Manhaj, Nasehat

Meniti Amalan Terbaik (Bagian Pertama)

Mengetahui amalan yang akan mendatangkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala bagi seorang muslim adalah sesuatu yang sangat berharga, karena tak ada yang diharapkannya dalam menjalani hidup di dunia melainkan keridhoan dan kecintaan Sang Penciptanya, yang tentu saja hal itu akan menghantarkan dirinya meraih kebahagiaan di akhirat yang kekal nan abadi.

Adalah sahabat Abdullah ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, seorang ulama terkemuka di kalangan para sahabat lainnya, dari pertanyaannya yang diajukan ke hadapan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan begitu tinggi tingkat intelektualitasnya dan kefaqihannya. Beliau tanyakan kepada Rosulullah dua pertanyaan, yang pertama tentang dosa yang paling berat dan jelek, di mana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menjadikan tandingan di samping Allah sedang Dia penciptamu, membunuh anakmu karena takut miskin, dan berzina dengan istri tetanggamu.” Dan yang kedua beliau (Ibnu Mas’ud) tanyakan tentang amalan yang paling dicintai Allah, maka Rosulullah menjawab, “Sholat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan berjihad di jalan Allah.” Dari dua pertanyaan yang diajukan sahabat yang mulia ini memberikan pelajaran kepada kita, di mana hendaknya seorang muslim di samping bersungguh-sungguh mengetahui amalan yang paling dicintai Allah, ia juga harus bersungguh-sungguh untuk mengetahui amalan-amalan yang paling dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas yang diriwayatkan oleh Al Bukhori, Muslim, dan Ahmad tentang amalan yang dicintai Allah, ada tiga perkara:

Pertama:

Sholat pada waktunya. Sholat secara dzatnya adalah rukun yang kedua dari rukun-rukun Islam setelah dua kalimat syahadat. Ia adalah pembeda antara seorang muslim dan kafir, tiangnya Islam, dan perkara pertama yang seorang hamba akan dihisab dengannya. Jika sholatnya baik dan diterima, maka diterima seluruh amalan-amalannya dan jika ditolak, maka tertolaklah seluruh amalan-amalannya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan tentang sholat pada banyak ayat di dalam Al Qur`anul Karim dengan sifat yang berbeda-beda. Terkadang Allah memerintahkan untuk mendirikannya dan terkadang menerangkan kelebihan-kelebihannya dan juga sesekali Allah menerangkan pahalanya, pada kali lain Allah merangkaikannya dengan kesabaran dan memerintahkan agar memohon pertolongan dari kesulitan dengan keduanya.
Selain daripada itu, sholat adalah penyejuk hati Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia ini, sholat juga merupakan hiasan para Nabi dan syi’ar orang-orang saleh serta hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya semesta alam. Sholat pun dapat mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.
Sholat adalah ibadah yang disyariatkan Allah yang tidak disampaikan kepada Rosulullah seperti ibadah-ibadah lainya melalui perantara Jibril, akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala memergikan hambaNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Isro`) dari Masjidil Harom menuju Masjidil Aqsho. Kemudian Allah mengangkatnya (Mi’roj) ke atas langit yang paling tinggi. Allah memanggilnya, memuliakannya, dan mengajak bicara kepadanya tentang kewajiban sholat secara langsung.

Ini semua adalah dalil tentang keagungan kewajiban sholat, hingga bila seorang hamba melakukan sholat berarti ia tengah memohon, bermunajat kepada Rabbnya. Dan waktu yang paling afdhol saat seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah melalui sholat adalah di awal waktu, seperti halnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di awal waktu, kemudian beliaupun menganjurkan kepada umatnya seperti dalam hadits ini.

 

Kedua:

Berbakti kepada kedua orang tua. Hak kedua orang tua sangatlah agung. Allah telah merangkaikannya dengan kewajiban mentauhidkanNya pada banyak ayat, hal ini menunjukkan bahwa hak antara hamba yang paling afdhol adalah haqqul walidain. Allah berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (QS An Nisaa`: 36).

“Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak.” (QS Al An’aam: 151).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al Israa`: 23-24).

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS Al ‘Ankabuut: 8).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu.” (QS Luqman: 14).

Tentu bagi siapa saja yang mentadaburi Kitabullah akan mendapati Allah subhanahu wa ta’ala sering mensejajarkan antara ibadah kepadaNya, mentauhidkanNya dengan berbuat baik terhadap kedua orang tua. Yang menjadi titik tolak hal tersebut adalah beberapa perkara di antaranya:

Pertama: Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki, maka hanya Dia pulalah yang paling berhak untuk diibadahi, sementara kedua orang tua adalah sebab keberadaan kita, maka keduanya berhak untuk mendapatkan kebaikan (dengan berbakti kepada keduanya).

Kedua: Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang telah menganugrahkan nikmat yang banyak dan kebaikan yang melimpah atas hambaNya, maka Dialah yang berhak untuk kita bersyukur kepadaNya, demikian halnya dengan kedua orang tua, keduanyalah yang mendatangkan apa yang kita butuhkan dari makanan, minuman, dan pakaian, maka kedua orang tua berhak untuk kita bersyukur pada keduanya.

Ketiga: Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Rabb manusia yang mendidiknya di atas manhajNya, maka Dia berhak untuk mendapatkan pengagungan dan kecintaan, begitu pula kedua orang tua, merekalah yang mendidik kita di waktu kecil, maka keduanya paling berhak untuk kita bersikap merendah, hormat, beradab, dan lemah lembut baik dengan perkataan atau pun perbuatan.
Atas setiap muslim wajib untuk menegakkan hak yang agung ini terhadap kedua orang tuanya. Meski mereka kafir, hak keduanya tetap ada tidak gugur bagi seorang anak. Allah berfirman,

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah orang-orang yang kembali kepadaKu.” (QS Luqman: 15).

Dari Asma` binti Abu Bakr Ash Shiddiq rodhiyallahu ‘anha berkata, “Ibuku yang masih kafir musyrik datang kepadaku di masa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka aku bertanya kepada Rosulullah: Ibuku datang kepadaku dengan mengharapkan hubungan baik, bolehkah aku menghubungi dia? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Hubungilah ibumu!” (HR Bukhori Muslim).

 

Ketiga:

Berjihad di jalan Allah. Jihad adalah puncak ketinggian Islam, dengannya kalimat Allah akan tinggi, dengannya pula Islam akan menang atas seluruh agama-agama lainnya seperti telah tercapainya hal itu dengan jihadnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jihadnya para sahabat setelahnya, karena sesungguhnya mereka telah menjual diri-diri mereka dan harta-hartanya fi sabilillah dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.

Allah tinggikan Islam melalui mereka, Allah menangkan Islam atas seluruh agama-agama melalui tangan-tangan mereka. Allah muliakan dan jadikan mereka sebagai pemimpin dan ulama dunia. Mereka adalah orang-orang yang telah jujur dalam jual belinya antara diri mereka dengan Allah, yakni pada firman Allah,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu`min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111).


Fase-fase dalam JIHAD

Perkara ini sangatlah penting, mengingat kata “jihad” tengah banyak disalahgunakan sebagian “oknum” kaum muslimin. Jihad tidaklah identik dengan cara-cara anarkhis, tidak pula dengan gaya-gaya “terorisme” -yang pada akhirnya Islam pulalah yang dituduh “teroris” padahal terorisme bukan dari ajaran Islam- seperti pengeboman di sejumlah tempat yang mengakibatkan sebagian jiwa kaum muslimin melayang, sebagian fasilitas-fasilitasnya pun ikut hancur, perampokan bank-bank milik pemerintah, dan seperti yang sedang populer akhir-akhir ini, istilah “bom bunuh diri” ya… sesuai dengan namanya!

Kita tidak mengingkari disyariatkannya jihad, tapi jika seorang muslim membunuh muslim lainnya, maka ini bukanlah jihad! Allah telah berfirman, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu`min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An Nisaa`: 39).

Bahkan membunuh orang-orang kafir dalam keadaan lemahnya kaum muslimin, juga bukan jihad! Allah berfirman,

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang, dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafiq) takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah. Bahkan lebih sangat dari itu takutnya.” (QS An Nisaa`: 77).

Maka ada empat marhalah/fase dalam jihad yang dilalui Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama: Marhalah menahan diri dari berperang dan fase inilah yang paling lama dilalui Rosulullah (QS An Nisaa`: 77).

Kedua: Marhalah diizinkan berperang namun tidak diperintahkan, yakni ketika Rosulullah keluar dari Mekah, di mana pada saat itu turun ayat, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS Al Hajj: 39). Ibnu Abbas berkata, “Ini adalah ayat pertama yang turun tentang perang.”

Ketiga: Marhalah berperang terhadap orang-orang (kafir) yang memerangi kaum muslimin dan menahan diri dari selainnya. Allah berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” (QS Al Baqoroh: 190).

Keempat: Marhalah berperang terhadap orang-orang kafir seluruhnya, sampai mereka mau masuk Islam atau menyerahkan pajak sedang mereka dalam keadaan terhinakan. Allah berfirman,

“Kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam).” (QS Al Fath: 16).

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RosulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS At Taubah: 29).

Dari sinilah para ulama mengambil kesimpulan bahwa tidak boleh bagi kaum muslimin ketika kondisinya lemah, tidak punya kekuatan yang mumpuni untuk berperang melawan orang-orang kafir, dalam rangka menteladani RosulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena pada saat itu kaum muslimin tidak boleh melemparkan diri-dirinya ke dalam kebinasaan.

Ayat-ayat dan hadits-hadits tentang kedudukan dan keutamaan jihad sangatlah banyak, dan hendaklah seluruh kaum muslimin tahu, bahwa tidak ada kemuliaan, tidak pula kebahagiaan dunia dan akhirat kecuali dalam berpegang teguh dengan agama dan berjihad di jalan Allah. Wal ‘ilmu ‘indallah.


Ditulis oleh Abu Hamzah Al Atsary.


Sumber rujukan:

  • Mudzakkiratul Hadits fil Aqidah wal Ittiba’, Dr. Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhaly.
  • Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilaly.
  • Al Mulakhoshul Fiqhi, Dr. Sholih bin Fauzan Al Fauzan.
  • Fatawa ‘Ulama Al Akabir fiima Uhdhiro min Dimaa fi Al Jaza`ir, Abdul Malik bin Ahmad Ar Romadhony.
  • Fadhlul Jihad fi Sabilillah, Ibnul Qayyim Al Jauziyyah.

 

Sumber :

Buleti Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-21 Tahun ke-2 / 16 April 2004 M / 26 Shafar 1425 H

 

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: