Muslimah/Keluarga

Memukul Istri Dalam Tinjauan Syariat

*LEMBAR KELUARGA*
*Memukul Istri Dalam Tinjauan Syariat*
*Berkata Asy-Syaikh Al-‘Ustaimin*
_’Alaihi Rahmatullah_ :

ﻭاﻟﻤﺮﺃﺓ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺿﺮﺑﻬﺎ ﺇﻻ ﻟﺴﺒﺐ ﺑﻴﻨﻪ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ:

{ واللاتي ﺗﺨﺎﻓﻮﻥ ﻧﺸﻮﺯﻫﻦ ﻓﻌﻈﻮﻫﻦ ﻭاﻫﺠﺮﻭﻫﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﻀﺎﺟﻊ ﻭاﺿﺮﺑﻮﻫﻦ }.

ﺃﻣﺎ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺗﻀﺮﺏ اﻣﺮﺃﺗﻚ ﻛﻠﻤﺎ ﺧﺎﻟﻔﺖ ﺃﻳﺔ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻓﻬﺬا ﻏﻠﻂ ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:
{ ﻭﻋﺎﺷﺮﻭﻫﻦ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ}.

ﻟﻜﻦ ﺇﺫا ﺧﻔﺖ ﻧﺸﻮﺯﻫﺎ ﻭﺗﺮﻓﻌﻬﺎ ﻋﻠﻴﻚ ﻭﻋﺪﻡ ﻗﻴﺎﻣﻬﺎ ﺑﻮاﺟﺒﻚ_

ﻓﺎﺳﺘﻌﻤﻞ ﻣﻌﻬﺎ ﻫﺬﻩ اﻟﺮﺗﺐ:

ﺃﻭﻻ ﻋﻈﻬﺎ ﺧﻮﻓﻬﺎ ﺑﺎﻟﻠﻪ، ﺑﻴﻦ ﻟﻬﺎ ﺃﻥ ﺣﻖ اﻟﺰﻭﺝ ﻻ ﻳﺠﺐ ﺗﻀﻴﻌﻪ، ﻓﺈﻥ اﺳﺘﻘﺎﻣﺖ ﻓﻬﺬا اﻟﻤﻄﻠﻮﺏ_

ﻭﺇﻻ ﻓﺎﻟﺮﺗﺒﺔ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ اﻫﺠﺮﻫﺎ ﻓﻲ اﻟﻤﻀﺠﻊ، ﻻ ﺗﻨﺎﻡ ﻣﻌﻬﺎ ﺃﻣﺎ اﻟﻜﻼﻡ ﻓﻼ ﺗﻬﺠﺮﻫﺎ، ﻟﻜﻦ ﻟﻚ ﺭﺧﺼﺔ ﺃﻥ ﺗﻬﺠﺮﻫﺎ ﻓﻲ اﻟﻜﻼﻡ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ؛ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻞ ﺃﻥ ﻳﻬﺠﺮ ﺃﺧﺎﻩ ﻓﻮﻕ ﺛﻼﺛﺔ ﻳﻠﺘﻘﻴﺎﻥ ﻓﻴﻌﺮﺽ ﻫﺬا ﻭﻳﻌﺮﺽ ﻫﺬا ﻭﺧﻴﺮﻫﻢ اﻟﺬﻱ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ

اﻟﺮﺗﺒﺔ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﺸﺮﻱ ﺑﻬﺎ ﻫﺬا ﻓﺎﺿﺮﺑﻮﻫﻦ، ﻟﻜﻦ ﺿﺮﺑﺎ ﻏﻴﺮ ﻣﺒﺮﺡ، ﻳﻌﻨﻲ ﻟﻴﺲ ﺷﺪﻳﺪا، ﺑﻞ ﺿﺮﺏ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻪ اﻟﺘﺄﺩﻳﺐ ﻓﻘﻂ.

*Memukul* seorang istri tidaklah diperbolehkan kecuali dengan sebab yang telah diterangkan oleh Allah Ta’ala dalam firman_Nya :

واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في المضاجع واضربوهن.

Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya_pembangkangannya_ maka nasehatilah mereka dan jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka.
*QS : AN-NISA : 34*.

Adapun setiap kali istrimu melakukan pelanggaran kemudian engkau memukulnya maka ini adalah *sebuah kesalahan* dan *perkara yang tidak diperbolehkan*.

Allah Ta’ala berfirman :

وعاشروهن بالمعروف.

*Dan pergauilah istri-istri kalian dengan baik*.
*QS : AN-NISA : 19*
Akan tetapi, jika engkau khawatir Ia akan membangkang dan tidak mengerjakan kewajibannya.
*Maka tempuhlah langkah berikut ini*:

*LANGKAH PERTAMA* :
Nasehatilah istrimu_
Takutkan ia akan Allah Ta’ala.

Terangkan padanya bahwa seorang istri tidak boleh menyia-nyiakan hak suami.

Jika ia kemudian menjadi baik maka inilah yang kita harapkan.

Jika tidak berubah maka tempuhlah langkah berikutnya.
*LANGKA KEDUA* :
Jauhi dia dari tempat tidur.
Jangan engkau tidur bersamanya.

Akan tetapi jangan engkau diamkan dia_tidak berbicara dengannya.

Kamu diperbolehkan untuk tidak berbicara dengannya selama tiga hari saja.

Karena seseorang tidak dibolehkan untuk menjauhi_memboikot saudaranya lebih dari tiga hari.

Ketika keduanya bertemu, saling berpaling satu sama lain.

Dan sebaik mereka adalah yang terlebih dahulu memulai salam.
*LANGKAH KETIGA* :
Jika belum juga terjadi perubahan padanya.

Maka pukullah.
Dengan pukulan yang tidak berbekas di badan.

Bukan pukulan yang keras.
Akan tetapi pukulan dalam rangka mendidiknya.
*SUMBER* :
*Syarah Riyadhush Sholihin* : *6 / 139-140*.
____________________________
✍Abu ‘Abdillah Sahl.

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: