Uncategorized

Dialog Dengan JT : Jawaban Al Ustadz Dzulqarnain

STI : ana anggap diamnya antum pertanda masalah ini sudah jelas, adapun tentang perkataan antum, apa Allah Azza wa Jalla akan menghukum orang yang keluar untuk berda’wah, mengajak kepada agama-Nya?

Mari kita dengarkan sebuah kisah dari seorang imam besar dan pemimpin ulamanya kalangan tabi’in rahimahumullahu jami’an. Al Imam Said Ibnul Musayyib rahimahullah. Beliau pernah menegur orang yang shalat sunnat lebih dari dua raka’at setelah adzan subuh, agar menghentikannya atau Allah akan mengadzabnya.

Yang ditegur tak bergeming malah balik menjawab apakah Allah Azza wa Jalla akan mengadzabku karena aku shalat menghadapnya.

Said ibnul Musayyib menjawab, Allah Azza wa Jalla tidak akan mengadzabmu karena shalat tapi Allah akan mengadzabmu karena menyelisihi petunjuk Nabi-Nya.

 

JT : Kenapa salafy itu selalu merasa benar sendiri[1]. Tapi ingat da’wah yang selalu membid’ahkan tak ada bantuan Allah. Di mana-mana di usir, bahkan tempat ta’lim dan radionya di bakar[2]. Makanya da’wah kalian jalan di tempat gak maju-maju, bandingkan dengan da’wah JT yang pengikutnya makin bertambah[3].

Dan ingat jika Nabi dakwah maka di kirim Jamaah Dakwah akan jadi asbab hidayah, satu negeri masuk islam, satu kota masuk Islam, Satu kampung masuk islam. Tapi dakwah salafy di modifikasi dengan radio adakah satu keluarga masuk islam. Terus yang mana dakwah salafy yang ada dalilnya[4]

Gak ada itu JT yang yang nyembah kubur, nyembah berhala, nyembah kemnenyan, dll mereka bahkan jaga shalat berjama’ah awal waktu dan selalu tawajjuh kepada Allah.[5]

 

STI : Sabar daeng. Satu-satu ya, ana jawab

Adapun tuduhan antum bahwa salafy itu merasa benar sendiri saya jawab dengan penjelasan dari Al Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah ketika menjawab sebuah pertanyaan yang sama dalam sebuah Tabligh Akbar yang diadakan di Mesjid Al Markaz Maros pada hari Sabtu tanggal 13 Juni 2009[6]. Berikut transkrip dari jawaban beliau :

di dalam da’wah salafiyyahtidak dibenarkan ada yang  menjatuhkan vonis sesat atau vonis bid’ah kepada siapapun tanpa dalil dan hujjah sebab itu berbicara atas nama Allah tanpa hujjah dan Allah telah melarang hal itu dalam Al Qur’an

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Dan juga Rasulullah mengingatkan, Siapa yang berkata pada saudaranya wahai kafir –atau dia jatuhkan vonis yang lain, kamu wahai sesat, wahai ahlul bid’ah, dia jatuhkan vonis ini, maka vonis ini kata Nabi, “harus ditanggung oleh salah satu di antara keduanya, kalau benar vonis maka tidak apa-apa kalau salah maka vonis ini akan kembali pada dirinya.

Maka tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa da’wah salafiyyah sembarang menyesatkan orang. Di dalam da’wah salafiyyah ada ‘Amar Ma’ruf  Nahi’ Mungkar, tidak mungkin kita biarkan saudara kita terjatuh dalam kesalahan, kita ingatkan bahwa itu adalah salah, itu hal yan gmenyimpang, kita terangkan dalilnya dari Al Qur’an dan sunnah, maka siapa yang dinasehati maka hendaknya dia berlapang dada sepanjang dijelaskan dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah dan dari uraian ucapan para ulama as-salaf, maka dia terima, dia jangan bersombong menolak kebenaran, walaupun itu menyelisihi gurunya, menyelisihi kelompoknya, menyelisihi siapa yang dia bernisbat padanya. Hendaknya Al Qur’an dan As Sunnah lebih dia besarkan dan agungkan. Mereka berbicara dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah , ada dalilnya terima, tidak ada dalilnya tolak, kalau dia tidak setuju maka sampaikan hujah, bantah dengan dalil kalau memang dia anggap hal tersebut sebagai hal yang salah.[7]

selesai jawaban ustadz…

 

Maka perhatikanlah bahwa semua peringatan ulama atas sesatnya JT di dasari oleh dalil dan hujah yang nyata, dibangun di atas ilmu dan bashirah serta burhan bagi yang berlapang dada hendak mencari kebenaran. Adapun dalil kalian seperti rumah laba-laba. Sebagaimana telah dan akan dijelaskan.

 

Adapun yang kedua bahwa da’wah salafy itu selalu di usir dan bahkan dibakar radio dan tempat ta’limnya. Bukankah memang begitu da’wah para Nabi, bukan Cuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi seluruh para Nabi, bahkan berapa banyak Nabi bukan hanya diusir tapi diburu untuk di bunuh bahkan dibunuh karena da’wah para Nabi selalu menda’wahkan Tauhid Uluhiyyah – jangan dipotong, akan datang penjelasannya – dan ini tidak sesuai dengan hawa nafsu mara mad’unya. Jadi kalau Cuma di usir atau rumahnya dibakar itu mah nggak seberapa.

Lantas apakah bisa dikatakan kalau da’wah para Nabi itu tidak di tolong oleh Allah karena mereka banyak yang dibunuh bahkan ada yang digergaji dan juga Rasulullah juga diusir dari kampungnya bahkan hendak di bunuh, bukankah kata antum sendiri bahwa iman itu harus di tebus dengan pengorbanan, nah sekarang anak panah telah mengenai penarik busurnya.

Apakah kemudian bisa dikatakan kalau da’wah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya itu tidak mendapat pertolongan Allah karena para sahabat di siksa bahkan orang tua Ammar dieksekusi oleh kafir quraisy. Khubaib bin Adi mati kemudian disalib. Apakah bisa dikatakan da’wah Al Imam Al Bukhary tidak mendapat pertolongan dari Allah azza wa Jalla karena fitnah yang beliau hadapi membuatnya diusir sehingga harus berpindah-pindah sampai beliau rahimahullah meninggal di Samarqand. Apakah bisa dikatakan kalau da’wah Dua Ahmad yaitu Ahmad ibnu Hanbal dan Ahmad bin Abdul Halim tidak ditolong oleh Allah Azza wa Jalla karena mereka rahimahumallah dipenjara, disiksa dan di boikot, bahkan Al Imam Ahmad Ibnu Abdul Halim  meninggal dalam penjara. Nah sekarang mata pedang itu berbalik mengenai pemegangnya, sementara kalian keliling dunia, wara-wiri dari satu benua ke benua yang lain, dari satu perbatasan negeri ke perbatasan negeri lainnya dan kalian tidak mendapat hambatan sedikitpun, tidak dusir dan tidak dicaci kecuali oleh para penuntut ilmu yang mengerti batilnya da’wah kalian. Di setiap negara yang kalian singgahi disambut dengan “kalungan bunga”. Apakah seperti ini da’wah para Nabi?

Ada tanggapan ?

 

JT : (Diam)

 

 

[1]               Lihat buku SVJT halaman 2

[2]               Lihat buku SVJT halaman 58 – 59

[3]               Syubhatini juga sering dilontarkan untuk menjadi dalil akan benarnya da’wah mereka.

[4]               Lihat buku SVJT halaman 59-60

[5]               Lihat buku SVJT halaman 25 – 26

[6]               Dan terungkap bahwa yang bertanya akan hal itu adalah Karkun JT yang memang banyak hadir saat itu, entah untuk tujuan apa, hanya Allah saja yang tahu.

[7]               Ada sebuah cerita yang unik, aneh, lucu, menggelikan sekaligus menyedihkan dan memiriskan hati sehubungan dengan pertanyaan dan jawaban ustadz di atas. Seorang ikhwa salafy yang sebelumnya sempat berjalan bersama JT bernama Abdurrahman Gunawan menyampaikan kepada saya bahwa dia pernah didatangi oleh seorang JT yang bernama Zakariya yang tinggal di sekitar Batang Ase atau Mandai Maros dan bertanya dengan nada keras kepada Abdurrahman tentang siapa yang yang menyebarkan tulisan berisi kumpulan fatwa para ulama akan sesatnya JT oleh Syaikh Rabi’hafizhahullahi. Kemudian berlangsung pembicaraan yang isinya diantaranya adalah bahwa menurut JT Zakariyya Al Ustadz Dzulqarnain memuji JT dengan mengatakan bahwa JT itu mengajak kepada Allah. Ketika ditanya oleh Abdurrahman apakah dia mendengarnya sendiri maka kata JT Zakariya bahwa temannya yang menyampaikan hal itu pada dia. Maka Abdurrahman hanya bisa beristighfar kepada Allah. Demikianlah JT, atas nama Nabi saja mereka berani berdusta patah lagi hanya terhadap seorang ustadz. Wallahul Musta’an. Nasalullahassalamata wal ‘afiyah.

Dalam dialog tersebut Abdurrahman menyampaikan agar kalau mereka JT tidak sepakat dengan apa yang dituliskan Asy Syaikh Rabi’agar menuliskan bantahan yang tentunya dengan hujjah, tapi kata JT Zakariyya itu hanya buang-buang waktu. Jadimenurut JT Zakariyya ini Al Imam Ahmad telah membuang-buang waktunya ketika menulis kitab Ar Radd ‘Ala Adz Dzanadiqah, begitu juga dengan Al Imam Al Bukhary telah buang-buang waktu ketika menulis kitab Khalq Af’alil ‘Ibad. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah begitu para ulama lain yang telah menuliskan bantahan-bantahan terhadap bid’ah dan ahlinya telah membuang-buang waktunya menurut si JT Zakariyya.

 

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: