Fiqih/Tanya Jawab, Nasehat

Memutar Kaset (Tahrim dan Murattal) Sebelum Adzan

Sebuah fenomena yang sudah masyhur di kalangan kita, mayoritas masjid-masjid di Indonesia Raya senang menyetel alias membunyikan tape recorder dan sejenisnya dengan berisikan suara qori’ (ahli baca Al-Qur’an) yang tersohor, baik dari dalam negeri, maupun dari mancanegara. Sebagian masjid membunyikan kaset tarhim alias sholawatan. Hampir seluruh masjid yang menyetel kaset-kaset tersebut sepakat untuk mengeraskan suara tape mereka.

Realita seperti ini sudah mendarah daging di sebagian wilayah Nusantara. Mayoritas orang membiarkannya, karena segan dengan para pengurus, atau memang karena tak memahami keadaan dan bermasa bodoh. Apalagi suara itu munculnya dari masjid. Tabu bagi mereka untuk berkomentar tentang hal tersebut.

Segelintir orang yang masih punya rasa iba dan keprihatinan dengan umat tetap memberikan nasihat santun bagi para pengurus masjid, karena selama ini mereka memperhatikan maslahat dan madhorot yang timbul dari suara kaset yang keras. Salah seorang diantara para pemerhati masjid adalah Bapak Wakil Presiden, Boediono –hafizhahullah-. Dalam sebuah pidato beliau di depan para peserta Muktamar Dewan Masjid Indonesia, pada tanggal 24 April 2012 M, beliau menyarankan agar Dewan Masjid Indonesia meninjau kembali dan membahas masalah pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid.

Pidato beliau ini menjadi pro kontra bagi sebagian orang. Ada yang menyambutnya dan ada yang tidak. Terlepas dari adanya pro dan kontra dari sebagian kalangan, kami mau mengajak pembaca untuk menundukkan kepala sambil membersihkan pikiran kita dari segala macam sikap fanatik, arogan, kebencian dan semacamnya, untuk selanjutnya kita membahas eksistensi dan hukum Islam tentang membunyikan kaset murottal (mengaji) atau sholawatan dan sejenisnya melalui loudspeaker (pengeras suara).

Pertama, kita lihat kondisi masyarakat kita yang ada di sekitar masjid. Membunyikan kaset dengan suara keras akan mengganggu konsentrasi dan ketenangan orang-orang yang ada di sekitar masjid. Misalnya, anak kecil yang butuh tidur atau sedang tidur, orang yang bekerja di kantor-kantor dan lainnya yang membutuhkan konsentrasi, para siswa yang sedang membaca dan mempersiapkan materi ujian esok hari, orang yang mau menelepon teman butuh ketenangan dari suara berisik, para pekerja yang pulang lalu perlu beristirahat, orang yang sedang sholat sunnah (baik sholat sunnah di siang, maupun malam hari) memerlukan suasana khusyuk dan aman dari suara ribut, orang yang mau berdzikir atau mengaji juga membutuhkan ketenangan. Intinya orang-orang tersebut dan lainnya membutuhkan ketenangan dan jauh dari suara keras.

Dengan semua fakta dan alasan ini, kita bisa mengetahui bahwa mengeraskan suara kaset dan mikrofon di masjid adalah perkara yang tak disyariatkan, karena mengganggu manusia. Sudah menjadi kaedah dalam Islam bahwa mendatangkan gangguan bagi orang lain adalah terlarang.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثومَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُوْ آدَمَ

Barangsiapa yang memakan sayuran ini, yakni bawang putih, maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan sesuatu yang mengganggu manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 564)]

Al-Imam Ibnu Baththol –rahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini diambil suatu dalil bahwa apa saja yang mengganggu orang -seperti, penderita kusta dan sejenisnya-, maka harus dijauhkan dari masjid dan majelis dzikir”. [Lihat Syarh Al-Bukhoriy (2/466)]

Segala yang mengganggu fisik dan jiwa manusia, maka ia terlarang di dalam Islam. Seorang ketika usai makan lalapan berupa bawang, jengkol, petai dan lainnya, lalu ia datang ke masjid, maka jelas bau mulutnya menggangu orang-orang yang ada di masjid. Ini jelas terlarang. Demikian pula, orang yang masuk ke masjid untuk membaca Al-Qur’an, maka ia dilarang membaca Al-Qur’an dengan suara keras, sebab ia akan mengganggu manusia yang sedang sholat sunnah.

Lantaran itulah, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah menegur sebagian sahabat yang mengeraskan suara bacaan sholat tahajjud-nya, sementara di sampingnya juga ada yang sholat sunnah.

Al-Bayadhiy –radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah keluar menemui manusia, sedang mereka melaksanakan sholat, dan sungguh suara mereka tinggi dalam membaca Al-Qur’an. Lantaran itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang sholat sedang ber-munajat (berbisik) dengan Robb-nya -Azza wa Jalla-. Karenanya, perhatikanlah sesuatu yang ia munajatkan, dan janganlah sebagian orang diantara kalian mengeraskan suaranya atas yang lain dalam bacaannya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/344/no. 19022). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 856)]

Abul Walid Al-Bajiyrahimahullah– berkata dalam menjelaskan alasan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– melarang untuk mengangkat suara saat membaca Al-Qur’an dalam sholat sunnah, sedang saudaranya juga sholat sunnah, “Karena, di dalam hal itu terdapat gangguan kepada yang lain dan halangan untuk menghadap kepada sholat, konsentrasinya hati kepada sholat, dan perhatian seseorang terhadap sesuatu yang ia ucapkan kepada Robb-nya berupa bacaan Al-Qur’an. Jika mengangkat suara dalam membaca Al-Qur’an adalah terlarang ketika itu (yakni, dalam kondisi sholat), karena mengganggu orang-orang lain yang sholat, nah kalau dilarang mengangkat suara saat berbicara dan lainnya, maka tentunya lebih utama (untuk dilarang) berdasarkan sesuatu yang telah kami sebutkan”. [Lihat Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo’ (1/185)]

Itulah alasannya Umar pernah marah kepada dua orang yang ribut di masjid, karena mengganggu konsentrasi orang yang berdzikir dan sholat sunnah di masjid.

As-Saa’ib bin Yazidrahimahullah– menceritakan bahwa Umar bin Khoththob memerintahkannya untuk mendatangkan dua orang yang ada di masjid. Umar berkata kepada keduanya, “Siapa kalian, dan kalian berdua dari mana?” Keduanya menjawab, “Dari Tho’if”. Kemudian beliau berkata,

لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Andaikan engkau berdua termasuk penduduk Madinah, maka aku akan menginjak kalian. Engkau berdua telah mengangkat suara di Masjid Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 470)]

Bila mengangkat suara saja tanpa loudspeaker (pengeras suara) dilarang dilakukan di masjid dengan alasan mengganggu orang, nah tentunya suara kaset masjid yang keras melalui loudspeaker lebih utama dilarang. Karena suara keras tersebut jelas mengganggu orang-orang, baik di masjid, maupun di luar masjid.

Jika ada yang berceloteh, “Suaranya kan sudah kami atur agar terdengar di luar, tanpa di dalam ruangan masjid!!” Anggaplah suaranya tak mengganggu orang yang sholat di masjid, tapi apakah tak mengganggu konsentrasi dan kegiatan orang lain di luar masjid? Jelas mengganggu semua pihak!!! Sementara agama kita mengajarkan agar tak mengganggu dan tidak mendatangkan mudhorot (kerugian) bagi orang lain.

Banyak orang yang salah paham bahwa kalau ia melakukan perbuatan baik (seperti, mengaji), maka ia tak mau pusing dan memperhatikan orang lain di sekitarnya, apakah mereka terganggu atau tidak?? Padahal baiknya amalan dan perbuatan harus diiringi oleh cara yang baik.

Itulah rahasianya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kalau masuk rumah sedang orang tidur, maka beliau mengucapkan salam dengan suara lirih.

Al-Miqdad bin Al-Aswad -radhiyallahu anhu- berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيْءُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا لاَ يُوْقِظُ نَائِمًا وَيُسْمِعُ الْيَقْظَانَ

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah datang di waktu malam seraya memberi salam, tanpa membangunkan orang yang tidur, namun beliau perdengarkan orang yang terjaga”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2719)]

Para pembaca yang budiman, berapa banyak orang yang tergangggu dengan suara kaset masjid yang dikeraskan dengan mikrofon dan loudspeaker. Banyak orang capek pulang kerja terganganggu karenanya. Banyak bayi dan orang sakit susah tidur karenanya. Banyak pelajar yang bangun subuh untuk mengulangi pelajaran sebagai persiapan ujian, terganggu karenanya. Banyak orang yang melakukan acara-acara penting di luar atau dalam masjid yang terganggu, seperti acara rapat, lomba cerdas cermat, majelis taklim/ceramah gara-gara suara kaset. Banyak orang yang tawar-menawar harga barang terganggu dengan suara kaset yang keras tersebut. Banyak orang yang mau khusyuk membaca Al-Qur’an dan sholat sunnah (baik di masjid, maupun di luar) merasa tergangggu dengan suara kaset masjid yang sedang disetel lewat loudspeaker. Kalau kita mau hitung satu persatu orang-orang yang terganggu dengan suara kaset yang melengking tersebut, maka tak cukup halaman kecil ini memuatnya.

Sisi lain yang perlu kita pertanyakan, adakah tuntunannya dalam syariat tentang memutar kaset lewat loudspeaker sebelum sholat lalu diiringi dengan doa sholat yang dikenal dengan “tarhim”?? Kalau di zaman dahulu sebelum ada loudspeaker, adakah tuntunannya hal tersebut diperdengarkan oleh seorang qori’ di atas menara?

Pertanyaan seperti ini perlu kita utarakan, sebab sebagian orang yang menyetel kaset lewat loudspeaker menyangka perkara itu ada tuntunan dan dasarnya dalam agama. Lebih ekstrim lagi, ada yang mewajibkan penyetelan kaset mengaji dan sholawatan. Jika tak disetel, maka dilarang adzan!!

Menjawab pertanyaan dan realita semacam ini, kami serahkan jawabannya kepada Al-Imam Manshur bin Yunus Al-Buhutiy (wft 1051 H) saat ia berkata, “Apasaja selain adzan sebelum fajar berupa adanya tasbih, lantunan syair, mengeraskan suara dalam doa dan sejenis itu di menara-menara, maka semua itu tak disunnahkan. Tak ada seorang ulama pun menyatakan bahwa hal itu mustahab (sunnah/dianjurkan), bahkan ia tergolong bid’ah yang dibenci, karena ibadah semacam itu tak ada di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya serta tak ada dasarnya di zaman mereka yang bisa dijadikan rujukan. Karenanya, tak boleh ada seorangpun yang memerintahkannya dan tak pula mengingkari orang yang meninggalkannya”. [Lihat Kasysyaful Qina’ (1/243), cet. Darul Fikr]

Al-Imam Abul Faroj Ibnul Jawziy –rahimahullah– berkata saat menyebutkan tipu daya setan, Diantaranya, mereka mencampurbaurkan adzan subuh dengan peringatan dan tasbih, serta nasihat-nasihat. Mereka meletakkan adzan pada pertengahan (antara hal-hal tersebut dengan iqomah). Sungguh para ulama membenci segala perkara yang ditambahkan untuk adzan. Sungguh kami telah melihat ada orang yang bangun sholat malam dalam waktu yang panjang di atas menara. Kemudian ia memberi nasihat, dan berdzikir. Diantara mereka ada yang membaca suatu surah dari Al-Qur’an dengan suara keras yang menghalangi manusia dari tidurnya dan mengganggu bacaan orang-orang yang sedang sholat tahajjud. Semua itu adalah kemungkaran!!” [Lihat Talbis Iblis (hal. 168)]

Ringkasnya, memutar kaset sebelum adzan (dengan suara keras atau pelan) dalam tinjauan syariat adalah perkara yang tak ada tuntunan dan dasarnya dalam agama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat. Disamping itu, hal ini juga mengganggu aktifitas, ketenangan dan konsentrasi manusia, bila suaranya keras.

Dengan mengetahui perkara ini, maka kita juga akan mengetahui kesalahan orang-orang yang mengeraskan suara musik, baik lewat radio, suara band, televisi, bentor dan lainnya. Bahkan itu lebih terlarang, karena memang musik haram!!

Sumber : http://pesantren-alihsan.org/

( Web Resmi Ma’had Al Ihsan Gowa – Mudir : Al Ustadz Ibnu Yunus)

Tentang Musik Baca Di Sini :

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: