Manhaj, Nasehat

…Ironi PKS : Pudarnya Warna Sabit Emas Imitasi…

Belakangan ini berita-berita di Media Massa banyak dipenuhi berita tentang Partai Keadilan Sejahtera yang babak belur dihantam isu tuduhan Korupsi yang dilakukan oleh Mantan Presidennya yakni LHI. Tulisan ini bukan untuk menghakimi seorang LHI atau mau ikut-ikutan berbicara tentang politik dan tetek bengeknya, konspirasi, konstelasi dan si … si lainnya -kecuali sedikit kritik atas sebagian sikap PKS-. Tulisan ini hanya mencoba menilik sikap dan tindak tanduk PKS dan kader-kadernya dari pandangan Agama Islam sejauh keilmuan yang dimiliki oleh penulis.

Di awal-awal berdirinya partai ini, maka di kelompok Mahasiswa terbentuklah KAMMI yang ini terjadi saat penulis masih kuliah di Fakultas TeknikUnhas Makassar, bahkan penulis sendiri sempat tercatat sebagai anggota pengurus komisariat ini meski penulis sendiri tidak pernah melihat SK dan hanya menerima undangan rapat divisi, departemen atau apalah namanya saat itu -ana sudah lupa- dan ana sempat menghadirinya satu kali. Akan tetapi di kemudian hari karena suatu peristiwa penulis ternyata menjadi rival dan dimusuhi oleh sebagian aktivis KAMMI khususnya di jurusan Elektro.

Ketika pertama kali berita tentang LHI di muat atau ketika KPK menetapkannya sebagai tersangka maka bangkitlah para pembesar, pemimpin dan kader-kader PKS melakukan pembelaan di antaranya adalah dengan menuduh bahwa ini adalah “Konspirasi Zionis Yahudi”, “Manuver Politik untuk menjegal PKS di Pemilu 2014” dan berbagai pembelaan-pembelaan lainnya. Tanpa ada niatan untuk mengoreksi diri sendiri bahwasanya semua ini adalah tegurandari Allah, meskipun AM sendiri sudah menyerukan pertobatan Nasional tapi pada kenyataannya hal itu tidak terjadi yang ada tetaplah pembelaan demi pembelaan dan ketika bukti-bukti terus mengarah kebenaran tuduhan tersebut maka keluarlah kata pamungkas, “Harus dipisahkan antara PKS dan urusan pribadi LHI”. Meskipun penulis sendiri sangat berharap bahwa apa yang ditudukan kepada LHI tidaklah benar-benar LHI lakukan.

Islam adalah agama yang murni dari berbagai penyimpangan yang -katanya- oleh Pimpinan dan Kader partai ini diperjuangkan -atau begitula tampak pada awalnya- meski kemudian itu luntur perlahan ketika partai ini mulai mengganti ideologi perjuangannya, kemudian menjadi partai terbuka dan terakhir bahkan mengusung seorang musuh islam -yakni pendeta- sebagai calon legislatif. Entah apa yang ada dibenak mereka… penulis tidak habis pikir… Yang jelas dalam realitanya PKS telah melabrak begitu banyak aturan dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Pembuat Syariat, sehingga untuk mengatakan PKS membela Islam -yang bahkan oleh kelompok Aswaja di sebut partainya Wahhabi- adalah sangat jauh. Bagaimana mungkin sesuatu itu diperjuangkan dengan melanggar aturan-aturan yang ditetapkan dalam hal yang diperjuangkan. Tapi demikianlah wahai pembaca, hal itu karena adanya kaidah -di antara mereka- yang merupakan kaidahnya Yahudi : “Al Ghayah Tubarrirul Wasiilah” Tujuan membolehkan segala cara. Wallahul Musta’an…

Berikut berbagai aturan syariat yang telah dilanggar oleh PKS dan kader-kadernya :

  1. Memecah belah persatuan kaum muslimin

Allah Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala berfirman : (Artinya) : “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”

Mungkin ada yang berkata, “bukankah PKS juga menyerukan persatuan kaum muslimin” maka biarkanlah realita yang menjawabnya. Sejak jaman Orde Baru -meskipun tertindas dan dijadikan bulan-bulanan- telah ada Partai yang -katanya- memperjuangkan Islam, bahkan lambangnya pun adalah simbol dari salah satu mercusuar Islam yakni Baitullah Al Ka’bah. Jika seandainya orang-orang PKS -saat itu masih PK- benar-benar hendak menyatukan manusia di bawah partai”islami” kenapa tidak bergabung saja bersama PPP dan bersama-sama memperjuangkan Islam? Kalau ada kesalahan dan kekurangan dalam PPP, mbok ya diperbaiki sama-sama. Mungkin ada yang akan menjawab, “ideologi perjuangan kami beda”, lah bukankah sama-sama “Partai Islam” dan apakah ideologi PKS saat ini yang menjadi partai terbuka bahkan mengusung Pendeta jadi caleg lebih baik dari ideologinya PPP. Tapi ah sekali lagi … politik itu tentang kepentingan … kepentingan…

  1. Menipu Kaum Muslimin dan berwala dengan kaum kuffar

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “barangsiapa yang menipu kami maka bukan bagian dari kami”

    mereka yang katanya memperjuankan islam tapi berwala’ terhadap kaum kafir dengan menjadikan mereka sebagai Calon Legislatif, entah kemana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melarang berwala’ dan tolong menolong serta menjadikan orang-orang kafir sebagai teman mereka simpan, terkunci dalam lemari tempat mereka menyimpan berkas-berkas pemilu mereka.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

    wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia.” (Al Mumtahanah 1)

    Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala :

    Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka.”

    Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala :

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (Al Maidah 51)

    Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala :

    Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28).

    Asy-Syaukani berkata tentang tafsir ayat ini, (Ali Imran : 28) “FirmanNya, ‘Jangan mengambil’ mengandung larangan berwala` kepada orang kafir karena suatu sebab, firmanNya, ‘Dengan meninggalkan orang-orang mukmin’ kalimat ini berposisi sebagai hal yakni meninggalkan orang-orang mukmin kepada orang-orang kafir secara tersendiri atau berpartisipasi dengan mereka, dan makna firmanNya, ‘Niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah’ yakni dariwilayah-Nya tidak hanya dalam suatu perkara, akan tetapi terlepas dariNya dalam kondisi apapun.”

Kader-kader PKS di setiap tempat akan bekerja keras untuk memenangkan Calon Legislatif mereka termasuk pendeta-pendeta tersebut. Kalau ini tidak disebut ber wala’ maka penulis tidak tahu yang mana lagi yang dimaksud berwala’. Mereka berkata, “kita membutuhkan mereka di tempat mereka mayoritas,” Entah mereka simpan kemana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”


Bahkan omongan bahwa mereka memperjuangkan islam dan syariat islam itu -mungkin saja- hanyalah isapan jempol belaka1, tak lain yang mereka inginkan hanyalah kekuasaan. Biarkanlah realita yang menjawab, Ketika hendak Pemilu 2009 lalu keluar “fatwa” dari salah seorang tokoh PKS (sekarang Presiden PKS) yang oleh seorang penulis di sebuah media menyebutnya “fatwa haram berkoalisi dengan Golkar” padahal apa yang diinginkan adalah bahwasanya itu hanyalah untuk menjegal peluang JK untuk kembali berpartner dengan SBY -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga dan memberi hidayah kepada beliau berdua dan kita semua- sebab saat itu HNW juga digadang-gadang sebagai calon pendamping pak SBY yang jika Golkar bergabung maka secara otomatis peluang HNW untuk maju sebagai cawapres akan tertutup, hal ini -ambisi mereka untuk mendudukkan HNW sebagai cawapres- kembali dibuktikan ketika pak SBY sudah menetapkan pak Boediono sebagai Cawapres mereka sempat ngambek. Bahkan ketika kemudian setelah Pilpres selesai dan Partai Golkar bergabung dalam koalisi ternyata PKS tenang saja berdampingan dengan partai yang telah mereka tahdzir dan awalnya enggan dan menolak dengan keras untuk masuk koalisi. Kemana komitmen…?

Kemudian sebuah pertanyaan besar kembali menghantui penulis yang makin meragukan komitmen PKS terhadap Islam, yaitu sikap PKS dalam Pemilu Gubernur (pilgub) Sulawesi Selatan, sempat membangun koalisi dengan partai-partai yang “bernafaskan islam” yang kemudian di beri nama “Koalisi Umat” yang mengusung Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar -Ketua KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam) Sulsel – sebagai calon gubernur, akan tetapi ternyata PKS kemudian berkhianat dan memilih bergabung dengan Partai Pohon Beringin yang sekitar setahun kemudian di fatwakan haram koalisi dengan Golkar oleh Anis Matta. Demikianlah politik praktis saat ini2… kotor …. dan yang ada hanyalah perjuangan kepentingan … apa yang kurang dari komitmen seorang ‘Abdul Azis yang seorang ketua KPPSI yang sejak bertahun-tahun memperjuangkan tegaknya syariat islam -menurut pemahamannya-… yang kurang adalah peluang kemenangan yang kecil dan mungkin saja yang kurang adalah dana mahar yang dibayarkan ke partai … -mungkin saja- Wallahu A’lam

  1. Latah dengan orang kafir, Demokrasi dan Demontsrasi adalah budaya orang kafir yang diadopsi dengan senang hati oleh kaum muslimin.

    Tentang demokrasi silahkan baca buku Menggugat Demokrasi dan Pemilu karya Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Imam, bagian kedua dari buku tersebut yang membantah syubhat-syubhat para pemuja demokrasi silahkan di baca di sini

  2. Menghina dan merendahkan kaum muslimin dengan menyamakan mereka dengan kaum kafir.

    Dalam Demokrasi dan Pemilu suara semua orang sama, mau yang ustadz, ulama, pezina, bahkan orang kafir itu sama. Suara ulama dengan suara pendeta sama nilainya. Bahkan dengan mengangkat Pendeta sebagai Caleg mereka telah menempatkan Pendeta itu lebih tinggi dari kaum muslimin.

    1. Allah Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala : berfirman : “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)

      Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : “apakah sama orang yang berilmu itu dengan orang yang tidak berilmu?”Jadi -maaf saja- mereka-mereka yang ikut pemilu -tanpa sadar- terima dirinya disamakan derajatnya dengan pendeta dan orang-orang kafir yang kata Allah Subhanahu wa Ta’ala: “lebih sesat dari binatang ternak”

  3. Puji Kale alias mentazkiyah dan memuji diri sendiri.

    Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “janganlah kalian mentazkiyah (memuji/menyucikan) diri kalian sendiri. Dia lebih tahu siapa yang bertaqwa” (An Najm ; 32)

    Penyakit puji kale ini juga adalah penyakitnya orang-orang nashara dan yahudi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”

    Lihatlah Tagline Partai ini : “BERSIH, PERDULI DAN PROFESSIONAL” luar biasa, maka ketika LHI ditetapkan sebagai tersangka mereka pun bangkit membela kecuali sedikit dari mereka seperti salah seorang kader partai ini -yang saya tahu berita ini darinya- yang memasang berita penahanan LHI dengan komentar : “PUKULAN TELAK”meskipun setelah itu ramai teman-temannya melakukan pembelaan.

    Bahkan setelah kasus ini bergulir beberapa waktu dan berhembus isu dan desakan pembubaran PKS maka salah seorang kader PKS tetap dengan angkuhnya berkata : “Jika PKS terpuruk, rasanya bukan saja kader PKS yang akan menuai kerugian, tapi bangsa dan umat akan mengalami kerugian, karena PKS salah satu elemen penting penyangga umat dan bangsa,”  sebagaimana diberitakan oleh detik.com … Wallahul Musta’an … semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari sikap kibr/takabbur serta ujub (Puji Kale)

Maka sesuatu yang sangat Ironis ketika sebuah partai yang katanya memperjuangkan Islam justru melabrak aturan-aturan Al Qur’an dan Sunnah dengan berwala’ kepada orang kafir dan aturan lainnya yang jika diuraikan akan menambah panjang tulisan ini semisal agitasi terhadap pemerintah, duduknya wanita di parlemen, keluarnya para wanita di jalan untuk berdemostrasi dan seabrek kemungkaran lainnya.

Walhasil… salah satu bait dari Mars PKS … -yang dulu begitu inspiratif bagi ana- “kuning emas kemilaunya kejayaan islam” sekarang menjadi terasa sangat hambar, tanpa rasa, bahkan pahit.

Kejayaan Islam telah terukir indah dalam sejarah dan kelak akan menjadi sebuah keniscayaan sebagai janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya yang bertauhid, beramal shalih dan menjauhi kesyirikan. Hanya saja Kejayaan Islam jika diperjuangkan dengan cara yang menyelisihi aturan Islam itu sendiri hanyalah menjadi sebuah mimpi dan hanyalah menawarkan kilauan warna emas imitasi yang akan pudar dan buram dihantam badai fitnah dunia berupa harta, tahta dan wanita. Sejarah telah membuktikan, bagaimana sebuah khilafah sebesar Daulah ‘Utsmany yang kokoh berdiri puluhan tahun tumbang dan runtuh di hantam badai fitnah syahwat dan syubhat. Dan kenyataan pun telah menunjukkan bahwa kekuasaan semata tidak akan menyelesaikan masalah ketika di hadapi dengan cara-cara yang keluar dari koridor sunnah Rasulullah, lihatlah apa yang terjadi di Aljazair dan baru-baru ini Mesir.

Terakhir, setelah semua yang terjadi, penulis berharap mereka atau sebagian dari mereka bisa tersadar dan kembali ke pangkuan Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salafush-shaalih. Dan semoga mereka berhenti membawa-bawa nama Islam dalam “perjuangan” mereka. Dan saya sampai saat ini penulis belum melihat spanduk-spanduk kampanye para caleg, apakah mereka telah meninggalkan tagline mereka, menggantinya dengan yang lain atau tetap bertahan dengan semboyan Puji Kale tersebut.

Meski susah meninggalkannya bahkan tak mungkin, karena tak satupun dari politikus dan caleg-caleg tersebut kecuali dihinggapi penyakit tersebut, lihatlah di sana spanduk, baliho dan umbul-umbul tertulis tagline-tagline atau semboyan-semboyan penuh hawa PUJI KALE ini

JUJUR, AMANAH, TULUS, LEBIH BAIK, MERAKYAT …

…DLL…

Dan saya sangat berharap di spanduk, baliho ataupun umbul-umbul Caleg PKS tidak lagi tertulis tagline “legendaris” tersebut

.. BERSIH, PERDULI DAN PROFESSIONAL …..

sekali lagi perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

janganlah kalian mentazkiyah (memuji/menyucikan) diri kalian sendiri. Dia lebih tahu siapa yang bertaqwa”

(An Najm ; 32)

Cukup dengan satu ayat ini saja semua politikus dan caleg-caleg tersebut telah jatuh berguguran…

Wallahu A’lam

1Meskipun penulis percaya bahwa sebagian di antara mereka benar-benar ikhlash untuk itu dan bekerja dengan penuh komitmen, terlebih para kader kader garss root mereka yang saya sendiri yakin bahwa mereka sangat berkomitmen akan hal itu, hanya saja keikhlasan semata ketika tidak dibangun di atas pondasi tuntunan Rasulullah maka dia juga tertolak. Dan pekerjaan penuh keringat para kader grass root tersebut berbuah duduknya para pembesar-pembesar mereka untuk menikmati kemewahan dan fasilitas yang wah. Lihat saja mobil-mobil mewah yang terparkir di DPP PKS yang proses penyitaannya -karena diduga milik LHI- menyulut “perang” antara PKS yang dimotori oleh FH dengan KPK.

2Di sana ada politik yang berjalan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para ulama telah menulis buku berkenaan akan hal ini semisal As Siyasah Asy Syar’iyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Jadi yang penulis maksud politik kotor adalah politik yang dipraktekkan saat ini yang diadopsi dari cara-cara orang kafir.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: