Nasehat

Manusia Pemakan Api

Setiap orang yang berakal sehat mendambakan dan membutuhkan makanan yang lezat, halal, baik dan bermanfaat. Ini jika manusia memiliki akal yang sehat. Namun perlu diketahui bahwa sebagian orang ada yang tak berakal sehat justru mengusahakan untuk dirinya makanan dari api yang akan membakar dan membinasakan dirinya. Orang seperti ini laksana orang gila yang tak waras. Bahkan lebih para dari orang gila!! Orang gila memakan sesuatu yang membahayakan dan membinasakan dirinya, karena memang kehilangan akal. Adapun yang seperti ini, ia memiliki akal sehat, tapi ia tak gunakan untuk kebaikan dirinya. Dia singkirkan akalnya jauh-jauh sehingga ia hancur dengan sehancur-hancurnya.

Parapembaca yang berakal, jika disana ada “manusia kanibal” pemakan manusia yang amat mengerikan, maka disana ada yang lebih mengerikan lagi, yaitu “manusia pemakan api”. Perlu kiranya kita kaji perihal  mereka agar tidak meniru perilaku buruknya. Adapun golongan manusia buruk itu:

1. Pemakan Harta Anak Yatim secara Zhalim

Di zaman ini banyak bertebaran manusia-manusia pemakan api neraka seiring berkembang dan menjamurnya panti-panti asuhan yang mengumpulkan anak-anak yatim. Panti-panti ini diurus oleh berbagai macam jenis manusia, ada yang jahat dan ada yang baik. Sebagian diantara mereka saking jahatnya, sering mengkianati anak-anak yatim dan menjual nama mereka di depan para muhsinin (dermawan) yang senantiasa memberikan sumbangan dan infak kepada mereka.

Orang-orang jahat itu menerima sumbangan atas nama anak yatim untuk membesarkan perut mereka dan memperkaya diri sendiri. Sementara anak-anak yatim sekedar hidup dengan sesuap nasi. Orang-orang jahat ini tak sadar bahwa apa yang mereka usahakan berupa sumbangan untuk perut dan keperluan lainnya akan berubah menjadi api siksaan baginya di neraka.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا [النساء : 10]

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu memakan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. An-Nisaa’ : 10)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman Ibn Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, sesuatu yang mereka makan adalah api yang menyala-nyala dalam rongga perut mereka. Mereka sendirilah yang memasukkan api itu ke dalam perutnya. “…dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”, maksudnya, api yang membakar lagi membara. Ini adalah ancaman terbesar yang datang dalam hal dosa. Ini menunjukkan tentang ngeri dan buruknya memakan harta anak yatim serta dalil bahwa hal itu menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam neraka. Itu menunjukkan bahwa perbuatan ini adalah termasuk dosa besar. Kita memohon keselamatan kepada Allah”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 165), cet. Mu’assasah Ar-Risalah]

Paramanusia pemakan api ini  seringkali tak merasa malu menyebarkan orang untuk meminta sumbangan. Ternyata sumbangan itu bukanlah untuk anak-anak yatim, tapi untuk membangun rumah, atau memenuhi segala hajatnya.

Adayang lebih jahat dari ini, ia mengatasnamakan anak yatim, padahal ia tak punya anak-anak yatim yang dipelihara olehnya dalam panti. Mereka lihai dalam mempecundangi dan membodohi pemerintah. Saat pemerintah  datang melakukan kunjungan dan pemeriksaan agar selanjutnya mendapatkan bantuan, maka dengan beraninya dan tanpa malu datang ke tetangga-tetangga sekitar “meminjam” anak-anak mereka agar dipajang sebagai anak yatim di depan pemerintah. Padahal mereka bukanlah anak-anak yatim yang dipeliharanya. Sungguh besar kebohongan mereka. Amat hina mereka ini, segala cara ditempuh untuk mendapatkan dunia yang hina. Ia tak ingat bahwa di neraka ia akan mendapatkan hidangan api yang siap dihidangkan dan disajikan untuk dirinya.

Hendaknya orang-orang ini takut kepada Allah sebelum mereka menyesal di neraka di saat api sudah menyala dan membara.

2. Orang Yang Menyembunyikan Kebenaran

Menyembunyikan kebenaran yang mengandung maslahat umum bila disebarkan merupakan perkara yang tercela. Terlebih lagi jika hal itu diselimuti niat-niat busuk!! Sebagian orang sengaja menyembunyikan kebenaran dengan berbagai alasan.Adayang menyembunyikannya karena takut berseberangan dengan orang lain, ada yang takut kehilangan penghasilan dan pekerjaan, ada yang beralasan takut kehilangan pamor dan kedudukan. Semua ini adalah setan-setan bisu yang akan terhina dalam Jahannam. Mereka adalah manusia pemakan api.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ  [البقرة : 174]

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. (QS. Al-Baqoroh : 174)  

Makanan yang dimakannya berasal dari hasil menyembunyikan ayat-ayat yang diturunkan Allah sebagai bentuk penghinaan baginya, sebab di dunia ia telah menghinakan para pengikut kebenaran yang seharusnya dimuliakan dengan memberikan dukungan kepadanya, bukan malah memuliakan dan mendukung para pelaku kebatilan dan maksiat demi mengenyangkan perut dengan api neraka!!!

Konon kabarnya, ayat ini turun berkenaan dengan para pembesar dan ulama’ Yahudi. Mereka mendapatkan hadiah dan kelebihan harta dari orang-orang rendahan diantara mereka dan mereka mengharapkan agar nabi yang diutus berasal dari keturunan mereka. Tatkala Nabi itu diutus dari selain mereka, maka mereka takut kehilangan mata pencaharian dan kepemimpinan mereka sehingga mereka pun mengubah sifat-sifat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang terdapat dalam Taurat. Setelah itu, mereka pun mengeluarkan dan mengumumkan sifat-sifat nabi yang dijanjikan di hadapan pengikut mereka seraya berkata, “Inilah sifat nabi yang akan keluar di akhir zaman, tidak menyerupai Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang ada di Makkah!!”

Jika pengikut mereka memandang kepada sifat yang telah diubah tersebut, maka mereka mendapatinya berbeda dari sifat Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Akibatnya mereka tak mau mengikuti beliau. [Lihat Asbab An-Nuzul (hal. 52) karya Al-Wahidiy, dengan tahqiq Kamal Baisuni Zaghlul, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]

Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata saat menerangkan ayat di atas,  Ini adalah ancaman yang amat keras bagi orang yang menyembunyikan wahyu yang turunkan kepada rasul-rasul-Nya berupa ilmu yang Allah ambil perjanjian dari para ulama agar mereka menerangkannya kepada manusia, bukan menyembunyikannya. Barangsiapa yang menggantinya (menjual wahyu) dengan harta duniawi dan menyingkirkan urusan (wahyu) Allah, maka mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Karena, nilai yang mereka peroleh ini hanyalah mereka raih melalui usaha yang amat buruk dan perkara haram yang terbesar (yakni dengan menyembunyikan kebenaran). Lantaran itu, balasan mereka sesuai kelakuan mereka”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 82)]

Manusia pemakan api seperti ini, banyak berkeliaran di sekitar kita dan mayoritasnya adalah orang-orang yang dikenal keagamaannya. Karenanya, seseorang harus waspada jangan sampai terjerat dengan makar mereka. Cirinya, mereka adalah manusia rakus dunia. Tak ada dalam benak mereka, kecuali dunia dan isi perut. Mereka rela menyembunyikan kebenaran yang ketahui demi dunia dan jabatan!! Apalagi di zaman kita ini banyak orang yang gila kursi. Mereka membenarkan dirinya masuk ke dalam kancah demokrasi saat pemilu dengan alasan “agama” dan “dakwah”, padahal demi perut dan kursi yang ia khayalkan!!!

Tak pelak bila iapun menjual ayat-ayat Al-Qur’an dengan menyelewengkannya dari makna sebenarnya demi kepentingan politik. Bila ditanya, “Kenapa pak Ustadz ikut pemilu, padahal Al-Qur’an secara jelas telah merobohkan prinsip demokrasi dari akarnya?!!”

Serta-merta ia pun menyembunyikan ayat-ayat semisal firman Allah,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُون [الأنعام : 116]

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’aam : 116)

Manusia pemakan api ini sering kali tampil bertitel kiai, ustadz, muballigh demi menipu manusia, sebab dengan topeng agama mereka tak akan dicurigai manusia. Karenanya, jangan setiap ustadz kita percaya bulat-bulat. Tapi lihat perilakunya dalam dakwah. Jika ia berdakwah hanya sekedar meraih dunia, tanpa peduli halal-haram, maka kita jauhi.

3. Orang yang Makan dan Minum pada Bejana Perak

Dunia adalah tempat sementara demi mempesiapkan bekal, bukan tempat berfoya-foya dan menghamburkan harta dalam sesuatu yang tiada bermanfaat di akhirat kelak, bahkan terkadang membawa kepada kesengsaraan. Sebagai contoh, sebagian orang membuat piring atau gelas dari emas atau perak, lalu digunakan makan dan minum. Ini merupakan sikap kesombongan, berfoya-foya dan boros serta menyerupai kehidupan kaum kafir.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

الَّذِي يَشْرَبُ فِي إِنَاءِ (آنِيَةِ) الْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ

Orang yang minum dalam bejana perak hanyalah menggelegarkan api Jahannam dalam perutnya”. [HR. Al-Bukhoriy (5634) dan Muslim (2065)]

Abul Walid Al-Baajiy -rahimahullah- berkata, “Ini mengharuskan pengharaman menggunakan bejana emas untuk minum (dan juga makan sebagaimana dalam riwayat lain,- pen.). Sisi pengharamannya dari segi makna, di dalam perbuatan itu ada sikap berfoya-foya dan menyerupai kelakuan kaum ajam”.[Lihat Al-Muntaqo(4/327)]

Itulah rahasianya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang kita makan dan minum dalam bejana emas dan perak, sebagaimana dalam sabdanya,

وَلَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الْآخِرَةِ

Janganlah kalian minum pada bejana emas dan perak dan jangan pula makan pada piring-piring yang terbuat dari keduanya, karena bejana-bejana itu bagi mereka di dunia dan bagi kita di akhirat”.[HR. Al-Bukhoriy (5426) dan Muslim (2067)]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.  Alamat : Jl. Bonto Te’ne, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi / Penanggung Jawab : Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Sumber : http://pesantren-alihsan.org/

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: