Dialog Dengan Jama'ah Tabligh

Dialog Dengan JT : Antara Iman, Tauhid dan Aqidah

Pada halaman 21 penulis berkata, Nabi 13 tahun bina iman sahabat. … di Qur’an hanya di kenal IMAN, AMAL SHOLEH. Tidak dikenal istilah Aqidah, Rububiyyah, Uluhiyyah. Itu semua bukan hakekat iman, itu semua Ilmu Iman, atau kasarnya teory iman.

Kata siapa dalam Al Qur’an tidak ada istilah Aqidah, Rububiyah dan Uluhiyah. Tapi kenapa antum kemudian berhujjah dengan ayat Al Qur’an, Alastu Birabbikum yang dengannya antum menetapkan rububiyahnya Allah Azza wa Jalla. Apa ini bukan namanya tabrak kanan tabrak kiri, hari ini bilang iya besok bilang tidak. Walah… gawat kalau da’i islam begini semua, tapi Alhamdulillah untungnya Salafiyyun tidak begitu. Sekarang mana yang benar pernyataan antum di hal 21 atau tulisan antum di halaman 26 yang menetapkan istilah rububiyah dengan dalil di atas.

Nah, kalau antum sudah menetapkan tentang Rububiyyah Allah Azza wa Jalla dengan ayat Alastu Birabbikum. Maka apa yang makna kata Ilah yang ditarik dari firman Allah Azza wa Jalla,

Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia.

Bukankah itu maknanya Al Uluhiyyah, kalau antum bilang bukan maka jelaskan apa maknanya?

Adapun Aqidah maka itu adalah penamaan lain dari iman dan keyakinan dan semua ulama telah sepakat akan penggunaannya.

Kemudian siapa bilang Nabi shallallahu alaihi wa sallam bina imannya sahabat Cuma 13 tahun. Maka ketahuilah wahai jahil dari awal da’wah beliau shallallahu alaihi wa sallam sampai meninggalnya beliau shallallahu alaihi wa sallam yang beliau shallallahu alaihi wa sallam serukan adalah tauhid dan salah satu sabda terakhir beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah, janganlah kalian menjadika kuburannku sebagai I’ed (sesuatu yang sering didatangi). Apakah maksud beliau shallallahu alaihi wa sallam di atas bukan dalam perkara aqidah karena takutnya beliau shallallahu alaihi wa sallam kuburannya akan dijadikan wasilah kesyirikan.

Pada halaman 23 penulis berkata, BUKAN DUDUK dI Majelis Ta’lim seperti salafy sekarang yang mengaku pengikut salaf..ini salaf yang mana…?

Pernyataan dengan ungkapan senada juga ditulis di halaman 25,  ‘tak ada yang seperti antum duduk di majlis kajian kemudian merasa Imannya sudah betul…Ajib !!.

Maksudnya adalah para sahabat tidaklah duduk di majelis ta’lim untuk mengkaji ilmu tapi mereka mendapatkan iman itu karena telah melewati cobaan, siksaan dan ujian.

Kata siapa wahai karkun bahwa mereka (para sahabat) tidak duduk di majelis, bahkan mereka berkerumun di majelisnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menuntut ilmu yang baru kemudian mereka sampaikan kepada keluarganya. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menyiapkan waktu khusus untuk mengajari para wanita, apakah itu bukan majelis ta’lim wahai jahil. Apakah pertemuan di rumah Al Arqam bin Abil Arqam itu bukan majelis ta’lim namanya. Dan antum pun tahu hadits tentang keutamaan majelis dzikir yang para ulama sepakat bahwa yang dimaskud majelis dzikir dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu adalah majelis ilmu di mana Al Qur’an dan As Sunnah di bacakan, bukan acara dzikir berjama’ah sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman kalian penganut bid’ah shufiyyah. Tapi seperti perkataan ulama bahwa kaum sufi dulu karena malas menghapal dan belajar hadits maka mereka membuat-buat hadits palsu, maka para sufi jaman sekarang (JT) karena malas belajar maka mereka berdalil dengan hadits-hadits palsu tadi atau dengan hadits shahih bahkan dengan al qur’an tapi ditafsirkan semaunya.

Lantas kalau menurut karkun, para sahabat mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bukan dengan cara duduk di majelis lantas dengan cara apa.  Ataukah bagaimana menurutmu cara Mujahid, Atha, Ikrimah dan yang lainnya mendapatkan ilmu tentang agama, lewat mimpi[1] ataukah mereka berkerumun di majelisnya Ibnu Abbas dan sahabat lainnya. Bahkan Mujahid bermulazamah atau bermajelis dengan Ibnu Abbas selama puluhan tahun. Adapun cobaan dan siksaan yang mereka hadapi adalah untuk memperkokoh keimanan mereka yang memangsudah dilandasi dengan ilmu hasil bermajelis dengan Rasulullah.

Klo masih belum cukup,simak baik-baik:

Al Imam Asy Syafi’i berkata :, “Aku membacakan (mengajar) kepada manusia, ketika itu aku berusia 13 tahun[2].

Ahmad bin An-Nadhar Al Hilali berkata, “Aku mendengar bapakku berkata, ‘Dahulu aku berada di Majelis Sufyan ibnu Uyainah[3]

Dan banyak lagi atsar-atsar dari para salaf tentang duduknya mereka di Majelis ‘Ilmu, yang kalau antum mau tahu lebih banyak maka bacalah kitab As Siyar A’lami Nubala dan/atau Tadzkiratul Huffazh karya Al Imam Adz Dzahabi

Sekarang pertanyaannya buat antum, Siapa Salaf JT dalam bentuk berda’wah, siapa dari kalangan para Salafush-shalih yang keliling mesjid bermodalkan kompor, selimut dan panci serta kitab yang dipenuhi hadits lemah bahkan palsu dan kisah-kisah yang mungkar?

Sudahlah, akui saja kalau antum malas belajar, kalau antum menyangkal sekarang antum datang dan ikuti kajian yang diadakan oleh salafiyyin yang mengkaji kitab-kitab karya para ulama besar dan setelah itu antum semua belum terlambat kalau mau keluar berda’wah di jalan Allah. Atau mungkin antum akan berkata lagi, ah, itu hanya buang-buang waktu, lebih baik pergi menda’wahkan yang ditahu, ya akhi.. apa yang antum mau da’wahkan sementara cara wudhunya antum saja masih salah dan tidak sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang antum hendak da’wahkan sementara cara duduk dalam shalat saja masih belum benar. Atau mungkin antum antum mengatakan entar di cuci otaknya, kalau memang kotor ya mesti di cuci dengan Al Qur’an dan Sunnah tapi kalau kalian tidak merasa kotor ya nggak usah merasa takut dicuci. Dan itulah yang bahaya karena pada dasarnya kalian merasa benar sendiri bukan salafiyyin karena kalian enggan di kritik, semua kritikan berdalil Qur’an dan Sunnah mentah di hadapan kepala batunya JT. Adapun salafiyyin silahkan kalau mau mengkritik yang penting berdalil dengan Qur’an dan Sunnah yang shahih berdasarkan pemahaman salafush-shalih bukan berdasarkan pemahaman Maulana Jamil, maulana Zakariya, Maulana ini atau Maulana itu, jangan pakai perasaan dan akal-akalan.


[1]               seperti yang dilakukan oleh big-boss, Mudir dan Founding Fathernya jama’ah Tabligh, Muahmmad Ilyas yang mendapatkan penafsiran ayat 110 dari surat Al Imran melalui mimpi, sebagimana dalam Malfuzhat Ilyas tulisan Muhammad Manshur An Nu’mani dari perkataan Muhammad Ilyas sendiri.

[2]               As Siyar 10/54

[3]               Al Kifaya fi ‘Ilmi Ar Riwayah (hal 112), As Siyar 8/404

Al Imam Syafi’I dan Al Imam Ibnu Uyainah adalah dari generasi Atba’ut Tabi’in dari generasi Salaf.

 

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: