Nasehat

Negeri Para Demonstran, Negeri Para Penakut

Telah tercatat dengan tinta hitam dalam sejarah panjang bangsa ini, bagaimana penguasa digulingkan lewat jalan demontrasi dan pengerahan massa. Bukan sekali tapi dua kali dan mungkin akan terulang kembali jika sikap gegabah kita tetap kita pertahankan. Demonstrasi yang bahkan kadang berujung kematian, anarkisme, penjarahan, pembakaran dan banyak bentuk angkara dan kemungkaran lainnya seakan telah menjadi budaya bangsa ini. Tahun 1966 kemudian 1998 telah menjadi saksi akan semua peristiwa memilukan dan kelamnya sejarah bangsa ini.

Kembali ke masalah demonstrasi, sejarah pun telah mencatat bahwa demonstrasi atau kritikan terhadap penguasa telah dilakukan oleh nenek moyang khawarij -teroris berbaju islam- kepada makhluq termulia dan teragung yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Peristiwa dan kelakuan serta tingkah laku yang begitu diingkari oleh para sahabat dan bahkan dicela oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tapi kemudian model pengkingkaran seperti inilah yang kini begitu akrab dengan pemuda-pemuda kaum muslimin. Atas nama rakyat tentu saja, meskipun sebagian rakyat tidak merasa diwakili bahkan jengkel dengan kelakuan sebagian mahasiswa yang menutup jalan. Bahkan masyarakat ikut mengadili para demonstran tersebut. Bagaimana tidak -wahai pembaca yang budiman- jika pembelaan terhadap rakyat kecil dilakukan dengan cara yang justru menyusahkan rakyat kecil tersebut.

Tidakkah terpikir oleh para demonstran tersebut ketika mereka menutup jalan, berapa banyak supir angkot (baca : pete-pete) yang menurun pemasukannya, bahkan mungkin harus nombok bagi yang cuma menyewa mobil. Ketika demontrasi untuk menolak kenaikan BBM tapi justru dengan cara menghamburkan BBM yang terbuang percuma akibat kemacetan parah yang terjadi. Suatu kondisi yang anti klimaks dan berbanding terbalik dengan apa yang -katanya- mereka perjuangkan. Sehingga yang nangkring berdiri di atas mobil yang dipalang di tengah jalan bersenjatakan TOA atau megaphone nampak bukanlah sosok pahlawan tapi justru seorang preman berjas almamater yang coba membuktikan eksistensinya. Tersinggung….? silahkan saja tapi sebagaimana kalian yang koar-koar maka penulispun berbicara mewakili mereka yang terganggu oleh sikap tidak intelek para demonstran tersebut.

Setahun yang lalu bahkan para demonstran tersebut berubah dan beralih rupa menjadi Perampok dan menjadikan beberapa orang sebagai Penadah Barang Rampokan ketika mereka menghadang mobil pengangkut tabung gas 3 kg dan kemudian membagi-bagikannya. Tidak puas sampai disitu para Perambok berbaju Mahasiswa bahkan menjarah mobil pengangkut minuman kemasan bahkan membakar boksnya. Kemudian mereka menambah lagi catatan kelamnya demonstrasi dengan Merampok SPBU dan membagi-bagikannya. Tidakkah terpikir oleh akal mereka yang intelek bahwa supir mobil pengangkut tabung gas, supir mobil pengangkut minuman kemasan dan juga karyawan di SPBU tersebut adalah rakyat kecil yang -katanya- mereka bela. Jangkauan pikiran “intelek” mereka ternyata tidak mampu menjangkau itu, bahwa bisa saja supir-supir dan karyawan-karyawan tersebut akan disuruh mengganti kerugian dan bahkan harus kehilangan pekerjaan karena ulah -sekali lagi- “intelek”. Sekali lagi yang terjadi adalah anti klimaks.

Sangatlah mengherankan ketika para demonstran berbaju intelek itu gelagapan ketika BBM hendak naik tapi -sebagian besar- dengan santainya mereka membakar-bakar uang dalam bentuk tembakau berbalut kertas. Yang mungkin saja uang itu adalah hasil korupsi dia dari dana atau uang kuliah yang diberikan oleh orang tuanya, bahkan terkadang sebagian akan berbohong dan melakukan mark-up pembayaran -spp, buku, dll- guna mendapatkan uang tambahan demi membeli sang paku kematian yang harganya puluhan ribu perhari. Lantas masa depan apa yang bisa diharapkan dari generasi yang bisa melihat semua di seberang lautan tapi gajah di pelupuk matanya tidak tampak. Tersinggung…? silahkan saja dan semoga bisa membuat anda -wahai pembaca yang budiman- berpikir secara jernih.

Itu baru dari sisi etika, bagaimana dengan akibat dan hasil dari demonstran itu sendiri, -adapun dari sisi syariat maka Demonstrasi Tidaklah Dibenarkan Dan Bukanlah Jihad Ternyata kebanyakan dari kita terlelap oleh buaian indah reformasi, suatu era yang kebablasan sebab lahir dari cara yang kebablasan pula. Tak ada yang dihasilkan oleh era reformasi ini kecuali kebebasan yang juga makin kebablasan dan keluar jalur. Realita yang nampak dihadapan mata, ketenangan hidup yang nampak di era Suharto -semoga Allah merahmati dan mengampuninya-, keamanan, kesejahteraan para petani akibat tingginya harga gabah dan murahnya pupuk kini hanya menjadi sesuatu yang sangat dirindukan dan diimpikan. Korupsi -yang kalaupun ada- di era pak Suharto mungkin hanya terjadi dan dilakukan oleh orang-orang disekitar beliau, tapi sekarang korupsi itu menggurita kemana-mana, dari Anggota Dewan yang terhormat, Gubernur, Bupati bahkan sampai ke level Kepala Sekolah dan Kepala Desa, bahkan Al Qur’an pun dikorupsi. Para pelaku teror dan preman-preman, geng motor dan selainnya, ciut nyalinya di zaman yang telah lewat tapi sekarang, kemananan itu menjadi barang yang mahal. Ketika para penguasa hendak memperbaiki keadaan -mungkin dengan cara yang sedikit frontal- maka para demonstran pun kembali bangkit, berteriak kembali memblokir jalan, atas nama HAM, warga yang tertindas yang ternyata juga kembali melahirkan antiklimaks.

Demikianlah ketika suatu masa berlalu,dan ternyata masa setelahnya kita dapati lebih jelek dari zaman yang berlalu tersebut, penyesalan pun muncul. Demikianlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berlaku :

Tidaklah datang suatu zaman kecuali zaman setelahnya lebih jelek dari zaman sebelumnya”1

Sekarang telah akrab di mata dan pendengaran kita kata-kata : Piye Kabare Enak Jamanku To..?” akankah kita akan kembali melihat kata-kataitu sekian tahun yang datang tapi digambarkan dari orang yang berbeda.

Maka renungkanlah -wahai para pembaca yang budiman- bahwasanya keresahan kita akan kenaikan harga BBM dan kenaikan harga menunjukkan ketakutan kita akan penghidupan yang sempit. Kurangnya keyakinan dan ketawakkalan kita kepada Allah Subhanah Wa Ta’ala mengaburkan penilaian kita. Padahal bukankah telah sama kita pahami wahai kaum muslimin bahwa tidaklah Allah Subhanah Wa Ta’ala menciptakan hamba-Nya kecuali telah Dia Subhanah Wa Ta’ala menetapkan rezeqi sang hamba. Bukankah telah sering kita dengarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amalan dan Celaka/bahagianya.

Kemudian kemana perginya keimanan itu ketika berbenturan dengan ketakutan akan kehidupan dunia sementara kita begitu bermudah-mudahan dalam hal akhirat kita. Sungguh ketakutan semacam ini menunjukkan jeleknya prasangka dan keimanan kita kepada Allah Subhanah Wa Ta’ala.

Maka demikianlah tidaklah bangsa yang selalu berdemo karena kenaikan harga barang kecuali mereka adalah bangsa yang penakut. Tersinggung…? Silahkan Saja… Semoga bisa membuat kita lebih berani dalam menatap masa depan dengan keyakinan bahwasanya rezeki telah di atur oleh Allah Subhanah Wa Ta’ala. Carilah dengan cara yang benar dan dibenarkan oleh tuntunan Agama Kita. Bangkitlah dan lawan ketakutan dan jadilah Hamba Allah yang Bertawakkal dan bukan Hamba yang Penakut.

Bersambung –insya-ALLAH- Bangsa Yang Tak Pernah Bersyukur Berpakaian Ketakutan dan Kelaparan.

1Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: