Antara Sunnah dan Bid'ah, Nasehat

Renungan Untukmu Yang Merayakan Maulid, Yasinan, Tahlilan dan Lainnya

Pada tulisan sebelumnya saya telah mengungkapkan alasan kenapa saya tidak merayakan Maulid, Isra’ Mi’raj, dan lainnya beserta sedikit penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan. Semoga hal itu sudah mencukupi sebagai sebuah nasehat dan juga sebagai hujjah kelak bagiku di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa aku telah menyampaikan nasehat. Maka pada tulisan kali ini saya hendak mengajak anda wahai saudaraku yang baik untuk sedikit merenung -masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya- jadi mungkin bisa dibilang kalau tulisan adalah sambungan atau versi lain dari tulisan sebelumnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [Al Maidah : 3]

Maka renungkanlah wahai saudaraku Apakah perayaan maulid dan bid’ah-bid’ah lainnya yang kalian amalkan adalah bagian dari kesempurnaan Islam ketika diturunkannya ayat di atas pada hari Jum’at di hari Arafah pada Haji Wada’..?

Jika jawaban kalian adalah “iya” berarti kalian telah menuduh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembunyikan risalah atau suatu syariat. Dan kalau jawaban kalian adalah “Bukan” maka berarti kalian telah mencacati bahkan mendustakan ayat di atas sebab yang namanya sesuatu yang sempurna tidaklah lagi butuh kepada tambahan (baca : bid’ah).

Maka sekali lagi renungkanlah.

Bacalah perkataan Imam Malik -rahimahullah- berikut dan renungkanlah :

Barangsiapa yang mengada-adakan dalam islam suatu bid’ah dan kemudian dia menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah . Karena Allah  Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Maka apa yang waktu itu bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pun bukan bagian dari agama” (Lihat Al I’tisham oleh Imam Syathibi halaman 37)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.[At Taubah : 100]

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan adalah bahwa Dia telah ridha kepada Sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar ridhwanullahi ‘alaihim jami’an. Apakah ketika keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  itu diberikan mereka [para sahabat itu] melakukan bid’ah-bid’ah [yang kalian anggap hasanah itu] ataukah tidak..?   Renungkanlah…!!!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan” [HR. Ibnu Majah]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda : Sebaik-baik generasi adalah generasi, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya”[HR. Bukhari]

Maka renungkanlah wahai saudaraku –semoga Allah  Subhanahu Wa Ta’ala merahmatimu– Para sahabat yang telah di ridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, demikian juga generasi tabi’in dan atba’ut tabi’in -rahimahumullah- telah bersepakat untuk tidak melakukan perayaan Maulid, Tahlilan, Shalawatan -[tak satupun yang menyelisihinya, perayaan Maulid, tahlilan, shalawatan -model sekarang- itu nanti muncul setelah berlalunya tiga generasi tersebut]. Artinya mereka bersepakat di atas sesuatu yang benar, adapun zaman ini tidak tercapai kesepakatan akan hal itu.. maka yang manakah yang hendak kalian ikuti wahai saudaraku kesepakatan generasi yang telah diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan direkomendasi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ataukah amalan-amalan mereka yang datang jauh setelah generasi terbaik tersebut? Maka renungkanlah dan pilihlah untukmu jalan manakah yang lebih selamat…!!!

Saudaraku yang baik, bukankah kalian mengatakan diri kalian adalah Ahlussunnah, lantas kenapa kalian melaksanakan amalan-amalan yang kalian sendiri ketahui bahwa itu bukanlah bagian dari sunnah RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam maupun Sunnah Khulafaur-Rasyidin, bahkan tidak pula seorang sahabatpun melakukannya? Apakah sebutan Ahlussunnah itu hanya pajangan, sebab seorang Ahlussunnah tidaklah akan mencampur Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Khulafaurrasyidin dengan berbagai macam bid’ah yang muncul dari prasangka baiknya? Bukankah Ahlussunnah dan Al Jama’ah itu sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mereka yang berada di atas agama yang aku dan sahabatku berada di atasnya hari ini”?

Maka Renungkanlah, apakah amalan-amalan itu [ yang kalian pun tahu kalau itu adalah bid’ah dan bukan sunnah, bukankah kalian menamakannya bid’ah hasanah ] adalah amalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat berada di atasnya?

Jawablah dengan jujur kemudian renungkanlah secara mendalam…!!!!

Oh ya… adapun makna Al Jama’ah dan As Sawadul A’zham bukanlah artinya mayoritas sehingga tidaklah bisa berdalil dengan Mayoritas orang. Abdullah ibnu Mas’ud –radhiallahu ‘anhu- seorang ulamanya sahabat, pakar bahasa arab berkata : Al Jama’ah adalah Apa-apa yang mencocoki kebenaran walapun engkau sendiri

Maka renungkanlah, bersama siapakah kebenaran dan kebaikan itu?Bersama generasi terbaik umat ini yang telah direkomendasi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam [Sahabat, Tabi’in, Atba’ut Tabi’in] ataukah bersama kebanyakan manusia saat ini yang tak satupun dijamin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apalagi dijamin masuk Surga..?

Orang yang berakal pasti akan lebih memilih mengikuti mereka-mereka yang di jamin kebaikannya, bahkan di jamin keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas mereka bahkan sebagiannya dijamin pasti jadi penghuni Surga, dibanding mereka-mereka yang tidak ada jaminan..? Bukankah demikian wahai saudaraku…?

Maka ambillah pelajaran wahai orang yang berakal”

Renungkanlah Nasehat Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berikut dan ambillah pelajaran :

Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, tetaplah kamu berpegang dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridhailah untuk dirimu apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah yang tajam dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat (mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan. Maka sebagian manusia ada yang telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah 212)

Renungan yang terakhir….

Perhatikanlah wahai saudaraku yang baik, bahwasanya setiap dari kita akan datang menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mempertanggungjawabkan semua amalan dan perbuatan kita. Kita akan dihisab sendiri-sendiri tanpa seorangpun yang bisa menolong. Maka renungkan dan pikirkan jawaban apakah yang akan kita berikan ketika kita ditanya : Kenapa engkau merayakan Maulid, merayakan Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, melakukan tahlilan, padahal engkau tahu kalau itu adalah bid’ah? sekali lagi renungkanlah baik-baik…! sebab jika jawaban kita tidak benar maka Neraka telah menunggu kita dan akan di usir dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang seteguk airnya akan menghilangkan haus selamanya.

Ah mungkin kita akan menjawab, “kami melakukannya karena kami mencintai Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bahwasanya ini adalah bid’ah hasanah dan itu adalah kebaikan.”

Ternyata kemudian mungkin akan menyusul pertanyaan lainnya, “Bukankah kalian diperintah hanya untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya, adakah Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya melakukan hal itu? Apakah kalian merasa lebih tahu yang mana kebaikan melebihi para sahabat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah jaminan keridhaan-Nya? Apakah engkau lebih mencintai Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melebihi cinta Abu Bakar, Umar dan sahabatnya yang lain ataukah engkau lebih mengetahui cara mewujudkan dan menunjukkan cinta melebihi mereka-mereka itu.?

Demikianlah wahai sauadaraku, kita akan diberondong pertanyaan yang mungkin tidak akan ada habisnya, sementara orang yang kita ikuti tidak bisa membantu kita sedikitpun karena dia menghadapi pertanyaan yang sama bahkan mungkin lebih banyak lagi.

Maka Saudaraku, sekali lagi renungkanlah ….. !!!!

Akankah kita mempertaruhkan nasib kita di Padang Masyhar dan mempertaruhkan seteguk air dari telaga Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas sangkaan-sangkaan baik akal-akal dan perasaan-perasaan kita? Jawab dan renungkanlah jawabannya…!

Perhatikan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Tidaklah mereka mengikuti kecuali persangkaan dan sesungguhnya prasangka itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”

Kemudian renungkanlah dengan baik kemudian jawablah pertanyaan berikut :

Maukah kita menambah lama waktu hisab kita di padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amalan-amalan yang kita lakukan dalam keadaan kita ketahui bahwa itu bukanlah sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Sahabatnya, bahkan ia adalah bid’ah yang sekali lagi adalah hasil sangkaan-sangkaan baik akal-akal dan perasaan-perasaan kita? sementara di sana masih banyak amalan-amalan yang jelas-jelas sunnah kita tinggalkan dan lalaikan.

Kemudian yang sangat mengherankan adalah di saat kalian -wahai saudaraku- begitu gigih membela bid’ah-bid’ah -yang sekali lagi kalianpun tahu kalau itu bukanlah sunnah- pada saat yang sama kalian -semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengapuni aku dan kalian- mencela -sadar atau tidak sadar- sebagian sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dan mengejek mereka-mereka yang konsisten untuk mengamalkan sunnah tersebut, sebagian dijadikan bahan bercandaan seperti memelihara jenggot -sebagian mengolok mirip kambing-, celana cingkrang -sebagai celana kebanjiran, dan lainnya.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: