Manhaj

Adakah Pengingkaran dalam Masalah Ijtihaadiyyah?

Kaidah keempat (kaidah pertama baca di sini, kaidah kedua di sini, kaidah ketiga di sini) dalam beramal dengan sunnah adalah apakah diperbolehkan ada pengingkaran dalam masalah Ijtihaadiyyah?

Adalah kesalahan sebagian besar orang ketika mereka meyakini, bahwa permasalahan khilaaf (yang diperselisihkan) adalah permasalahan ijtihaad. Sehingga akibatnya mereka terjerumus dalam ketergelinciran yang mengkhawatirkan dengan mengatakan: “Sesungguhnya di dalam masalah-masalah khilaf tidak boleh ada pengingkaran.”

Perkataan ini baathil, yang akan membawa konsekuensi yang merusak dan akan menafikan sebagian besar perkara amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Dan Ibnul Qayyim telah bagus sekali dalam membantah pernyataan itu dalam kitab: I’laamul Muwaqqi’iin (3/288) dengan mengatakan: “Perkataan mereka: Sesungguhnya di dalam permasalahan khilaf tidak boleh ada pengingkaran,” itu tidaklah benar. Karena, sesungguhnya pengingkaran itu mungkin diarahkan kepada suatu perkataan, fatwa atau amalan.

Adapun untuk yang pertama (perkataan): apabila suatu perkataan itu menyelisihi sunnah atau ijmaa’ yang telah nyata, maka wajib untuk diingkari secara ittifaaq (kesepakatan). Jika tidak (mengingkari secara ittifaq), maka menjelaskan kelemahan dan penyelisihannya terhadap dalil merupakan suatu pengingkaran juga.

Adapun untuk amalan: apabila suatu amalan menyelisihi sunnah atau ijma’, wajib diingkari sesuai dengan tingkatan pengingkarannya.

Bagaimana bisa seorang faqih mengatakan: “Tidak ada pengingkaran di dalam masalah-masalah yang diperselisihkan”, sedangkan para ahli fiqh dari seluruh kelompok telah terang-terangan menyatakan gugurnya ketetapan seorang hakim, apabila menyelisihi Al-Kitaab atau As-Sunnah, walaupun dia telah mencocoki sebagian ‘ulama dalam masalah itu?

Adapun jika dalam suatu masalah tidak dijumpai dalil dari sunnah atau ijma’, maka ijtihad dalam masalah itu diperbolehkan dan tidak boleh diingkari orang yang mengamalkannya dengan berijtihad sendiri atau dengan cara taqlid.

Kerancuan ini hanyalah dari sisi, bahwa orang yang berbicara ini meyakini: masalah khilaf adalah masalah ijtihad, sebagaimana juga diyakini oleh kebanyakan orang yang tidak mendalami ilmu.

Dan yang benar adalah yang dipegang oleh para imam: bahwa masalah ijtihad adalah masalah yang padanya tidak terdapat dalil yang jelas yang mewajibkan beramal dengannya, seperti: hadits shahih yang tidak ada penghalang dari sejenisnya (hadits yang lainnya), maka diperbolehkan padanya ijtihad -apabila tidak didapati dalil yang jelas yang mewajibkan beramal dengannya- dikarenakan saling bertabrakan atau tersamarnya dalil-dalil yang ada.

Dan (permasalahan ini) bukanlah di dalam perkataan seorang ‘ulama: “Sesungguhnya masalah ini adalah masalah yang qath’iyyah (jelas dan pasti) atau yaqiiniyyah (meyakinkan) dan tidak diperkenankan di dalamnya ijtihad”, merupakan tikaman bagi orang yang menyelisihinya dan tidak menisbatkan (mengaitkan) kesengajaan menyelisihi yang benar (kebenaran).
Artinya orang yang sengaja menyelisihi kebenaran maka orang ini tidak dimaafkan dan harus ditahdzir karena dia menentang kebenaran, adapun orang yang tergelincir dan terjatuh dalam kesalahan tapi tidak menyengaja untuk menyelisihi kebenaran maka orang ini dimaafkan tapi tidak boleh diikuti kesalahannya tersebut.
(Lihat Syarhussunnah, Al-Barbahariy hal.68)

Dan permasalahan yang diperselisihkan oleh kaum salaf (orang-orang dahulu) dan khalaf (orang-orang belakangan), sungguh telah kita yakini akan kebenaran salah satu dari dua pendapat di dalamnya, banyak contohnya: misalnya, perempuan yang hamil masa ‘iddahnya dihitung dengan melahirkan; sunnah dalam ruku’ adalah meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut tanpa disertai dengan praktek; mengangkat kedua tangan ketika akan ruku’ dan bangkit darinya adalah sunnah dst masih banyak sekali contohnya.
Oleh karena itu para imam secara terang-terangan menggugurkan hukum orang yang telah menghukumi dengan menyelisihi kebanyakan masalah ini, tanpa menikam/mencela atas orang yang berpendapat dengannya.

Bagaimanapun juga, tidak ada ‘udzur (alasan) di sisi Allah pada hari kiamat bagi orang yang telah sampai kepadanya hadits-hadits dan atsar (para shahabat) yang di dalamnya tidak ada pertentangan, namun dilemparkannya (hadits dan atsar) ke belakang punggung-punggung mereka lalu mengikuti orang yang justru telah melarang untuk taqlid kepadanya dengan mengatakan: “Tidak halal bagimu untuk berpendapat dengan pendapatku, jika pendapatku itu menyelisihi sunnah.”

Demikianlah perkataan Ibnul Qayyim, benar-benar jelas dan mantap.

Dan sudah menjadi perkara yang dimaklumi di kalangan ahlul ‘ilmi, bahwa masalah syari’at terbagi menjadi dua macam:

  1. Jenis yang disepakati dan
  2. Jenis yang diperselisihkan.

Adapun untuk (jenis) masalah yang diperselisihkan itu sendiri ada beberapa tingkatan, di antaranya: perselisihan yang kembalinya kepada lafazh, ada juga yang salah satu sisi perselisihannya jelas akan kelemahannya dan gugur (pendapatnya tersebut): maka tidak diragukan lagi di sini, bahwasanya wajib untuk mengingkari pendapat yang lemah dan mengkritik/menggugurkan ketetapan hakim yang telah menetapkan dengan pendapat yang lemah tersebut.

Dan yang termasuk masalah khilaf adalah masalah yang saling berdekatan pemahamannya dan dalil-dalil di dalamnya sepadan. Maka jadilah ketentuan hukumnya diserahkan kepada istinbaath (pengambilan/penarikan kesimpulan hukum) dari nash syar’i. Inilah yang dikenal dengan masalah -Al-Ijtihaadiyyah- dan hukum dalam masalah ini:

  1. Saling menasehati di antara orang yang berselisih, dilakukan dengan berdiskusi secara ‘ilmiyyah yang akan membuahkan kebenaran dan menerangkan sudut pandang serta hujjah dari masing-masing pendapat.
  2. Apabila salah satu pihak belum puas dengan hujjah dan sudut pandang dari pihak lain, maka janganlah hal itu menjadi pendorong munculnya kekerasan, pengingkaran dan perpecahan.
  3. Apabila ketidakpuasan itu tanpa didasari oleh hujjah, akan tetapi oleh fanatik kepada madzhab, hawa nafsu atau selainnya, maka disikapi dengan keras serta diingkari pelakunya. Karena ‘ibrah dalam perselisihan itu ialah hujjah, bukan selainnya.

Yang termasuk contoh masalah ijtihaadiyyah ini adalah yang telah ada di dalam Ash-Shahiihain, bahwa Nabi menyeru kepada para shahabatnya ketika hendak pulang dari perang Ahzaab: “Janganlah seorangpun melaksanakan shalat Zhuhur, kecuali di Bani Quraizhah.” Pada saat itu sebagian orang merasa khawatir akan hilangnya waktu Zhuhur, sehingga mereka melaksanakan shalat sebelum sampai di Bani Quraizhah. Dan sebagian yang lainnya berkata: “Kita tidak melaksanakan shalat, kecuali sesuai yang telah diperintahkan oleh Rasulullah walaupun kita kehilangan waktunya.”
Dia (perawi) berkata: “Tidaklah Nabi mencela salah satu dari dua kelompok ini.” Lafazh tersebut dari Muslim. Sedangkan untuk lafazh Al-Bukhariy, kata “Zhuhur” diganti: “‘Ashar”. (Al-Bukhariy 7/407-Fath dan Muslim 12/97-An-Nawawiy)

Dari hadits tersebut kita dapat melihat ikhtilaaf yang terjadi di kalangan para shahabat dalam memahami nash (perkataan) yang mereka dengar dari Nabi, maka setiap kelompok mencukupkan dengan menyebutkan sandarannya (nash dan dalil) masing-masing. Maka ketika mereka tidak menemui kepuasan dengan pemahaman temannya, setiap orang dari kedua kelompok ini mengamalkan yang nampak benar baginya.

Dan di antara dua kelompok itu tidaklah saling mencela atau menegur dengan keras. Tidak juga dari pemilik syari’at (Nabi) kepada mereka.

Dan masih banyak contoh serupa yang lain -dalam masalah ijtihadiyyah- dalam sejarah para shahabat dan tabi’in.

Untuk permasalahan seperti di atas, berkata Sufyan Ats-Tsauriy: “Apabila engkau melihat seseorang beramal dengan amalan yang diperselisihkan dan engkau mempunyai pendapat yang berbeda, maka janganlah kamu mencegahnya.” (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/69)

Yahya bin Sa’id Al-Anshariy berkata: “Senantiasa para mufti berfatwa, kemudian menghalalkan ini dan mengharamkan itu, janganlah orang yang mengharamkan berpendapat, bahwa orang yang menghalalkan akan binasa dengan penghalalannya dan jangan (pula) orang yang menghalalkan itu berpandangan, bahwa orang yang mengharamkan akan binasa dengan pengharamannya.” (Jaami’ Bayaanil ‘Imi wa Fadhlih 2/80)

Kalimat-kalimat ini dan semisalnya mengandung permasalahan ijtihadiyyah. Karena kenyataan orang yang mengatakannya dan selainnya dari kalangan salaf (yaitu): mengingkari atas orang yang telah keliru dalam fatwa dan hukum, kecuali apa yang tergolong masalah ijtihadiyyah, maka mereka mencukupkan dengan melakukan diskusi dan munaashahah (saling menasehati).

Berkata Naazhim Muhammad Sulthaan: “Kemungkaran yang wajib atas kita untuk menghilangkannya adalah apa-apa yang telah disepakati di antara kaum muslimin bahwasanya hal itu adalah mungkar, seperti riba, zina, minum khamr, tabarruj (membuka aurot yang wajib ditutupi di hadapan yang bukan mahromnya), meninggalkan shalat, dll.

Adapun perkara-perkara yang para ‘ulama ikhtilaf dalam keharamannya atau kewajibannya, maka apabila khilaf itu padanya terdapat pendapat yang lemah sedangkan hujjah dimiliki oleh golongan yang berpendapat tentang haramnya hal tersebut, maka jika seperti ini (keadaannya), diingkari orang yang melakukannya.
Dan jika khilaf itu kuat dan sulit untuk melakukan tarjiih (menguatkan salah satu pendapat) yang tidak mampu melakukannya kecuali dengan kritikan yang mendalam dari para ‘ulama, maka seperti ini -wallaahu a’lam- tidak diingkari atas pelakunya.
(Qawaa’id wa Fawaa`id minal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.290-291)

 

Kesimpulannya, para ‘ulama membagi permasalahan khilaf itu menjadi dua bagian, pertama Al-Qaulul Qawiy (pendapat yang kuat) dan bagian yang kedua adalah Al-Qauludh Dha’iif (pendapat yang lemah).

Contoh bagian pertama di antaranya adalah hukum jual beli secara kredit, sebagian ‘ulama ada yang mengharamkan dan sebagian yang lainnya membolehkannya; bersedekap setelah bangkit dari ruku’; membaca Al-Fatihah di belakang imam dalam shalat jahr; dll. Permasalahan ini tidak bisa kita mengingkari terhadap orang yang berbeda dengan kita karena masing-masing mempunyai hujjah yang kuat yang memungkinkan untuk diambil dan sulit untuk ditarjih.
Adapun contoh bagian kedua adalah seperti wajibnya shalat berjama’ah di masjid; wajibnya memelihara jenggot; haramnya mengambil riba dari bank; haramnya merokok; dll. Orang yang menyelisihinya perlu diingkari.

Dan perlu diingat bahwa khilaf yang dimaksudkan di sini adalah di antara sesama ahlus sunnah bukan khilafnya ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah seperti rafidhah, qadariyyah, jahmiyyah, murji`ah, dll, karena ahlul bid’ah tersebut adalah golongan yang menyimpang dari Al-Haq, sehingga kita tidak mempedulikan dan tidak menganggap pendapat mereka yang menyimpang tersebut.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “bahkan menurut fuqahaa`ul hadiits: orang yang meminum arak yang masih diperselisihkan (hukumnya) di dalamnya: dihukum (ditegakkan hukuman had) dan ini di atas pengingkaran dengan lisan.
Bahkan menurut fuqahaa` ahli Madinah: dianggap fasik dan tidak diterima persaksiannya.

Hal tersebut membantah perkataan: “Tidak ada pengingkaran dalam masalah yang diperselisihkan.” Dan (perkataan) ini menyelisihi ijma’ para imam dan tidak diketahui ada salah seorang dari para imam Islam yang berkata/berpendapat demikian.

Kita akan mencukupkan dengan satu contoh saja dari pernyataan Ibnul Qoyyim -rahimahullahu Ta’ala- dalam bab ini.
Ia (Ibnul Qayyim) telah menyebutkan, bahwa ‘Abdullah Ibnul Mubarak -rahimahullah- mengatakan: Pernah aku berada di Kufah, lalu mereka (orang-orang) mendebatku dalam masalah minuman arak yang masih diperselisihkan. Maka aku katakan kepada mereka: “Kemarilah, silakan berhujjah bagi yang mempunyai hujjah di antara kalian kepada siapa saja dari sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang membolehkannya. Kemudian mereka berhujjah dan tidaklah mereka datang dari seorangpun yang membolehkan, kecuali kami telah datangkan kepada mereka dengan sanad. Maka ketika tidak tersisa di tangan mereka seorangpun dari mereka, kecuali Abdullah bin Mas’ud -dan tidaklah pengambilan hujjah mereka darinya dalam kerasnya (masalah) minuman arak itu satupun yang shahih darinya, hanya saja yang shahih darinya bahwasanya (minuman itu) belum menjadi arak untuknya di dalam guci yang hijau- berkata Ibnul Mubarak: maka aku katakan kepada orang yang berhujjah darinya di dalam pembolehan (hal tersebut):
“Ya Ahmaq (julukan bagi orang yang sangat bodoh dan tolol- pent.), anggaplah, andai Ibnu Mas’ud berada di sini, duduk dan bekata: bahwa hal itu (arak) untukmu halal dan (kita telah mengetahui) apa yang di sifatkan kepada kita dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya tentang kerasnya (larangan dari minuman arak tersebut) niscaya hal ini mengharuskan bagimu untuk berhati-hati, khawatir dan takut.”

Berkata seorang penanya: “Wahai Abu ‘Abdurrahman, An-Nukha’i, Asy-Sya’bi- dan disebutkan beberapa nama lainnya-, mereka dahulu minum minuman yang haram?”

Aku berkata kepada mereka: “Tinggalkan penyebutan nama-nama tokoh, ketika sedang berdebat, karena bisa jadi seseorang dalam Islam punya kisah hidup begini dan begitu dan barangkali dia mempunyai ketergelinciran, apakah boleh seseorang berhujjah dengannya?

“Jika kalian enggan, lalu apa komentar kalian mengenai ‘Athaa`, Thaawuus, Jabir bin Zaid, Sa’id bin Jubair dan ‘Ikrimah?” Mereka mengatakan: “Mereka orang-orang pilihan.”

Aku berkata: “Apa pendapat kalian tentang membeli satu dirham dengan dua dirham secara kontan?” Mereka menjawab: “Haram.”

Maka aku berkata: “Sesungguhnya mereka berpendapat bahwa itu halal, lalu apakah mereka mati sedang mereka memakan yang haram?” Mereka terdiam dan terputuslah hujjah mereka.
Maksudnya bahwasanya kita tidak boleh mengikuti ketergelinciran para ‘ulama dalam suatu perkara dan kita menjelaskan kepada ummat tentang kesalahannnya dengan tetap menghormati mereka sebagai para ‘ulama yang mulia karena mereka adalah para mujtahid yang mendapat dua pahala jika benar dalam ijtihadnya dan satu pahala jika salah.

Wallaahu a’lamu bish Shawaab.


Diambil dari kitab Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah dengan beberapa perubahan dan tambahan.

 

 

Sumber :

Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-22 Tahun ke-2 / 23 April 2004 M / 04 Rabi’ul Awwal 1425 H

 

 

 

 

Baca Juga :

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: