Antara Sunnah dan Bid'ah, Manhaj

Timbangan Baru Merk ‘Muwaazanah’ Dalam Pandangan Para Ahli

Al Hafidz Ibnu Rajab berbicara pula di dalam Syarah Ilalut Turmudzi 1/50, berkata Ibnu Abi Dunya, menceritakan kepada kami Abu Shalih Al Mawardzi, aku mendengar Rafi’ bin Asyras berkata : “Pernah ada orang yang mengatakan termasuk daripada hukuman pendusta adalah tidak diterima kejujurannya dan aku katakan termasuk daripada hukuman orang yang fasik yang mubtadi’ adalah jangan disebutkan kebaikan-kebaikannya.”

Al Imam Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullahbin Baz –rahimahullah

Soal 1 :

Menurut manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah di dalam mengkritik ahlul bid’ah dan kitab-kitab mereka apakah wajib menyebut kebaikan ahlul bid’ah bersamaan dengan kejahatan-kejahatan mereka? Atau cukup hanya dengan menyebut kejahatan-kejahatan mereka saja?

Jawab :

Suatu hal yang ma’ruf di dalam perkataan Ahlul Ilmi bahwa mengkritik keburukan fungsinya adalah untuk memberi peringatan dan menerangkan kesalahan-kesalahan ahlul bid’ah yang mereka bersalah padanya. Juga untuk memberi peringatan agar berhati-hati. Adapun kebaikan-kebaikan (mereka) sudah ma’ruf dan kebaikan-kebaikan itu bisa diterima (walaupun tidak disebutkan). Akan tetapi maksud (dari menyebut kesalahan-kesalahan mereka saja) adalah untuk memberi peringatan agar berhati-hati dari kesalahan mereka seperti menyebutkan Jahmiyah (demikian) … Mu’tazilah … Rafidhah dan firqah-firqah lain yang sejenis. Maka jika sangat dibutuhkan untuk menerangkan kebenaran apa yang ada pada mereka boleh saja diterangkan dan jika ada yang bertanya kebenaran apa yang ada pada mereka (ahlul bid’ah)? Pada perkara apa mereka mencocoki Ahlus Sunnah? Apabila yang ditanya mengetahui hal itu dia (bisa) menerangkannya. Akan tetapi tujuan yang paling terbesar dan terpenting menerangkan kebathilan-kebathilan yang ada pada mereka agar orang yang bertanya itu berhati-hati dan hatinya tidak cenderung kepada mereka.

Soal 2

Kemudian ada pula yang bertanya kepada Syaikh Bin Bazz : “Bagaimana jika ada orang yang mewajibkan al muwazanah (perseimbangan) yakni jika kamu mengkritik seorang mubtadi’ (ahlul bid’ah) karena bid’ahnya agar kamu dapat memberi peringatan kepada manusia supaya berhati-hati darinya wajib pula kamu menyebutkan kebaikan-kebaikannya hingga kamu tidak mendzalimi dia?”

Maka Syaikh Bin Bazz menjawab : “Tidak demikian keadaannya. Hal yang demikian itu tidak harus dilakukan karena apabila kamu membaca kitab-kitab Ahlus Sunnah (yang menyebutkan keburukan ahlul bid’ah saja) maka kamu akan dapati tujuannya adalah memberi peringatan agar berhati-hati (dari ahlul bid’ah). Coba baca kitab-kitab karya Bukhari (seperti) kitab Khalqu Afalil Ibaad, Kitabul Adab yang ada di dalam Shahih-nya. Demikian juga kitab At Tauhid karya Ibnu Khuzaimah kemudian kitab Rad Utsman bin Said Ad Darimi ala ahlil bida’ dan kitab-kitab lainnya. Mereka (para ulama) mengarangnya dalam rangka memberi peringatan agar berhati-hati dari kebathilan-kebathilan ahlul bid’ah. Lalu apa maksudnya menyebutkan kebaikan-kebaikan ahlul bid’ah itu sedangkan tujuan (mengkritik ahlul bid’ah) sudah jelas untuk berhati-hati dari kebathilan-kebathilan mereka? Di samping itu kebaikan-kebaikan ahlul bid’ah tidak ada nilainya kalau diukur dengan orang-orang yang menjadi kafir diakibatkan oleh kebid’ahannya. Yang ini dapat mengkafirkan dia hingga batallah kebaikan-kebaikannya itu. Dan jika kebid’ahannya tidak sampai mengkafirkannya maka dia berada dalam bahaya. Oleh karena itu tujuan dalam mengkritik adalah menerangkan kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang kita wajib berhati-hati darinya.” (Dikutip dari kaset rekaman salah satu pelajaran Syaikh Bin Bazz setelah shalat Fajar di Thaif tahun 1413 H)

Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Naashiruddin Al Albany –rahimahullah

Dalam membantah kaidah al muwazanah bainal hasanat wassayyi’at, Syaikh Al Albani mengatakan :
“Ini adalah cara-cara ahli bid’ah ketika seorang yang alim tentang ilmu hadits mengkritik seseorang yang shalih, alim, fakih maka ia mengatakan ‘orang tersebut buruk hafalannya’, apakah ia mengatakan ‘ia Muslim, shalih, fakih, ia bisa dijadikan bahan rujukan dalam mengistimbath hukum-hukum syar’i … ?’”

Sampai perkataannya : “Dari mana mereka mendapatkan (kaidah ini) bahwa seseorang tatkala menjelaskan kesalahan-kesalahan ahli bid’ah, baik seorang dai ataupun bukan diharuskan baginya untuk mengadakan satu ceramah di mana ia menyebut kebaikannya dari awal sampai akhir? Allahu Akbar!! Ini adalah hal yang sangat aneh.” Syaikh tertawa keheranan di sini. (Kaset rekaman Silsilatul Hudaa wan Nuur nomor 850)

Insya-ALLAH akan datang perkataan Syaikh Al Albany dalam tulisan tersendiri

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi –rahimahullah

Soal :

Apakah sistem Al Muwaazanah (Menimbang antara kebaikan seseorang dengan kejelekannya) dalam konteks pemberiannasehat adalah termasukmetode para salaf ataukah tidak.?

Jawab :

Sistem ini tidak dikenal sebagai manhaj salaf, tidak ada seorangpun yang mengatakannya kecuali orang-orang yang hidup di masa kini. Yakni kelompokIkhwanul Muslimin dan orang-orang yang mengikuti cara mereka. Mereka mengatakan “Harus ditimbang antara kebaikan dan kejelekannya”, yang demikian itu adalah bathil dan tidak memiliki landasan sedikitpun dari Al Haq, tidak pula landasan dari Al Qur’an dan As Sunnah, tidak ada seorang pun dari para sahabat yang menggunakannya, tidak pula dari kalangan salaf setelah mereka.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diminta pertimbangannya oleh Fathimah bintu Qais, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerangkan tentang Mu’awiyyah dan Abu Jahm, “adapun Mu’awiyyah adalahorang miskin tidak punya harta, dan adapun Abu Jahm seorang yang senang memukul wanita (HR. Muslim)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menyebutkan kebaikan mereka sama sekali. Apabila kita mau menelususri dalil-dalil (dalam permasalahan ini), maka kita bisa mendapatkan dalam kitab yang disusun oleh yang mulia Asy Syaikh As Salafi Rabi’ bin Hadi Al Madkhalihafizhahullah– beserta bantahan orang-orang yang berpegang dengan metode di atas. (Kitab yang dimaksud adalah Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal Wal Kutub Wath-Thawaif dan juga Al Mahajjatul Bai’dha Fi Himayah As Sunnah Al Gharra’)

Asy Syaikh Shalih Al Fauzan –hafizhahullah

Soal

Apakah Anda memberi peringatan agar berhati-hati dari (keburukan-keburukan) mereka tanpa Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka? Atau akan Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka bersamaan dengan keburukan-keburukan mereka?

Jawab :

Apabila engkau sebutkan kebaikan mereka berarti engkau menyeru untuk mengikuti mereka. Jangan kamu sebutkan kebaikan mereka!!! Sebutkanlah kesalahan-kesalahan mereka saja karena engkau tidak ditugaskan untuk mempelajari perbuatan (baik) mereka dan mendukungnya. Tetapi engkau ditugaskan menjelaskan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat dan orang lain dapat berhati-hati dengannya. Adapun jika engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka maka mereka akan berkata : “Semoga Allah membalasimu dengan kabaikan, inilah yang kami cari … .” (Dikutip dari kaset rekaman pelajaran ke-3 Kitab At Tauhid oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di Thaif tahun 1413 H)

Asy Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan -hafizhahullah-

Dalam ceramahnya yang disampaikan di kota Riyadh dengan tema : “Salamatul Manhaj Dalilul Falah”, Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan ditanya : ”Apakah dalam manhaj Ahlus Sunnahwal Jama’ah -ketika mentahdzir ahli bid’ah dan orang-orang sesat- ada keharusan untuk menyebut kebaikan-kebaikan, memuji serta menyanjung mereka dengan dalih bersikap adildan obyektif ?

Beliau -hafizhahullah- menjawab : “Apakah orang-orang Quraisy dan para pimpinan kesyirikan di zamanjahiliyyah dulu tidakmemiliki kebaikan? Adakah kita jumpai di dalam Al Qur’an Allah Ta’ala menyebut kebaikan-kebaikan mereka?ng
Adakah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut kemuliaan amal perbuatan mereka. Padahal mereka adalah orang-orang yang suka memuliakan tamu. Bangsa Arab di zaman jahiliyyah dahulu juga suka memuliakan tamu, menjaga hak tetangga dan perbuatan baik lainnya. Bersamaan dengan itu tidaklah disebutkan keutamaan orang-orang yang telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala

Permasalahnnya bukanlah pada banyaknya kebaikan dan kejelekan, akan tetapi di sini permasalahannya memberi peringatan dari hal-hal yang berbahaya.

Apabila seseorang mau memperhatikan, hendaklah melihat ucapan para imam seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ali bin Al Madini dan Syu’bah -rahimahumullah jami’an-

Apakah salah seorang dari mereka ketika di tanya tentang perawi yang di jarh dan berkata : “si fulan pendusta” kemudian mereka menambahkan : “Akan tetapi dia berakhlak mulia, dermawan, banyak shalat tahajjud di malam hari?”
Apabila mereka mengatakan : “mukhtalath” (hafalannya tercampur) atau : “Dia telah dikuasai kelupaannya.” Adakah mereka mengatakan : “Akan tetapi pada dirinya…. Akan tetapi padanya.. Akan tetapi?!! TIDAK! Lalu mengapa manusia di zaman ini menuntut, apabila seseorang di tahdzir lantas dikatakan : … Akan tetapi orang ini memiliki kebaikan-kebaikan ini dan itu ?!!

Ini adalah slogan dan propaganda oran-orang yang jahil terhadap kaidah Al Jarh Wat Ta’dil, dan bodoh akan sebab-sebab terwujudnya kemaslahatan dan upaya menghindarkan manusia dari ketersia-siaan.”

Syaikh Abdul Aziz Muhammad Salman -hafizhahullah-

Soal :

Apakah disyaratkan di dalam manhaj Salaf, al muwazanah (keseimbangan) antara kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan dalam penyebutan ketika mengkritik ahlul bid’ah?

Jawab :

“Ketahuilah, semoga Allah membimbing kita dan kamu serta seluruh kaum Muslimin bahwa tidak pernah didapatkan atsar yang datang dari salah seorang dari kalangan Salafush Shalih baik itu para shahabat maupun tabi’in (orang yang mengikuti mereka dengan ihsan), yang mengagungkan seorang ahlul bid’ah pun atau orang-orang yang berwala’ kepada ahlul bid’ah atau mengagungkan orang yang mengajak berwala’ kepada ahlul bid’ah. Ahlul bid’ah itu orang yang berpenyakit hatinya. Orang yang bercampur dengan mereka atau berhubungan dengan mereka dikhawatirkan akan terkena penyakit (bid’ah) mereka yang berbahaya ini karena orang sakit itu akan menjangkiti orang yang sehat dan tidak sebaliknya. Maka berhati-hatilah dari seluruh ahlul bid’ah. Dan termasuk ahlul bid’ah yang wajib dijauhi dan ditinggalkan adalah Al Jahmiyah, Rafidlah, Al Mu’tazilah, Al Maturidiyyah, Al Khawarij, Shufiyah, Al Asy’ariyyah dan siapa saja yang berjalan di atas jalan mereka dari golongan yang menyimpang dari jalan para Salaf. Maka sepantasnya bagi seorang Muslim untuk berhati-hati terhadap ahlul bid’ah dan juga memberi peringatan (kepada orang lain) agar berhati-hati dari mereka.”

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: