Antara Sunnah dan Bid'ah

Sahabat Ibnu Mas’ud dan Dzikir Berjama’ah

Di awal dekade tahun 2000-an, kita dikagetkan dengan sebuah bid’ah (ajaran baru) dalam agama. Kegiatan didalangi oleh Ustadz KH. Muhammad Arifin Ilham dari Banjarmasin, pendiri majelis taklim “Adz-Dzikra”. Kelihatannya bagus dan ada dasarnya. Padahal sebenarnya, dzikir jama’ah itu tak ada asalnya dalam amaliah dan kehidupan para sahabat.
Itulah sebabnya muncul pengingkaran keras bagi para pelaku dzikir jama’ah sejak munculnya bid’ah dzikir jama’ah di zaman Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu anhu- saat beliau menjabat sebagai gubernur di negeri Kufah.

Amer bin Salamah Ibnul Harits -rahimahullah- bercerita,

كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

Kami pernah duduk-duduk di depan pintu rumah ‘Abdullah bin Mas’ud sebelum sholat Shubuh . Jika beliau keluar kami akan berjalan bersamanya ke mesjid. Lalu Abu Musa Al-Asy’ary mendatangi kami seraya berkata : “Apakah Abu ‘Abdirrahman (sapaan Ibnu Mas’ud, -pent.) sudah keluar kepada kalian?” Jawab kami : “Belum”. Kemudian diapun duduk bersama kami sampai beliau keluar. Tatkala beliau keluar, kami semuanya berdiri menuju kepadanya. Lalu Abu Musa berkata kepadanya : “Wahai Abu ‘Abdirrahman sesungguhnya baru saja saya melihat di mesjid suatu perkara yang saya ingkari dan saya tidak berprasangka –alhamdulillah- kecuali kebaikan”. Beliau berkata : “Apa perkara itu?” Dia menjawab : “Kalau engkau masih hidup maka engkau akan melihatnya. Saya melihat di mesjid ada sekelompok orang duduk-duduk dalam beberapa halaqoh (majelis) sambil menunggu sholat. Di setiap halaqoh ada seorang lelaki (yang memimpin) -Sementara di tangan mereka ada batu-batu kecil-. Lalu orang (pimpinan) itu berkata : “Bertakbirlah kalian sebanyak 100 kali”. Merekapun bertakbir 100 kali. Orang itu berkata lagi : “Bertahlillah kalian sebanyak 100 kali”, maka merekapun bertahlil 100 kali, orang itu berkata lagi : “Bertasbihlah kalian sebanyak 100 kali”, maka merekapun bertasbih 100 kali. Beliau berkata : “Apa yang engkau katakan kepada mereka?”.Dia (Abu Musa) menjawab : “Saya tidak mengatakan sesuatu apapun kepada mereka karena menunggu pendapat dan perintahmu”. Maka beliau berkata : “Tidakkah engkau perintahkan kepada mereka agar mereka menghitung kejelekan-kejelekan mereka dan kamu beri jaminan kepada mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan ada yang sia-sia?!”. Kemudian beliau pergi dan kami pun pergi bersamanya sampai beliau mendatangi satu halaqoh diantara halaqoh-halaqoh tadi seraya berdiri di depan mereka dan berkata : “Perbuatan apa ini yang saya melihat kalian melakukannya?!”. Mereka menjawab : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, ini adalah kerikil-kerikil yang kami (pakai) menghitung takbir, tahlil dan tasbih dengannya”. Maka beliau berkata : “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian dan saya jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Betapa kasihannya kalian wahai ummat Muhammad, begitu cepatnya kehancuran kalian. Ini, mereka para sahabat Nabi kalian -Shollallahu ‘alaihi wasallam- masih banyak bertebaran. Ini pakaian beliau (Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-) belum usang. Bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian betul-betul berada di atas suatu agama yang lebih berpetunjuk daripada agama Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?!”. Mereka berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, demi Allah kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”. Beliaupun berkata : “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan tetapi dia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah menceritakan kepada kami tentang suatu kaum, mereka membaca Al-Qur`an. Akan tetapi (bacaan mereka) tidak melampaui tenggorokan mereka. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali kebanyakan mereka adalah dari kalian”. Kemudian beliau meninggalkan mereka. Amr bin Salamah berkata : “Kami telah melihat kebanyakan orang-orang di halaqoh itu adalah orang-orang yang menyerang kami bersama Khawarij pada perang Nahrawan”..(HR. Ad-Darimy dan di-shohih-kan oleh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 2005)

Perhatikanlah kisah ini baik-baik, niscaya engkau akan mendapatkan suatu nikmat yang lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Lihat bagaimana sahabat Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- menghukumi perbuatan mereka sebagai suatu bid’ah dan kesesatan, tanpa memandang sedikitpun kepada jenis amalan yang mereka perbuat!! Beliau juga tidak pula memandang sedikitpun kepada maksud dan niat mereka dalam melakukannya!!
Karena sekali lagi, suatu perbuatan, walaupun asalnya adalah ibadah dan walaupun dikerjakan dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan, akan tetapi bila pelaksanaannya tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maka semuanya tetap tertolak dan dianggap sebagai suatu kesesatan. Lalu bagamana lagi bila amalan bid’ah itu asalnya bukan ibadah dan tidak dikerjakan dengan keikhlasan?!.

Ibrah dan Renungan:

  1. Dzikir jama’ah adalah bid’ah (ajaran baru yang tak berdasar) dalam agama!! Sebab ia merupakan amalan yang tak ada contoh prakteknya di zaman kenabian. Dzikir memang sunnah!!! Tapi kalau dengan cara “berjama’ah”, maka ini yang tidak ada contoh dan modelnya di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

  2. Segala urusan kembalikan kepada ahlinya. Termasuk perkara agama, kembalikan kepada ahlinya, yakni ulama yang memahami sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Adapun ulama suu’ (yang buruk) yang senang mengikuti selera dan keinginan masyarakat, maka ia bukanlah rujukan benar, walaupun ia bergelar “kiai”.

  3. Niat yang baik tidaklah mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Kalau bid’ah, ya tetap bid’ah. Kalau maksiat, ya tetap maksiat, walapun niat pelakunya baik!!!

  4. Banyaknya orang yang ikut melakukan bid’ah dan ajaran sesat, bukanlah ukuran dan barometer bahwa perbuatan bid’ah mereka berubah menjadi sunnah.

  5. Hadits ini menguatkan kaedah yang dicanangkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa “Semua bid’ah (ajaran baru) dalam agama adalah sesat dan buruk”.

  6. Bid’ah dan ajaran sesat bila dibiarkan berkembang, maka ia akan menjadi sebab bagi terciptanya permusuhan di antara kaum muslimin. Sebab, tak ada seorang pun yang menciptakan bid’ah, kecuali pasti ia akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan bid’ahnya!! Itulah sebabnya para pelaku bid’ah dzikir jama’ah yang ada dalam hadits ini bergabung bersama sekte sesat (Khawarij) dalam memerangi sahabat yang membenci dzikir jama’ah.

 Judul Asli : Kedudukan Dzikir Jama’ah

  Sumber : http://pesantren-alihsan.org/

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: