Akhlaq, Fiqih/Tanya Jawab

Definisi Bid’ah dan Mengembalikan Barang Curian

Tanya: Assalamu ‘alaikum wr. wb. Saya ingin bertanya tentang:

1. Pengertian bid’ah dan bagaimana perbuatan itu bisa dikategorikan bid’ah?

2. Mencuri barang di perusahaan yang ada di kota A apakah harus di kembalikan lagi ke kota A sementara kita sudah pindah kota D? Sementara si pengambil ingin mengembalikan barang tersebut. Bagaimanakah caranya / solusinya? Apakah kita harus mengembalikan ke kota A atau kita kembalikan di kota D (di kota D tersebut ada anak cabang perusahaannya dimana si pengambil pernah mengambil barang tersebut di kota A)?

Demikian pertanyaan dari saya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(bdg…@apacinti-online.com)

Jawab:

Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Bid’ah secara bahasa artinya sesuatu yang baru diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya, seperti firman Allah, “Katakanlah: Aku bukanlah rosul yang pertama di antara rosul-rosul.” (QS Al Ahqaaf: 9).

Yakni, aku bukanlah rosul yang pertama diutus, telah diutus rosul-rosul sebelumku. (Al Bid’ah wa Atsaruha As Sayyi` fil Ummah: 7).

Adapun secara istilah adalah apa yang disebutkan oleh Imam Asy Syathibi, “Bid’ah adalah gambaran tentang tata cara dalam agama yang baru diada-adakan yang bertentangan dengan syariat.” (Al I’tisham 1/37, dari Al Bid’ah wa Atsaruha As Sayyi`: 9).

Maka bid’ah dalam syariat adalah setiap yang beribadah kepada Allah namun tidak disyariatkanNya baik dalam hal aqidah, ucapan, atau perbuatan. Jadi bila seseorang memunculkan aqidah yang baru dalam hal nama-nama dan sifat Allah misalnya, maka dia mubtadi’ (berbuat bid’ah), atau mengucapkan perkataan dan melakukan perbuatan yang tidak disyariatkan oleh Allah dan RosulNya, maka dia telah berbuat bid’ah. (Syarh Riyadhush Sholihin: 1/642).

Mengenai pertanyaan yang kedua, maka jawabannya: Kami anjurkan agar mengembalikan barang yang telah diambil itu ke perusahaan yang ada di kota A dimana si pengambil telah mengambilnya dari perusahaan tersebut, sebab mencuri adalah berarti mengambil hak yang lain dengan cara yang zholim, sementara hak yang diambilnya itu haruslah dikembalikan kepada si pemiliknya atau ke tempat dia mengambilnya. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh pasti semua hak akan dikembalikan pada yang berhak pada hari kiamat hingga kambing yang tidak bertanduk diberi hak (kesempatan) membalas pada kambing yang bertanduk.” (HR Muslim dari Abu Hurairoh). Dalam hadits ini terdapat kewajiban mengembalikan hak pada si pemiliknya (Bahjatun Nazhirin: 1/300).

Wal ‘ilmu ‘indallah.

Sumber :

Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-22 Tahun ke-2 / 23 April 2004 M / 04 Rabi’ul Awwal 1425 H

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: