Dialog Dengan Jama'ah Tabligh

Dialog Dengan JT : Di Antara Ma’na “Hikmah” Dalam Da’wah

JT : ya nggak, tapi salafy itu gak punya hikmah dalam berdakwah, terlalu keras, sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit syirik, sedikit-sedikit sesat.

STI : ana mau tanya apa sih maksud hikmah menurut JT?

JT : hikmah itu ya lemah lembut dalam berda’wah, disampaikan dengan cara yang lemah lembut.

STI : oo, jadi menurut antum hikmah itu, ada ahli bid’ah mari, ada ahli syirik silahkan, ada tukang takhayyul monggo, ada ahli khurafat jangan diingkari, ada acara bid’ah hadiri. Antum pernah baca kisahnya Ka’ab bin Malik?

JT : pernah.

STI : kalau menurut versi antum apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap hikmah menyikapi Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu atau tidak?

JT : ya hikmah dunk masak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hikmah.

STI : tapi sikap beliau sangat keras, memboikot bahkan tidak mengajak bicara, tidak menjawab salam bahkan disuruh menjauhi istrinya. Jadi dari sini apa makna hikmah?

Ana tanya lagi pernah dengar kisah Ash Shabigh Al Iraqy?

JT : nggak, cerita apa tuh

STI : makanya belajar akhi, mau dengar?

JT : (ngangguk)

STI : maka simak baik-baik

Seorang lelaki dari bani Tamim yang bernama Shabigh datang ke Madinah, ia banyak memiliki kitab, namun sering bertanya-tanya tentang ayat-ayat mutasyabihat. Berita inipun sampai ketelinga Umar bin Khatab, maka beliau mengirim surat kepada Amr bin Ash – Gubernur Mesir- karena saat itu Shabigh sedang berada di Mesir, agar menahan Shabigh dan mengirimnya ke Madinah. Ketika Shabigh datang Umar sudah menyiapkan pelepah kurma, ketika orang itu sudah menemuinya, ia pun duduk. Umar bertanya:”Siapa kamu?” lelaki itu menjawab:” Saya Shabigh”. Umar kemudian berkata:”Saya Umar, hamba Allah”. Umar lalu menghajar lelaki itu dengan pelepah kurma, sampai kepalanya mengeluarkan darah. Kemudian setelah itu diserahkan untuk diobati kemudian dipanggil dan dipukul lagi dengan pelepah kurma, demikian berulang-ulang. Maka Shabigh berkata:”Cukup, wahai amiril Mukminin, jika anda hendak membunuhku maka bunuhlah dengan cara yang baik adapun jika anda hendak mengobatiku maka demi Allah, kini sudah hilang yang selama ini bersarang di kepalaku”, kemudian Shabigh dikembalikan ke kaumnya dan Umar mengirimkan surat kepada Gubernur Iraq pada saat itu –kalau tidak salah Abu Musa Al Asyari- memerintahkan agar kaum muslimin tidak mengajaknya berbicara dengan Shabigh, sampai Shabigh benar-benar sembuh dari ‘penyakit’. Setelah Shabigh benar-benar sembuh dari penyakit suka bertanya-tanya tentang ayat mutasyabihat, maka umar membolehkan kaum muslimin untuk bergaul dengan Shabigh.

Sekarang ana tanya pa menurut antum perbuatan Umar itu Hikmah atau tidak?

JT : itu…itu…itu…

STI : kisah ini shahih dan masyhur dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah tidak sebagaimana kebanyakan kisah-kisah dalam kitab kalian fadhailul a’mal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi hikmah artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan ilmu, makanya Allah di namai Al Hakim dan seringnya nama ini digandengkan dengan nama Al ‘Alim karena Dia menempatkan sesuatu pada tempatnya, di beri petunjuk orang yang memang menghendaki dan menempuh jalan untuk mendapatkan petunjuk dan disesatkan orang-orang yang memang menghendaki dan menempuh jalan-jalan kesesatan yang kesemua itu dibangun di atas ilmu Allah yang Maha Luas.

Jadi kalau bid’ah ya bilang bid’ah, syirik ya bilang syirik, khurafat ya bilang khurafat. Agama ini nasehat, masa kita sudah tahu kalau itu adalah racun kita mau biarkan saudara kita meminumnya, dah ditahu kalau itu syirik tapi umat tidak diperingatkan.

Jadi kalian yang mendiamkan da’wah kepada Tauhid, menyuburkan bid’ah dan bergaul dengan tokoh-tokohnya, membela Muhammad Zakariya Al Kandahlawy yang berpemahaman wihdatul wujud – jangan di potong nanti ana kasih bukti dari bukunya sendiri- dan membela tokoh-tokoh bid’ah yang lainlah yang tidak hikmah karena diam bahkan buta akan kebenaran.

Kalian yang juga berda’wah tanpa ilmu itu juga namanya tidak hikmah sebab yang namanya da’wah itu harus dengan ilmu, itu baru namanya hikmah.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: