Antara Sunnah dan Bid'ah, Fiqih/Tanya Jawab

Sholawat dengan Suara Keras Usai Adzan

Di masa kecil saat kami masih berada di Wonomulyo, Kabupaten Polman, Sulbar, pernah menyaksikan pemandangan aneh berupa adanya mu’adzin (tukang adzan) menambahi lafazh adzan dengan sholawat. Jadi, bentuk adzannya dimulai dengan lafazh yang kita kenal, lalu diiringi sholawat dengan suara jahr (keras) sebagaimana saat ia mengucapkan lafazh adzan sebelumnya.

Sebagian orang saat itu marah dan jengkel seraya bergumam, “Siapa sih yang adzan model baru seperti ini?”. Tiba-tiba datanglah seorang bapak tua menasihati si tukang adzan agar jangan ber-adzan seperti itu.

Waktu itu, dasar masih jahil, kami sempat bertanya dalam hati, “Kenapa bapak itu marah? Bukankah mu’adzin ber-sholawat?”

Padahal bapak tua itu sudah tepat, karena yang beliau ingkari adalah kaifiah (tata cara) adzan itu tak ada tuntunannya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat -radhiyallahu anhum-

Perkara ini pernah diadukan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- dengan pertanyaan berikut,

Apa yang dilakukan oleh sebagian orang di sisi kami, Urdun (Yordania) dan sebagian negeri-negeri lain berupa ucapan mu’adzin usai adzan,

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Apakah dalam hal ini ada masalah dan apa hukumnya?”

Selanjutnya Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- menjawab,

Permasalahan ini ada rinciannya. Jika tukang adzan mengucapkan hal itu dengan suara lirih, maka itu disyariatkan bagi mu’adzin dan lainnya dari kalangan orang yang menjawab mu’adzin. Karena, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

« إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثم صلوا علي فإن من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا ثم سلوا الله لي الوسيلة فإنها منزلة في الجنة لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله وأرجو أن أكون أنا هو فمن سأل لي الوسيلة حلت له الشفاعة »

Jika kalian mendengar tukang adzan, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian ber-sholawat-lah kepadaku. Karena, barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan ber-sholawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintakanlah untukku “al-wasilah”, karena ia adalah kedudukan dalam surga yang tak pantas, kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah, sedang aku mengharapkan agar akulah hamba itu. Barangsiapa yang memintakan untukku al-wasilah, maka telah pasti baginya syafa’atku”. [HR. Muslim (no. 384)]

Al-Bukhoriy meriwayatkan dalam Shohih-nya (no. 589) dari Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhuma- berkata, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

« من قال حين يسمع النداء اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته حلت له شفاعتي يوم القيامة »

Barangsiapa yang berkata ketika mendengarkan adzan,

اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته

maka telah pasti baginya syafaatku pada hari kiamat”.

Adapun jika tukang mengucapkan hal itu (yakni, sholawat) dengan suara tinggi seperti adzan, maka hal itu (pengucapan sholawat usai adzan) adalah bid’ah. Karena, hal itu akan mengesankan bahwa sholawat itu bagian dari adzan. Sementara penambahan dalam adzan adalah tak boleh. Sebab, akhir adzan adalah kalimat “laa ilaaha illallah”.

Jadi, tak boleh memberikan tambahan atas hal itu. Andaikan itu baik, maka para As-salaf Ash-Sholih akan terdahulu kepadanya. Bahkan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- akan mengajari umatnya dan men-syari’at-kannya buat mereka (andai memang disyariatkan).

Sungguh beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak”. [HR. Muslim (no. 1718) (18)]

Asalnya hadits ini terdapat dalam Ash-Shohihain (Shohih Al-Bukhoriy dan Shohih Muslim) dari hadits A’isyah -radhiyallahu anhuma-.

Aku memohon kepada Allah –Subhanahu- agar Dia memberikan tambahan pemahaman agama bagi kami, kalian dan seluruh saudara-saudara kita yang muslim dan agar Dia menganugerahkan kepada kita semua ketegaran di atasnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Wassalamu alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh”. [Lihat Fatawa Syaikh bin Baaz (1/439-440)]

 Sumber : http://pesantren-alihsan.org/

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: