Fiqih/Tanya Jawab

Hukum Perlombaan Berhadiah

بسم الله الرحمن الرحيم
____🏁🎁🏁____
*PERLOMBAAN DAN HADIAH UNTUKNYA*
❝Dalam Tinjauan Fiqh Islami❞
〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Penulis : Al Ustadz Hudzaifah bin Muhammad Abu Khodijah

الحمدلله رب العالمين.
وأفضل الصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين.
وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه إلى يوم الدين.
فاللهم يسّر وأعِن.

Berikut ini catatan ringkas dan sederhana dalam masalah perlombaan dan hadiah untuknya dari tinjauan Fiqh Islami, mudah-mudah Allah berikan manfaat darinya untuk kita semua.

Terangkum dalam 4 poin pokok pembahasan.

•┈┈┈•✿ ❁ ✿•┈┈┈•

*1. Definisi “Perlombaan”*
Dalam penggunaan para Ulama’ ahli fiqh, lomba mereka sebut dengan ‘Al-Musabaqat’ (المسابقات).

Dan juga demikian dalam kamus besar bahasa Indonesia telah dikenal dengan kata musabaqah.

Al-Musabaqat, secara bahasa diambil dari As-Sabaq (السبق) dengan ba’ yang difathah bukan disukun, artinya adalah perlombaan, saling mendahului atau saling mengalahkan.

Adapun secara istilah syar’i, dari sekian definisi para Fuqaha’ yang disimpulkan oleh Asy-Syaikh Sa’ad Asy-Syatsiriy adalah:

_”Sebuah akad antara beberapa pihak untuk suatu kegiatan yang dengannya mereka akan berpacu untuk mengetahui siapa yang lebih unggul di antara mereka”._ (Al-Musabaqaat wa Ahkamuhaa Fi Syari’atil Islamiyyah hal. 20)

•┈┈┈•✿ ❁ ✿•┈┈┈•

*2. Penyebutan “perlombaan” di tiga tempat dalam Al-Qur’an*
Pertama:

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ …

_“Mereka berkata: “Wahai ayah Kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba…”._ QS. Yusuf: 17.

Para ahli tafsir berkata, _“Mereka berlomba dalam melempar”._

Kedua:

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ…

_“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu …”._ QS. Yusuf: 25.

Para ahli tafsir berkata, _“mereka berlomba siapa yang lebih dahulu ke pintu”._

Ketiga:

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ

_“Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, maka betapakah mereka dapat melihat(nya).”_ QS. Yasin: 66.

•┈┈┈•✿ ❁ ✿•┈┈┈•

*3. Dasar pensyari’atan lomba*
Perlombaan merupakan perkara yang telah ada dalam Islam, berdasarkan beberapa hadits di antaranya:

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya,

تَعاَلَيْ أُسَابِقُكِ ، فَسَابَقْتُهُ

_“Kemarilah engkau, kita lomba (lari)’, maka akupun aku mengalahkan beliau”._ HR. Abu Dawud.

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pernah berkata,

وَسَابَقَ بَيْنَ الْخَيْلِ الَّتِي لَمْ تُضْمَرْ مِنَ الثَّنِيَّةِ إِلَى مَسْجِدِ بَنِي زُرَيْقٍ

_“Dan beliau (maksudnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam; penj.) pernah memperlombakan kuda yang tidak digemukkan (dipelihara khusus untuk lari kencang; penj.) dari jalan tsaniyyah menuju masjid Bani Ruzaiq.”_ [HR. Al-Bukhariy no. 224 dan Muslim no. 1870]

Dan dalam beberapa hadits lainnya, sehingga para Fuqaha’ menjelaskan bahwa perlombaan merupakan perkara yang pada asalnya dibolehkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ (sebagaimana telah dinukil hukum Ijma’ oleh sejumlah Ulama’, seperti Ibnu ‘Abdil Bar dalam At-Tamhid, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy, Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma’, dll).

Akan tetapi jenis perlombaannya ada batasannya, datang dalam hadits dari Abu Hurairah Radhialla’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

«لَا سَبَقَ إلَّا فِي خُفٍّ، أَوْ نَصْلٍ، أَوْ حَافِرٍ»

_“Tidak ada hadiah perlombaan kecuali pada unta, kuda dan memanah”._
[HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Tirmidziy, Ibnu Majah, Ibnu Hibbah, Asy-Syafi’i dalam Musnadnya, Ahmad dalam Musnadnya, dll. Dishahihkan Ibnul Qaththan dan Ibnu Daqiqil ‘Id sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajr dalam At-Talkhis, 4/161. Dishahihkan Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud, no. 2319].

📝Catatan:
– Pada kata “sabaq” (سَبَقَ ), kata Al-Khaththabiy riwayat yang benar adalah dengan difathahkan huruf ba’-nya. (Ma’alimus-Sunan)

– Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Badr hafidhzahullah berkata,

“والسبق بفتح الباء مقدار من المال يجعل لمن يحصل منه السبق عند السباق”

_“Pada kata “sabaq” (سَبَق ) difathakan huruf ba’-nya yang artinya adalah ukuran tertentu untuk harta yang diperuntukkan bagi yang meraih kemenangan dalam suatu perlombaan”._ (Syarh Sunan Abi Dawud)

Hadits Abu Hurairah Radhialla’anhu inilah yang menjadi hadits pokok dalam pembahasan perlombaan dan hadiah untuknya, yang juga menjadi titik pembahasan ini.

•┈┈┈•✿ ❁ ✿•┈┈┈•

*4. Jenis-jenis perlombaan*
Sejumlah ‘Alim Ulama’ dan Fuqaha’ membagi perlombaan menjadi tiga jenis:

_4. 1. Perlombaan yang disyari’atkan._
Yaitu: jenis-jenis perlombaan yang telah disebutkan oleh nash atau dalil kebolehannya. Apabila ada yang menjalaninya maka ia juga akan mendapatkan pahala, teranggap menghidupkan sunnah Rasul. Oleh karena itulah hendaknya apabila ada momen untuk mengadakan sebuah perlombaan maka jadikan hal-hal yang bersifat syar’i yang diperlombakan.

Seperti pada hadits Abu Hurairah, _“Tidak ada perlombaan kecuali pada unta, kuda dan memanah”._

Namun, terjadi perbedaan pendapat para Fuqaha’ apakah perlombaan yang disyari’atkan itu hanya sebatas tiga jenis dalam hadits tersebut saja ataukah juga termasuk padanya perkara yang masih semakna dengannya dari hal-hal yang dibutuhkan dalam jihad.

Pendapat yang kedua itu lebih kuat, karena penyebutan 3 jenis lomba dalam hadits tersebut berdasarkan ‘illah atau sebab adanya hukum yaitu sebagai keahliaan atau sebagai alat sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan dalam medan jihad membela dan menagungkan Agama, sehingga jika demikian alasannya maka semua yang bermakna seperti itu juga termasuk yang disyari’atkan, misalnya terkait dengan Al-Qur’an, hafalan hadits, dalam keilmuan agama berupa karya ilmiyyah dan semisalnya (sebagaimana dimaklumi bahwasanya menuntut ilmu agama juga termasuk jihad di jalan Allah), dsb.

Adapun mengeluarkan biaya atau adanya hadiah untuk jenis perlombaan yang disyariatkan ini, kesimpulan dari pembahasan para Fuqaha’ adalah dibolehkan secara mutlak, sama saja apakah hadiahnya dari pemerintah, dari salah satu peserta lomba, dari pihak ketiga, atau masing-masing peserta bertaruh untuk perlombaan tersebut, atau dengan pengutan biaya dari para peserta, walaupun terdapat makna taruhan bahkan judi di dalamnya akan tetapi syari’at telah memberikan kebolehan untuk perlombaan jenis ini.

Ibnul Qayyim berkata, _“Apabila syari’at telah membolehkan taruhan (biaya yang dikeluarkan; penj.) untuk lomba memanah, pacuan kuda dan unta karena terdapat dorongan agar belajar dan memiliki keahlian pada perkara-perkara tersebut dan teranggap sebagai persiapan kekuatan untuk jihad, maka tentu saja pada perlombaan dan berpacu dalam ilmu-ilmu agama, penyampaian hujjah yang dengannya bisa membuka hati (hidayah; penj.) dan mengagungkan Islam itu jelas dan lebih pantas untuk dibolehkan”._ (Al-Furusiyah Al-Muhammadiyyah, hal. 23)

Syaikh Hamd Al-Hamd berkata, _“Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu Qayyim. Dan inilah yang lebih tepat, dan ini termasuk hukum yang diambil dengan qiyas aula, sebab agama ini tegak dengan hujjah dan argumentasi atau dengan pedang dan tombak, dan dengan hujjah dan argumentasi itu lebih besar kedudukannya, dan itu terwujud dengan ilmu yang bermanfaat sebagai warisan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Al-Qur’an dan Sunnah itu lebih berhak untuk diberikan hadiah dalam perlombaannya”._ (Syarhul Zadil Mustaqni’, 15/31 Kitabul buyu’, dengan diringkas)

Dan hikmahnya sangatlah besar, diantaranya agar memiliki kemampuan untuk mempersiapkan diri dalam perang berjihad di jalan Allah dan juga agar terlihat memiliki wibawa di hadapan musuh, dan ini merupakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

_“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”_ QS. Al-Anfal: 60.

_4. 2. Perlombaan pada perkara yang mubah._
Yaitu semua perkara yang ketentuannya mengandung manfaat atau mashlahat dan tidak mengandung mudharat. Misalnya: lomba jalan sehat, lomba lari, lomba gulat, lomba angkat berat, lomba renang, lomba balap sepeda, lomba sepak bola, dan seterusnya dari jenis-jenis perlombaan yang banyak dijumpai di kalangan anak-anak sekarang ini.

Untuk perlombaan jenis ini, pada asalnya hukumnya masuk ke dalam pembahasan mubahat, dibolehkan.

Namun, pembolehannya dengan beberapa ketentuan:

_Pertama_, tidak mengakibatkan terlalaikan dari kewajiban agama atau tidak mengantarkan kepada perkara yang diharamkan agama. Seperti, menunda-nunda shalat karenanya, atau bahkan meninggalkan shalat, atau menimbulkan perkara yang diharamkan agama misalnya, menimbulkan permusuhan dan kebencian, celaan dan hinaan, dan semisalnya dari perkara-perkara yang diharamkan dalam agama.

_Kedua_, tidak menimbulkan mafsadah pada tubuh dan kehormatan atau harta benda. Karena perkara-perkara ini termasuk yang dijaga oleh syariat dan tidak boleh dilanggar tanpa alasan yang dibenarkan.

_Ketiga_, kuantitas yang menjadi peserta lomba bukan kalangan dewasa akan tetapi hanyalah anak-anak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menyebutkan bahwa rukhshah atau keringanan hal ini ditujukan untuk anak-anak dan bukan untuk dewasa. Adapun kalangan dewasa juga diberikan keringanan dalam hal ini untuk menyenangkan hati dan menghilangkan kepenatan sehingga membantu menumbuhkan kembali semangat untuk ibadah dan ketaatan kepada Allah azza wa jalla, akan tetapi tidaklah dijadikan sebagai rutinitas atau kebiasaan sebagaimana halnya bagi anak kecil.

Adapun mengeluarkan biaya atau adanya hadiah untuk jenis ini, ada empat rincian hukumnya:

_Pertama_, hadiah dari pemerintah.
Misalnya, lomba lari atau jalan sehat, lomba sepeda, dan semisalnya untuk memperebutkan hadiah dari pemerintah, hukumnya boleh dan tidaklah mengapa.

_Kedua_, masing-masing peserta lomba mengeluarkan sejumlah biaya untuk bertaruh dan memperebutkannya.
Misalnya, ada dua peserta lomba lari dan masing-masing peserta mengeluarkan taruhannya, si A mengeluarkan 100 real dan si B juga mengeluarkan uang 100 real, dan digabungkan menjadi 200 real yang akan menjadi hadiah bagi pemenang, hukumnya haram dan tidak dibolehkan. Tidak juga ada pemungutan biaya dari para peserta untuk lomba jenis ini, semisal pungutan biaya pendaftaran dari peserta yang pada umumnya pungutan tersebut akan dijadikan sebagai biaya untuk hadiah yang akan diperebutkan, karen hal ini teranggap sebagai qimar (judi) yang terlarang dalam agama.

_Ketiga_, hadiah dari pihak ketiga (bukan dari peserta), misalnya ada panitia tersendiri atau ada orang ke tiga yang memberi sayembara dengan hadiah tertentu bagi pemenang dari suatu lomba yang mubah tersebut, hukumnya terjadi silang pendapat para Fuqaha’, mayoritas para Ulama’ menghukumi tidak bolehnya, karena yag seperti ini termasuk ke dalam makna hadiah pada perlombaan yang dibolehkan syari’at sebagaimana telah dijelaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, _“Tidak ada perlombaan kecuali pada unta, kuda dan memanah”._

Ini merupakan pendapat dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan juga Ulama’ kita belakangan seperti Syaikh Ibnul Utsaimin, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan, dll.

Dan At-Tuwaijiriy rahimahullah dalam Mausu’ah Fiqh Al-Islamiy (3/607) mejelaskan bahwa perlombaan jenis ini boleh diberi hadiah untuk pemenang namun tanpa disebutkan terlebih dahulu rincian dan jumlah hadiahnya.

Dan Syaikh Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih dalam kitabnya Al-Mu’amalat Al-Maliyyah Al-Mu’ashirah, menjelaskan bahwa jenis perlombaan ini hukum hadiah untuknya sama dengan jenis yang pertama karena hukum asal dalam perkara mu’amalat adalah mubah, boleh diambil bila dari pemimpin negara sehingga jika demikian kebolehannya maka dibolehkan juga apabila dari pihak ketiga selama bukan dari para peserta sendiri.

Keempat, mengeluarkan biaya atau adanya hadiah dari salah satu peserta lomba untuk diperebutkan ini hukumnya tidak dibolehkan.
_4. 3. Perlombaan pada perkara yang haram._
Yaitu setiap perlombaan yang mengakibatkan rusaknya agama, tertinggal dan terlalaikannya kewajiban, atau mengandung hal-hal dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan, atau merusak jasamani dan rohani, harta benda atau kehormatan.

Untuk jenis lomba ini, selain perlombaannya diharamkan juga hadiah untuknya haram secara mutlak, dan ini mudah untuk dipahami.

•┈┈┈•✿ ❁ ✿•┈┈┈•

Demikian ringkasan pembahasan Fiqh dalam permasalahan lomba dan hadiah untuknya, kami dedikasikan untuk kaum muslimin secara umum dan khususnya bagi para pengampu lembaga pendidikan Islam untuk anak-anak dengan agenda rutinnya, ‘Classmeeting’.

Dengan ini juga tergambarlah bagi kita hukum syar’i untuk berbagai perlombaan yang sering kita jumpai di sekitar kita khususnya di saat momen-momen tertentu.

Dan pembahasan ini hanyalah sebatas ringkasan, untuk lebih meluas silahkan meruju’ ke sumber referensi kitab-kitab para Ulama’ dalam pembahasan ini.

Semoga Allah memberi manfaat darinya untuk kita semua.

Wallahu’alam.
Washallallahu wasallam ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa ash-habihi ajma’in.

والحمدلله رب العالمين

====================
📚 _Daftar pustaka dan rujukan:_
– Umdatul Fiqh, Ibnu Qudamah (dengan syarh Syaikh Ar-Rajihiy, juga dengan syarh Syaikh Abdullah bin Abdulaziz Al-Jibrin)
– Al-Furusiyah Al-Muhammadiyyah, Ibnul Qayyim.
– Syarhul Mumti’, Ibnu Utsaimin.
– Syarhul Zadil Mustaqni’, Syaikh Hamd bin Abdullah Al-Hamd.
– Mausu’ah Fiqh Al-Islamiy, At-Tuwaijiriy.
– Al-Mulakhkhas Al-Fiqhiy, Shalih Al-Fauzan.
– Al-Fiqhul Muyassar fi Dhau’il Kitab was Sunnah, Majmu’ah minal Muallifin.
– Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah.
– Al-Mu’amalat Al-Maliyyah Al-Mu’ashirah, Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih.
– Al-Musabaqat wa ahkamuha fisy Syari’atil Islamiyyah, Sa’ad Asy-Syatsiriy.
– Maqashidusy-Syari’ah, Sa’ad Asy-Syatsiriy (dalam audio rekaman pelajaran).
Akhukum,
Al-Faqir ila ridhwani Rabbih
_Hudzaifah bin Muhammad._

•┈┈┈•✿ ❁ ✿•┈┈┈•

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: