Dialog Dengan Jama'ah Tabligh

Dialog Dengan JT : Para Utusan Rasulullah Adalah Orang Yang Berilmu

JT : kamipun beramal, berda’wah dan kami adalah orang yang sangat sabar dalam hal itu, kami tinggalkan anak dan istri, kampung halaman untuk berda’wah, kami rela kedinginan, semua itu untuk satu tujuan yaitu menda’wahkan agama Allah Azza wa Jalla.

STI : Imam Al-Bukhari1 Rahimahullah Ta’ala, mengatakan :”Bab Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan”.

Dalilnya firman Allah Ta’ala.

Maka ketahuilah, sesungguhnya tiada sesembahan (yang Haq) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu”. (Muhammad : 19).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (agama) sebelum ucapan dan perbuatan.

Jadi kalian kehilangan atau kurang dalam pondasi yakni ilmu, dan bangunan da’wah kalian itu dibangun di atas pondasi yang rapuh. Agama tidak bisa dibangun di atas semangat saja tapi harus di atas ilmu.

nah sekarang kembali ke masalah radio dan internet yang kata kelompoknya akang bukan sekedar bid’ah tapi Super Bid’ah. Antum dah mengerti tentang bid’ah dan dah tahu tentang kaidah fiqih yang menyatakan bahwa hukum asal semua benda adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Sekarang ana tanya aoakah ada dalil yang mengharammkannya. Dan ana tanya juga jika seandainya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam dah ada radio dan internet, apakah menurut antum beliau tidak akan menggunakannya sebagai sarana da’wah.

JT : (diam)

STI : yang berikutnya soal jamah da’wah.

Kemudian sekarang tunjukkan kepadaku dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim jamaah da’wah, yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sahabatnya orang per orang atau sendiri-sendiri, beliau mengutus Ali sendiri, Ibnu Mas’ud sendiri, Muadz sendiri, dan bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mushab bin Umair ke Madinah sendiri. Adapun kalau maksud kalian adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sekumpulan sahabat untuk berperang maka sangat jauh untuk menjadikan dalil bagi model da’wah kalian. Tunjukkan padaku satu dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabatnya secara berjama’ah keliling mesjid sambil bawa kompor dan selimut dalam keadaan mereka buta akan apa yang mau dida’wahkan.

Sepanjang yang ana tahu, hanya dua kali beliau mengutus sahabatnya murni untuk berda’wah, bukan berperang dalam bentuk berkelompok yaitu

Yang Pertama ke kabilah ‘Udhal dan Qarah atas permintaan mereka, tapi ini berakgir tragis ketikaa 10 orang yang diutus di bawah pimpinan ‘Ashim bin Tsabit radhiallahu anhu dikhianati dan 8 orang di bunuh termasuk ‘Ashim bin Tsabit sementara 2 orang lainnya yaitu Khubaib bin ‘Adi dan Zaid bin Ad Datsinah radhiallahu anhuma di tawan dan diserahkan ke kaum quraisy yang kemudian di bunuh oleh mereka.

Yang Kedua yaitu ketika beliau mengutus 70 orang sahabat dari para penghafal qur’an ke daerah Najd atas permintaan Abu Bara’ bin Malik tapi kali inipun berakhir tragis dengan terbunuhnya mereka semua kecuali Ka’b bin Zaid dan ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamry. Rincian kisah ini bisa antum lihat di buku SIRAH NABAWIYYAH terbitan Ash Shaff Media halaman 249 – 252. Kalau antum tidak punya nanti ana pinjami lagi

JT : tuh kan ada dalilnya bolehnya berda’wah secara berkelompok

STI : ntar dulu, orang belum selesai ngomong. Disini pun tidak ada dalil bagi kalian, karena yang diutus oleh mereka adalah para qurrah yang ahli qur’an bukan sembarang orang yang baru masuk islam atau baru kemarin berhenti dari preman pasar. Disana juga tidak ada ketentuan bahwa harus sekian hari, dan mereka diutus untuk mengajarkan agama secara menyeluruh bukan sekedar mengajarkan dan mengajak orang shalat, bahkan yang paling pertama mereka diperintahkan adalah untuk menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dalam ibadah. Dan ternyata mereka pun menghadapi pengkhianatan dan siksaan sementara kalian keluar masuk kampung gak di apa-apain maka sungguh jauh bila mau dibandingkan.

Jadi dari kisah di atas dan ditambah kisah pengutusan Muadz bin Jabal ke Yaman ditarik kesimpulan seorang da’i dalam berda’wah itu harus memiliki beberapa kriteria yaitu :

  1. Berilmu akan apa yang harus dida’wahkannya

  2. Memulai dari yang paling utama kepada yang utama berikutnya yaitu memulai dengaan da’wah kepada mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah.

Adakah kriteria di atas pada manhaj da’wah JT, tentang hal ini akan di ulas lebih lanjut nanti?

JT : (Hening berpikir)

1 Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al- Bukhari (194-256H – 810-870M) Seorang Ulama ahli Hadits. Untuk mengumpulkan hadits ia telah menempuh perjalanan yang panjang, mengunjungi Khurasan, Irak, Mesir dan Syam. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain Al-Jaami Ash-Shahih (yang lebih dikenal dengan Shahih Bukhari), At-Taarikh, Adh-Dhu’afaa, Khalq Af’aal al-Ibaad. 3.Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-’ilm, bab.10

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: