Dialog Dengan Jama'ah Tabligh

Dialog Dengan JT : Mulailah Dengan Tauhid

JT : tapi kan da’wah harus tetap jalan.

STI : kalau misalnya antum kena penyakit katarak yang harus dioperasi apakah antum akan membiarkan dokter yang masih coast mengoperasi antum? Gratis tanpa di bayar.

JT : ana gak ngerti maksud antum apa hubungannya dengan semua ini. Tapi jelas saja ana nggak mau, biar gratis la wong masih coast, ana cari dokter spesialis walaupun harus bayar jutaan.

STI : ya akhi itu urusan dunia, urusan mata yang resikonya hanya buta atau cacat lain yang akan selesai dengan kematian antum gak berani. Lantas gimana antum berani berda’wah tanpa ilmu yang cukup, padahal urusannya cuma surga atau neraka yang justru dimulai setelah kematian. Untuk urusan operasi katarak gak mau ditangani oleh dokter coast padahal dokter loh yang sudah pelajari hal itu bertahun-tahun, bukan sarjana pertanian yang tahunya teori serbuk sari atau bibit unggul. Tapi pas giliran urusan agama, urusan akhirat, urusannya surga dan neraka gak apa-apa baru tobat dari mabuk-mabukan juga bisa berda’wah, ntar belajarnya sambil jalan, yang penting khuruj. Ya akhi apakah ini hikmah namanya? Apakah seseorang bisa jadi dokter atau insinyur atau guru tanpa belajar dulu? Apakah bisa dibenarkan orang yang tidak pernah mendalami ilmu agama kemudian pantas jadi da’i dan dalam sehari bergelar ustadz? Apakah ini yang namanya hikmah. Seorang yang sudah kuliah di IKIP 4 tahun gak lantas jadi guru atau dosen tapi harus ikut tes dulu,  apakah kemudian untuk urusan surga dan neraka, orang bisa seenaknya langsung jadi da’i padahal cara wudhu aja dia gak paham. apakah ini hikmah namanya? Ya akhi’ jadilah orang yang inshaf yang mengerti kemampuan diri sendiri, jangan berlandaskan semangat aja, tapi dengan ilmu.

JT : tapi kan harus ada yang berda’wah

STI : gak ada yang melarang tuan berdakwah, tapi berilmulah dulu sebelum berdakwah. Bukankah kata antum sendiri menukil firman Allah dalam surat Yusuf 108 bahwa berdakwah itu harus dengan hujjah yang nyata , dengan bashirah yang kuat dan mantap, dengan ilmu yang benar bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salaful ummah. Berdakwah itu ada aturannya.

JT : Kami juga berdakwah ada aturannya, manhaj da’wah kami sesuai dengan da’wah para Nabi, dakwah kami adalah amalan anbiya yaitu Dakwah, Ta’lim watta’lim, dzikir ibadat dan khidmat. Coba baca surat Al Jumu’ah ayat 2 dan Ali ‘Imran ayat 164. Manhaj Nabi berdakwah kan hanya mengajak kepada Allah, dan mendatangi manusia, dan tak minta upah dalam berdakwah. Jadi adakah ke tiga ciri manhaj da’wah ini pada kalian??

Justru ketiganya ada di JT tau…[1]

STI : Aturan dakwah itu aturannya harus dari Allah dan Rasul-Nya, adapun dalil antum surat Al Jumu’ah dan Ali ‘Imran tidaklah pada tempatnya berdalil dengan ayat itu. Telah dijelaskan di atas bahwa inti dan tujuan da’wah para Nabi dan Rasul adalah menyeru agar hanya mentauhidkan Allah saja dalam seluruh hal, dalam Rububiyyah, Uluhiyyah maupun Asma wa Shifat-Nya dan yang menjadi titik penekanan da’wah mereka alaihimussalam adalah masalah Uluhiyyah atau Ubudiyyah sebagaimana akan datang dalilnya, sekarang ana tanya adakah da’wah antum akan hal itu? Bahkan kalian lari sejauh-jauhnya karena menurut pandangan antum dan ini terlontar dari mulut-mulut anggota JT bahkan dari yang sudah senior dan bergelar Syaikh bahwa dakwah kepada Tauhid Uluhiyyah akan memecah belah umat dan membuat umat lari. Apakah begini da’wah para Nabi?

Jadi ya, na’am…. apa yang antum sebut itu ada pada da’wah Salafiyyah dan ana gak lihat adanya hal itu di JT terlebih yang pertama. Sebab da’wah para Nabi alaihimussalam adalah mengajak untuk mentauhidkan Allah ‘Azza wa jalla dalam ibadah, menasehati dan menyeru manusia agar meninggalkan kesyirikan. Sekali lagi adakah kalian melakukan itu?

 


[1]               Lihat buku SVJT halaman 32 – 39 dan hal 68

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: