Aqidah, Manhaj

Hijrah, Perang Badar dan Fenomena al Wala wal Bara di Jakarta Khususnya

Apa yang terjadi di Jakarta berupa berdirinya banyak dari kaum muslimin melakukan pembelaan dan pujian kepada seorang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya adalah fenomena yang menyesakkan dada. Mereka (kaum muslimin yang membela dan memuji tersebut) berada di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin di mana aturan di negeri ini menjamin kemerdekaan tiap pemeluk agama menjalankan ajaran agamanya. Mereka dibebaskan dan dijamin keamanannya, mereka tidak ditekan untuk meninggalkan agama mereka, maka bagaimana bisa mereka justru berdiri membela dan memuji orang yang mendustakan Allah dan Rasul Nya serta menggunakan Al Qur’an. Prinsip yang paling mendasar dalam agama kita yakni Al Wala wal Bara menjadi sebuah barang murahan yang tidak memiliki nilai di hadapan sebagian kaum muslimin dengan alasan bahwa negeri ini bukanlah negeri yang berdasarkan syariat Islam. Padahal sekali lagi negeri ini menjamin kemerdekaan dan kebebasan mereka menjalankan syariat agamanya.

Oh, betapa mudahnya Syetan mempermainkan dan menyesatkan manusia, demikianlah ketika ilmu agama ditinggalkan dan ditelantarkan, maka Syetan menemukan tempat untuk berpesta pora. Pun kemudian perkara itu dibungkus dan dihiasi syubhat, kerancuan dan kesamaran dengan dalih bersikap adil.

Untuk melihat dan menyikapi fenomena ini dari kaca mata agama, mari kita renungkan sebuah perkara yang disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Sulaiman at Tamimi dalam kitab atau risalah beliau yang berjudul ‘Sittah Mawadhi’ minassiirah’ pada pelajaran yang kelima.

______________Tempat Yang Kelima___________

Kisah hijrah.

Dan padanya terdapat faidah-faidah dan pelajaran yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang membacanya. Tapi maksud kami sekarang adalah satu perkara darinya.

Yaitu: Bahwa diantara shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada yang tidak berhijrah, tanpa ada keraguan terhadap (kebenaran) Islam akan tetapi disebabkan karena kecintaan kepada keluarga, harta dan kampung halaman.

Maka ketika musyrikin berangkat (perang) ke Badar, mereka ikut bersama musyrikin dalam keadaan tidak suka. Sehingga sebagian mereka terbunuh dengan tombak dan yang menombak tidak mengenali mereka. Dan ketika shahabat mendengar siapa yang terbunuh, bahwa yang terbunuh adalah fulan dan fulan, para shahabat merasa berat dan berkata: Kita telah membunuh teman-teman kita. Maka Allah turunkan firman-Nya;

(إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيراً  * إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلاً) * فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوّاً غَفُوراًرحيما . .. الآيات ).

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (Qs. An-Nisaa’:  97 – 99)

Barangsiapa memperhatikan kisah mereka dan memperhatikan ucapan para shahabat: “Kita telah membunuh teman-teman kita” ia pun tahu bahwa jika sampai kepada mereka (para shahabat) perihal orang-orang di Makkah seputar ucapan mencaci agama Allah atau ucapan memuji agama musyrikin, tentu para shahabat tidak akan mengatakan; “Kami telah membunuh teman-teman kami”. Karena Allah telah terangkan kepada mereka dan mereka ketika itu ada di Makkah, sebelum hijrah, bahwa yang demikian itu adalah kekufuran setelah iman. Yaitu dalam firman-Nya;

(مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْأِيمَانِ).

“Barangsiapa kufur kepada Allah setelah keimanannya, kecuali orang yang dipaksa dan hatinya tenang diatas keimanan.”

Dan lebih dahsyat dari ini semua, adalah apa yang telah lalu dari firman Allah Ta’aala tentang mereka. Karena sesungguhnya para malaikat berkata kepada mereka: ((Ada dalam keadaan seperti apa kalian?)). Malaikat tidak mengatakan : ((Bagaimana keimanan kalian)). Dan ketika mereka mengatakan: ((Kami orang-orang tertindas dimuka bumi)). Malaikat tidak mengatakan: ((Kalian dusta!)) seperti ketika Allah dan para malaikat berkata kepada orang yang berjihad ketika ia mengatakan: Aku berjihad di jalan-Mu sampai aku terbunuh. Maka Allah berkata: Kamu berdusta! Dan malaikat berkata:Kamu berdusta! Bahkan kamu terbunuh agar dikatakan “pemberani”. Dan begitu juga dikatakan kepada orang yang berilmu dan orang yang bersedekah: Kamu berdusta! Bahkan kamu belajar agar kamu dikatakan “orang berilmu”. Dan kamu sedekah agar kamu dibilang “dermawan”.

Adapun orang-orang ini, para malaikat tidak mendustakan, melainkan menjawab perkataan mereka dengan ucapannya;

( أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيراً)

“Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali”

Dan semakin memperjelas perkara ini bagi orang bodoh dan pintar adalah ayat sesudahnya. Yaitu firman Allah Ta’aala:

(إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلاً)

“…kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).”

Perkara ini jelas sekali, karena orang-orang yang tidak terkena ancaman (ayat ini) tidak ada kesamaran pada mereka. Akan tetapi orang yang mencari ilmu tidak sama dengan orang yang tidak mencarinya. Bahkan Allah berkata tentang orang-orang yang seperti ini sifatnya;

(صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ)

“(Mereka) tuli, bisu, buta maka mareka tidak kembali.”

Barangsiapa memahami perkara ini dan perkara sebelumnya, ia bisa memahami perkataan Al Hasan Al Bashri: “Iman itu bukan hiasan dan bukan angan-angan, melainkan apa yang terdapat di dalam hati dan dibenarkan dengan perbuatan.”

Yang demikian itu karena Allah telah berfirman;

( إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ )

“Kepada-Nya naik ucapan yang baik dan amalan shalih mengangkatnya.”

____________ Selesai Ucapan Syaikh Muhammad bin Sulaiman rahimahullah ___________________

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan beberapa Point berikut :

1. Sebagian kaum muslimin ada yang tidak ikut berhijrah karena dua alasan : 1) berat meninggalkan harta, keluarga dan negerinya karena rasa cintanya kepada perkara tersebut. 2) Orang tua yang sudah lemah atau anak anak yang tidak mampu melakukan perjalanan safar dan tidak memiliki penunjuk jalan.

2. Orang orang yang tidak berhijrah dengan alasan yang pertama tidaklah mereka berhijrah bukan karena tidak mampu atau karena ragu akan Islam atau menganggap baik agama kaum musyrikin, mereka juga tidak memuji kaum musyrikin tapi mereka memilih tinggal di Mekkah karena kecintaan pada harta, anak dan negeri.

3. Orang orang yang tidak berhijrah tersebut ketika terjadi perang Badr, mereka DIPAKSA oleh orang orang musyrikin Mekkah untuk ikut keluar ke Badar dan mereka sebagiannya terbunuh. Dan Allah menyebutkan mereka terbunuh dalam keadaan mengzhalimi Diri mereka sendiri.

4. Para malaikat tidak memberi udzur kepada mereka bahwa mereka terpaksa untuk keluar ke Badar, justru dibalas bukankah bumi Allah itu luas sehingga bisa berhijrah kepadanya.

5. Dikecualikan darinya mereka yang tertindas dari orang tua atau anak anak atau mereka yang tidak menemukan penuntut jalan untuk berhijrah.

———————————————–

Maka bandingkan lah dengan kondisi kaum muslimin di Jakarta yang melakukan pembelaan bahkan memuji seseorang yang sudah mendustakan Allah dan Rasul Nya dan melecehkan Al Qur’an dalam keadaan mereka tidak dipaksa, tidak juga tertindas tapi kecintaan kepada Harta, Anak dan Negara dan pengharapan kepada sosok yang keliru serta kekhawatiran yang bukan pada tempatnya serta bungkusan Keadilan yang dikemas oleh Syaitan.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: