Manhaj

Sikap Salafush Shalih terhadap Orang-orang yang Menentang Sunnah

Dari Abu Qatadah berkata: Kami pernah di sisi ‘Imran bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu dalam suatu rombongan dan di antara kami terdapat Busyair bin Ka’b. Maka ‘Imran berbicara kepada kami pada suatu hari, dia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Malu itu baik semuanya” atau beliau bersabda: “Malu itu adalah semuanya baik.” Maka berkata Busyair bin Ka’b: “Sesungguhnya kami mendapati di sebagian kitab atau hikmah bahwa dari malu itu ada yang merupakan ketentraman dan penghormatan kepada Allah, tetapi pada malu itu juga ada kelemahan.” Maka ‘Imran pun marah sampai merah kedua matanya dan berkata: “Tidakkah kamu melihat aku, aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kamu menentangnya!!” (HR. Al-Bukhariy no.6117, Muslim no.37 dan lafazh ini milik Muslim)

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal rodhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk melempar dengan batu dan beliau bersabda: “Sesungguhnya melempar dengan batu itu tidak akan mendapatkan buruan dan tidak akan dapat mengalahkan musuh, tetapi hanya akan membutakan mata dan memecahkan gigi.” Maka berkatalah seseorang kepada ‘Abdullah bin Mughaffal: “Apa jeleknya hal ini?” Maka ‘Abdullah bin Mughaffal berkata: “Sesungguhnya aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan seperti ini, maka Demi Allah… Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!” (HR. Al-Bukhari no.5479, Muslim no.1954 dan lafazh ini milik Ibnu Baththah di dalam Al-Ibaanah hadits ke-96)

Dari Abil Makhariq berkata: ‘Ubadah bin Ash-Shamit rodhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Maka berkatalah seseorang: “Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa asalkan tangan dengan tangan (kontan).” Maka ‘Ubadah berkata: “Aku berkata: “Telah bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam“, sedangkan kamu mengatakan: “Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa”, (maka) Demi Allah… Tidak akan menaungi aku dan kamu satu atap pun selama-lamanya!!” (HR. Ibnu Majah no.81, Ad-Darimiy no.443 dan lafazh ini milik Ad-Darimiy. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy)

Dari Salim bin ‘Abdullah bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian ke masjid jika mereka meminta ijin kepada kalian untuk ke sana!” Berkata Salim: Berkatalah Bilal bin ‘Abdullah: “Demi Allah, kami akan melarang mereka.” Berkata Salim: “Maka ‘Abdullah menghadap kepadanya (anaknya yaitu Bilal bin ‘Abdullah) kemudian mencaci-makinya dengan suatu caci-makian yang jelek, yang aku belum pernah mendengar caci-makian seperti itu sama sekali. Kemudian ‘Abdullah berkata: “Aku khabarkan kepadamu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan: “Demi Allah, kami akan melarang mereka!!” (HR. Muslim no.442)

Dari ‘Atha` bin Yasar: Bahwa seseorang menjual pecahan emas atau mata uang dengan yang lebih banyak dari ukuran nilainya. Maka berkatalah Abu Darda` rodhiyallahu ‘anhu kepadanya: “Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hal yang seperti ini kecuali dengan yang senilai. Maka orang itu pun berkata: “Aku berpendapat yang seperti ini tidak apa-apa.” Maka berkatalah Abu Darda`: “Siapakah yang bisa memberikan alasan kepadaku dari si fulan ini, aku mengatakan: “Dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam“, sedangkan dia mengatakan kepadaku dari pikirannya, aku tidak akan tinggal di negeri yang kamu berada padanya!” (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-94)

Dari Al-A’raj berkata: Aku pernah mendengar Abu Sa’id Al-Khudriy rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada seseorang: “Tidakkah kamu mendengar aku, aku mengatakan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: “Janganlah kalian menjual dinar dengan dinar, dirham dengan dirham kecuali dengan yang senilai dan janganlah kalian menjual darinya, yang segera (kontan) dengan yang ditunda!”, sedangkan kamu berfatwa dengan apa yang kamu fatwakan, maka Demi Allah… tidak akan menaungi aku dan kamu selama aku hidup kecuali masjid.” (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-95)

Dari Qatadah berkata: “Ibnu Sirin pernah mengajak bicara kepada seseorang dengan hadits dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang tersebut berkata: “Si Fulan telah berkata demikian dan demikian!” Maka Ibnu Sirin berkata: “Aku mengatakan kepadamu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kamu mengatakan: “Si Fulan dan si Fulan telah berkata demikian dan demikian…!” Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!!” (Sunan Ad-Daarimiy no.441)

Berkata Abus Sa`ib: “Kami pernah di sisi Waqi’, maka dia berkata kepada seseorang yang berada di sisinya, yang termasuk orang yang berpendapat dengan ra`yu: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan Isy’aar (yaitu merobek salah satu sisi pundak (punuknya) hewan (unta) sehingga mengeluarkan darahnya dan hal itu dijadikan sebagai tanda bagi hewan tersebut yang dengannya akan diketahui bahwasanya itu adalah hewan qurban, lihat An-Nihaayah 2/479).” Berkatalah orang tersebut: “Bahwasanya telah diriwayatkan dari Ibrahim An-Nukha’iy, bahwa dia berkata: “Isy’aar adalah menyakitkan.” Berkata Abus Sa`ib: “Maka aku melihat Waqi’ marah dengan marah yang sangat dan berkata: “Aku telah berkata kepadamu: “Telah bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam“, sedangkan kamu berkata: “Telah berkata Ibrahim”, (maka) tidaklah ada yang menghalangi kamu agar kamu ini dipenjara kemudian tidak dilepaskan sampai kamu menarik kembali dari ucapanmu ini!!” (Jaami’ut Tirmidziy 3/250)

Dari Kharzadz Al-‘Abid berkata: “Abu Mu’awiyyah Adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun Ar-Rasyid suatu hadits: “Adam dan Musa saling berhujjah.” (HR. Al-Bukhariy no.3409 dan Muslim no.2652 dari Abu Hurairah -pent.) Maka berkatalah seorang bangsawan dari Quraisy: “Di mana dia (Adam) bertemu dengannya (Musa)?” Maka Harun pun marah dan berkata: “(Untuk) orang yang berlebih-lebihan adalah pedang, seorang Zindiq yang mencela hadits.” Maka Abu Mu’awiyyah pun terus berusaha menenangkannya (Harun) lalu berkata: “Jangan terburu-buru, Ya Amirul Mu`minin…” dan dia tetap belum paham, sampai (akhirnya) dia tenang. (Taariikh Baghdaad 41/7 dan Siyar A’laamin Nubalaa` 9/288)


Ikutilah Jejak Salafush Shalih!

Inilah nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tentang pengagungan terhadap Sunnah. Dan inilah sikap Salafush Shalih (shahabat dan tabi’in) terhadap orang-orang yang menentang Sunnah. Kamu lihat padanya terdapat kekuatan, keseriusan dan kekerasan terhadap orang yang muncul darinya sesuatu yang di dalamnya terdapat penentangan terhadap Sunnah.

Berkata Ibnul Qayyim: “Sesungguhnya Salafush Shalih sangat keras pengingkaran dan kebencian mereka terhadap orang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan akal atau qiyas atau istihsaan (menganggap baik sesuatu) atau dengan pendapat seseorang siapa pun orangnya. Dan mereka mengisolir terhadap orang yang melakukan hal tersebut serta mengingkari atas orang yang menjadikan bagi beliau tandingan-tandingan. Dan tidaklah mereka melakukan hal ini, melainkan hanya karena keterikatan dan ketundukan (mereka) kepada beliau serta menerimanya dengan pendengaran dan ketaatan, dan tidak pernah terbetik di dalam hati mereka untuk berhenti dari menerimanya…. (I’laamul Muwaqqi’iin 4/244)

Maka bandingkanlah antara sikap Salafush Shalih terhadap orang yang menentang Sunnah dengan sikap orang sekarang terhadap orang yang mengolok-olokkan Sunnah!!!

Dan sebelum itu lihatlah (terlebih dahulu) perkataan-perkataan mereka (Salafush Shalih), kemudian lihatlah perkataan-perkataan orang-orang sekarang. Adapun mereka (Salafush Shalih), kamu telah melihatnya. Sedangkan mereka, orang-orang sekarang, maka lihatlah contoh-contoh atas pengolok-olokan mereka (terhadap Sunnah):

  1. Sebagian mereka ada yang menolak suatu hadits. Ketika dikatakan kepadanya: “Bahwasanya hadits tersebut terdapat di dalam Shahiih Muslim!” Maka orang itu berkata: “Letakkan hadits itu di bawah kakimu!!!” (Karena menurutnya bertentangan dengan Al-Qur`an, padahal tidak akan pernah As-Sunnah bertentangan dengan Al-Qur`an -pent.)
  2. Berkata salah seorang di antara mereka dengan sangat kurang ajarnya -mengomentari terhadap hadits masalah lalat-: “Saya akan mengambil ucapan dokter kafir dan tidak aku ambil ucapan Rasul !!”
  3. Berkata yang lain: “Apabila hadits bertentangan dengan akal, maka tolaklah hadits tersebut!” Maka dikatakan kepadanya: “Walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy?!” Dia berkata: “Ya, walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy dan tidak ada kemuliaannya!!!”

Demikianlah mereka memperolok-olokkan dan melecehkan Sunnah!

Maka bagaimanakah sikap orang-orang di zaman kita ini terhadap mereka (yang mengolok-olokkan Sunnah)? Dan bagaimanakah memperlakukan mereka, apakah dengan mengisolir, mencerca dan memutuskan hubungan dengan mereka?!
“Tidak… tidak demikian…. Bahkan orang-orang di zaman kita ini telah menganggap mereka ini sebagai para da’i, para ‘ulama dan para mujaddid (pembaharu Islam)!!!”

Alangkah mengherankan…?!! Apabila telah demikian keadaan para da’inya, maka bagaimana pula dengan keadaan mad’unya (orang-orang yang diserunya)?!!”

Berkata Ibnu Baththah: “Ambillah pelajaran oleh kalian… Wahai orang-orang yang memiliki pandangan…. Alangkah jauhnya perbedaan antara mereka, orang-orang yang memiliki akal, para tokoh, orang-orang yang baik dan orang-orang pilihan (yakni Salafush Shalih), yang hati-hati mereka dipenuhi dengan ghiirah (kecemburuan) terhadap keimanan mereka dan marah kalau agama dicela atau dikurang-kurangi, dengan mereka (orang-orang) di zaman kita yang kita hidup di dalamnya, kita berada di antara punggung-punggung mereka (hidup bersama mereka)?!

Inilah ‘Abdullah bin Mughaffal -shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tokohnya para tokoh mereka- memutuskan silaturrahmi dan meninggalkan kawan dekat/kekasihnya, ketika kawan dekatnya tersebut menentang hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan dia juga telah bersumpah untuk memutuskan hubungan kepadanya dan meninggalkannya, dalam keadaan dia mengetahui apa-apa yang terdapat di dalam masalah silaturrahmi dan memutuskan hubungan kekeluargaan!

Begitu juga ‘Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Darda` -Rasulullah telah menamakan beliau sebagai hakim ummat ini- serta Abu Sa’id Al-Khudriy, mereka semua pergi dari tempat tinggal mereka dan pindah dari negeri mereka serta menampakkan kepergian mereka kepada kawan-kawan mereka hanya dikarenakan ada seseorang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mau mendengarkan Sunnah!

Duhai kiranya…. Bagaimanakah keadaan kita nanti di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, yang kita selalu bertemu dengan orang-orang yang menyimpang di waktu pagi dan sore, mereka selalu mengolok-olokkan ayat-ayat Allah dan menentang Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menjauhkan diri dari Sunnah tersebut dan mengingkarinya?! Semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari penyimpangan dan ketergelinciran.” (Al-Ibaanah hal.259)

Wahai Saudaraku…. Sesungguhnya memperolok-olokkan Sunnah dan mencemoohkannya adalah suatu kejelekan yang betul-betul kejelekan!!

Berkata ‘Abdullah Ad-Dailamiy: “Telah sampai kepadaku bahwa pertama kali hilangnya agama ini adalah dengan ditinggalkannya Sunnah, akan hilang agama ini satu Sunnah demi satu Sunnah sebagaimana tali akan lapuk satu kekuatan demi satu kekuatan.” (Sunan Ad-Daarimiy 1/58 dan Al-Laalikaa`iy 1/93)

Oleh karena itu…. Kembalilah wahai para da’i kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaful Ummah (Salafush Shalih).

“Maka setiap kebaikan itu di dalam mengikuti Salafush Shalih dan setiap kejelekan itu ada pada bid’ahnya orang-orang Khalaf (yang menyelisihi Salafush Shalih).”

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di dalam risalahnya (Nawaaqidhul Islaam/ Pembatal-pembatal Keislaman):
“Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa-apa yang dibawa oleh Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun dia beramal dengannya, maka dia telah kafir!! Dalilnya firman Allah Ta’ala: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (Al-Qur`an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amalan-amalan mereka.” (Muhammad:9)

“Dan barangsiapa yang memperolok-olokkan sesuatu dari agama Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam atau pahala Allah atau siksaan-Nya, maka dia telah kafir!!” Dalilnya firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian cari alasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah:65-66)

Berkata Sulaiman bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab: “Para ‘ulama telah sepakat atas kafirnya seseorang yang melakukan sesuatu dari hal itu (membenci atau istihzaa`), maka barangsiapa yang memperolok-olokkan Allah atau Kitab-Nya atau Rasul-Nya atau Agama-Nya, maka dia telah kafir secara ijma’ (kesepakatan ‘ulama) walaupun dalam keadaan bersenda gurau, tidak bermaksud benar-benar untuk memperolok-olokkannya.” (Taisiirul ‘Aziizil Hamiid hal.617)

Wahai Para Da’i…. Sesungguhnya perkara ini adalah sangat berbahaya sekali. Maka sesungguhnya kalian seandainya mau membandingkan antara apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut (dari kalangan munafiq -pent.) di dalam Perang Tabuk yang dengan sebabnyalah turunnya ayat ini (At-Taubah:65-66), dengan apa yang telah dikatakan oleh sebagian orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah pada hari ini, niscaya kalian akan mendapatkan bahwa perkataan mereka (orang-orang sekarang ini) lebih besar dan lebih keras lagi (kejelekannya) daripada perkataan mereka (orang-orang yang di zaman Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam). Wallaahul Musta’aan.

“Ya Rabb kami…. Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (Aali ‘Imraan:8).

Wallaahu A’lam.


Diringkas dari kitab “Ta’zhiimus Sunnah” karya ‘Abdul Qayyum As-Sahaibaniy hal.35-53.

 

Sumber :

Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Ma’had Adhwaus Salaf Bandung

Edisi ke-30 Tahun ke-2 / 18 Juni 2004 M / 30 Rabi’uts Tsani 1425 H

 

Baca Juga :

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: