Fiqih/Tanya Jawab

Shalat Jum’at Muhammad Al Fatih di Jalanan Bukanlah Dalil.

Seorang teman mengirimkan gambar di atas dan bertanya kebenaran peristiwa tersebut. Maka berikut komentar saya :

1. Allahu A’lam kebenarannya sebab tidak disebutkan rujukan utamanya.

2. Kemudian tuntunan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika beliau melakukan safar untuk berperang beliau tidaklah me laksanakan shalat Jum’at tapi beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam selalu melaksanakan shalat Zhuhur yang dijamak Qashar dengan Ashar. (Lihat rincian pembahasan ini dalam kitab kitab fiqih).

3. Pun jika hal itu benar dilakukan oleh Muhammad Al Fatih -rahimahullah-  maka  perbuatan siapapun tidaklah bisa menjadi dalil dalam beragama kecuali perbuatan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bahkan perbuatan sahabat sekalipun  kecuali jika mereka bersepakat di atas suatu amalan atau seorang sahabat melakukan sebuah amalan kemudian tidak diingkari oleh sahabat yang lain (Pembahasan seputar masalah ini ma’ruf dalam pembahasan Qawaid dan Ushul Fiqh).

4. Berkaitan dengan Point ke 3 di atas, maka mengqiyashkan perkara ini ke perbuatan Muhammad Al Fatih tidaklah dibenarkan sebab Perbuatan Al Fatih bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan hukum Pokok atau Utama yang merupakan salah satu rukun Qiyash. Sebab yang bisa dijadikan hukum Pokok dalam perkara Qiyash hanyalah Al Qur’an, Sunnah dan Ijma dan perbuatan Al Fatih -rahimahullah- bukanlah salah satu di antaranya.

5. Kemudian hukum minimal shalat Jum’at selain di Mesjid adalah Mubah (boleh) -bukan sunnat/mustahab apalagi wajib- , hukum Mubah ini bisa berubah menjadi terlarang ( *makruh bahkan haram* ) jika menjadi sebab terganggunya ketertiban umum, terputusnya jalan atau terhalanginya sebagian pengguna jalan yang mungkin saja mereka memiliki hajat yang darurat tapi menjadi terhalangi.

Al-Khatib Asy-Syarbini, salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i menyatakan bahwa sebab dilarangnya shalat di jalan adalah karena dapat mengganggu kepentingan umum, menghalangi orang untuk lewat hingga kurangnya khusyu’. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 114)

6. Kemudian beliau -rahimahullah- berijtihad mendirikan shalat Jum’at -kalaupun benar karena sa coba Google semua hanya menyebutkan kisah tanpa menyebutkan sumber rujukan utamanya- di jalanan karena saat itu beliau berada di negeri kafir di mana tidak ada Mesjid untuk mendirikan Shalat Jum’at. (Maka menqiyaskan kondisi Al Fatih -rahimahullah- dengan kondisi sekarang tidaklah benar sebab kita berada di negeri kaum muslimin dengan Mesjid yang bertebaran dan sekali lagi perbuatan Al Fatih bukanlah dalil dalam hal ini sebagaimana pada point2 sebelumnya)

7. Apa yang disebutkan di Point 6 itu diperkuat oleh penyebutan sejarah bahwasanya setelah Konstantinopel (baca : Istambul) jatuh dan takluk maka Al Fatih memerintahkan mengalihfungsikan sebuah gereja untuk dijadikan sebagai Mesjid dan setelahnya Shalat Jum’at dilaksanakan di Mesjid tersebut dengan guru Al Fatih sendiri yang jadi Khathib Jum’at pada pelaksanaan Jum’at pertama di negeri Istambul.

8. Kemudian hukum Shalat Jum’at di jalanan telah dibahas oleh para Ulama yang kesimpulannya disebutkan pada Point ke 5. Sehingga tidaklah perlu menghadirkan kisah Muhammad Al Fatih -rahimahullah- jika hendak dihubungkan dengan apa yang direncanakan.

Allahu A’lam…!!!

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: