Manhaj, Nasehat

Buah Dari Mengikuti Sunnah

*Buah dari mengikuti sunnah*

*_Ringkasan Materi Tabligh Akbar Mesjid Al Markas Makassar 31 Juli 2016 H_*
Pemateri : *Asy Syaikh Muhammad Nashr BaaMusa* – _hafizhahullah_

Di antara Buah Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

*1. Mendapatkan Kemenangan dan Keutamaan Yang Hakiki*

(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)
_”Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”._

*2. Diterimanya Amalan*

قال النبي : من عمل عملا ليس عليه امرنافهوراد

Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda : _”Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada tuntunan dari kami maka tertolak”_

Mafhum Mukhalafahnya : bahwa Amalan yang diterima hanyalah yang sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa sallam yang tentunya dibarengi dengan niat yang Ikhlas.

*3. Mendapatkan Kecintaan dan Ampunan Allah*

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

_”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”_ [Surat Aal-E-Imran 31]

*4. Terjaga dari Kesesatan dan Penyimpangan*
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
_”Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”_ (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”_

*5. Mendapatkan Hidayah*

(قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ)

_”Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah “kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”._ [Surat An-Nur 54]

*6. Keimanan Yang Hakiki*

(فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)
_”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”_ [Surat An-Nisa’ 65]

*Ibnul Qayyim* -rahimahullah menjelaskan dalam Madaarijus Saalikiin : _💧Saat Berhukum Dengan Hukum Syariat maka berarti engkau seorang Muslim_
_💧Tatkala Engkau Ridha  akan Hukum Syariat maka berarti engkau seorang Mu’min_
_💧Tatkala Engkau mendapati Tidak Sempit dan Lapang Dadamu Dengan Hukum Syariat maka berarti engkau seorang Muhsin._

*7. Mendapatkan Hidupnya Hati*

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ)

_”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.”_ [Surat Al-Anfal 24]

(مَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ)
_”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”_ [Surat Al-Hashr 7]

*8. Dimasukkan ke Dalam Surga Oleh Allah -bagi yang dikehendakiNya- *

كل أمتي يدخلون الجنه الا من ابى  قيل : ومن يعبى يارسول الله قال : من اطاعني دخل الجنه ومن عصاني فقد ابى
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : _”Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau”_ maka para sahabat bertanya, ‘siapa yang tidak mau Wahai Rasulullah’. Rasulullah menjawab : _”siapa yang menta’atiku akan masuk surga, siapa yang tidak menta’atiku maka dia enggan”_

Ibnu Hajar – _rahimahullah_ menjelaskan bahwa umat itu terbagi tiga :
– Umat Da’wah (Yakni Seluruh Manusia)
– Umat Ijabah (Seluruh Kaum Muslimin)
– Umat Muqtadi (Orang Khususnya Kaum Muslim)

*9. Diberikan Nikmat Berupa Kabar Gembira Akan Dibangkitkan Kelak Bersama Rasulullah di Hari Kiamat*

(وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا)

_”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”_ [Surat An-Nisa’ 69]

*10. Pahala Yang Sangat Besar (Sebanding dengan 50 Syuhada)*
Berkata Abu Tsa’labah:
“Demi Allah, aku telah bertanya kepada Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam tentang ayat itu, maka beliau ‘alaihisshalaatu wasallam bersabda yang artinya:
“Beramar ma’ruf dan nahi mungkarlah kalian sehingga (sampai) kalian melihat kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan (setiap orang mengatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya masing-masing.
Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan padanya), setiap orang merasa ta’jub dengan akal pemikirannya masing-masing, maka peliharalah diri-diri kalian (tetaplah di atas diri-diri kalian) dan tinggalkanlah orang-orang awam karena sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran (hari dimana seseorang yang sabar menjalankan al haq dia akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat).
Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.”
Seseorang bertanya kepada Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang artinya: “Ya Rasulullah, pahala 50 orang dari mereka?” Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam berkata: “Pahala 50 orang dari kalian (para Sahabat Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam)”

{HR.Abu Daud: 4341, At Tirmizi: 3058, dan dihasankan olehnya; Ibnu Majah: 4014, An Nasai dalam kitab Al Kubro: 9/137-Tuhfatul Asyrof, Ibnu Hibban: 1850-Mawarid, Abu Nuaim dalam Hilyatul Aulia: 2/30, Al Hakim: 4/322-dishohihkan dan disetujui oleh Adz Dzahabi, Ath Thahawi dalam Misykalul Atsar: 2/64-65, Al Baghowi dalam Syarhu Sunnah: 14/347-348 dan dalam Ma’alimul Tanzil: 2/72-73, Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jamiul Bayan: 7/63, Ibnu Wadloh Al Qurtubi dalam Al bida’u wa nahyuanha: 71, 76-77; Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shobr: 42/1}

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,
يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ
_“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”_
[at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam al-Ibanah (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.]

*11. Akan Minum dari Telaga Rasulullah dan Tidak Termasuk Golongan Yang Terusir Dari Telaga Rasulullah Karena Meninggalkan Sunnah Serta Berbuat Bid’ah.*

Dari Abu Wail, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
_“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’_ ” (HR. Bukhari, no. 7049)

Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

_“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.”_  (HR. Bukhari, no. 7051)

Imam Al-Hafizh Abu ‘Amr bin ‘Abdul Barr mengatakan, “Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, merekalah yang dijauhkan dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), dan pelaku bid’ah lainnya. Begitu pula orang yang berbuat zalim dan terlaknat lantaran melakukan dosa besar. Semua yang disebutkan tadi dikhawatirkan terancam akan dijauhkan dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.”  (Syarh Shahih Muslim, 3: 122)

*Nasehat :*
– Semangat lah dalam menyebarkan ilmu agama dan bersungguh sungguh menjadi sebab tersebarnya ilmu agama di tengah umat manusia yang ditimpa dan dilingkupi kebodohan.
(وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)
[Surat Fussilat 33]
Di antara Faidah ayat di atas :

* Manusia Yang Terbaik adalah Yang Berda’wah, Ketika dibangun di atas :
1. Da’wah Harus Kepada Allah, kepada Agama Allah bukan kepada Pribadinya.
2. Senantiasa istiqamah dengan Amalan Yang Shalih (Ikhlas dan di atas tuntunan Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa sallam )
3. Berdakwah di atas keislaman (keikhlasan)

Rasulullah _shallallahu ‘Alaihi wa sallam_ bersabda : _Sampaikanlah Dariku Walaupun Satu Ayat_ (HR. Bukhari)
Di antara faidah hadits di atas :
*1. Taklif* : Tanggung Jawab untuk memiliki andil tersebarnya Da’wah.
*2. Tasyrif* : Keutamaan, sebab yang disampaikan adalah yang datang dari Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa sallam.   Dan ini juga sebagai peringatan bahwa yang disampaikan benar-benar dari Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa sallam
*3. Takhfiif* : Keringanan dari Allah dan Rasul-Nya.

____________________________

*Asy Syaikh Muhammad Bin Abdullah bin Nashr BaaMusa* – _hafizhahullah_-
– Berta’awun

Berbedanya keadaan kita, strata dan kekuatan hendaknya menjadikan kita bisa Berta’awun (tolong menolong) sebab tidak satupun dari kita kecuali butuh kepada yang lainnya. Lihatlah bagaimana Dzulqarnain dengan kekuatan dan kekuasaan yang diberikan Allah kepadanya tapi beliau masih meminta tolong kepada rakyatnya (atau manusia yang juga meminta tolong kepadanya membangun benteng) dalam membangun benteng guna menghalangi musuh yang sangat besar.

Bahkan lihatlah Nabi Musa -‘alaihissalam- dengan semua Keutamaan yang Allah berikan, beliau masih meminta kepada Allah agar mengutysnya bersama saudara beliau, Haarun -‘alaihissalam- agar beliau bisa saling menolong.

– Jagalah Kehormatan Ahlus Sunnah

– Bersikap dengan benar dalam perselisihan dengan berjalan di atas bimbingan Allah dan Rasul-Nya dengan penjelasan dari para ‘Ulama.

===============

Diringkas oleh : Abu Shafiyyah Fahruddin Al Marusi Al Bughisy.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: