Manhaj

Cara Para Nabi Berda’wah

Syaikh Rabi’ menggambarkan jalan da’wah yang pernah dilalui oleh para Nabi ‘alaihimus sallam :1

Nabi Nuh ‘alaihis sallam

Nabi Nuh ‘alaihis sallam hidup dalam kurun waktu yang sangat panjang, 950 tahun. Seluruh usianya dihabiskan untuk kepentingan da’wah menyeru kaumnya kepada tauhidullah dan ikhlas beribadah kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Tidak ada rasa putus asa dan letih, siang dan malam, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, senang maupun tidak senang, manis maupun pahit, janji dan ancaman disampaikannya kepada kaumnya. Dilancarkannya da’wah dengan hujjah dan dalil yang dapat diterima akal maupun perasaan. Diajaknya kaumnya untuk mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan memperhatikan kehidupan diri mereka maupun segala yang terjadi di sekeliling mereka seperti hujan, langit, bulan, dan matahari, berbagai tanda dan ibrah. [Kisah beliau dalam berda’wah diabadikan dalam QS. Nuh ayat 1-25].

Namun mereka tak sedikitpun mengambil manfaat dari da’wah itu dan bahkan tak bergeming sejengkalpun untuk menerima seruan tersebut. Mereka telah berketetapan hati memilih kekafiran dan kesesatan disertai dengan kesombongannya. Mereka tetap mempertahankan menyembah patung-patung dan sesembahan-sesembahan mereka yang bathil. Itu merupakan hasil dari sikap kebandelan mereka, kesombongan mereka, keinginan mereka terhadap kehancuran dan kerusakan dunia. Sungguh di akhirat kelak mereka akan mendapatkan siksa api neraka. Keteguhan Nuh ‘alaihis sallam yang tiada tara mengundang berbagai pertanyaan penting yaitu mengapa Nuh ‘alaihis sallam bertahan dengan manhaj da’wahnya, sedemikian gigih tidak mengenal bosan dan putus asa menyeru kaumnya kepada prinsip ketauhidan ini?

Mengapa Allah subhanallahu wa ta’ala memujinya dengan sanjungan yang luar biasa mengabadikan kegigihannya dalam Al Qur’an dan menggolongkannya dalam kelompok 5 (lima) Rasul yang bergelar Ulul Azmi dari sekian banyak Rasul lainnya?

Apakah da’wah tauhid pantas menyita seluruh perhatian dan pencurahan waktu sekian lamanya? Apakah manhaj ini yang telah menghabiskan rentang waktu penyampaian da’wah yang sedemikian panjang yang telah dilakukan oleh Nabi yang mulia ini tidak diterima rasio, tak tecerna oleh akal sehat, tidak dapat menembus tabir hikmah? Ataukah proses da’wah itu justru merupakan sumber hikmah, pencerminan rasio yang sehat dan akal yang penuh pertimbangan?

Mengapa Allah subhanallahu wa ta’ala menetapkan Nuh ‘alaihis sallam mengikuti manhaj ini di dalam da’wah sehingga menghabiskan waktu 950 tahun dan Allah subhanallahu wa ta’ala mengabadikan nama dan kisahnya, memberikan taklif kepada Rasul-Rasul terbesar dan manusia yang berakal baik agar menjadikan dia sebagai uswah dalam hal manhaj da’wahnya dan dalam hal kesabarannya? Jawaban yang adil atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah bahwa da’wah itu tegak di atas akal dan hikmah.

Jika memang terdapat manhaj yang paling baik dan paling lurus, berupa manhaj yang dipilih-Nya untuk Rasul-Rasul-Nya, maka apakah patut seorang Mukmin berpaling dari manhaj ini dan memilih manhaj yang lain untuk dirinya, serta berlaku dhalim terhadap manhaj Rabbani dan terhadap da’i-da’i-Nya?

Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam

Beliau adalah bapak para Nabi dan imam pemersatu yang mentauhidkan Allah. Allah telah memerintahkan kepada penghulu para Rasul dan penutup para Nabi yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut umatnya untuk mengikuti Ibrahim ‘alaihis sallam, meneladani da’wahnya serta berpegang pada petunjuk dan manhajnya. Perintah itu tertera pada firman Allah ‘azza wa jalla :

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) : Ikutilah millah Ibrahim, seorang yang hanif. Dan bukanlah dia seorang yang termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (QS. An Nahl : 123)

(Kisah perjalanan da’wah Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam diabadikan dalam QS. Al An’am : 74-83, Maryam : 41-50, Al Anbiya’ : 51-73)

Sesunguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang mampu mengantarkan para Nabi seluruhnya menjadi manusia mulia lagi perkasa, kokoh, dan tegar dalam memadamkan kebathilan dan kejahilan. Karena itu jahil akan ilmu tauhid –ilmunya para Nabi yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar dan menyelamatkan dari kesesatan dan kemusyrikan– adalah kejahilan yang dapat membunuh akal dan nurani.

Marilah kita simak kembali ajakan Ibrahim ‘alaihis sallam yang diabadikan dalam ayat-ayat-Nya : “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu pengetahuan yang tidak ada padamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”

Ibrahim ‘alaihis sallam mengembara dalam medan da’wah dengan berbekal semangat keilmuan yang tinggi. Ia hadapi bapaknya dan kaumnya dengan hujjah-hujjah yang akurat dan tak terbantahkan. Dengan semangat keilmuan itu pula ia berhadapan langsung dengan sang penguasa tiran yang kekejian dan watak kesewenang-wenangannya, serta kekuatan yang dalam pada genggamannya telah menciutkan nyali setiap orang, sehingga ia bahkan dipertuhankan oleh rakyatnya. Namun Ibrahim ‘alaihis sallam tak sejengkalpun surut selangkah. Dihadapinya Namrud, si tiran besar itu, seorang diri! Semangatnya yang tinggi, ketegarannya yang sekeras granit, dan keyakinannya yang teguh telah membuat rasa takut menghadapi resiko, menyingkir jauh.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan : “Rabbku adalah yang menghidupkan dan mematikan.” Orang itu berkata : “Akupun dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata : “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah ia dari barat.” Lalu heran terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dhalim. (QS. Al Baqarah : 258)

Andaikan Ibrahim ‘alaihis sallam dalam seruan da’wahnya itu bertujuan untuk memperoleh kekuasaan, tentu ia akan menempuhnya dengan suatu manhaj yang berbeda. Namun para Nabi, para da’i yang shalih yang mengikuti para Nabi, hanya berpegang kepada manhaj yang ditetapkan Allah subhanallahu wa ta’ala, sebab manhaj tersebut adalah haq pada setiap jaman dan tempat. Para Nabi dan penerus risalahnya hanya menempuh jalan hidayah dan bimbingan, menegakkan hujjah, dan menjelaskan kebenaran kepada orang-orang sombong lagi penentang. Demikianlah Ibrahim ‘alaihis sallam dalam da’wahnya menempuh manhaj yang telah ditetapkan Allah, lain tidak. Dan Ibrahim ‘alaihis sallam benar-benar telah menjalankan kewajiban besar ini secara sempurna dan tuntas., menegakkan hujjah kepada bapaknya dan kaumnya, baik penguasa maupun rakyat biasa. Ketika ia menghadapi kenyataan bahwa mereka tetap mempertahankan kemusyrikan dan kekufurannya tak beranjak dari kebathilan dan kesesatan, Ibrahim ‘alaihis sallam lalu melindungi diri. Ditolak dan ditentangnya kesesatan itu dan dimulailah perjuangan untuk merubahnya dengan kekuatan yang ia sanggupi.

Pertanyaannya kini adalah, dari manakah Ibrahim memulai perubahan itu. Uslub atau metoda apakah yang benar dan bijaksana untuk mengubah sikap keras kaumnya, yaitu bapaknya, penguasanya, dan rakyat jelata di sekelilingnya yang tak hendak beranjak dari kubangan kesesatan dan kemusyrikan?

Sesungguhnya Ibrahim murka, karena mesti hidup di bawah bayang-bayang penguasa dhalim yang mendakwakan dirinya memiliki sifat rububiyyah, mengapa Ibrahim yang perkasa dan tak kenal gentar ini tidak melancarkan perjuangan revolusioner dalam menghadapi penguasa yang kafir lagi bertangan besi, yang dipertuhankan, yang ditanganyalah berawal segala bentuk tindak kerusakan dan kemusyrikan sehingga tegaklah Daulah Ilahiyyah dengan Ibrahim ‘alaihis sallam sebagai pemimpinya?

Jawaban teramat jelas, para Nabi yang suci terhindar dari jalan-jalan yang hanya layak ditempuh oleh orang dhalim, jalan-jalan yang penuh kegelapan dan kebodohan, penuh dengan tipu daya orang-orang dungu, yang hanya menuntut imbalan duniawi dan kekuasaan semata. Para Nabi adalah para da’i yang menyeru kepada tauhidullah dan membawa petunjuk kepada jalan kebenaran, serta menyelamatkan dari kebathilan dan kemusyrikan. Maka jika mereka hendak melakukan perubahan, sebagai orang yang paling waras akalnya, mereka memulai dengan memperbaiki perkara-perkara yang menjadi sumber segala malapetaka, yaitu masalah kemusyrikan, kesesatan yang hakiki. Demikian pula halnya yang dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihis sallam, yang berhati sabar, bijaksana lagi lurus dalam bertindak, disamping sebagai pahlawan yang keberaniannya sulit dicari bandingannya.

Nabi Yusuf ‘alaihis sallam

Yusuf ‘alaihis sallam sebelumnya pernah mengecap kehidupan di dalam istana, sehingga ia mengetahui persis kebobrokan pemerintah dan penguasanya dari dekat. Ia merasakan kekejaman mereka, tipu daya, dan kedhaliman mereka. Terlebih dari itu, Yusuf ‘alaihis sallam hidup ditengah-tengah pusat kesesatan penyembahan berhala, sapi, dan bintang-bintang. Lalu darimana ia harus memulai mengadakan perbaikan dan perombakan? Dari titik mana harus memulai berangkat?

Tak ragu lagi, jalan perbaikan satu-satunya yang berlaku pada setiap jaman dan tempat adalah jalan da’wah, menyeru kepada akidah dan tauhid serta ikhlas dalam beribadah hanya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Lain tidak.

Maka Yusuf ‘alaihis sallam pun memulai da’wah seperti bapak-bapak pendahulunya karena mereka itu adalah qudwah baginya. Merekalah orang-orang yang mulia dan perkasa karena akidah mereka, yang selalu menganggap hina kaum musyrikin karena kelemahan nalar dan kerapuhan hujjah kaum sesat itu.

Setelah Yusuf ‘alaihis sallam menyampaikan da’wah tauhidullah dengan keterangan yang jernih dan tegas, ia singkap tabir kemusyrikan lalu ia memperkuat da’wah dan hujjahnya dengan berpegang pada firman-Nya : Keputusan itu hanyalah keputusan Allah Jalla Jallalahu

Ayat ini merupakan kaidah yang asasi dari kaidah-kaidah tauhid, seperti yang ditegaskan-Nya kepada Yusuf ‘alaihis sallam.

Setelah memperhatikan manhaj da’wah di atas, kita merasa prihatin bila pada saat ini kita acap kali menyaksikan betapa banyak da’i yang berorientasi kepada politik, menafsirkan ayat ini jauh sekali dari semestinya. Pengertian asasi “ikhlas beribadah kepada Allah subhanallahu wa ta’ala semata”, mereka simpangkan menjadi pengertian yang amat politis yaitu penegakkan Daulah. Mereka da’wahkan dari sinilah syariat Allah dapat ditegakkan di muka bumi. Fikrah ini disampaikan kepada umat, sehingga sebagian mereka lupa makna sebenarnya dari ayat-ayat Allah subhanallahu wa ta’ala ini. Sungguh, mereka tidak memahaminya, kecuali dengan pengertian yang baru … . La haula wa la quwwata illa billah.

Nabi Musa ‘alaihis sallam

Musa ‘alaihis sallam, dialah Nabi yang pernah diajak berbicara oleh Allah. Dia adalah seorang yang kuat lagi dipercaya. Ia berda’wah menyeru kepada tauhid dan membawa bendera da’wahnya di bawah panduan cahaya hidayah dan hikmah.

Musa ‘alaihis sallam, dibesarkan di dalam istana penguasa yang paling dhalim lagi dipertuhankan. Dia saksikan benar kerusakan, kekufuran, kesewenang-wenangan, kedhaliman, dan kediktatoran yang terjadi di istana dan pusat pemerintahan Fir’aun. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri penindasan yang menimpa Bani Israil. Mereka diperbudak, dihina dina, dan direndahkan derajatnya. Penguasa tiran itu membiarkan generasi perempuannya tetap hidup, sementara generasi laki-laki dimusnahkan. Inilah kedhaliman terburuk yang tercatat dalam sejarah umat manusia.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman :

Sesungguhnya Fir’aun berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash : 4)

Kaum Fir’aun adalah termasuk ahli syirik sejati dan penyembah berhala, watsaniyyah. Menghadapi kaumnya yang sedemikian remuk sendi-sendinya, bagaimanakah Musa ‘alaihis sallam memulai da’wahnya? Adakah ia memulainya dengan upaya memperbaiki umat keberhalaan dengan cara menyerang pemerintahan yang berkuasa serta memaklumatkan perjuangan menegakkan Daulah Islamiyyah? Adakah ia merebut kekuasaan dari tangan diktator besar di bawah pimpinan Fir’aun yang dipertuhankan itu? Tidak demikian.

Da’wah Musa ‘alaihis sallam tidak berbeda dengan da’wah bapak-bapak pendahulunya dan juga saudara-saudaranya para Nabi. Allah telah mengajarkan dengan baik pokok ketauhidan dan memilihnya sebagai urusan yang mampu memikul risalah-Nya dan menegakkannya dalam rangka pengabdian tulus kepada-Nya.

Itulah da’wah para Nabi dan teristimewa yang tergolong Ulul Azmi di antara sejumlah Nabi yang jumlahnya 124.000 Nabi. (HR. Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 5/447, Ahmad dalam Musnad 5/178 dari Abu Dzar)

Mereka semua berjalan mengikuti manhaj yang satu dan berangkat dari satu titik yang sama, yaitu At Tauhid, suatu perkara yang terbesar dan sangat asasi, yang dibebankannya kepada seluruh manusia dalam seluruh generasi mereka dan dalam berbagai kelompok, negeri, maupun jaman mereka.

Hal ini menunjukkan jalan yang satu yang wajib diikuti dalam da’wah menyeru manusia kepada (jalan) Allah subhanallahu wa ta’ala dan Sunnah-Sunnah-Nya yang diperintahkan kepada para Nabi-Nya dan para pengikut mereka yang shadiq, tidak boleh merubahnya, dan tidak boleh berlaku dhalim atau menyimpang darinya.

Penutup

Sesungguhnya seluruh Nabi ‘alaihimus sallam memulai da’wahnya dengan memperbaiki segi akidahnya dan memerangi kemusyrikan. Dan bahwa kerusakan-kerusakan yang berkaitan dengan masalah akidah manusia, berupa kemusyrikan, khurafat, dan bid’ah, jauh lebih berbahaya daripada kerusakan-kerusakan di bidang hukum dan pemerintahan. Kita harus memiliki keyakinan demikian, sebab para Nabi sendiri berkeyakinan seperti itu. Kerusakan akidah itu sendiri telah menjadi bagian dari kebanyakan penguasa dan rakyatnya.

Allah subhanallahu wa ta’ala tidak membebani para pembawa risalah untuk menjatuhkan suatu Daulah demi tegaknya Daulah yang lain. Allah subhanallahu wa ta’ala tidak pula membebani mereka untuk mencapai tujuan kekuasaan, karena da’wah yang menempatkan penegakkan Daulah sebagai tujuan pertama dan utama tidak akan terlepas dari tendensi mencari kekuasaan dunia, kedudukan, dan jabatan. Dan usaha pencapaian kekuasaan sering diperani oleh orang-orang rakus dan dengki. Tak jarang muncul sekelompok juru da’wah yang berjuang untuk menegakkan Daulah, namun terselinap niat untuk merealisasikan dorongan nafsu, kerakusan, dan dorongan untuk memperoleh hajat yang mereka idamkan.

Sesungguhnya da’wah mengajak orang untuk menegakkan Daulah jauh lebih mudah dan bahkan lebih cepat mendapat pengikut, sebab kebanyakan manusia menghendaki perolehan dunia dan pemenuhan hawa nafsu. Namun karena sedemikian banyak kendala dan kesulitan dalam menempuh jalan da’wah para Rasul, sedemikian besar kesabaran yang dituntut, maka kita dapati bahwa teramat sedikit orang yang bersedia mengikutinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal kenabiannya telah ditawari kedudukan sebagai penguasa Makkah, namun beliau menolak kecuali setelah menyelesaikan da’wah tauhidullah dan menumpas kemusyrikan.

Allah menganugerahkan kepemimpinan atas umat yang menegakkan tauhid. Kekuasaan itu adalah buah kebaikan yang dipetik karena keimanan mereka. Anugerah Daulah itu pada gilirannya dilimpahkan kepada mereka karena keteguhan mereka dalam menegakkan kalimat Allah, karena kejujuran mereka, amal shalih mereka dan usaha mereka untuk melaksanakan syariat Allah. Anugerah itulah yang diperoleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya, karena kesabaran mereka dalam menempuh manhaj da’wah yang haq, menghadapi kekejian dan kebrutalan kaum musyrikin. Allah telah menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta shahabatnya, memenangkan Dien yang mereka bela, dan mengokohkan mereka di atas bumi. Marilah kita pegang janji Allah subhanallahu wa ta’ala :

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal shalih. Bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka yang berkuasa. Dan sungguh Dia akan mengukuhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku … . (QS. An Nur : 55)

Dari penjelasan di atas adakah kesesuaian (mulai dari awal sampai akhirnya) antara manhaj da’wah dan akidah para Nabi dengan manhaj da’wah dan akidah Hizbut Tahrir2?

Jawabannya adalah tidak ada sama sekali. Hal ini sekaligus merupakan bukti kedustaan pengakuan Hizbut Tahrir bahwa da’wah mereka dilandasi oleh sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudah menjadi keharusan apabila aktifitas da’wah telah bergeser dari asas dan pondasinya maka perjuangan da’wah itu menjadi lumpuh dan tidak lurus lagi serta tidak akan pernah membuahkan hasil yang dikehendaki, sekalipun seluruh waktu, tenaga, dan upaya telah habis tercurah.

1 Sumber www.salafy.or.id dan http://www.assunnah .cjb.net

2 Demikian juga dengan Ikhwanul Muslimin (IM) yang menjadikan tujuan utama dari da’wah mereka adalah mendirikan Khilafah dengan menghalalkan segala cara meskipun dengan menabrak sunnah kiri-kanan, depan-belakang, atas dan bawah.

Baca Juga :

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: