Uncategorized

Renungan Untuk Warga Jakarta dan Muslimin Umumnya Seputar Pemimpin

 

Saudaraku muslim, renungkanlah firman Allah : “Dan orang orang Yahudi dan Nashara tidak akan pernah Ridha (senang) kepadamu (muhammad) sampai engkau mengikuti agama mereka.”

Setiap muslim pasti mengaku mencintai Allah, tapi kenyataannya banyak yang mendustakan pengakuannya sendiri dan memperlihatkan bahwa dia lebih mencintai dirinya sendiri dibandingkan cintanya kepada Allah. Ketika ada yang mengambil dan melanggar hak haknya (dengan cara korupsi atau apapun) dia berteriak mencaci dan mencela, marah marah. Tapi ketika hak hak Allah dilanggar (dengan mengatakan Allah punya Anak, Mendustkan Rasululullah) mereka -yang mengaku cinta Allah dan Rasul dan marah2 ketika haknya dilanggar- justru diam diam saja bahkan bangkit membela sebagian orang yang telah melanggar hak hak Allah.

Seakan mereka mengatakan “tidak perduli hak Allah dilanggar atau tidak yang penting hak kami jangan diambil”. Mereka juga berteriak “gak usah bawa bawa masalah agama” seakan agama ini tidak mengatur masalah ini.

Padahal kalau ada yang menuduh orangtuanya atau istri/suaminya selingkuh dan punya anak haram, dia akan marah2.

Cinta Allah, antara pengakuan dan sikap berpaling. Kita Mengaku Cinta Tapi Perbuatan Kita Mendustakan Ucapan dan Pengakuan Kita

Kemudian Benarkah orang yang dibela itu -bagi yang membela- itu Jujur dan Adil, Mari lihat apa kata Allah dalam al Qur’an.

(فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ)

“Maka siapakah yang lebih ZHALIM daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau MENDUSTAKAN ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.”
[Surat Yunus 17]

Adakah kezhaliman dan kedustaan yang lebih besar daripada melanggar hak haka Allah dan mendustakan ayat Nya. Ataukah sekali lagi pengakuan cinta itu hanyalah sebuah pemanis bibir saja. Sebagaimana ungkapan penyair :

“Setiap orang mengaku punya hubungan dengan si Laila. Dan laila tidak mengakui hubungan tersebut”

Sehingga -sekali lagi- kita mencak mencak ketika hak kita dilanggar tapi diam saja bahkan membela ketika hak Allah dilanggar selama hak kita tidak dilanggar.

Anda mau bilang saya picik, pikiran sempit atau apalah, terserah kalian.

Saya cuma mengajak kalian saudaraku muslim merenung. Apa kira2 jawaban kalian -jika sekiranya- Allah kelak bertanya,

“kenapa kalian membela orang yang mengatakan AKU punya anak…? Karena hak kalian ditunaikan olehnya, lamtas bagaimana dengan hak Ku…? Kalian mengaku beriman kepada Ku tapi kalian tidak percaya bahwa Rezeki kalian tidak akan berkurang dari yang kutetapkan…? Sekarang kalian minta pertolongan agar aku mengampuni kalian sementara dulu di dunia kalian justru menolong orang oran yang mendustakan Ku dan mendustakan Rasul Ku.”

“Kalian menganggap perkara ini bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan padahal bukankah kalian membaca al Qur’an yang didalamnya telah Aku firmankan, “hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, mereka menyerukan kalau ar Rahman (Allah) mengambil anak”

“Kalian mengaku beriman kepada Ku tapi kalian justru memberikan loyalitas dan pembelaan kalian serta pujian kalian kepada mereka yang menuduhKu punya anak, bukankah kalian membaca al Qur’an, di dalamnya telah kusebutkan, “engkau tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling ber kasih sayang dengan mereka yang memusuhi Allah dan Rasul Nya walaupun mereka itu adalah bapak2 Mereka, atau anak anak mereka atau saudara saudara mereka atau kerabat kerabat mereka.”

“Apa yang telah kalian lakukan dengan ayat ayat Ku..?

“Setiap hari kalian meminta kepada Ku agar dijauhkan dari jalannya orang2 Yang Sesat yaitu ketika kalian membaca ayat terakhir surat al Fatihah dalam shalat, sementara kalian justru ternyata bangkit membela dan memuji orang yang sesat, bukankah Rasul Ku sudah menyampaikan, “yang sesat itu adalah an Nashara”…?

Renungkanlah…!!!

Sekali lagi, terserah kalian mau bilang picik atau apa, saya cuma bisa bilang, sebagaiman ucapan para Nabi kepada kaumnya “maka kalian kelak akan mengingat apa apa yang aku katakan kepada kalian (hari ini) dan adapun urusanku, aku serahkan kepada Allah”

Apa yang kusampaikan bukan berarti boleh mencela dan mencaci maki, sebab seorang mu’min bukanlah orang yang suka mencela dan mengumpat, apalagi menyakiti dan membunuh. Kecintaan dan kebencian ada aturannya dalam syariat, tidak dilakukan dengan membabi buta tapi tidak juga dengan cara yang kebablasan.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: