Antara Sunnah dan Bid'ah

NU Aswaja dan Salafy “Wahhaby” Siapakah sebenarnya yang Takfiri (Suka Mengkafirkan)

Di antara tuduhan yang dihebuskan kepada salafiyyin (mereka menyebutnya Wahhabi) adalah bahwa salafiyyin itu mudah dan gampang mengkafirkan. Permasalahan ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan sederhana yakni dengan langsung merujuk ke kitab-kitab karangan dan tulisan ulama-ulama “wahhabi” terlebih kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -silahkan di download scan kitab Majmu Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

jadisangat sederhana sekali, hanya saja saya melihat terlontarnya tuduhan-tuduhan ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya :

  1. Mereka-mereka yang melontarkan tuduhan ini -yang mereka menyebut diri mereka Aswaja- menggelari dengan gelar “Wahhabi” secara membabi buta, semua yang tidak sepaham dengan mereka langsung di cap sebagai Wahhabi.Dan ini realita, di facebook beretebaran komentar-komentar dari mereka di antaranya : “PKS itu partainya Wahhabiyyin”, “FPI itu corongnya Wahhabi”, bahkan Abu Bakar Ba’asyir pun disebut sebagai Wahhabi, para pasukan oposisi di suriah juga di cap sebagai Wahhabi, semua yang tidak tahlilan, shalawatan ataupun maulidan akan dicap sebagai ‘Wahhabi”1, semua yang berbicara memperingatkan akan bahaya dan potensi terjadinya kesyirikan di kuburan langsung di cap Wahhabi seperti K. H. Cholil Ridwan… demikianlah….. membabi buta……… orang-orang Haddady2 yang berlaku teramat keras terhadap para ulama pun langsung disebut “Wahhabi” -padahal para ulama Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) telah bangkit dan menjelaskan kesalahan pemikiran Haddadiyyun- mereka (haddady) inilah yang melontarkan tuduhan dan bahkan pengkafiran terhadap para ulama yang memiliki ketergelinciran semisal Al Imam Al Ghazali, Al Imam An Nawawi, Ibnu Hajar dan lainnya bahkan mereka membakar kitab-kitab para ulama tersebut- dan para ulama Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) bangkit membela kehormatan mereka (para ulama yang dizhalimi tersebut) … kalau saja mereka (para penuduh) mau sejenak duduk di majelis ilmunya Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) dan/atau membaca kitab-kitab karya Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) maka mereka akan mendengar dan membaca pemuliaan Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) terhadap para imam tersebut, tiap kali nama mereka disebut selalu diiringi do’a -misal Iman An Nawawi rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), atau Imam Al Ghazaly rahimahullah wa ghafaralah– … jadi sekali lagi mereka membabibuta … sehingga siapapun yang tidak sesuai paham mereka, tidak maulidan misalnya, tidak tahlilan, shalawatan, langsung kena stempel “WAHHABY”. sebab mereka kebanyakan hanya ikut-ikutan tanpa tau esensi da’wah “Wahhabi”… kalau PKS, ABB, FPI disebut Wahhabi kemudian disandarkan ke Abdul Wahhab bi Rustum maka mungkin saja3. Tapi kalau disandarkan ke Syaikh Muhammad bin Abdul itu sangatlah jauh. Sebab Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) sangatlah memybenci yang namanya partai-partai politik, tidak ikut pemilu bahkan sangat anti dengan yang namanya demokrasi (tentang borok-borok demokrasi silahkan baca di Borok-borok Demokrasi dan Pemilu karya seorang ulama Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Imam

    Adapun soal ABB dan FPI maka “Wahhabi” Salafiyyun sangatlah jauh dari cara pikir mereka yang memang terkena virus Wahhabinya Abdul Wahhab bin Rustum, mari silahkan di baca sikap seorang salafy terhadap penguasa kaum muslimin di Aku dan Presiden SBY

  2. kebencian yang ditimbulkan oleh hasutan-hasutan para penentang da’wah syaikh muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Saya pernah mengomentari sebuah komentar di facebook yang dia menyatakan bahwasanya fakta bahwa salafy “Wahhaby” itu gampang mengkafirkan bisa didapatkan di kitab-kitab primer (baca : induk) mereka, ketika saya minta dia untuk menghadirkan atau menyebutkan nama-nama kitab primer yang dia maksud, dia tidak sanggup dan hanya menghadirkan dua kitab yang memang ditulis oleh mereka-mereka yang sangat membenci Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dua kitab sejarah yang saya sudah lupa judulnya, kemudian saya minta dia untuk membaca ensiklopedi sejarah yang ditulis oleh banyak ahli sejara dan bisa diakses secara online di situs resminya di www.moqatel.com

  3. ketidaktahuan atau ketidakmauan untuk membedakan penjelasan perbuatan-perbuatan kekafiran secara mujmal (global) dan penjelasan atau penyebutan secara mu’ayyan, dan juga tidak mampu membedakan antara menghukumi perbuatan kekufuran dan menghukumi pelaku perbuatan kekufuran. Jadi ketika para ulama salafy “wahhaby” berkata bahwa ini adalah perbuatan kekufuran atau kesyirikan maka mereka -karena didorong oleh kebencian atau kesalahpahaman- langsung memvonis “wahhaby” itu suka mengkafirkan atau mensyirikkan. Padahal Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) selalu membedakan antara hukum perbuatan dan hukum pelakunya, perbuatannya dihukumi sebagai kekufuran/kesyirikan/bid’ah tapi orang yang melakukannya belum tentu kafir/musyrik/mubtadi’ tapi ada perincian-perinciannya.

    Dan metode seperti ini banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai contoh, Allah berfirman : “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan (hukum) yang Allah turunkan maka mereka adalah orang-orang kafir”

    Dan tak satupun dari Salafy “Wahhaby” (yang benar-benar salafy) yang mengkafirkan Pemerintah Indonesia, bahkan mereka menunjukkan keta’atan dan mendoakan mereka. Silahkan baca kembali tulisan Aku dan Presiden SBY demikian juga dengarkan pembahasan kitab Syarhus Sunnah Al Muzani oleh Al Ustadz Dzulqarnain (silahkan download di web pribadi beliau di http://dzulqarnain.net) dengarkan pembahasan pada fasal “Menahan Diri Dari Mengkafirkan Ahli Qiblat” dan fasal “Shalat di Belakang Imam (penguasa) dan Berjihad Bersama Mereka”

    Demikian juga Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi paranormal dan dukun dan dia membenarkan apa yang diucapkan (dukun dan paranormal tersebut) maka sungguh dia telah Kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad ( Shallallahu ‘Alaihi Wasallam)” dan sekali lagi tak ada satupun dari Salafy “Wahhaby” yang benar-benar salafy “wahhaby” yang angsung mengkafirkan tiap orang yang mendatangi dukun dan membenarkannya. Salafy “Wahhaby” yang benar-benar salafy “wahhaby” hanya menghukumi perbuatannya adalah perbuatan kekufuran (sebab telah shahih dalam nash) tapi orangnya belum tentu.

Adapun Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab maka beliau telah menjawab tuduhan ini dengan berkata : “

 Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mush-lihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)4

Nah bagaimana dengan orang-orang Aswaja sendiri dalam perkara nih, mari kita lihat :

  1. DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengeluarkan sebuah buku yang ditulis KH Ushfuri Anshor dengan judul ‘Belum Terlambat Sebelum Kiamat.’ 

    Dalam kata pengantar yang ditulis Sekjen PKB, Imam Nachrowi mengutarakan, KH Ushfuri menggugat kondisi ini dan beliau nyatakan bahwa seharusnya kiai-kiai NU berani tampil di depan umat dengan berteriak lantang. “Barang siapa tidak mencoblos PKB, partai politik yang didirikan oleh PBNU tahun 1998, maka orang NU itu jika wafat dipastikan tidak akan masuk surga.”5

    ini adalah aqidah takfir dari sang kyai sehingga bahkan lebih hebat lagi karena sudah menjatuhkan vonis sebagai penghuni neraka, berdalil dengan sebuah hadits yang dia tafsirkan seenak kepalanya. Adapun salafy “wahhaby” (yang benar-benar salafy) tidak memastikan satu orangpun sebagai penghuni surga atau neraka kecuali yang sudah dipastikan oleh Allah dan Rasul-Nya.6

    Pertanyaannya sekarang siapakah yang mengkafirkan kaum muslimin,salafy “wahhaby” atau NU Aswaja…?

  2. Berdasarkan fatwa Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah7, koruptor adalah kafir. Jika mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq, divonis melakukan tindak pidana korupsi oleh pengadilan, maka Luthfi kafir.

    Sindiran keras itu disampaikan intelektual muda NU, Zuhairi Misrawi, menanggapi penetapan Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka suap impor daging sapi.
    “Catat ya, jika Luthfi Hasan divonis korupsi oleh pengadilan, maka merujuk pada fatwa NU dan Muhammadiyah, Luthfi adalah kafir,” kata Zuhairi melalui akun Twitter @zuhairimisrawi.8

    Ini adalah aqidahnya khawarij9 yakni mengkafirkan pelaku dosa besar, adapun aqidah salafy ‘Wahhaby” yang benar-benar salafy10

    Adapun aqidah salafy “wahhaby” (yang benar-benar salafy) maka tetap memutlakkan bagi pelaku dosa besar sebagai mukmin, namun bukan mukmin yang sempurna imannya, yakni mukmin yang bermaksiat, mukmin yang fasik, atau mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besar yang dilakukannya. Dengan hilangnya sebagiannya saja tidaklah menghilangkan seluruh keimanannya, namun tidak pula disebut iman yang mutlak (sempurna).

    Dalam masalah menghukumi pelaku dosa besar di akhirat. Kelompok Wa’idiyyah menghukumi pelaku dosa besar kekal di neraka. Demikian pula yang diyakini Khawarij dan Mu’tazilah.Adapun keyakinan Ahlus sunnah, bahwasanya pelaku dosa besar, bisa mendapat adzab, bisa pula mendapat rahmat Allah berupa ampunan. Jika diampuni, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga tanpa mengadzabnya, ini merupakan keutamaan yang Allah berikan bagi hambanya. Jika tidak, maka Allah akan mengadzabnya dan memasukkannya ke dalam neraka, ini sesuai dengan keadilan-Nya. Namun, dia tidak kekal dalam neraka seperti orang kafir.11


Pertanyaannya sekarang siapakah yang mengkafirkan kaum muslimin,salafy “wahhaby” atau NU Aswaja…?

  1. Bahkan ada dari mereka seperti Abu Syafiq menjadikan tagline blognya dengan kalimat ISLAM vs WAHABI & SYIAH, yang dari kata-kata tersebut dia sudah menyatakan bahwa WAHHABI itu bukan orang ISLAM yang artinya orang kafir.12

    Adapun salafy “wahhaby” (yang benar-benar salafy) tidaklah mengkafirkan kaum Aswaja dan tetap menganggap mereka muslimin hanya saja memiliki beberapa kesalahan yang perlu dijelaskan demi tegaknya amar ma’ruf dan nahi’ mungkar.

  2. Mahfud MD (seorang yang dikenal sebagai Tokoh NU) pernah bilang “Jazuli itu orang Kafir” dia juga bilang, “”Bagi saya, kafir adalah orang yang suka melanggar aturan, bukan beda agama. Orang kafir tidak menuruti aturan yang ada dan melakukan fitnah,” (http://m.tribunnews.com/nasional/2014/01/28/mahfud-md-jazuli-abdillah-itu-orang-kafir)

 

A’lam bish-shawaab

1Saya pernah membaca cuman lupa di mana, salah seorang pengurus partai NU menjelaskan bahwa ciri-ciri ahlussunnah itu yang suka tahlilan, shalawatan, selamatan dan barzanjian. Artinya yang tidak suka melakukan hal-hal tersebut di cap bukan sebagai ahlus sunnah. Jadi sebenarnya merekapun menyesatkan semua kelompok di luar kelompoknya, sebab golongan yang selamat itu hanyalah ahlussunnah dan semua yang bukan ahlussunnah adalah kelompok yang menyimpang sesuai kadar penyimpangannya. Hanya saja mereka -aswaja- malu-nalu dalam mengungkapkannya.

2 Kaum Haddadiyyah yang getol menyerang para ulama serta menyikapi kesalahan mereka, seperti penyimpangan yang dilakukan oleh para pengekor hawa nafsu. Haddadiyyah, nisbah kepada seorang asal Mesir yang bernama Mahmud Al-Haddad Al-Mishri, yang dahulu pernah tinggal di Madinah. Awal munculnya gerakan ini dimulai dgn mengkritik Al-Hafidz Ibnu Hajar & Imam Nawawi dlm majelis-majelisnya, lantas dia mengajak manusia utk menghukuminya [kedua Imam tersebut] sebagai seorang mubtadi’. Lalu kemudian berlanjut hingga mencela siapapun dari kalangan para ulama yang dianggapnya memiliki kesalahan –menurut persangkaannya- seperti Syekh Bin Baaz rahimahullah, Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah, Syaikh Al-Luhaidan hafidhahullah, Syaikh Al-Albani rahimahullah & yang lainnya. Bagi siapa yang ingin mengetahui, Syekh Rabi’ hafidzahullah telah menyebutkan dlm tulisan beliau “Manhaj Al-Haddadiyyah” 12 poin dari pemikiran Al-Haddadiyyah, yang ringkasannya sebagai berikut:

1. Kebenciannya terhadap para ulama Salafi di zaman sekarang, menisbahkan/mencap kesesatan pada mereka & merendahkan kedudukan mereka.

2. Menuduh mubtadi’ [ahli bid’ah’] terhadap setiap orang yang jatuh ke dlm bid’ah.

3. Menuduh mubtadi’ terhadap orang yang tak mau mentabdi’ [mencap mubtadi] orang yang terjatuh ke dlm bid’ah.

4. Mengharamkan utk mendo’akan rahmat kepada ahli bid’ah.

5. Mentabdi’ orang yang mendo’akan rahmat kepada ulama seperti Abu Hanifah, Asy-Syaukani.

6. Permusuhan yang sengit terhadap salafiyyin,walaupun terhadap orang yang telah bersungguh-sungguh dlm memerangi hizbiyyah & kesesatannya.

7. Bersikap berlebih-lebihan terhadap Mahmud Al-Haddad & mengangkatnya sebagai seorang yang alim.

8. Menodai kehormatan ulama salafiyyin, baik yang di Madinah & yang lainnya, serta menuduh mereka sebagai pendusta.

9. Mereka punya kebiasaan melaknat, meremehkan, menteror sampai pada tingkatan mengancam utk memukul salafiyyin.

10. Mereka melaknat secara ta’yin,hingga diantara mereka ada yang melaknat Abu Hanifah, bahkan mengkafirkannya.

11. Bersifat sombong & suka membangkang yang akhirnya menjurus kepada penolakan terhadap al-Haq

12. Mereka selalu menyandarkan ucapannya kepada Imam Ahmad, namun setelah dijelaskan sikap Imam Ahmad yang menyelisihi Al-Haddad, maka mereka pun menuduh & mengingkari penisbatan tersebut kepada Imam Ahmad. Lalu Al-Haddad mengatakan: “… walaupun itu benar dari Imam Ahmad, maka kita tak bertaqlid kepadanya.”

(Lihat: Manhaj Al-Haddadiyyah,tulisan Syekh Robi’ bin Hadi Al-Madkhali)

3

Di antara tokoh yang dijadikan panutan oleh PKS dan Ikhwanul Muslimun umumnya adalah Sayyid Qutb yang memang punya pemikiran khwarij. Dan para ‘ulama salafy wahhaby (yang benar-benarsalafy) telah bangkit memperingatkan dan menjelaskan kesalahan Sayyid Qutb –rahimahullah wa ghafaralah– seperti Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly yang bahkan menulis 4 buku terkait berbagai penyimpangan Sayyid Qutb -rahimahullah- pemikiran Sayyid Qutb ini banyak diwarisi oleh tokoh-tokoh setelahnya, sebut saja Salman Al ‘Audah, Safar Al Hawali, Abdullah Azzam, Osama bin Laden, Aiman Azh Zhawahiri dan lainnya yang telah diperingatkan dan diingkari oleh para ulama salafy “wahhaby” (yang benar-benar salafy)..tentang pemikiran sayyid Qutb baca di sini https://aboeshafiyyah.wordpress.com/2012/01/20/sayyid-quthb-mengkafirkan-kaum-muslimin-pdf/

4Silahkan dibaca tuduhan-tuduhan lainnya da bantahannya di http://asysyariah.com/siapakah-wahabi.html dan juga dibuku Salafy, Antara Tuduhan dan Kenyataan karya Al Ustadz Sofyan Chalid Ruray terbitan Toobagus Publishing

6Entah dengan wahhaby yang benar-benar wahhaby (pengikutnya Abdul Wahhab bin Rustum Al Khaariji)

7Hal ini sebagaimana dituangkan dalam buku berjudul : “KORUPTOR ITU KAFIR”

9Sekedar mengingatkan bahwa ketika disebutkan bahwa ini aqidahnya khawarij bukan langsung memvonis bahwa yang memiliki pemikiran seperti itu adalah seorang khaariji, sekali lagi di sana ada perincian-perincian dan tidak boleh membabi buta

10Bukan wahhabi yang benar-benar wahhabi (pengikutnya Abdul Wahhab bin Rustum) atau yang terkontaminasi oleh virus-virus Wahhabinya Abdul Wahhab bin Rustum seperti Abu Bakar Ba’asyir dan kelompoknya, yang menerbitkan buku KAFIR TANPA SADAR.

11Entah dengan wahhaby yang benar-benar wahhaby (pengikutnya Abdul Wahhab bin Rustum Al Khaariji)

12Adapun kalau Syiah maka mereka memang bukan orang Islam , wong Rukun Iman dan Rukun Islamnya aja beda. Cuman yang mengherankan beberapa tokoh besar dari kelompok Aswaja sangat getol membela Syiah-udi, sebutlah Ketua PBNU sendiri, Umar Syihab dan Saudaranya, Quraish Syihab, demikian juga sebagian di antara mereka gencar mealakukan pendekatan atau mencoba mendekatkan syiah dan ahlussuunah. Mereka membela matia-matian orang-orang syiah yang mencela matian-matian para sahabat dan mencela matia-matian orang “wahhabi” yang membela para sahabat mati-matian. sangat menakjubkan bukan… bagaimana mereka membela diri dengan mencela salafy wahhaby (yang benar-benar wahhaby) yang menjelaskan berbagai kemungkaran dan bid’ah yang mereka lakukan akan tetapi diam bahkan membela orang-orang syiah yang mencela para sahabat dan istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Apakah kehormatan diri-diri mereka dan bid’ah (yang mereka anggap hasanah) lebih pantas untuk mereka bela dibanding kehormatan dan keutamaan para sahabat.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: