Nasehat

Renungan Sebelum Aksi 4 November – Andaikan Mereka Mau Bersabar

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

“Andaikan Mereka Bersabar”

Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan. Banyak da’i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu. Tujuan mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah. Namun dengan cara yang salah!!

Begitu tingginya semangat mereka kidalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.

Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan “Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!”

Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah Islamiyah dan menerapkan syari’at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau DEMONSTRASI, mengafirkan penguasa MUSLIM, dan mencelanya!!

Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!!

Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da’i.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da’i, yaitu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (127) إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (128) [النحل : 127 ، 128]

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.An-Nahl  :127-128 )

Para pegiat dakwah alias da’i amatlah butuh dengankesabaran demi mencontoh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur’an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar.

Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da’i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari’at.

Umair bin Habib Al-Anshoriy -radhiyallahu ‘anhu– berkata, Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun”. [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (1/30)]

Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu.

Allah -Ta’ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya.

Terlebih lagi ujian itu akan menimpa para da’i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara dai yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar.

Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) [العنكبوت : 2 ، 3]

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 2-3).

Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da’i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya.

Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da’i dan kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran.

Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.

Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang.Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah.

Al-Mughiroh bin Amir -rahimahullah- berkata,

الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ

“Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman”. [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah -Ta’ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.

Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt -radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami pernah mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat], seraya kami berkata, “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?”

Beliau bersabda,

قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

“Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya.

Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa“. [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]

Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama’ Salafiy, Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini,

“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu  yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan).

Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.

Orang-orang Yahudi dari Bani Isra’il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin.

Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar.

Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur (baik), tapi bukan dengan cara berbuat keributan, bukan mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa.

Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka.

Adapun orang-orang picik yang diombang-ambingkan oleh perasaan, sehingga bergejolak (marah), dan bangkit. Karena, terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu.

Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi”. [Lihat Syarh Riyadh As-Sholihin (1/104-105)]

Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini dengan baik dan juga nasihat Syaikh Al-Utsaimin –rahimahullah-, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa begitu besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta’ala-.

Walau demikian, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untukbersabar dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.

Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda.

Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan.

Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik. Mereka melakukan DEMONSTRASI –walaupun mereka sebut aksi damai-, namun hakikatnya aksi itu adalah sikap konyol dan kekanak-kanakan dan tanda bahwa mereka tidaklah bersabar!

Mungkin anda memiliki seorang anak kecil di rumah saat ia tidak diberi apa yang ia minta, maka dengan segera ia marah, merengek-rengek, bahkan membentak dan mengancam anda selaku orang tuanya. Padahal boleh jadi anda menunda permintaannya, karena sesuatu yang anda pertimbangkan tentang kemaslahatan atau madhorot dirinya, ataukah madhorot orang lain yang ada di sekitar anda.

Demikianlah perumpamaan para demonstran yang tidak menyadari akan kedudukan diri, sifat bijak yang perlu ditempuh, dan akibat dari perbuatan mereka yang akan merembes dan mengenai orang banyak. ANDAIKAN MEREKA MAU BERSABAR, maka pasti urusannya tidak akan serumit apa yang mereka lakukan berupa demonstrasi yang akan mengurangi atau menghilangkan martabat pemerintahnya yang muslim, serta menyebabkan banyak kerusakan dan kerugian bagi negara dan bangsa.

Andaikan mereka mau bersabar, bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya.

Karena Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan”.[HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (6303 & 6304), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad(636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 2804)]

Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir atau si kafir menghina agama, sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Janganlah hal seperti ini membuat kita kehilangan hikmah. Ikutilah petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, serta jalan para salaf.

Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Musuh-musuh Islam sejak lam Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Musuh-musuh Islam sejak lama telah membenci dan mencaci maki Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Tapi apakah para ulama sunnah melakukan langkah-langkah gegabah mendahului pemerintahnya dan tidak lagi menghargainya?!

Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir.

Bacalah firman Allah -Ta’ala- ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,

3 ö@è% zNÎ=sù tbqè=çGø)s? uä!$uŠÎ;/Rr& «!$# `ÏBã@ö6s% bÎ) NçGYä. šúüÏZÏB÷s•B ÇÒÊÈ

“Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (QS. Al-Baqarah :91 ).

Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo’a : “Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan Muslim dalam Shohih-nya (1792)].

Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar hingga datangnya pertolongan dari Allah.

Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya.

Mereka tidaklah keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi yang syar’i!!

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ [الأنعام : 34]

“Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am :34 ).

Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang.

Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!!

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ [الشورى : 30]

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. Asy-Syuraa : 30).

Salah satu musibah yang harus direnungi oleh kaum muslimin di Jakarta, munculnya seorang kafir yang memimpin mereka.

Si kafir ini memimpin kaum muslimin dan mengetahui serta menentukan segala urusan mereka. Ini merupakan musibah besar.

Sebab, terangkatnya kafir itu jadi pemimpin akan memberikan jalan baginya untuk menekan Islam, melecehkannya, mempersempit dan menghalangi jalannya perkembangan Islam di wilayah kekuasaannya, dan sebaliknya akan memberikan angin segar bagi agama kekafirannya.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [الأنعام : 129]

‘”Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’aam: )

Al-Imam Mahmud Syukri Al-Alusiy -rahimahullah- berkata saat menerangkan ayat di atas,

روح المعاني – (8 / 27)

واستدل به على أن الرعية إذا كانوا ظالمين فالله تعالى يسلط عليهم ظالما مثلهم

“Hadits ini dijadikan dalil bahwa rakyat bila mereka adalah orang-orang yang zholim, maka Allah -Ta’ala- akan menguasakan atas mereka seorang (pemimpin) yang zholim semisal mereka.”[Lihat Ruh Al-Ma’ani (8/27)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy –rahimahullah– berkata saat menjelaskan hilangnya sebagian kebaikan dari kaum muslimin dengan berubahnya khilafah menuju kerajaan,

وَقَدْ ذَكَرْت فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ أَنَّ مَصِيرَ الْأَمْرِ إلَى الْمُلُوكِ وَنُوَّابِهِمْ مِنْ الْوُلَاةِ ؛ وَالْقُضَاةِ وَالْأُمَرَاءِ لَيْسَ لِنَقْصِ فِيهِمْ فَقَطْ بَلْ لِنَقْصِ فِي الرَّاعِي وَالرَّعِيَّةِ جَمِيعًا ؛ فَإِنَّهُ ” كَمَا تَكُونُونَ : يُوَلَّى عَلَيْكُمْ “

“Sungguh aku telah menyebutkan di tempat lain bahwa berubahnya urusan (khilafah) menjadi raja-raja dan wakilnya dari kalangan pemerintah, hakim dan umaro’, bukanlah karena kekurangan pada mereka saja, bahkan karena kekurangan pada diri pemerintah dan rakyat sekaligus. Karena, sesuai keadaaan kalian, maka diangkatlah (seorang pemimpin yang sesuai keadaan kalian) atas kalian.” [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (35/20)]

Jadi, munculnya pemimpin zhalim atau kafir, mungkin karena banyak diantara kita yang perbuatannya mirip dengan kaum kafir. Lihat saja kaum muslimin ramai dalam memperingati hari raya kaum kafir (semisal perayaan tahun baru masehi yang merupakan siyiar penyembahan kaum pagan Romawi).

Kita saksikan kaum muslimin membuat perayaan-perayaan yang menyerupai kaum kafir, pakaian, gaya hidup, cara bermuamalah, semua mirip dengan perbuatan kaum kafir, bahkan ada diantara mereka sudah hampir tak bisa dibedakan dari kaum kafir!! Disinilah pentingnya kaum muslimin mengembalikan manusia kepada ilmu wahyu.

Tinggal kesiapan kita membangun agama Allah -Tabaroka wa Ta’ala- dari yang terkecil sampai yang besar, dari aqidah sampai semua urusan agama.

Andaikan mereka (para dai) bersabar dalam membangun aqidah umat, akhlak, dan muamalah mereka, maka yakin kejayaan dan kemenangan itu ada pada umat Islam. Setelah itu, tidak akan mungkin kita akan dipimpin dan dilecehkan oleh si kafir!!

Bagaimana mungkin Allah akan menolong kita apabila masih banyak diantara kita yang masih alergi dengan TAUHID, bahkan dai tauhid dilecehkan dan dijauhi oleh kaum muslimin.

Bagaimana mungkin kita akan diberi pertolongan dan kejayaan oleh Allah -Azza wa Jalla- bila kita masih enggan berpegang teguh dengan sunnnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan sebaliknya kita malah MENYUBURKAN BID’AH?!

Bagaimana mungkin kita mendapat pertolongan dari langit, sementara akhlak dan perilaku kita masih membebek dan meniru kaum kafir, bahkan berbagga dengan kaum kafir dan mengikuti kebiasaan dan syiar mereka?!

Ketahuilah bahwa mengembalikan umat kepada aqidah dan tauhid yang benar adalah perjalanan panjang.

Ingatlah bahwa meneguhkan umat di atas sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang menelan waktu, harta, tenaga, pikiran, bahkan jiwa sekalipun.

Camkan bahwa membangun akhlak umat di bawah lentera wahyu adalah lautan luas yang harus kita arungi demi keselamatan bersama.

Andaikan kalian –wahai para dai- mau bersabar, maka jalan panjang akan terasa pintas, beban berat akan terasa ringan, dan kejayaan akan menghampirimu.

Pinggirkan segala keluh kesah dalam dakwah. Jangan pernah tergesa-gesa dan serampangan bersikap, karena hal itu hanyalah akan mewariskan kerusakan dan perusakan yang esok hari akan menyelimuti kalian penyesalan setelah gerbong berlalu.

Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada.

Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya, seperti yang dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat.

Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ [غافر : 55]

“Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi”.(QS.Ghofir :55 ).

Terakhir, kami ingatkan kepada para dai. Bertaqwalah kalian wahai para dai yang menggiring umat untuk berorasi dan berdemonstrasi. Tanggung jawab umat itu ada di pundak kalian. Darah dan harta mereka jika tumpah dan hilang karena demonstrasi tersebut, maka kalian akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Demonstrasi (damai-tidak damai) yang kalian lakukan adalah sebuah madhorot dan kerusakan, minimalnya akan merusak citra presidenmu yang nyata-nyata masih muslim.

((لا ضرر ولاضرار))

Sumber:
https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/nasihat-penting-engkau-baca-wahai.html

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: