Fiqih/Tanya Jawab

Belajar Fiqih 2 : Perbedaan Najis dan Hadats

#Mari Belajar Fiqih
Pelajaran Ke 2
Perbedaan Najis dan Hadats
Hadats dan Najis adalah dua hal yang berbeda sehingga hukumnya pun berbeda, meski demikian banyak kaum muslimin yang tidak memahami perkara ini sehingga kadang terlihat ada kaum muslimin yang sudah berwudhu kemudian berangkat ke mesjid tapi ketika sampai di mesjid dia berwudhu lagi karena di jalan ia menginjak kotoran atau Najis. Padahal hal itu tidak perlu, cukup baginya membersihkan Najis tersebut dan tidak perlu berwudhu.
Berikut di antara perbedaan Najis dan Hadats :
1. Najis ada dzat atau bendanya adapun Hadats maka tidak dzat atau bendanya tapi ia adalah sebuah keadaan atau kondisi yang menghalangi seseorang untuk Shalat.
Misal air kencing adalah Najis tapi kondisi atau keadaan seseorang setelah kencing disebut berhadats.
2. Hadats membatalkan wudhu adapaun Najis tidaklah ia membatalkan wudhu. 
Misal jika seseorang habis berwudhu kemudian dia kencing atau kentut maka ketika hendak shalat dia harus kembali berwudhu. Adapun jika misalnya ia terpercik air kencing dari anaknya maka cukup baginya ia membersihkan bagian yang kena air kencing kemudian ia Shalat -jika ia telah berwudhu sebelumnya- tanpa mengulang lagi wudhunya.
3. Suci dari Hadats adalah Syarat Sah Shalat sedang Bersih dari Najis adalah kewajiban Shalat.
Misal, jika seseorang telah selesai shalat kemudian sadar bahwa ia belum berwudhu atau belum mandi -jika ia junub- maka ia wajib mengulang shalatnya, adapun jika ia telah selesai shalat kemudian dia melihat bahwa di pakaian yang ia kenakan tadi terdapat najis atau ia baru mengetahui kalau pakaian yang dia pakai Shalat terkena najis maka ia tidaklah wajib mengulangi shalatnya dan Shalat yang ia telah lakukan itu sudah sah.
Dalilnya adalah hadis dari Abu Said Al-Khudri, bahwa suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sendalnya ketika beliau shalat. Para shahabat yang bermakmum di belakang beliau pun ikut-ikutan melepas sendal mereka. Setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang menyebabkan kalian melepaskan sendal kalian?” Mereka menjawab, “Kami melihat Anda melepas sandal, sehingga kami pun mengikutinya.” Kemudian, beliau menjelaskan, “Sesungguhnya, Jibril mendatangiku dan memberitahukan padaku bahwa di kedua sendalku ada najis (sehingga beliau pun melepas kedua sendal beliau, pent.).” (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Kandungan fikih pada hadis tersebut: Andaikan shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu–bahwa di bagian pakaiannya ada najis–itu dihukumi batal, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengulangi shalatnya dari awal. Namun, dalam hadis di atas, beliau hanya melepas sendal dan tidak mengulangi shalatnya dari awal.
4. Hadats tidak bisa disucikan kecuali dengan air mutlaq atau yang menempati kedudukannya seperti debu atau tanah (tayammum ketika tidak menemukan air, in sya Allah akan datang pembahasannya di masalah Tayammum). Adapun Najis maka bisa dibersihkan/disucikan dengan selain air mutlak dan debu misal air kelapa, tisu, dll yang bisa menghilangkan sifat sifat Najis dan pendapat ini dipegang oleh Imam asy Syaukani, Syaikhul Islam dan Syaikh Ibnu Utsaimin

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: