Akhlaq, Fiqih/Tanya Jawab

Hukum Mengeraskan Suara dalam Dzikir Setelah Shalat

Dalam masalah ini, berkata Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah: “Ada satu hadits dalam Ash-Shahiihain dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami mengetahui selesainya shalat pada masa Nabi karena suara dzikir yang keras.”
Akan tetapi sebagian ‘ulama mencermati dengan teliti perkataan Ibnu ‘Abbas tersebut, mereka menyimpulkan bahwa lafazh “kunna” (kami dahulu), mengandung isyarat halus bahwa perkara ini tidaklah berlangsung terus-menerus.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’iy dalam kitab Al-Umm bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya ketika berdzikir adalah untuk mengajari orang-orang yang belum bisa melakukannya. Dan jika amalan tersebut untuk hanya pengajaran maka biasanya tidak dilakukan secara terus-menerus.
Ini mengingatkanku akan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang bolehnya imam mengeraskan suara pada bacaan shalat padahal mestinya dibaca perlahan dengan tujuan untuk mengajari orang-orang yang belum bisa.

Ada sebuah hadits di dalam Ash-Shahiihain dari Abu Qatadah Al-Anshariy rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu terkadang memperdengarkan kepada para shahabat bacaan ayat Al-Qur`an di dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar, dan ‘Umar juga melakukan sunnah ini.

Al-Imam Asy-Syafi’iy menyimpulkan berdasarkan sanad yang shahih bahwa ‘Umar pernah menjahrkan (mengeraskan) do’a iftitah untuk mengajari makmum, (maka hadits dan atsar inilah) yang menyebabkan Al-Imam Asy-Syafi’iy, Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya berkesimpulan bahwa hadits di atas (hadits Ibnu ‘Abbas) mengandung maksud pengajaran. Dan syari’at telah menentukan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi.
Walaupun hadits: “Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi (perlahan)”, sanadnya dha’if akan tetapi maknanya shahih.
Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara keras, sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ariy yang terdapat dalam Ash-Shahiihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berkata: Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesungguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat kepada kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri.”

Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur`an, orang yang masbuq dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian sedang bermunajat (yaitu beribadah) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan suaranya atas sebagian yang lain dalam membaca Al-Qur`an yang menyebabkan orang-orang mukmin terganggu.” (HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id Al-Khudriy rodhiyallahu ‘anhu).” (Lihat Fatwa-fatwa Asy-Syaikh Al-Albaniy)
Sehingga dengan keterangan ini, dapat dipahami perkataan Asy-Syaikh Sulaiman bin Sahman di atas.

 

Sumber :

Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-18 Tahun ke-2 / 26 Maret 2004 M / 04 Shafar 1425 H 

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: