Nasehat

Penguasa Tidaklah Ma’zhum Tapi Demonstrasi Bukanlah Solusi Islam Dalam Menasehati

Sebelum kita lanjut silahkan baca artikel berikut :

https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/meluruskan-pemikiran-dai-stiba-wahdah.html?m=1

Sudah baca…?

Mari lanjutkan, setelah membaca artikel di atas semoga pikiran kita sudah menjadi terbuka dan memahami bahwa tidak semua perkara baru yang merupakan wasilah adalah Mubah. Bahkan Demonstrasi hukum Asal Haram. Mari -saudaraku- kembali kita melihat dan menilik dan merenungi hadits-hadits Nabi yang memerintahkan untuk taat kepada penguasa bahkan kepada penguasa yang zhalim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

Bukankah hal ini menunjukkan bahwa penguasa tetap mesti di ta’ati meskipun jahat, zhaalim bahkan Nabi mengumpamakannya dengan penguasa berhati Syetan. Jika seandainya Demonstrasi adalah sebuah solusi niscaya Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam akan mengizinkan atau mengisyaratkan bolehnya secara beliau adalah makhluk yang paling penyayang kepada umatnya.

Sehingga perkataan sebagian orang yang menuduh salafy seakan menganggap penguasa itu Ma’zhum -tidak bisa diotak atik- adalah perkataan yang melampaui batas dan jauh dari kebenaran. Tak satupun yang Ma’zhum kecuali Rasulullah dan makhluk yang Ma’zhum inilah yang kemudian memberikan tuntunan dalam menyikapi penguasa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.”(Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151)

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, tidak menngatakan atau mengisyaratkan kalau penguasa itu tidak mendengar maka demo, ingkarilah dengan terang terangan atau tekanlah ia dengan massa atau yang semisal dengan itu.

Kemudian apakah karena ketidakma’zhuman penguasa menjadikan bolehnya hak mereka untuk di ta’ati dilanggar dengan Demonstrasi. Apakah kemudian demo kaum khawarij kepada Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu bisa dibenarkan karena Utsman bin Affan pun bukanlah orang yang Ma’zhum.

Jika sekiranya perkara Demontrasi adalah perkara yang dibolehkan hanya karena penguasa itu tidak Ma’zhum atau melakukan kezaliman maka sungguh para salaf kita dari para Ulama sudah melakukannya. Bukankah sejarah memperlihatkan kepada kita betapa banyak penguasa kaum muslimin yang Zhalim sebelum zaman sekarang. Kaum muslimin belum pernah mengenal penguasa yang lebih kejam, bengis dan sewenang wenang setelahnya melebihi Al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi, tapi para sahabat setelah takluknya Abdullah bin Zubair tidaklah melakukan penentangan ataupun Demonstrasi.

Pun demikian halnya di zaman Imam Ahmad yang kisahnya sudah sama dimaklumi, penguasanya menyiksa para Ulama demi memaksakan Aqidah yang merupakan Aqidah kekufuran. Tapi imam Ahmad dan para Ulama saat itu tidaklah melakukan demonstrasi atau penentangan kecuali menolak mengatakan ‘Al Qur’an adalah makhluk’ kemudian mereka bersabar.

Bumi ini belum pernahmengenal penguasa yang lebih zhalim dan takabbur nelebihi Fir’aun tapi perhatikan pesan Allah Subhanah wa Ta’ala kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam. Allah Subhanah wa Ta’ala berfirman kepada keduanya :

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ   فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ 

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;  maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaha 43-44)

Kemudian tidaklah sesuatu yang haram semisal Demontrasi -sebagaimana paparan dalam artikel di atas- menjadi halal dan boleh hanya karena penguasa membolehkannya. Jika demikian halnya maka Khamr, Nyanyian dan lainnya juga menjadi boleh karena penguasa membolehkannya. Kemudian pembolehan penguasa untuk berdemo bulan berarti mereka Ridha akan perkara tersebut. [Baca Wahai Para Pendemo Dengarkanlah Nasehat – Syaikh Al Utsaimin Bicara Soal Demonstrasi Yang ‘Diizinkan’ Penguasa]

Kemudian bagaimana kita tidak Ridha -ketidakridhaan tidaklah berarti boleh keluar dari ketaatan dalam perkara yang ma’ruf- dengan penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah kemudian kita sendiri Ridha dengan sesuatu yang menyelisihi syariat (yakni Demontrasi) yang merupakan wasilah untuk melakukan sesuatu yang juga tidak dibenarkan dalam syariat kita yakni keluar dari ketaatan.

 Ta’at kepada penguasa bukan berarti menjilat mereka sebagaimana tuduhan sebagian orang. Bagaimana tuduhan tersebut bisa dialamatkan kepada salafy ketika para salafy justru adalah orang yang paling menjauh dari yang namanya politik dan kekuasaan. Sehingga sangatlah ironis ketika -mungkin- diantara yang melemparkan tuduhan tersebut justru mereka yang banyak berjibaku dalam politik, ikut ramai dalam carut Marut demokrasi.

 Maka ketahuilah wahai saudaraku , salafy tidak ikut demonstrasi bukan karena mereka tidak marah, bahkan mungkin kemarahan mereka jauh lebih hebat dari kebanyakan peserta demonstrasi. Bagaimana mereka tidak marah Ketika Al Qur’an yang tiap hari mereka baca dan mereka kaji dan pelajari dihinakan. Hanya saja mereka memilih bersabar dan menempuh jalan yang dituntunkan oleh Rasulullah dengan bimbingan para Ulama Kibar yakni dengan mencoba Menasehati secara langsung sang penguasa atau yang diberi wewenang untuk menangani perkara tersebut sebagaimana dalam hadits yang telah disebutkan di atas.

 Salafy mengingkari Demonstrasi bukanlah karena mereka penakut atau penjilat tapi mereka mengingkari Demonstrasi sebab ianya bukanlah solusi. Sebab solusi yang benar adalah apa yang dituntunkan oleh Nabi dan dilaksanakan oleh para Ulama yakni bersabar dan berdoa sebab padanya ada sebab turunnya pertolongan Allah Ta’ala. Lihatlah bagaimana Bani Israil diselamatkan oleh Allah dengan sebab kesabaran mereka.

Allah Ta’ala Berfirman :

(وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka [Surat Al-A’raf 137]

(وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ)

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. [Surat As-Sajdah 24]

Kesabaran Al Imam Ahmad menahan siksaan dan tidak mengagitasi manusia berbuah manis dengan Allah angkat Al Mutawakkil -rahimahullah-. Bahkan sebelumnya kesabaran para sahabat terhadap Al Hajjaj bin Yusuf berbuah seorang Khalifah nan Agung bernama Umar bin Abdul Aziz.

Kesabaran adalah sebuah perbuatan yang sangat sangat berat, begitu beratnya hal ini sampai Allah Ta’ala mengulang ulang perintah untuk bersabar dalam Al Qur’an. Bahkan Rasulullah menjelaskan kalau orang yang kuat adalah mereka yang bisa menahan Diri ketika marah, bisa tetap berada di koridor Al Qur’an dan Sunnah di atas bimbingan para Ulama. Maka bersabarlah wahai saudaraku dan mintalah pertolongan kepada Allah supaya Allah mengokohkan kita di atas kesabaran dan menolong kita di atas musuh musuh agama.

( رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ)

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. [Surat Al-Baqarah 250]

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: