Al Qur'an dan Tafsir, Manhaj, Nasehat

Nasehat Untukmu Wahai Saudaraku Yang Membela Ahok… Baca…! Renungkan…! Selanjutnya Terserah Anda

Wahai saudaraku, izinkan aku menyampaikan nasehat kepadamu, dan tidaklah aku menulis ini kecuali karena menginginkan agar engkau dan aku selamat dari kemurkaan  Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebelumnya aku mengharapkan engkau meluangkan waktu membaca tulisanku yang satu ini

https://aboeshafiyyah.wordpress.com/2016/10/19/ayat-ayat-renungan-buat-muslimin-khususnya-jakarta-seputar-sikap-dan-loyalitas-terhadap-orang-kafir/

Kemudian nasehat ini kutuliskan karena miris dan sedihnya hatiku ketika membaca sebuah komentar dari seorang yang berpenampilan muslim yang mengatakan : “karena Ahok, anakku bisa begini dan begini,”. Duhai saudaraku apakah gerangan yang merasuki kalian sampai keimanan kalian kepada Taqdir dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tergerus sedemikian hebatnya. Yang ucapan semisal itu bahkan tidak akan diucapkan oleh orang-orang musyrikin zaman jahiliyah yang diperangi oleh Rasulullah.

Wahai saudaraku, di tempat lain ada yang menyifati Ahok bagaikan matahari yang menyinari dunia, saya lihat namanya nama seorang muslim, foto profilenya memakai jilbab, tapi komentarnya itu sangat luar biasa yang bahkan seorang Abu Bakar dan Umar tak akan rela disifati (baca : dipuji) dengan sifat (pujian) seperti itu.

Maka saudaraku hendaknya engkau kembali mempelajari agama kalian, agama yang mulia ini, yang sempurna dari berbagai sisinya. Sebab tidaklah komentar-komentar semisal itu keluar kecuali karena kurang dan lemahnya keimanan disebabkan karena kurangnya ilmu dan menjamurnya kebodohan. Syaithan menemukan tempat untuk berpesta pora ketika ilmu agama ditinggalkan dan diabaikan.

Saudaraku, bahkan jika Abu Jahal ditanya tentang siapa yang memberinya rezeki maka dia akan menjawab Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka bagaimana mungkin seorang muslim bisa melupakan perkara tersebut sehingga menyandarkan perkara  itu kepada seorang manusia. Ah mungkin saja –dan ini prasangka baikku dan saya yakini- yang mengucapkan ini hanyalah menganggap bahwa Ahok hanyalah perantara tapi rezekinya tetap datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka jika demikian halnya maka harusnya bagi seorang muslim meyakini –sebagai bagian dari keimanannya terhadap taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala – bahwa rezekinya akan datang kepadanya melalui siapapun, Ahok atau bukan. Maka jika demikian halnya maka bagaimana ia bisa berdiri –membela- di sisi sang perantara, memujinya dan membelanya ketika sang perantara justru memusuhi Sang Pemberi Rezeki yang sebenarnya. Ia berdiri di sisi yang berlawanan dengan Tuhannya ketika sang perantara tersebut telah berlaku kurang  ajar berbicara tentang Firman Tuhannya dalam keadaan ia mendustakan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  tersebut, bukan Cuma satu ayat tapi seluruh al Qur’an ia dustakan.

Bagaimana kalian wahai saudaraku bisa percaya ucapan sang perantara (baca : Ahok) bahwa ia (ahok) tidak mengatakan ayat al Qur’an (khususnya surat al Maidah ayat 51) sebuah kebohongan dalam keadaan ia (Ahok dan seluruh orang non muslim) mendustakan dan mengingkari keseluruhan al Qur’an. Bukan Cuma satu ayat tapi seluruh al Qur’an. Jika ia mengatakan al Qur’an bukanlah sebuah kebohongan berarti ia adalah kebenaran maka harusnya ia sudah masuk Islam tapi bukankah ia masih kokoh di atas agamanya yang is endiri sebut sebagai agama yang konyol.

Maka cukuplah ia menukil dan berbicara tentang sesuatu yang ia tidak yakini dan ia dustakan sebagai bentuk penghinaan. Terlebih ia berbicara dalam tendensinya sebagai seorang yang butuh suara. Maka bagaimana ia bisa mencela orang yang menggunakan ayat al Qur’an –misalnya- demi kepentingan pribadi di saat ia juga menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Sekali lagi yang ia nukil dan ia bicarakan adalah Firma Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang ia dustakan dan ingkari, bukan Cuma satu ayat, tapi keseluruhannya. Manusia ini yang mencoba melemahkan kecintaan dan kepanutan kita kepada al Qur’an di saat yang sama telah melecehkan para ulama kaum muslimin.

Tapi itu tidaklah mengherankanku, sebab mereka (yahudi dan nashara) akan terus melakukan makar demi mengeluarkan kita dari keislaman kita dan mereka senantiasa berada di atas permusuhan kepada kaum muslimin. Yang mengherankanku adalah sebagian kaum muslimin justru berdiri di sisinya, dunia dan partai mereka lebih layak dan lebih pantas untuk mereka bela di banding kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala . Yang jika partai atau orang tuanya disinggung dan di cela maka meledaklah amarahnya tapi ketika kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala  dinukil seenaknya oleh orang yang tidak layak dan tidak pantas ia justru berdiri membelanya dan mengarahkan pedang permusuhan dan celaannya kepada saudaranya sesama kaum muslimin yang merasa tersinggung akan hal itu. Ia justru berdiri membela dan memuji manusia yang telah mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala  dengan celaan yang paling dahsyat yang nyaris meruntuhkan langit dan menghancurkan gunung. Allahul Musta’an.

Kemanakah ghirah dan kecemburuan itu terkubur, ataukah ia telah menjadi puing dan rongsokan di bawah ‘kemegahan’ bendera partai dan kepentingan politik…??

Benar wahai saudaraku, bahwa negeri ini bukanlah negeri yang menerapkan syariat islam tapi kalian adalah kaum muslimin dan aturan di negeri ini menjamin hak kalian untuk menjalankan ajaran agama kalian. Tidak ada yang memaksa kalian untuk memilih dan membela orang-orang yang telah merendahkan agama kalian. Maka apakah alasannmu kelak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala  ketika engkau diberdirikan dihadapnnya dan ditanyai setiap millidetik dari umur yang diberikan, setiap biji kecil dari ni’mat yang diberikan…? Apakah alasanmu ketika ditanyai tentang pilihanmu yang justru membela dan meberikan loyalitas kepada mereka-mereka yang mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam keadaan kalian tidak terpaksa…? Sungguh jika kalian tidak memiliki kekuasaan melakukan ajaran agama kalian maka kewajiban hijrah tegak atas kalian tapi bukankah keadaan justru sebaliknya…?

Saudaraku, ini hanyalah sebuah nasehat dari saudara kalian yang prihatin, dan jangan menganggapnya sebagai provokasi sebab keonaran juga bukan bagian dari petunjuk islam, pun demikian dengan demonstrasi, sama sekali bukan jalan islam dalam menasehati penguasa. Tapi hendaknya setiap dari kita merenungkan akaibat dari pilhan kita saat ini. Berdiri membela dan memberi loyalitas kepada musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala  ataukah berpaling dari mereka. Rezekimu akan datang sebagaimana yang sudah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  (melalui Ahok ataupun bukan). Maka silahkan pilihlah, engkau berdiri bersama sang perantara (ahok atau siapapun) ataukah engkau berdiri di sisi yang berseberangan dengannya dan hanya menghadapkan dirimu kepada Sang Pemberi Rezeki yang sebenarnya. jangan takutkan rezeki dan kehidupanmu sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala  lah yang mengatur untukmu tapi takutkanlah dirimu ketika kelak engkau berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala  untuk mempertanggungjawabkan pilihanmu.

Bukankah kita beriman kepada Hari Kebangkitan…?

Hari Dimana Semua Pilihan Akan Kita Pertanggungjawabkan…!!!

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: