Akhlaq, Fiqih/Tanya Jawab

Meniti Amalan Terbaik (Bagian Kedua)

(bagian pertama baca di sini)

Melaksanakan segala perintah Allah dan rosulNya bagi seorang muslim adalah satu kenikmatan, karena dengan itu ia tengah meniti jalan-jalan kebaikan, menundukkan kehidupan dunianya yang menggiurkan penuh dengan gelombang syahwat dan syubhat, memupuk kecintaan terhadap negeri akhiratnya dengan harapan meraih indahnya kehidupan surga. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang lebih mencintai dunianya, ia akan dapat lebih menundukkan akhiratnya, dan barangsiapa yang lebih mencintai akhiratnya ia akan lebih dapat menundukkan dunianya, maka dahulukanlah yang abadi dan kekal daripada yang fana.” (HR Ahmad dari Abu Musa Al Asy’ari).

Adalah para sahabat rodhiyallahu ‘anhum, mereka orang-orang yang paling terdepan dalam meraih suatu kebaikan, bila mereka bertanya kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak hanya sekedar ilmu yang mereka inginkan, namun lebih daripada itu mereka ingin agar dapat beramal dengannya, kalau kemudian diberitahu tentang suatu amalan, mereka pun bergegas dan berlomba-lomba padanya.

Demikianlah seharusnya amalan menjadi prioritas utama dari sebuah ilmu, sudah sepatutnya saat seseorang bertanya kepada yang ‘alim agar meniatkan dalam hatinya jika sang ‘alim itu menunjukinya kepada kebaikan, ia akan segera melakukannya sebagaimana kebiasaan para sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -tidak hanya sekedar ingin tahu apa jawaban dari sang ‘alim tersebut atau lebih-lebih bila hanya sekedar “bermain”-. Seperti dalam hadits yang datang dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah yang terbaik di dalam Islam?” Jawab Nabi, “Memberi makanan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (HR Bukhori Muslim).

Pada hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua amalan yang baik di dalam Islam -namun tentu bukan merupakan batasan- dimana kedua amalan ini telah banyak ditinggalkan orang, dipandang sebagai amalan sepele, bahkan dianggap sebuah kebiasaan, tradisi, dan adat. Dua amalan itu adalah:

Pertama:

Memberi makan, yakni dalam bentuk shodaqoh atau hadiah atau menjamu tamu dan yang lainnya, memberi makan kepada siapa yang membutuhkan, kepada fakir miskin, orang-orang yang tidak mampu serta memberi hadiah kepada tetangga dan sejenisnya.
Orang pertama yang menuntut kita untuk memberinya makan adalah keluarga kita. Memberi mereka makan adalah shodaqoh dan sekaligus menyambung tali kekeluargaan, lebih afdhol dari memberi makan selainnya, karena memberi makan keluarga adalah menegakkan kewajiban dan memberi makan selainnya adalah sunnah, sementara yang wajib lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shodaqoh kepada orang miskin akan dicatat sebagai shodaqoh dan shodaqoh kepada yang ada hubungan keluarga akan dicatat sebagai dua hal, sebagai shodaqoh dan menyambung tali hubungan keluarga.” (HR Ahmad dari Salman bin ‘Amir).

Amat disayangkan tatkala mayoritas orang berinfak kepada keluarganya (dengan menafkahi mereka) menjadi satu rutinitas biasa, tidak pernah merasa kalau dengan infaknya itu akan mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya bila datang seorang miskin lalu memberinya uang meski hanya seratus rupiah, ia merasa dengan pemberiannya itu akan mendekatkan dirinya kepada Allah. Padahal shodaqoh yang wajib terhadap keluarganya sendiri itu lebih afdhol dan lebih banyak pahalanya. Maka jika kita memberi makan keluarga, ini adalah merupakan kebaikan dalam Islam.

Kedua:

Memberi salam kepada yang dikenal maupun tidak. Salam artinya adalah do’a keselamatan dari setiap kejelekan, dari penyakit, dari bahaya yang ditimbulkan manusia, dari kemaksiatan, dari penyakit hati, dan dari api neraka.

Ucapan salam yakni “ASSALAAMU ‘ALAIKUM” bukanlah salam perkenalan tanpa makna, akan tetapi salam yang mengandung pahala dan kasih sayang, sebab seorang muslim akan mendapatkan pahala dari ucapan salamnya dan akan menancapkan kasih sayang dari salamnya tersebut. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga beriman, dan kamu tidak beriman hingga kasih sayang kepada sesama. Sukakah aku tunjukkan sesuatu jika kamu kerjakan timbul kasih sayang di antara kamu? Sebarkanlah salam di antara kamu.” (HR Muslim dari Abu Hurairoh).

Sangatlah keliru manakala salam ini dikatakan sebagai adat kultur Arab, atau manakala dikalahkan dengan ucapan-ucapan lain, seperti “punten”, “sampurasun”, “kulo nuwun”, “permisi”, dan lainnya. Bahkan yang sangat mengherankan kecemburuan yang tinggi dari sebagian orang kepada siapa yang lewat di hadapannya atau masuk rumahnya kemudian tidak mengucapkan punten atau permisi, sehingga mereka pun mengadakan pengingkaran dan mencelanya selaku “orang yang tidak beradab”. Lalu mana kalau begitu yang termasuk adab yang diajarkan dalam Islam?!! Ucapan salamkah, puntenkah, atau permisi, atau… Assalamu ‘alaikum punten!!!

Islam telah mengajarkan bagaimana adab yang baik, penghormatan yang baik, etika orang yang lewat di hadapan orang yang duduk, etika hendak masuk rumah. Ini semua bukanlah sebatas adat atau kebiasaan tetapi begitulah syariat Islam mengajarkan. Allah berfirman,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al Jaatsiyah: 18).

Dalam banyak ayat, Allah subhanahu wa ta’ala telah menerangkan penghormatan yang mengandung do’a yang disyariatkan bagi hambaNya.

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat.” (QS An Nuur: 27).

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS An Nuur: 61).

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An Nisaa: 86).

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaman”, Ibrahim menjawab, “Salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (QS Adz Dzaariyaat: 24-25).

Jelaslah dari sini ternyata salam merupakan sunnah-sunnah para rosul dan juga amalan para malaikat.

Demikian halnya dengan Rosulullah, mengajarkan kepada umatnya bagaimana penghormatan yang baik yang mengandung do’a. Beliau bersabda, “Ketika Allah telah menciptakan Adam, maka Allah menyuruhnya: Pergilah kepada para malaikat itu dan berilah salam kepada mereka yang sedang duduk, dan dengarkan benar-benar jawaban mereka, maka itu akan merupakan salammu dan anak cucumu kelak. Maka pergilah Adam dan berkata, “ASSALAAMU ‘ALAIKUM”. Para malaikat menjawab, “ASSALAAMU ‘ALAIKA WAROHMATULLAAH”, mereka menambah: warohmatullaah.” (HR Bukhori Muslim dari Abu Hurairoh).

Dari Abu Yusuf Abdullah bin Salam berkata, saya telah mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, dan hubungilah keluarga, dan sholatlah di waktu malam di waktu orang sedang tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi dari Abu Yusuf Abdullah bin Salam).

Dari Abu Umamah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seutama-utama manusia bagi Allah ialah yang mendahului memberi salam.” (HR Abu Daud dari Abu Umamah).

Abu Hurairoh berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu dari kamu bertemu saudaranya, hendaklah memberi salam, kemudian jika terpisah antara keduanya oleh pohon atau dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, hendaklah memberi salam.” (HR Abu Daud dari Abu Hurairoh).

Al Miqdad berkata, “Kami biasa menyediakan bagian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari susu, maka beliau datang pada waktu malam dan memberi salam dengan perlahan sekira tidak membangunkan orang tidur, dan cukup mendengarkan kepada yang jaga. Maka Nabi datang sebagaimana biasa memberi salam.” (HR Muslim dari Al Miqdad).

Dari Imron bin Husain berkata, seorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan, “ASSALAAMU ‘ALAIKUM”, maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia duduk. Nabi bersabda, “Sepuluh.” Kemudian datang yang lain memberi salam, “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLAAH”, setelah dijawab oleh Nabi, ia duduk dan Nabi pun bersabda, “Dua puluh.” Kemudian orang ketiga datang dan mengucapkan, “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLAAHI WABAROKAATUH”, Nabi pun menjawabnya dan bersabda, “Tiga puluh.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dari Imron bin Husain).

Allah dan RosulNya telah mensyariatkan untuk kita agar mengucapkan salam sebagian kita kepada sebagian lainnya, karena ucapan salam adalah ibadah dan pahala. Bayangkan bila kita memperbanyak mengucapkan salam, mengulang-ulang ucapan salam tiap kali bertemu dengan saudara kita, maka akan bertambah banyaklah ibadah dan pahala di sisi Allah. Sungguh ini suatu nikmat yang telah dianugrahkan kepada kita dengan disunnahkannya ucapan salam. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang-orang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk. Dan rombongan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR Bukhori Muslim dari Abu Hurairoh).


Salam Terhadap Anak-anak

Sebagian orang tidak terbiasa mengucapkan salam kepada anak-anak karena meremehkannya atau menganggapnya masih kecil. Tentu saja ini menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau selalu mengucap salam kepada yang kecil maupun yang dewasa. Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa dirinya berjalan di muka anak-anak, memberi salam kepada mereka, dan berkata: Adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat demikian. (HR Bukhori Muslim dari Anas). Memberi salam kepada anak-anak sangatlah banyak manfaatnya, di antaranya:

Pertama: mengikuti sunnah, yakni sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS Al Mumtahanah: 6).

Kedua: tawadhu, sehingga seseorang tidaklah merasa besar diri, besar hidung, dan besar kepalanya. Ia dituntut untuk bertawadhu dengan mengucapkan salam kepada anak-anak.

Ketiga: membiasakan anak agar berakhlaq dengan akhlaq yang baik, sebab anak-anak bila mereka melihat seseorang yang lewat di hadapannya, kemudian mengucapkan salam mereka pun akan mengikutinya dan membiasakannya, maka sunnah yang baik nan berkah ini pun akan terbiasa terucap dari lisan-lisan manis anak-anak.
Keempat: mendatangkan kecintaan terhadap anak-anak, yakni mereka akan sangat senang bila ada yang mengucapkan salam terhadapnya, mereka pun tidak akan melupakannya.

Seorang muslim hendaknya selalu merasa haus terhadap kebaikan dan bersungguh-sungguh meraihnya. Begitulah para salafus sholih kita generasi terbaik umat ini, apabila mereka mengetahui suatu kebaikan bergegaslah untuk melakukannya.

Ibnu Umar, seorang sosok pribadi yang begitu gigih dan paling bersemangat dalam meraih kebaikan, ketika diberitahu oleh Abu Hurairoh hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa “Barangsiapa yang mengikuti jenazah hingga disholatkan, maka akan mendapat satu qiroth, dan barangsiapa yang menghadirinya hingga dimakamkan, maka mendapat dua qiroth.” Rosulullah ditanya, “Apakah dua qiroth?” Beliau menjawab, “Sebesar dua gunung yang besar-besar.” (HR Bukhori Muslim). Setelah beliau (Ibnu Umar) mendengarnya, seraya berkata, “Demi Allah, kami akan bersegera mendapatkan qiroth-qiroth yang banyak!” Maka tidak ada satu jenazah pun melainkan beliau mengikutinya (hingga disholatkan dan dimakamkan)… Itulah Ibnu Umar -semoga Allah meridhoinya- …

Wal ‘ilmu ‘indallah.


Ditulis oleh Abu Hamzah Al Atsary.


Sumber bacaan:

  • Al Qur`anul ‘Azhim
  • Tafsir Al Qur`anul ‘Azhim, Ibnu Katsir.
  • Al Adabul Mufrod, Imam Al Bukhori.
  • Syarh Riyadhush Sholihin, Ibnu ‘Utsaimin.
  • Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Sholihin, Salim bin Ied Al Hilaly.

Sumber :

Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-23 Tahun ke-2 / 30 April 2004 M / 11 Rabi’ul Awwal 1425 H

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: