Nasehat

Sebab sebab Mendapatkan Kemuliaan Dunia dan Akhirat _ Nasehat asy Syaikh Muhammad BaaMusa

بسم الله الرحمن الرحيم
*SEBAB-SEBAB MENDAPATKAN KEMULIAAN DUNIA DAN AKHIRAT*

*Fadhilatusy Syaikh Muhammad Abdullah Nashr BaMusa* حفظه الله تعلى

Diterjemahkan oleh Al Ustadz Sahal Abu Abdillah حفظه الله تعلى
Sungguh merupakan kenikmatan dari Allah subhanahu wa ta’ala tatkala Allah mengumpulkan kita dalam satu majelis dalam rangka mengambil ilmu langsung dari pewaris para Nabi yaitu dari para ulama.

Diriwatkan dari sahabat abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda,

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR. Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani]

Senantiasa lisan kita tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah عز و جل dengan kedatangan para ulama, para masyaikh dipondok kita ini, yang merupakan ‎فرصة (fursa) – kesempatan kepada kita memanfaatkan sebesar-besarnya dari lisan para ulama, dari ilmu yg bermanfaat yg mereka ajarkan maka seorang hamba bisa meraih kebahagian yg hakiki dan bertaqwa kepada Allah عز و جل

Maka setelah syaikh memuji Allah سبحانه و تعالى , kemudian kata syaikh Muhammad Abdillah Nashr BaMusa segala puji bagi Allah yg telah memudahkan kami mengunjungi para penuntut ilmu ahlussunnah wal jama’ah salafy dan ini sungguh kenikmatan yg besar dari Allah untuk bisa saling mengunjungi dan melihat tata cara menuntut ilmu dan mengingatkan kita tentang keadaan menuntut ilmu di Dammaj, di Ma’bar dan ini sungguh memberikan kelapangan kepada kami.

Dan syaikh mengatakan dalam pertemuan yg singkat ini, bahwa sebahagian manusia mencari kemuliaan, mereka menyangka bahwa kemuliaan bisa didapat dengan harta, pangkat, adapun kalian para penuntut ilmu sudah menempuh jalan yg benar bahwa kemulian tersebut hanyalah didapatkan dengan ilmu dan berpengang teguh dengan agama. Dan kata syaikh ada 4 sebab seseorang akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat :

• Sebab pertama adalah beriman kepada Allah سبحانه و تعالى
• Sebab kedua adalah menuntut ilmu syar’i
• Sebab ketiga adalah tawadhu’ merendah diri karena Allah سبحانه و تعالى
• Sebab keempat adalah memperbanyak ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى

*Sebab Pertama Beriman Kepada Allah سبحانه و تعالى*

Allah سبحانه و تعالى berfirman,

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ؕ

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. [QS. Al-Mujadilah: Ayat 11]

Beriman kepada Allah سبحانه و تعالى , beriman kepada Kitab-Kitab Allah سبحانه و تعالى , beriman kepada Rasul-Rasul Allah سبحانه و تعالى , beriman kepada Hari Kiamat, beriman kepada Takdir Allah سبحانه و تعالى , beriman akan adanya Allah سبحانه و تعالى , demikian pula beriman dengan Rububiyah Allah. Dan Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَلَا تَهِنُوْا وَ لَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman. [QS. Ali ‘Imran: Ayat 139]

Maka dengan keimanan kepada Allah سبحانه و تعالى maka Allah akan mengangkat derajat kalian.

*Sebab kedua Menuntut Ilmu Syar’i*

Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

“dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. [QS. Al-Mujadilah: Ayat 11]

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yg diberi ilmu beberapa derajat.
Allah سبحانه و تعالى berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ؕ

“katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?”. [QS. Az-Zumar: Ayat 9]

Jawabannya adalah tidak sama.
Allah سبحانه و تعالى berfirman,

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَالْمَلٰٓئِكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا ۢ بِالْقِسْطِ ؕ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ؕ

Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
[QS. Ali ‘Imran: Ayat 18]

Allah mempersaksikan keEsaan-Nya, demikian pula para malaikat dan orang-orang yg berilmu.

Allah سبحانه و تعالى berfirman,

نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَآءُ ؕ

“Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki”. [QS. Al-An’am: Ayat 83]

Berkata Zaid ibnul Arqam رحمه الله dalam menafsirkan ayat tersebut, bahwa Allah akan mengangkat derajat seorang hamba dengan ilmu agama. Dengan ilmu agama seorang hamba akan meraih kemulian hidup di dunia dan di akhirat.
Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” [HR. Bukhari – Muslim]

Maka apabila Allah menginginkan kebaikan kepadamu, Allah berikan pemahaman dalam agama. Dan sebaliknya jika Allah tidak menginginkan kebaikan kepadamu maka Allah tidak akan memberikan pemahaman agama kepadamu.

Demikian pula sabda Nabi kepada para pembaca Al-Qur’an,

يقال لصاحب القرآن اقرأ وارتقِ، ورتل كما كنت ترتل في الدنيا، فإن منزلك عند آخر آية تقرؤها

“akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca” (HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Dikatakan kepada orang-orang yg membaca Al-Qur’anul Kariim, bacalah sebagaimana engkau membacanya di dunia, kemudian mereka akan ditinggikan derajatnya disisi Allah سبحانه و تعالى , maka berapa banyak pahala yg akan didapatkan orang yg membaca Al-Qur’an, satu huruf mendapatkan sepuluh kebaikan dan akan dilipatgandakan oleh Allah سبحانه و تعالى .
Asy-syaikh ‘Utsaimin رحمه الله ketika menjelaskan tentang hadits tersebut, kata beliau dalam hadits ini masuk pula keutamaan hadits tersebut pada orang-orang yg membaca Al-Qur’an bukan hanya keutamaan pada penghafal Al-Qur’an. Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم mengatakan اقرأ bacalah, Nabi tidak mengatakan kemulian ini untuk yg menghafalkan Al-Qur’an. Akan tetapi orang yg menghafalkan Al-Qur’an itulah yg lebih utama.

Kemudian kata syaikh حفظه الله تعلى , hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Umar ibnul Khattab رضي الله عنه , Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda,

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين

“sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini dan menghinakan yang lain dengannya” (HR. Muslim : 817)

Mengapa Allah سبحانه و تعالى mengangkat detajat suatu kaum dan merendahkan suatu kaum dengan Al-Qur’an? dan kapan Allah سبحانه و تعالى mengangkat suatu kaum dan merendahkan suatu kaum?
Allah سبحانه و تعالى mengangkat derajat suatu kaum yg berilmu dengan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Dan Allah سبحانه و تعالى merendahkan suatu kaum yang membaca Al-Qur’an akan tetapi tidak beramal dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur’anul Kariim.
Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْۤ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغٰوِيْنَ

Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. [QS. Al-A’raf: Ayat 175]

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰٮهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْـكَلْبِ ۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ؕ ذٰ لِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing,. [QS. Al-A’raf: Ayat 176]

Dan kisah ini untuk mereka dari kalangan ulama-ulama bani israil yg mereka membaca al-kitab akan tetapi mereka tidak mengamalkan apa yg terkandung dalam al-kitab tersebut. Allah سبحانه و تعالى menjadikan mereka seperti permisalan anjing. Dan di ayat lain Allah سبحانه و تعالى mempermisalkan mereka seperti keledai, perumpamaan mereka-mereka yang membawa taurat seperti keledai, membaca taurat tetapi tidak mengamalkannya,

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰٮةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai. [QS. Al-Jumu’ah: Ayat 5]

Allah سبحانه و تعالى akan mengangkat derajatmu tatkala engkau berilmu dan beramal dengan ilmu tersebut, atau engkau membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya maka kehinaan yg akan engkau dapatkan didunia dan diakhirat.

Sebahagian para ulama menyebutkan bahwa ada tiga golongan makhluk yg mulia. Golongan yg pertama adalah para Malaikat, yg kedua adalah para Nabi dan yg ketiga adalah para Raja atau Penguasa. Maka semua golongan ini tunduk pada ilmu agama dan ini menunujukkan kepada kita bahwa betapa mulianya kedudukan ilmu agama.

Lihat bagaimana para Malaikat kembali bertanya kepada Nabi Adam عليه السلام tentang nama-nama Allah عز و جل yg telah diajarkan kepada Adam عليه السلام dalam keadaan Malaikat adalah makhluk yg mulia.

Kemudian lihat Musa عليه السلام kembali belajar kepada Khidir عليه السلام , Musa عليه السلام mengambil ilmu dari Khidir عليه السلام yg kesepakatan jumhur ulama termasuk dari kalangan nabi. Musa yg lebih tinggi kedudukannya dari Khidir tetap mengambil ilmu dari Khidir.
Sebagaimana hadits yang telah kita ketahui dalam shahih Bukhari dan Muslim dan kisahnya dalam surah Al-Kahfi.

Kemudian Para Raja dan Penguasa, mereka senantiasa mengembalikan permasalahan bertanya kepada para ulama jika mereka memiliki permasalahan.

Kemudian dari sahabat Abud Darda رضي الله عنه , Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ .

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayap-sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. [HR. Muslim]

Para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya, dan para ulama sebagian dari mereka diantaranya Al Imam Al-Khattaby رحمه الله تعلى dan selainnya menyebutkan ketika menafsirkan hadits ini وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayap mereka, ini secara hakekatnya bahwa betul-betul Malaikat membentangkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu karena ridho terhadap apa yg mereka lakukan, kamu berjalan dalam keadaan Malaikat senantiasa membentangkan sayap-sayapnya. Para Malaikat tidaklah membentangkan sayap-sayapnya kepada para pemimpin atau selainnya, akan tetapi para Malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu. Kamu berada dalam majelis ilmu maka para Malaikat berbondong-bondong membentangkan sayap-sayapnya dan ini merupakan kemuliaan untuk para penuntut ilmu.

Kemudian disebutkan kepada Nabi صلى ا لله عليه وسلم tentang dua orang lelaki, salah satu dari lelaki ini selalu fokus ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى , ia sholat, puasa. Dan lelaki yang lainnya adalah seorang yang berilmu, yang kata Nabi صلى الله عليه وسلم ,

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan ahli ibadah adalah bagaikan keutamaanku dibandingkan orang yang paling rendah di antara kalian. [HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata bahwa ini adalah hadits hasan]

Maka, wahai saudaraku sekalian, karena Allah سبحانه و تعالى didiklah anak-anak kalian dengan didikan Islami, didiklah mereka dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم , tanamkan kepada mereka kecintaan kepada masjid-masjid Allah سبحانه و تعالى ,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kalian pimpin .” [Muttafaqun ‘alaihi]

Kalian semua adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannnya, kalian semua akan ditanya oleh Allah سبحانه و تعالى tentang anak-anak kalian, apakah laki-laki atau perempuan, kalian akan ditanya dihadapan Allah kelak, apakah anak-anak kalian sudah diajarkan ‘aqidah yg benar, telah menanamkan kecintaan kepada anak-anak kalian terhadap masjid-masjid Allah سبحانه و تعالى ataukah kalian membiarkan mereka berkeliaran dijalan-jalan. Karena sesungguhnya tatkala mereka belajar sejak kecil, belajar sejak kecil itu bagaikan mengukir diatas bebatuan. Dalam kisah imam Malik رحمه الله dalam kisah yg panjang disebutkan bagaimana cara mendidik anak. Maka perhatikanlah dalam urusan ilmu agama, perhatikanlah perkara ini karena. Sesungguhnya ini adalah bagian dari peringatan kepada kita semua.

*Sebab Ketiga adalah Tawadhu’*

Kemudian pada perkara yg ketiga dan saya akan meringkas perkara yg ketiga ini. Dan apa yang datang dari hadits Nabi yg diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه . Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” [HR. Muslim no. 2588] Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat.

Rendah hati kepada Allah dan Rasul-Nya, bersikap rendah hati kepada orangtua kita, bersikap rendah hati kepada orang-orang yg lebih tua dari kita, demikian pula dari orang yg lebih muda dari kita. Jangan engkau sombong, jika engkau mendapati penuntut ilmu yg sombong maka sungguh dia tidak akan berhasil, dia tidak akan selamat. Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman. [QS. Al-Hijr: Ayat 88]

Dan di ayat lain Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين

“Dan Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy-Syu’ara : 215)

Dengan sikap rendah hati ini maka Allah سبحانه و تعالى akan mengangkat derajatmu.

*Sebab keempat adalah Memperbanyak Ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى*

Demikian pula yang disebutkan dalam as-shahih, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

‘Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.” (HR. Muslim no. 488)

Perbanyaklah sholat, perbanyaklah sujud karena Allah akan mengangkat derajatmu sesuai dengan nash dari dalil bahwa Allah سبحانه و تعالى akan mengangkat derajat dari orang-orang yg banyak melakukan sujud kepada-Nya.

Dan sebagai nasehatku untuk ikhwah, hendaknya senantiasa tolong menolong dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah سبحانه و تعالى , Allah سبحانه و تعالى berfirman,

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. [QS. Al-Ma’idah: Ayat 2]

Dakwah ini tidak akan bisa tegak dengan seorang diri. Rasulullah ketika berdakwah juga dibantu oleh para sahabat. Allah سبحانه و تعالى berfirman,

هُوَ الَّذِيْۤ اَيَّدَكَ بِنَصْرِهٖ وَبِالْمُؤْمِنِيْنَ ۙ

“Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin”. [QS. Al-Anfal : 62]

Maka tolong menolonglah kalian dengan ikhwah yg mengurus ma’had ini dan jadilah kalian semuanya satu saudara. Lihat bagaimana Allah menyebutkan kisah Dzulqarnain dalam Al-Qur’anul karim. Tatkala mereka mengatakan, wahai Dzulqarnain sesungguhnya ya’juj dan ma’juj berencena untuk memusnahkan kamu, maka apakah kamu tidak rela untuk kami membangunkan engkau sebuah benteng yang kuat? Maka Dzulqarnain yang kuat tetap membutuhkan saudaranya. Kata Dzulqarnain bantulah aku dengan kekuatan yang kalian miliki.

Maka tetaplah kalian saling bantu membantu, orang yang kuat membantu yang lemah, orang yang lemah membantu orang yang kuat. Dan lihat pula kisah yang disebutkan oleh Allah سبحانه و تعالى dalam surah Toha tentang kisahnya Nabi Musa عليه السلام yang tetap berdoa kepada Allah سبحانه و تعالى ,

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ هٰرُوْنَ اَخِى اشْدُدْ بِهٖۤ اَزْرِيْ ۙ

“Musa berkata, “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia.” (QS. Thoha: 25-31)

Nabi Musa tetap membutuhkan bantuan dari Nabi Harun, maka saling tolong menolinglah engkau wahai saudaraku dan jauhilah oleh kalian perpecahan. Dakwah ahlussnah wal jama’ah adalah dakwah yang penuh dengan kelembutan, penuh dengan rahmah, bukan dakwah dalam rangka untuk melakukan pengeboman ataukah dakwah untuk penggulingan penguasa. Dakwah ahlussunnah adalah dakwah yang penuh dengan rahmah.

Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Muhammad Abdullah Nashr BaMusa حفظه الله تعلى

SELESAI PENULISAN
=================
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ya Allah, Maha Suci Engkau dan segala pujian bagi-Mu. Aku mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu”.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
_Parapa, 24 Syawal 1437 H_

 

Di posting oleh Akh Rusli di grup WA Ath Thaifah Al Manshurah

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: