Fiqih/Tanya Jawab, Manhaj

Wajibnya Menegakkan Hujjah / Dalil

Pertanyaan:

Apakah disyaratkan dalam menegakkan hujjah, (adanya) pemahaman yang jelas dan memadai (dari orang yang ditegakkan hujjah tersebut -pent.) atau apakah cukup hanya dengan sekedar menyampaikannya saja, kami mohon perincian permasalahan tersebut beserta penyebutan dalilnya?

 

Jawaban:

Adalah wajib menegakkan hujjah pada orang yang memiliki syubhat (kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu perkara -pent.) dan demikian pula orang musyrik, apabila telah ditegakkan hujjah atasnya maka sungguh telah hilang ‘udzurnya dengan makna: disampaikan kepadanya dalil dan dia mengetahui bahwa perkara ini padanya terdapat dalil dari Al-Kitab (Al-Qur`an) dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak disyaratkan (adanya) pemahaman terhadap hujjah tersebut, karena sesungguhnya Allah telah mengkhabarkan bahwasanya orang-orang musyrik itu telah tegak hujjah atas mereka dan bersamaan dengan itu mereka tidak memahaminya dengan pemahaman yang jelas, akan tetapi telah tegak hujjah atas mereka dengan (semata-mata) sampainya hujjah tersebut.

Telah turun Al-Qur`an dan mereka telah mendengarnya dan telah datang kepada mereka “An-Nadziir” (yang memberi peringatan) yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan (Rasulullah) telah memberikan peringatan kepada mereka, akan tetapi mereka tetap (terus-menerus) dalam kekafirannya, maka mereka tidak dimaafkan. Dan karena inilah Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami tidak akan meng’adzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al-Israa`:15) dan sungguh telah diutus seorang rasul.
Allah Ta’ala (juga) berfirman:

“Dan telah diwahyukan kepadaku Al-Qur`an ini, agar aku dengannya memberikan peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang telah sampai Al-Qur`an (kepadanya).” (Al-An’aam:19), maka syarat dalam iqaamatul hujjah (menegakkan hujjah) adalah al-balaagh (semata-mata sampainya hujjah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang mendengar tentangku dari ummat ini, baik Yahudinya maupun Nasraninya, kemudian dia tidak beriman denganku, kecuali masuk neraka.” (HR. Muslim no.153 dari Abu Hurairah)

Allah Ta’ala berfirman dalam mensifati orang-orang kafir: “Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja, mereka tuli, bisu, dan buta maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Al Baqarah:171)

[Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya -pent.]
Bersamaan dengan itu, telah tegak hujjah atas mereka, maka Allah telah mengkhabarkan bahwasanya permisalan mereka (orang-orang kafir) seperti orang yang mendengarkan suara tetapi tidak memahami ma’nanya adalah seperti kambing yang diseru oleh penggembalanya lalu (kambing tersebut) mendengar suara (tetapi tidak memahami ma’nanya -pent.)); dan bersamaan dengan itu telah tegak hujjah atas mereka (orang-orang kafir).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (At-Taubah:115) dan Allah tidak berfirman “hattaa yatabayyana” (hingga jelas) bahkan Allah menyatakan “hattaa yubayyina” (hingga dijelaskan) dan inilah yang dinamakan penegakan hujjah. Maka jika telah dipahamkan Al-Haq dan dia mengetahui dalil ini dan mengetahui hujjah maka telah tegak hujjah atasnya walaupun dia tidak memahaminya. Maka tidak disyaratkan adanya pemahaman (terhadap hujjah). Dan inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash, dan hal inilah yang telah ditetapkan oleh ahlul ‘ilmi. Wallaahu A’lamu bish Shawaab.


(Diambil dari kitab As`ilah wa Ajwibah ‘anil iimaani wal kufri, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihiy, pertanyaan ke-15)

 

 

 

Judul Asli : Iqaamatul Hujjah

Sumber :

Buleti Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-20 Tahun ke-2 / 09 April 2004 M / 19 Shafar 1425 H

 

Baca Juga :

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: