kedelapan yaitu, mengkufuri semua yang diibadahi selain Allah.

Dan yang dimaksud dengan “Syahaadatu anna Muhammadan Rasuulullaah” adalah mengetahui maknanya dan beramal dengan konsekuensi-konsekuensinya. Maka tidaklah yang diinginkan juga semata-mata pengucapan dengannya (tetapi) yang diinginkan adalah membenarkan apa-apa yang beliau khabarkan, mentaati apa-apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa-apa yang beliau larang dan cegah dan beribadah kepada Allah dengan yang Allah syari’atkan kepada lisan Rasul yang mulia ini, tidak dengan hawa nafsu dan tidak pula dengan kebid’ahan.

Maka wajib atas setiap muslim mengetahui (makna) dua kalimat syahadat ini dengan pemahaman yang sebenar-benarnya dan beramal dengan sungguh-sungguh dengan tuntutan-tuntutan kedua kalimat tersebut, yaitu pembenaran, keimanan dan beramal dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, baik yang berkaitan dengan ‘aqidah maupun yang berkaitan dengan ibadah-ibadah dan syari’at-syari’at dalam setiap sisi kehidupan.
Faidah yang dapat diambil dari hadits ini:

  1. Bahwasanya tauhid adalah pokoknya Islam.
  2. Bahwasanya rukun Islam yang paling penting setelah tauhid adalah menegakkan shalat.
  3. Bahwasanya sewajib-wajib rukun Islam setelah shalat adalah zakat yang wajib, yaitu merupakan dari hak harta.
  4. Sesungguhnya seorang imam adalah yang bertugas mengambil zakat dan membagikannya (kepada yang berhaq) baik oleh dirinya sendiri atau oleh wakilnya.
  5. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya cukup mengeluarkan zakat kepada satu golongan.
  6. Bahwasanya tidak boleh membagikan zakat kepada orang kaya.
  7. Bahwasanya diharamkan atas petugas zakat mengambil harta terbaiknya (dan juga bagi yang mengeluarkan zakat tidak boleh memberikan yang paling buruknya, tapi berikan yang pertengahannya).
  8. Dalam hadits ini terdapat peringatan agar berhati-hati dari semua jenis kezhaliman.
  9. Diterimanya khabar dari seseorang yang adil (khabar ahad) dalam masalah aqidah dan amalan.
  10. Agar seorang da’i memulai dalam dakwahnya dengan sesuatu yang paling penting kemudian yang penting dan seterusnya.

{Lihat Mudzakkiratul Hadiits An-Nabawiy fil ‘Aqiidah wal Ittiba’ karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaliy}. Wallaahu a’lamu bish Shawaab.

 

Judul Asli : Prioritaskan Tauhid Wahai Kaum Muslimin!

Sumber :

Buleti Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-11 Tahun ke-2 / 06 Februari 2004 M / 15 Dzul Hijjah 1424 H

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: